Mengapa Bekicot Berjalan Lambat?

Standard

SnailsSaya dan anak saya memperhatikan seekor anak bekicot sedang merambat di sebuah dinding dekat sawah. Badannya dibengkokkan dan kepalanya bergerak-gerak seolah sedang mengendus sesuatu. Gerakannya sangat perlahan. Rupanya ia sedang mencari jalan yang paling nyaman untuk menuju rumput yang empuk di seberangnya. Dibutuhkan waktu sekitar 4 menit bagi anak bekicot ini untuk menempuh jarak yang hanya sepanjang sehelai daun rumput yang kira-kira 2 kali ukuran tubuhnya. Alangkah lambatnya!.

Semua orang juga tahu kalau keong dan bekicot memang bergerak sangat lambat ya?. Demikian juga saya. Saya tahu. Tapi ketika memperhatikan anak bekicot ini, tetap saja saya merasa tidak sabar melihatnya. “Mengapa bekicot ini bergerak sangat lambat, Ma?” tanya anak saya. Sebelum menjawab pertanyaannya, saya memperhatikan gerakan anak bekicot itu dan berpikir sejenak.

Jaman sekarang,  setiap orang ingin cepat.  Cepat kaya. Cepat sukses. Cepat berhasil. Serba cepat. Serba instant. Setiap orang lalu terburu-buru.  Kecepatan sangat dihargai. Oleh karenanya, kelambatan seolah tidak menemukan tempatnya. Seolah-olah melakukan sebuah kesalahan fatal jika kita tidak cepat. Jika kita tidak cepat, atasan kita tentu akan bertanya mengapa? “Please speed up! We are late!” Itulah dunia manusia.

Tapi dunia alam rupanya tidak seperti dunia manusia. Dunia alam tetap berlaku adil. Kecepatan dan Kelambatan diperlihatkan dengan adil sesuai dengan porsinya masing-masing. Kecepatan yang mengagumkan ditunjukkan kepada kita melalui ketangkasan kuda-kuda di padang rumput, atau melalui gerakan gesit burung elang saat sedang menyambar mangsanya. Namun kelambatan yang bermakna juga ditunjukkan kepada kita antara lain melalui batu yang berlubang setelah sekian puluh tahun berada dibawah kucuran air. Juga melalui  gerakan bekicot di depan mata saya ini. Lihatlah! Dipelototinpun, bekicot ini tidak sedikitpun berusaha cepat. Mengapa? Pastinya ia memiliki sebuah alasan, mengapa demikian.

Bekicot (Achatina fulica) dan jenis keong lainnya, tidak memiliki kaki seperti umumnya yang kita temukan pada jenis binatang lain. Ia berpindah di atas tanah ataupun tanaman dengan cara menggerak-gerakkan otot di bagian bawah tubuhnya (perut) yang disebut dengan kaki, dengan gerakan yang menyerupai gelombang. Itulah sebabnya mengapa binatang kecil ini dimasukkan ke dalam kelompok Gastropoda (Gaster=perut; podos =kaki). Ketika harus berjalan di atas permukaan tanah yang tentunya tidak halus, bekicot terlihat seperti mengendus-endus sesuatu, meraba-raba terlebih dahulu agar tidak salah berpijak. Lalu melapisi bagian bawahnya dengan lendir, untuk mencegah iritasi tubuhnya terhadap gesekan dengan permukaan tanah yang dilaluinya. Itulah sebabnya, mengapa ia berjalan sedemikian lambat.  Hati-hati dan aman – adalah dua kata kunci untuknya. Biar lambat asal selamat.

Lambat. Atau menjadi lambat. Sebenarnya bukanlah  hal yang selalu berarti buruk. Kadang-kadang kita perlu memperlambat sedikit kecepatan kita. Gunanya adalah untuk memberi kesempatan mempersiapkan segala sesuatunya agar berjalan dengan benar. Seperti halnya bekicot, dengan memperlambat gerakan, membuat kita mampu untuk melihat  dengan lebih detail dan lebih jernih. Dimana ada peluang, di mana jalan yang mulus, dan di mana ada batu sandungan.

Sebaliknya jika kita bergerak cepat, kita akan cenderung lebih reaktif dan responsive terhadap keadaan. Karena tidak ada waktu untuk berpikir panjang, kita hanya merespon apa yang datang ke depan mata kita saja. Akibatnya kita akan kehilangan detail dan juga gambaran besar dari permasalahan yang ada.

Dengan memperlambat kecepatan, juga memberi peluang kepada kita untuk berpikir dengan lebih creative dan lebih strategis. Kita punya waktu untuk melihat gambaran yang lebih besar, utuh dan menyeluruh, ketimbang gambaran yang terpotong-potong. Dengan demikian peluang untuk sukses juga meningkat.

Jadi, menurut saya, lambat itu juga tidak selalu berakhir buruk. Ada baiknya menyelipkan kebiasaan memperlambat gerakan diantara kecepatan kita sehari-hari untuk menyeimbangkannya.

 

 

 

12 responses »

  1. Alam mengajarkan kita ttg makna hidup, ternyata lambat membuat kita mampu melihat lebih detail dan jernih.
    Mampu melihat peluang.

    Karena itu dlm kehidupan sehari2pun saya terapkan, mis. meskipun di jalan bebas hambatan saya tidak mau berkendaraan sekecang2nya, cukup dg 80 sd 100 km perjam, dengan demikian saya bisa menikmati perjalanan dan tidak tegang…🙂

  2. Mbak dani, saya sukaaa sekali dengan analogi bekicot yang mbak Dani tulis disini.
    Lambat atau menjadi lambat, sebenarnya bukanlah hal yang selalu berarti buruk…ah, jadi makin introspeksi, smoga semua yang diniatkan baik, biarpun terkesan lambat, akan berakhir indah ya mbak…
    Salam kangen🙂

  3. Oya mbak, kadang saya suka lupa memperhatikan hal-hal kecil yang diajarkan alam dan seisinya pada kita. Setelah membaca tulisan ini, saya jadi makin yakin, bahwa belajar tentang hidup itu tidak hanya dari orang yang lebih hebat dari kita, tapi juga bisa dari seekor bekicot…Tuhan Maha Besar🙂

  4. Di jaman yang serba pengen cepat orang cari cara instan, gak mau melalui proses. Prihatin.
    Bekicot itu menikmati proses jalan, jadi makanya lambat hehe…

  5. Hidup tidak hanya didapatkan dari manusia, dari hewan pun bisa belajar. Terkadang hal ini dilupakan oleh banyak orang. Orang terlena pada hal yang besar dibandingkan yang kecil. Saya masih belajar untuk coba memahami lingkup terkecil yang ada di sekitar

  6. Intinya harus balance ya, Mbak.. Memang zaman sekarang semuanya keliatan harus serba cepet. Tapi kalok internet lelet jugak kadang sebel banget. Hihihi😛

  7. Alam berjalan sesuai dengan fitrahnya. Apapun yang ada pada alam, semuanya berproses dan itu membutuhkan waktu yang tidaklah singkat. Bumi misalnya, memang menurut kita berputar sangat cepat, toh saat berorbit mengelilingi matahari membutuhkan waktu juga yang tidak singkat, 1 tahun. Alam tidak pernah tunduk kepada kemauan manusia, manusialah yang mempercepat segala sesuatunya. Padahal membiasakan sesuatu perbuatan yang baik itu juga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu yang berarti juga membutuhkan proses, dan itu tentunya berjalan dengan lambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s