Kata “Jatuh” Dalam Versi Bahasa Bali.

Standard

Jatuh dalam Bahasa BaliBeberapa saat yang lalu  saya melihat sebuah post di social media tentang berbagai kata “J A T U H ” dalam Bahasa Sunda. Ada banyak ternyata. Antara lain dijelaskan bahwa jika Jatuh ke depan bahasa Sundanya adalah Tikusruk. Jika jatuh ke belakang itu Ngajengkang. Jika jatuh dari atas itu namanya Murag. Kalau jatuh terlempar itu Ngajungkel. Terus kalau jatuh karena tersandung itu Tikosewad dalam bahasa Sundanya. Ada lagi kalau jatuh terus meluncur itu namanya Ngagolosor. Lalau jatuh ke lubang namanya Tigebrus. Kalau jatuh terpeleset itu Tiseureuleu.

Ha ha..lucu dan kaya banget kosa katanya. Saya sangat senang membacanya. Setelah itu saya lihat ternyata ada juga beraagai kata “Jatuh”  lagi dalam versi Bahasa Jawa, juga dalam versi bahasa Banjar.

Gara-gara membaca itu saya jadi ikut mikir… bagaimana ya versi kata “Jatuh” itu kalau dalam Bahasa Bali?. Belum ada yang menulis. Karenanya saya mohon ijin mengembangkan idea dari entah siapa pemilik idea ini pada awalnya.Saya ingin ikut menulis, menyumbangkan pemahaman saya dalam Bahasa Bali tentang kata Jatuh.

Jatuh dalam Bahasa Bali, secara umum disebut dengan “Ulung (Bahasa Bali standard) atau “Runtuh” (Bahasa Bali halus). Namun untuk beberapa jenis jatuh, ada juga kata khususnya. Dan serupa dengan apa yang ada dalam Bahasa Jawa, Sunda maupun Banjar, ternyata cukup banyak juga jenis kata jatuh itu dalam Bahasa Bali.  Yuk kita simak seperti di bawah ini:

Megeledag = jatuh dengan posisi kepala di bawah, atau kepala kebentur.

Mekakeb = jatuh dengan posisi wajah ke tanah, jatuh tengkurep.

Metanceb = jatuh dengan posisi kepala terbalik ke bawah (nyungsep).

Mecelempung = jatuh masuk ke dalam air, lubang atau tempat yang dalam .

Megelebug = Jatuh dengan cepat dari ketinggian, terjerembab.

Meserod =jatuh karena licin, terpeleset ke posisi yang lebih rendah.

Megabyug = jatuh karena beban yang berat.

Mepantigan = jatuh terpelanting.

Mepangsegan = jatuh keras  dan terbentur hingga terbengong tanpa bisa berdiri, terpaku

Menyulempoh = jatuh lunglai sampai tak bisa berdiri lagi,lemas.

Mecelos = jatuh melorot dengan cepat.

Meleles = jatuh melorot pelan-pelan.

Mecepol = jatuh untuk benda yang sebelumnya sengaja dipasang di suatu tempat (i.e konde,lampu).

Mebrarakan = Jatuh berserakan.

Mebyayagan = jatuh belepotan

Ketanjung = jatuh tanpa sengaja menendang sesuatu, terantuk.,kesandung.

Keselimpet, keslimputan = jatuh dengan posisi kaki terhalang sesuatu.

Kampih = jatuh nyasar ke tempat asing akibat bencana, bukan tujuan awal.

Labuh = Jatuh karena kecelakaan (i.e naik motor, jatuh ke jurang).

Nyelengsot, ngelesot = nyaris jatuh terpeleset

Nyerendeng = nyaris jatuh dengan posisi miring akibat hilangnya keseimbangan tubuh, terhuyung.

Ngeruyung = nyaris jatuh karena pusing.

Nenggel = sangat nyaris jatuh – sudah di ujung tanduk.

Niwang = jatuh pingsan.

Nyungkiling/Nyungkling = jatuh dengan posisi terbalik, terguling .

Ngeluluk/Ngelilik = Jatuh menggelinding

Aas = jatuh karena tidak sukses bertahan hidup, gugur (untuk daun, rambut, bunga,buah,dsb).

Ketus = jatuh karena lepas dari posisinya hidup/tumbuh sebelumnya, tanggal (mis.utnuk gigi).

Ngetel = jatuh untuk benda cair dalam jumlah sedikit , menetes.

Nyerekcek = jatuh bercucuran

Mekebyos = jatuh untuk benda cair dalamjumlah banyak,tumpah.

Kata-kata “Jatuh”dalam Bahasa Bali ini saya kumpulkan dari  masukan teman-teman saya yang tergabung dalam Group BB SMA Negeri Bangli Al84 – “Ngiring Mebasa Bali” yang peduli akan pelestarian Bahasa Bali. Terimakasih saya ucapkan untuk sahabat Agung Karma, Dewa Putra Adnyana,  Nyoman Astawa, Luh Putu Upadisari, Wayan Suratna, Agung Wiraguna, Jero Gede Sujayasa, Jero Gede Suastika, Alit Parwata, Nyoman Rai Suryani, Erna Noviani, Ayu Purnami, Wayan Suardana,  Irianingsih, Ketut Ariani, Komang Suarsana, Ayu Eka, Gama Tirtha, Wayan Ginarta, Sang Putu Kayun- untuk sumbangan pemahamannya dan semangatnya dalam melestarikan Bahasa Daerah Bali. Barangkali rekan-rekan pembaca ada juga yang ingin menambahkan pemahamannya yang belum ada di dalam daftar di atas, saya sangat berterimakasih.

Suksma matur ring sahabat Dewa Raka Budiana untuk tambahan kata Nenggel. Ayo siapa lagi yang ingin menambahkan?

Yuk kita cintai dan lestarikan Bahasa Daerah kita!

9 responses »

  1. kayanya bahasa Bali.., untuku kata jatuh aja sedemikian jumlahnya
    kalau bahasa Indonesia cuma jatuh aja ya tapi dengan kata tambahan di belakangnya

  2. Meskipun saya orang Bali tapi bahasa ibu saya bahasa sunda, lama dirantau membuat saya kesulitan dengan bahasa Bali, apalagi pengucapannya yang agak sulit bagi saya, semoga pelan pelan saya bisa ber-Bahasa Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s