Tukang Jamu Dalam Ekosistem Perumahan.

Standard

Tukang JamuSaya bertemu Budhe Tukang Jamu di depan ruko. Seperti biasa, ia menyapa saya dengan senyum ramah “Ibu… jalan pagi ya Bu?” katanya. Walaupun nyaris tidak pernah membeli jamu, saya suka berhenti untuk mengobrol sejenak dengannya. Kali ini si Budhe tampak lain. Ia bukannya sibuk menyiapkan jamu untuk pelanggannya, eh..malahan sibuk menawarkan pakaian kepada  beberapa orang Mbak yang sedang lewat untuk berbelanja ke tukang sayur. “Wah…barang dagangan baru nih Budhe…” kata saya.  Si Budhe tertawa “Iya Bu…buat nambah-nambah..” katanya, lalu menawarkan barangkali saya berminat melihat-lihat barang dagangannya. Saya mengucapkan terimakasih dan mengatakan belum minat untuk saat ini.

Saya memuji usahanya untuk mengoptimalkan penghasilannya dengan sekalian juga membawa barang lain di luar jamu. Menambah portfolio barang dagangan yang ditujukan kepada target market yang sama merupakan ‘low hanging fruits’ yang mudah  dieksekusi.

Si Budhe rupanya sangat pintar membaca kebutuhan konsumennya yakni para Mbak-Mbak asistent rumah tangga di perumahan. Mereka adalah para wanita yang kebanyakan menghabiskan waktunya di rumah. Sibuk memasak dan mencuci piring di dapur, membersihkan rumah dan halaman atau mencuci dan menggosok pakaian. Waktu mereka cuma terbatas. Kesempatan untuk keluar rumah hanya saat mereka berbelanja sayur di pagi hari atau sesekali berjalan ke ruko untuk membeli keperluan darurat rumah tangga yang kebetulan habis. Jarang sekali mendapat kesempatan jalan-jalan di mall atau pertokoan untuk membeli keperluan mereka sendiri. Kalaupun kebetulan ada yang bekerja pada majikan yang baik hati, paling mereka hanya mendapatkan waktu 1 -2 hari libur per bulan.

Peluang inilah yang ditangkap si Budhe saat ia melayani pembeli jamunya. Si Mbak juga butuh membeli baju baru  juga sesekali dong?. Kenapa nggak dibawakan saja ke depan matanya? Jadi si Mbak nggak perlu mencari-cari. Atau jika perlu bagi Mbak yang sudah lama kenal beri kesempatan untuk mencicil, 2-3x bayar, untuk membuatnya lebih terjangkau agar lebih banyak lagi Mbak yang tertarik untuk membeli.  Sebuah upaya konglomerasi bisnis yang baik ala si Budhe Tukang Jamu.

Peluang lain yang ditangkap si Budhe adalah kebutuhan para Nyonya rumah alias Ibu Rumah tangga (IRT) akan Assistent Rumah Tangga (ART).  Berkenalan dengan banyak ART yang menjadi pelanggannya, membuat SiBudhe menjadi tempat curahan hati dan derita para pekerja rumah tangga ini. Ada yang Nyonya-nya beginilah, NYonya-nya begitu, Tuannya kaya gini, Anak bossnya kaya begono – menimbulkan banyak  ketidak puasan. Si Budhe yang cerdas tentu bisa membuat mapping,  mana ART yang happy dan mana ART yang sedang tidak happy dan berniat untuk pindah kerja. Si  Budhe juga tahu mana ART yang sedang cuti, pulang kampung, menikah, melahirkan dan sebagainya. Pemahamannya sangat baik, nyaris melebihi pemahaman pemilik Yayasan  Babby Sitter dan Assistent Rumah Tangga yang resmi.

Di sisi lain, Si Budhe juga kenal mana Nyonya rumah alias IRT yang sedang membutuhkan ART baru, mana yang tidak membutuhkan. Juga mana Nyonya rumah yang generous dan baik hatinya sehingga pembantunya pada awet dan sulit dibujuk pindah, juga tahu mana Nyonya rumah yang pelit, kasar, pemarah, cerewet, dan sebagainya yang membuat para ART kurang betah bertahan lama.  Berbekal pengetahuan dan pemahaman itu, Si Budhe menjadi tumpuan banyak IRT yang membutuhkan dan sekaligus menjadi tumpuan ART untuk mencari tahu lowongan kerja. Nah..klop kan?. Jadi, secara Natural, Si Budhe Tukang Jamu telah memegang peranan sebagai penyeimbang ekosistem dalam kehidupan Rumah tangga di perumahan. Dengan menjadikan dirinya sebagi tempat pertukaran informasi dan sedikit usaha menawarkan dan membujuk, tentulah ia layak mendapatkan fee yang setimpal. Tentunya lebih miring harganya ketimbang jika IRT mencari ART dengan menghubungi yayasan.

Nah..apa jadinya jika tiba-tiba Si Budhe menghilang dari perumahan? Siapa yang akan menggantikan peranannya yang sangat penting itu?

 

 

9 responses »

  1. Analisa yang mendalam sekali Mbak Dani.. Saya membayangkan sebuah sistem bisnis rapi di kepala budhe jamu. Rejeki orang yang mau berusaha selalu ada ya Mbak. 😀

  2. Jadi rindu penjual jamu yg biasa menjajakan di depan rumahku dulu😦

    Budhe jamu emang oye… Mampu menangkapm peluang bisnis baru🙂
    sip !

  3. Namanya usaha ya bun apa aja di jual jadinya yang penitng halal. Pernah ada kurir yang suka mengantarkan surat2 bank ke rumah sambil jualan juga bun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s