Tentang Kegigihan.

Standard

20150301_091253Hari Minggu pagi. Waktunya berjalan-jalan ke kampung di atas perumahan bersama anak saya. Saya mengajaknya masuk ke sebuah gang tikus yang sangat sempit. Gang itu tembus di jalan perkampungan.

Kami melewati sebuah rumah yang di halaman depannya berjajar tanaman hias untuk dijual.  “Tanaman apa itu?” tanya anak saya ketika kami lewat- bertanya tentang tanaman pendek berdaun langsing berwarna hijau kekuningan. “Itu namanya Zodia” jawab saya. Saya ingat tanaman itu sempat booming belasan tahun yang silam, sebagai tanaman pengusir nyamuk.

Mengetahui cerita itu, anak saya bertanya” Bolehkah aku membeli tanaman itu?“.  Saat itu jarak kami kurang lebih sudah sekitar 300 meter  dari rumah tukang tanaman itu tadi. “Tapi sudah jauh. Masak kita harus kembali lagi ke sana?” tanya saya memberatkan agar ia membatalkan niatnya membeli tanaman.  “Nggak apa-apa. Kita balik lagi aja ke sana“kata anak saya tidak menyerah. “Buat apa? Dulu kan kita sudah pernah punya tanaman itu. Nggak terurus lalu mati” kata saya. “Ya. tapi sekarang kan sudah tidak punya lagi” kilah anak saya. Lalu berjanji akan mengurusnya dengan baik nanti jika saya memberi kesempatan lagi.

Saya mendongak ke langit. Rintik kecil mulai ada yang turun. Pilihannya cuma ada dua: berlari sekencangnya pulang, atau berteduh. Akhirnya saya menyetujui permintaannya. Sebentar lagi hujan akan turun semakin deras. jarak rumah masih cukup jauh. Barangkali masih satu setengah kilometer. Jika terus berjalan, kemungkinan besar kami akan basah kuyup. Jika mampir di tukang tanaman, setidaknya kami bisa menumpang berteduh di rumah tukang tanaman itu agar tidak kehujanan. Akhirnya kami bergegas kembali.

Hujan turun dengan deras.Tukang tanaman mengajak kami berteduh di teras rumahnya. Lalu anak saya bertanya ini itu tentang tanaman Zodia, termasuk tentang harganya. “Limabelas rebu” kata tukang tanaman dengan wajah lurus tanpa ekspressi. Wah! mahal amat. Saya tahu  di tukang tanaman yang lain harga Zodia berkisar antara Rp 3000 – Rp 6000 /batang.  lalu saya coba menawar. “Emang mau beli berapa? Kalo beli banyak saya kasi turun” katanya. “Empat” kata anak saya. Hah? Bagaimana cara membawanya pulang? Jarak rumah masih jauh lho? Mungkin ia berpikir masing masing kami harus menenteng 2 buah.  Saya mengingatkan bahwa jarak rumah kami masih jauh. Dan tanaman itu pasti berat. Apalagi jika tanahnya basah habis tertimpa hujan. Tambah berat lagi.

Anak saya terdiam.Matanya mengamat-amati tanaman lain dari teras depan. “Itu tanaman apa?” tanyanya antusias menunjuk sebuah tanaman perdu yang lebih tinggi dari tubuh saya. Saya pernah melihat tanaman perdu berbunga itu, tapi tidak tahu namanya.  Bunganya mirip honey suckle berwarna merah lembayung. “kapitalum” kata tukang tanaman. Saya baru dengar namanya. Anak saya menanyakan harganya dengan sangat semangat. Tukang tanaman kelihatannya membaca situasi  itu. Dan saya melihat gelagatnya. Ia menyebut angka ratusan ribu. Anak saya merajuk minta membeli. Saya tidak setuju tentu saja. Selain harganya yang terlalu mahal, juga terlalu berat buat kami menggotongnya pulang. Saya memberi kode kepada anak saya agar jangan terlalu menunjukkan antusias yang tinggi, sehingga tukang tanaman jadi memanfaatkan situasi. Dia pasti akan meninggikan harga dan tidak mau ditawar. Anak saya kelihatannya tidak menangkap kode yang saya berikan. Tetap saja ia bertanya ini itu dan menunjukkan ketertarikannya yang tinggi. Makin lama tukang tanaman makin meninggikan harga tanaman yang ditanyakan anak saya. Aduuuuh!. Saya mulai merasa tidak senang akan situasi itu. Tukang tanaman benar benar ingin memanfaatkan kami. Sampai pada puncaknya…

Anak saya menanyakan lagi tanaman Ketepeng Cina yang berbunga kuning di pojok halaman. “Ooh kalo yang itu kagak dijual” kata tukang tanaman. Lalu ia menjelaskan bahwa tanaman itu berkhasiat obat, blablabla. Dan seperti bisa ditebak, anak saya semakin tertarik dan tukang tanaman akan melepasnya seolah olah terpaksa dengan harga selangit, spesial untuk anak saya saja.  Itu mah tanaman perdu liar. Mudah ditemukan di lahan yang nggak diurus. Setidaknya di Bali, kita bisa menemukannya liar beratus-ratus misalnya di lahan kosong dekat Estuary Dam.  Ambil aja sendiri kalau mau. Gratis!

Hujan mereda. Tinggal gerimis kecil.Saya memutuskan untuk memutus percakapan mereka. Dan bertanya pada keputusan anak saya fokus hanya pada Zodia. Saya tidak mengijinkan anak saya membeli yang lain lagi karena keterlaluan harganya, selain juga kebanyakan dari tanaman itu perdu. Sangat berat menentengnya pulang. Anak saya dan tukang tanaman sangat kecewa. Anak saya masih rewel. Saya mengatakan kepadanya, bahwa saya hanya bersedia menenteng satu pohon berdua dengannya. Anak saya  mengatakan  bahwa ia sanggup menentengnya sendiri. “Ringan kok” kata tukang tanaman membujuk.  Saya coba mengangkat satu. Barangkali sekitar 3 kg. Lumayan, bisa diangkat. tapi masalahnya jarak rumah masih cukup jauh. anak saya berkeras akan menenteng sendiri.  OKe! Akhirnya saya hanya membeli tanaman zodia itu saja seharga lima belas ribu rupiah.

Anak saya yang kepalang keras kepala, mengangkat tanaman itu. Jalannya dibuat gagah. Ia menunjukkan kepada saya bahwa ia kuat.Tidak mau menerima bantuan saya sedikitpun untuk sesekali giliran mengangkat. “Ini tanaman pilihanku. Biar aku sendiri yang mengangkat” katanya penuh gengsi. Oke. Baiklah. Sepanjang jalan ia berusaha keras menunjukkan kepada saya kalau ia masih kuat membawa. Saya tahu ia kelelahan. Tapi ia tetap bertahan. Ia memindahkan tanamannya dari bahu, lalu ke dada. Tak seberapa lama barangkali cape membawanya di dada, ia mengendongnya di depan perut.Kemudian sesekali ditenteng, lalu kecapean, naik lagi ke bahu. Demikian seterusnya hingga kami tiba di rumah. Ha ha!. Biarlah ia menerima ujian atas kekerasan kepalanya. Mungkin orang di jalan akan melihat saya sebagi seorang Ibu yang “raja tega’ menyuruh anaknya sendiri mengangkat beban sementara dirinya sendiri melenggang hanya membawa hape dan dompet. Biarlah.

Ada dua pelajaran yang hari ini akan saya sampaikan kepada anak saya:

1/. Dalam tawar menawar, semakin deras arus anthusiasme permintaan yang kita tunjukkan, semakin kita berada di posisi lemah.

2/. Mengambil keputusan mungkin sesuatu yang bisa dilakukan dengan cepat dan mudah, namun hendaknya kita perlu berpikir panjang, apakah keputusan itu executable atau tidak. bagaimana mungkin ia memutuskan membeli tanaman perdu yang beratnya entah berapa puluh kg, sementara kami tidak bisa mengangkatnya.Sementara tukang tanaman tidak ada upaya untuk menolong sedikitpun.

Namun diluar teguran itu, saya pikir saya akan memberinya pujian atas semangatnya yang tinggi, passionnya terhadap tanaman dan “keteguhan hati”nya sebagai kata pengganti “kekerasan kepala”nya – jika menginginkan sesuatu ia benar-benar berusaha keras melakukannya untuk mewujudkannya .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7 responses »

  1. Ih tukang tanaman ini nyebelin juga. Seharusnya kalau dia memang mau laku, dia bantu antar ke rumah. Ini udah mahal kita angkat sendiri pula.
    Benar sih, semakin menunjukkan antusias, semakin gak mau turun itu harganya si tukang jualan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s