Kompetisi Tukang Rambutan.

Standard

Pak Jama vs Pak Maat.

Rambutan

Pagi tadi saya lewat di depan ruko dan menyapa tukang jamu yang asyik melayani langganannya. Seorang bapak tua menghampiri saya dan menyapa. “Neng! Ini Pak Jama yang dulu bekerja di sono noh” katanya menunjuk sebuah rumah. Siapa ya Pak Jama?  Saya tak mampu mengingat dimana saya mengenal nama itu. Tapi Bapak itu terus berbicara seolah sudah kenal lama dengan saya dan mendorong saya agar membeli jamu si Tukang Jamu. Aneh juga Bapak ini. Jadi saya cuek saja.

Saya mengalihkan perhatian saya pada tukang rambutan yang tidak jauh dari  situ. “Wah..rambuatan apa ini?” tanya saya. “Rambutan Rapi’ah“jawab si tukang rambutan. Saya melihat-lihat rambutan di atas sepedanya.  Kalau tidak salah ingat, yang disebut dengan Rapi’ah adalah Rambutan Gundul yang antara daging buah dan  bijinya tidak menempel  sama sekali.Tapi rambutan ini rambutnya agak panjang dan kurang gundul. Tukang rambutan meyakinkan saya kalau itu memang Rambutan Rapi’ah yang ngelotok bijinya. “Ya neng.Itu Rapi’ah. Tadi dia harusnya cukurin tuh rambutannya biar kelihatan gundul. Biasanya dia gitu” kata Pak Jama menyusul saya lagi ke tukang rambutan. Aduuuh…Bapak ini ikut campur aja urusan orang lain aja.  “Nggak. Yang ini kaga digundulin“kata tukang rambutan dengan kalem. Namanya Pak Maat.

Ayo Neng! Beli rambutan” bujuk Pak Jama . Ia menawarkan rambutan yang dipajang di atas gerobak tarik, di sebelah tukang rambutan. Saya pikir ia sekarang mempromosikan barang dagangannya tukang rambutan. Padahal baru saja ia mempromosikan barang dagangan tukang jamu. “Emang itu rambutan punya siapa?” tanya saya.  Sekarang saya melihat 2 jenis rambutan yang berbeda. Yang satu di dalam keranjang di atas sepeda, dan yang satunya di atas gerobak. Awalnya saya pikir sama “Punya saya” jawab Pak Jama. “Nyang eni lebih murah, Neng” katanya menunjuk rambutannya. Barulah saya sadar. Bapak Jama itu rupanya tukang rambutan juga. O ala…

Emang apa bedanya?Pak Jama menjelaskan bahwa  kedua  rambutan itu adalah rambutan jenis Aceh. “Yang satu Aceh Rapi’ah, yang satunya Aceh Lebak” katanya. Menurutnya rambutannya yang jenis Aceh Lebak yang dibawanya juga manis, walaupun tidak semanis Aceh Rapi’ah yang dibawa Pak Maat. “Nyang itu mah masih hijau juga sudah manis” jelasnya memuji rambutan Pak Maat. Ooh begitu. Saya lalu menanyakan harga Aceh Rapi’ah ke Pak Maat yang dari tadi lebih banyak diam saja. “Dua puluh lima rebu” katanya. Mendengar itu, Pak Jama langsung menjawab “Rambutanku lebih murah, Neng. Dua belas setengah rebu” katanya sambil tertawa. Lalu membujuk bujuk saya agar membeli rambutannya saja. Lebih murah dan toh manis juga.  Tapi saya lebih tertarik pada Rambutan Rapi’ah milik Pak Maat.

Pak Jama tak kehilangan akal, ia mengambil buah rambutan sebutir dan meminta saya mencobanya. “Manis, Neng! Coba aja. Kaga bakalan nyesel deh” katanya mendesak saya untuk mencoba. Saya tidak mau “Kaga apa-apa. Coba aja dulu. Perkara membeli mah nanti aja setelah mencoba“katanya. Melihatnya bersemangat, sayapun mencoba sebuah. Hmmm… memang manis juga  sih. Tapi saya masih penasaran akan Rapiah itu. Saya pikir barangkali saya akan membeli masing-masing seiket dari Pak  Jama dan Pak Maat .

Saya beralih ke Pak Maat terlebih dahulu “Ini harga nggak boleh dikurangin ya Pak?” tanya saya. Pak Maat berpikir sebentar, lalu ” Dua puluh rebu deh seiket” katanya. Mendengar itu Pak Jama langsung berkata “Kalau begitu, nyang eni sepuluh rebu deh seiket, Neng” katanya nggak mau kalah. Kocak juga. Bener-bener deh bapak tua ini. Nggak ada surutnya. Semangatnya tinggi amat. “Ya Pak. saya beli  dua iket dari Pak Jama dan seiket dari Pak Maat. Dua puluh ribu -dua puluh ribu deh masing-masing. Biar adil” kata saya. Mendengar itu Pak Jama girang sekali. Segera menyiapkan 2 ikat rambutan dan mengikatnya menjadi satu ikatan lebih besar.

No..kasih no si Ibu contoh biar dicoba” saran pak Jama kepada Pak Maat yang hanya diam saja dari tadi. Pak Maat memberi saya sebuah rambutan Rapiah untuk dicoba. Ya …rambutan Pak Maat memang lebih manis dan garing.  Saya membayar kepada ke dua tukang rambutan itu. Pak Jama menerima uang saya dengan sangat girang. ” Ya Allaaaah. Alhamdulilah. dikepret dulu…. dikepret dulu…. Buat penglaris….”katanya penuh syukur sambil mengibaskan uang itu di sisa barang dagangannya. Saya tersenyum geli melihat kelakuannya. Ya ampuuun…Bapak ini ada-ada saja.

Perseteruan dagang antara Pak Jama vs Pak Maat itupun berhenti sampai di situ. Keduanya berhasil memenangkan hati saya pembelinya. Yang satu saya pilih karena kwalitas produknya yang lebih baik, yang satunya lagi saya pilih karena element bauran pemasaran lainnya yang lebih menarik. Harganya lebih menarik,  service dan promosinya yang lebih menarik.

Saya menenteng rambutan itu pulang. Sampai di rumah, saya baru sadar, kalau rambutan yang saya beli jumlahnya kebanyakan. Ada 3 ikat, masing-masing terdiri lagi atas 3 ikatan kecil. Jadi sebenarnya total ada 9 ikatan kecil.

Jadilah saya membawa sebagian dari rambutan itu ke kantor…

4 responses »

  1. Pak Jama keren Mbak Dani, salut deh sama kegigihannya. Meskipun punya produk yang dia tahu tidak terlalu unggul tetap jujur dan memberikan yang terbaik. Keren!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s