Saya Dan Monyet.

Standard

tentang sebuah ketakutan…

Aku dan MonyetGara-gara disuruh mencari dan men-scan foto jadul anaknya oleh salah seorang kakak sepupu, saya membongkar-bongkar album lama. Sebuah foto polaroid yang sudah nyaris kabur warnanya terjatuh ke lantai. Anak saya memungutnya. “Ini mama, yang sama monyet?” tanya anak saya heran.

Saya menengok sepintas. Benar! Di foto itu tampak saya –yang masih muda– sedang berdiri di tengah hutan pala di Sangeh. Sementara seekor kera nangkring di atas kepala dan sibuk mengacak-acak rambut saya. “Ya. Memang kenapa?” tanya saya. Anak saya melihat ke arah saya, lalu melihat kembali ke foto. Saya pikir ia sedang mencoba mencocok-cocokan wajah saya dengan wajah gadis yang ada di foto itu. Barangkali ia tidak bisa mengenali wajah ibunya selagi muda. “Tentu saja berbeda, nak. Sekarang mama sudah lebih tua dan gembrot” ujar saya dalam hati. Ia masih terpaku memandangi foto polaroid itu.

Mama nggak takut sama monyet itu?“. Tanyanya sesaat kemudian.Yehhh…, ternyata anak saya bertanya soal lain. Rupanya ia sedang membayangkan betapa ngeri rasanya jika ada monyet nangkring di atas kepala dan mengacak-acak rambut kita. “Waktu itu nggak. Tapi kalau sekarang….barangkali takut juga” kata saya. Saya tertegun sendiri dengan jawaban spontan saya itu.

Orang yang sama, monyet yang sama, hanya karena perbedaan waktu saja (dulu vs sekarang), bisa merubah perasaan dari tidak takut menjadi takut. Mengapa bisa begitu ya? Hm… darimana rasa takut itu datang? Kapan ia tercipta? Mengapa ia tiba-tiba ada dari sebelumnya tidak ada? Dan saya tidak pernah menyadari kapan mulai datangnya?  Coba saya telusuri….

25 tahun yang lalu, dunia saya totally adalah dunia fauna. Saya sangat menyukai binatang. Sangat suka menggendong kucing. Sangat senang bermain dan berlari dengan anjing. Sangat terpesona oleh kepakan warna warni sayap kupu-kupu. Terkagum-kagum akan merdunya nyanyian pagi burung-burung di dahan pohon. Dan sebagainya. Intinya apapun tentang binatang, saya sangat tertarik untuk mengetahuinya. Profesi saya sebagai seorang dokter hewan saat itu tentunya juga sangat mendekatkan saya pada dunia fauna. Karena setiap hari saya bergaul dengannya. Dengan anjing, dengan kucing, dengan unggas, dengan reptil, dengan mamalia…termasuk dengan monyet. Saking seringnya bertemu dengan berbagai jenis monyet, sehingga ketika berada di tengah hutan pala yang penuh monyet itu saya merasa sama sekali tidak asing. Saya kenal tingkah lakunya. Saya memahami apa yang disukai dan tidak disukainya. Saya bisa merasakan apakah monyet itu sedang marah, tidak suka, sakit  atau sebaliknya sedang baik-baik saja atau malah sedang ingin bercanda dengan kita. Sehingga ketika seekor monyet tiba-tiba meloncat ke atas kepala, saya merasa biasa saja. Ttidak terganggu. Apalagi merasa takut. Paling rasanya agak berat. Karena monyetnya cukup gede juga. Itu dulu…

Nah,mengapa jika ada monyet yang tiba-tiba menclok di kepala saya sekarang ini bisa jadi saya merasa takut? Saya pikir, barangkali karena saya sudah tidak begitu dekat lagi dengan monyet. Sudah lama saya tidak bergaul dengan dunia fauna sebaik dulu lagi. Waktu saya habis untuk melakukan pekerjaan lain. Menyisakan waktu yang hanya sangat-sangat sedikit untuk memenuhi kecintaan saya akan dunia fauna. Paling banter saya hanya berinteraksi dengan kupu-kupu yang mengunjungi halaman saat akhir pekan. Atau burung-burung yang menghuni pinggir kali belakang rumah. Atau lebih jauh lagi hanya dengan kucing-kucing liar adopsi anak saya. Sudah lama saya tidak melihat monyet.

Karena interaksi saya kurang, secara emotional saya merasa kehilangan koneksi dengan monyet. Selain itu,  pemahaman saya akan binatang itupun sedikitnya berkurang juga. Banyak yang tidak saya ketahui lagi tentang monyet. Ketidak tahuan itu memicu rasa was-was dan kekhawatiran ke dalam pikiran saya. Jangan-jangan nanti monyetnya menggigit? Jangan -jangan nanti monyetnya mencakar saya? Kalau dia marah bagaimana?Terus bagaimana saya yakin kalau dia baik-baik saja? Banyak sekali pertanyaan lain yang membuahkan rasa khawatir dan takut, yang dulunya tidak pernah saya miliki. Saya takut digigit, takut dicakar dan sebagainya, perasaan takut yang dulu tidak pernah ada.

Pada dasarnya, ketakutan itu muncul ketika kita tidak cukup tahu  akan sesuatu. Ketika kita tahu, maka rasa khawatir dan takut itu berkurang dan bahkan mungkin tiada.  Jadi  faktor pembedanya, sesungguhnya hanya pada masalah tahu dan tidak tahu. Hanya masalah paham dan tidak paham.

Menyadari hal itu, pertanyaan berikutnya yang melintas di kepala saya adalah, “Apakah hukum yang sama juga berlaku bagi ketakutan-ketakutan saya terhadap hal yang lain? “Saya curiga,jangan-jangan jawabannya memang iya….

 

 

 

 

6 responses »

  1. mbaak… imut banget ..
    bener mbak dulu berani sekarang udah berkurang kadarnya nggak cuma mbak aja yg rasain
    aku juga dulu berani banget naik jet coaster, tahun lalu nyoba lagi bareng anak, ya ampuuun jantungku berdebar keras banget, kaki gemetar dan pengen berenti saat itu juga
    nggak bakal deh nyoba naik lagi

  2. Setelah saya pikir-pikir, kayaknya bener deh ketakutan itu timbul karena ketidaktahuan. Saya takut di patok ayam saat memberi makan, karena saya tidak tahu bagaimana menarik perhatiannya ke arah makanan yang saya berikan. Saya malah fokus pada langkah kaki saya, mengawasi si ayam dan bersiap menghindar kalau tiba-tiba dia meloncat ke arah saya.

  3. Cerita yang sungguh menginspirasi untuk kita semua, betapa mencintai dan ramah terhadap lingkungan itu menjadi keniscayaan yang akan memberikan makna kehidupan yang lebih, kita diciptakan Tuhan di dunia ini tidak sendirian, perlu menjaga ekosistem yang ada agar tetap lestari, jika salah satu ada yang sudah punah maka akan menjadi tidak lagi seimbang dunia ini. Subhanallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s