Monthly Archives: April 2015

Cuci Mata: Kota Batu dan Tanaman Hiasnya.

Standard

BatuBatu! Setiap kali mendengar nama kota kecil di dekat Malang itu saya selalu terbayang udara yang dingin dan buah apel!.  Akhir pekan yang lalu, saya menyempatkan diri bermain ke Batu, mampir di rumah salah seorang saudara yang tinggal di situ. Saya tiba saat malam menjelang. Kerlap-kerlip cahaya lampu di kejauhan dari bukit-bukit yang tinggi membuat malam menjadi sangat menyenangkan.

Esok paginya saya diajak berjalan-jalan di sekitar rumah. Melihat-lihat para petani kembang dan tanaman hias bekerja menyiram tanamannya dan mengurus kebun bunganya. Ada yang sedang memetik bunga mawar potong. Ada yang sibuk menjalin batang tanaman membuat topiari. Ada yang sedang menyiangi tanaman, menyiram bunga, menaikkan tanaman dalam polybag ke atas truk, menurunkan sekam, dan sebagainya. Sangat senang melihatnya. Perekonomian di sini sangat hidup akibat kembang dan tanaman hias. Truk dan mobil pick-up tampak mondar-mandir memuat dan mengangkut tanaman entah ke mana.

Saya melihat-lihat. Ada banyak jenis tanaman hias yang dipelihara di sana. Ada yang dipelihara untuk dijual sebagai bunga potong, misalnya mawar, gladiol, chrysant dan sebagainya.

Ada juga tanaman dari jenis yang hanya disukai karena daunnya. Misalnya tanaman pucuk merah,cyphres, pakis, tanaman untuk topiari dan sebagainya.

Berjalan sedikit agak ke atas, saudara saya  mengajak saya melihat-lihat pengusaha tanaman hias yang kelihatannya sudah jauh lebih professional ketimbang para petani yang saya lihat di dalam tadi. Setidaknya ia sudah memiliki green house untuk Anggrek dan berbagai tanaman kaktus.

Tanaman Kaktus & Succulents.

Deretan tanaman kaktus ini sungguh sangat menawan hati. Ada puluhan jenisnya dalampot-pot mungil yang berderet.Sebagian ada yang memiliki segment yang berwarna cerah menawan, sebagian lagi ada yang berbunga.  Sedikit diantaranya seperti gambar yang saya tampilkan di atas.

Selain cactus, di tempat yang sama juga berderet-deret pot succulents yang cukup banyak. Sangat cantiktampilannya. Banyak yang mirip bunga mawar hijau kelabu yang sedang mekar.

Yang menarik lagi adalah tanaman hias Kalanchu alias Cocor Bebek yang berbunga ganda. Saya belum pernah melihat yang berbunga ganda seperti ini. Biasanya hanya berbunga selapis.

Bukan hanya tanaman daerah kering dan gurun yang dikembangkan di sana, namun berbagai jenis anggrek juga tampak terpelihara dan bermekaran di sana. Mulai dari Phalaenopsis hingga kalajengking.

Masih banyak lagi jenis tanaman hias yang bisa kita lihat di Batu, yang membuat kita betah berlama-lama berada di sini. Bukan saja karena udaranya yang sejuk, namun juga karena keindahan tanaman hiasnya..

Advertisements

Malang: Dari Ice Cream Hingga ke Ayam Lodho.

Standard

20150416_1029561Kali ini saya mendapatkan kesempatan mengunjungi kota Malang. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali saya berkunjung ke kota ini. Itulah sebabnya saya merasa sangat bersemangat mengunjunginya.

Hari kebetulan masih pagi ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara  di Malang. Dari ketinggian tampak bunga-bunga tebu yang berwarna  pink keputihan, membentang di ladang-ladang di sisi bandara. Saya merasa sangat takjub akan keindahannya.

Sebenarnya saya ke sana dalam urusan kerja. Namun seperti biasa, dalam perjalanan, sekalian saya menikmati segala apa yang bisa saya lihat dan rasakan di setiap kota yang saya kunjungi. Bagi saya, walaupun hanya sejam dua jam, saat istirahat makan siang atau malam, selalu memberi saya pengalaman baru yang memperkaya pengetahuan saya. Saat itulah seorang teman mengajak kami bersitirahat di Toko Oen. “Mencicipi es krim jaman dulu” ajaknya. Sayapun ikut masuk.

Ice Cream di Toko Oen.

Toko Oen, sesuai dengan yang diperlihatkan bangunannya yang tampak tua dan antik, memang sudah berdiri sejak tahun 1930. Keantikan ruangan di dalam toko Oen itu memang terjaga. Furniture-nya mengingatkan saya akan furniture di rumah  kakek saya jaman dulu. Kursi yang sama bentuknya, dengan meja bulat berbahan batu marmer. Kamipun duduk-duduk dan mulai memilih dan memesan.

Tampilan ice cream di toko Oen ini memang sangat  menggiurkan. Bentuknya lucu-lucu. Kombinasi element makanan lain,seperti pisang, puding jagung, coklat,nenas dan lain-lain,membuat semuanya terlihat menarik dan sangat menggiurkan untuk dicoba. Saya rasa dari segi rasa sebenarnya ini typical Ice Cream rumahan jaman dulu yang rada-rada kasar dan kurang halus. Tidak seperti jenis Ice Cream jaman sekarang. Rasanya sangat nostalgia, tapi bentuknya itu lho…Rasanya saya ingin mengajak anak anak saya mampir ke sini hanya untuk menikmati berbagai macam Ice Cream ini…

Ayam Lodho. 20150416_193122Nah malam harinya, sepulang kerja teman saya mengajak mencicipi Ayam Lodho. Saya lupa nama restaurantnya. kalau tidak salah Ocean Garden, cukup mudah dicapai juga lokasinya. Saya penasaran sama menu yang namanya Ayam Lodho dan menurut teman saya itu enak banget.

Begitu melihat gambarnya, saya malah memutuskan untuk memesan Ayam Pontianak saja karena dalam gambar itu ada banyak sekali sambel yang ditebar diatasnya, dan saya ini adalah penggemar berat makanan pedas.  Teman saya memesan Ayam Lodho dan kami berjanji akan saling mencicipi biar tahu rasanya. Soalnya kan nggak mungkin satu orang mesan dua-duanya. Akhirnya datanglah itu Ayam Lodho pesanan kami.

Setelah mengambil sedikit Ayam Pontianak, lalu saya menukar menu saya itu dengan teman saya. Sayapun mengambil sedikit Ayam Lodho. Rupanya ada kuahnya. Kelihatannya pedas juga. Wah..saya pasti suka. Hmm…ternyata Ayam Lodho ini memang enak sekali menurut saya. Kuahnya sangat pedas. Masakannya mirip dengan Pecak Ikan kalau di Betawi. Sayang sekali karena masakan ini bersantan ringan, saya hanya bisa mencicipinya sedikit saja. Saya sedang menghindari konsumsi masakan yang bersantan. Walaupun demikian saya merekomendasikan makanan ini sebagai masakan yang enak.

Yuk, kita berkunjung ke Malang!

Yogyakarta, I Love You…

Standard

20150410_1739221Yogyakarta! Adalah salah satu kota yang sangat saya sukai. Karena di kota ini, kebudayaan masa lalu yang gemilang masih tetap bisa kita rasakan dan nikmati di mana-mana, walaupun modernitas dan perkembangan teknologi juga tetap berlangsung seiring. Aksara Jawa masih bisa kita lihat dan baca di sudut-sudut kota, walaupun huruf Latin tentu saja mendominasi. Setidaknya saya melihat ada upaya pemerintah dan penduduk setempat untuk menjaga dan tidak membuang begitu saja apa yang sudah menjadi sebuah ‘achievement’  leluhurnya dalam dunia sastra.

Batik

Walaupun dalam kunjungan yang lalu ke kota ini, saya tidak sempat melihat-lihat lebih jauh – gara-gara kaki saya keseleo hingga tak sanggup berjalan -, namun saya tetap bisa merasakan suasana Yogyakarta disajikan di hotel tempat saya menginap, lewat makanan yang terhidang, musik yang diperdengarkan ataupun pernak-pernik yang dipajang.Sehingga ketika saya pulang kembali ke Jakarta, saya sadar betul jika saya baru saja kembali dari kota Yogyakarta.

 

Patung Loro Blonyo – saya sangat sering melihat patung  pasangan ini. Ada berbagai ekpressi dan gaya dari Patung Loro Blonyo yang pernah saya lihat. Namun, saya belum pernah melihat yang model bergaya sederhana seperti yang ditunjukkan dalam patung ke dua yang saya temukan seperti di atas. Menurut cerita, loro blonyo adalah bentuk symbol, perlambang kesuburan yakni Dewi Sri -Sedana yang merupakan Dewi/Dewa Kesuburan dan Kemakmuran. Melihat itu saya merasa ada banyak sekali kearifan dan kedalaman filosofi  dari setiap lambang dan symbol budaya yang terlihat di permukaan.

Rempah-rempah di Yogyakarta, juga mengingatkan saya akan perawatan wanita yang mencapai tingkat yang sangat membanggakan.  Sementara kita di kota sibuk mencari kearifan dari bangsa lain untuk perawatan tubuh kita, sesungguhnya tanpa kita sadari para leluhur kita telah menemukan rahasianya dari alam kita sendiri yang tentunya lebih sesuai dengan tubuh dan kondisi cuaca di negeri tropis kita ini.  Di Yogyakarta, kita mudah menemukan ini.

Sayup-sayup saya mendengar gendhing didendangkan dengan lembut oleh seorang pesinden….

Yan ing tawang ono lintang,  Cah Ayu. Aku ngenteni tekamu. Marang mego ing angkoso, Ni Mas. Sun takoke pawartamu. Janji janji aku eling, Cah Ayu. Sumedhot rasaning ati. Lintang-lintang ngiwi-ngiwi, Ni Mas. Tresnaku sundul wiyati.

Dek semono, janjimu  diseksesni. Mego kartiko kairing roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang, Cah Ayu. Rungokno tangis ing ati. Binarung swaraning Ratri, Ni Mas. Ngenteni bulan ndadari.”

Ah…..dendang cinta yang sangat romantis dan melankolis. Yang meluluhkan hati siapapun pendengarnya.

Yogyakarta, saya ingin kembali!.

 

 

 

 

A for Average, B for Baaaaaaad…..

Standard

Asian ParentsSuatu malam, saya mengobrol dengan suami saya sambil melihat bulan purnama sedang mengambang.  Kedua anak saya sedang di kamar. Entah mereka bermain games atau menonton. Sambil tertawa-tawa cekikikan mereka memanggil-manggil  “Mama! Mama! Sini deh….” katanya. Saya tidak segera beringsut masuk.

Akhirnya anak saya yang kecil menyusul saya ke halaman dan mengajak saya masuk. Di kamar anak saya yang besar sudah menyiapkan  sebuah video di youtube untuk saya lihat. “Mommy, you have to see this… ” katanya sambil tersenyum bandel, diikuti oleh adiknya yang cekakak-cekikik.  Sebuah video yang berjudul ” Asian Immigrant Parents vs Western Parents”.  Mereka memilihkan dan memutarnya untuk saya. Nah..sekarang saya tahu siapa otaknya. Sayapun ikut menonton.

Career Choice Western Parents bilang : mereka mengatakan mendukung apapun pilihan career anaknya kelak, mau itu jadi Bill Gate, mau jadi President..intinya mereka tetap bangga akan anaknya. Asian parents juga serupa, membebaskan anaknya untuk memilih menjadi apa saja, Engineer, Docter, Lawyer atau apapun.

Kelihatannya tak terlalu jauh nih bedanya..Saya menyimak dengan baik apa yang dikatakan.

Falling In Love – Western parents umumnya ikut senang jika anaknya menyampaikan kalau ia falling in love dan malahan bertanya, kaya apa sih orangnya? Cakep nggak?. Sementara Asian Parents marah-marah jika anaknya mengatakan ia falling in love pada seseorang ” You think you in love? You crazy! You are too young..”ia menyarankan agar anaknya tetap fokus pada sekolah dulu, belajar keras, dapatkan pekerjaan dulu baru menikah.

Saya tetap menonton.

Sleep overs  – Western parents umumnya membolehkan anaknya menginap dan berharap agar anaknya bisa menikmati acara menginap di rumah orang lain. Tapi Asian parents biasanya tidak mengijinkan dan khawatir mereka menyusahkan orang lain. Toh juga mereka punya tempat tidur sendiri yang bagus,  ngapain harus menginap di rumah orang lain..

Sports – Western parents sangat mendukung anakanya aktif dalam Sport, bahkan bangga. jika menjadi team Sepakbola. Asian parents menganggap ikut Sports hanya membuang-buang waktu saja.Kalau memang ingin ikut Club, ikut saja Klub matematika…

Aah… Nggak seperti itulah!.  “Kan Mama juga sangat mendukung kalian untuk aktif Sport. Oke aja kan kalau mau ikut klub sepakbola atau mau ikut Merpati Putih. Juga nggak keberatan kalau memang mau nginep di rumah teman” kata saya berkeberatan jika anak-anak menganggap saya typical Asian parents yang seperti itu.  “Tunggu!. Mama harus denger yang berikutnya”saran anak saya.  Sayapun duduk kembali.

Grades –  Jika mendapat nilai B+ di sekolah, Western Parents akan tetap bangga atas pencapaian anaknya. Sedangkan bagi Asian parents nilai B+ itu sungguh sangat tidak membanggakan. You know what? B is Baaaaaadddd… 

Ha ha ha… Saya nyengir mendengar itu. Anak-anak memperhatikan reaksi saya.  “Nah! itu Mama banget!!!”  kata anak saya. Lalu kedua-duanya mulai membully saya. Mengatakan bahwa saya sangatlah typical Asian Parents yang menetapkan Standard terlalu tinggi untuk nilai yang harus mereka capai di Sekolah. “Bagi Mama, A is  for Average! And B is for Baaaaaaddddd – just like Asian Mom in this video!” kata anak saya yang besar meledek sambil tertawa-tawa. Rupanya ia bermaksud melakukan protes dengan memanfaatkan Video itu sehingga ia tidak perlu bersusah payah lagi menjelaskan kepada saya.  Ha ha.. cerdik juga caranya.

Video itu  menggambarkan gaya orangtua dalam mendidik anaknya. Berbeda beda. Ada typical Western Parents dan Asia Parents.  Dan  saya pikir gaya saya mendidik anak-anak lebih mirip Western Parents ketimbang Asian Parents dalam kebanyakan hal. Hanya dalam masalah  Grades saja barangkali saya lebih mirip Asian Parents. Anak-anak setuju.

Saya lalu menjelaskan kepada anak saya. Sangat wajar orangtua mengharapkan anaknya berprestasi dengan baik di Sekolah.  Itulah sebabnya mengapa mereka selalu mendorong dan mendukung anaknya untuk mencapainya. Tapi kalau urusan target, sebenarnya mereka sendiri yang bisa mengatur. Bukan harus dari saya.

Saya mengajak mereka berpikir sejenak. “Lupakan harapan Mama. Mama tidak menetapkan target. Coba kalau kalian sendiri berpikir. Kalian maunya bagaimana?” tanya saya menanyakan, apa sebenarnya yang mereka inginkan.  Apakah mereka tertarik untukmenjadi anak yang berprestasi atau tidak, jika seandainya saya tidak mendorong mereka.

Ketika ditanya seperti itu, anak saya mengatakan mereka ingin menjadi murid yang terbaik, terlepas apakah saya memintanya begitu atau tidak. Ya, OK – kata saya. Kalau ingin menjadi yang terbaik, caranya ya kita harus mendapatkan  score terbaik untuk setiap mata pelajaran di sekolah, plus prestasi yang juga membanggakan di luar  mata pelajaran. Anak saya setuju. “Kalau yang namanya score terbaik itu berapa?” tanya saya.  ” Ya..nilai A. atau 100” jawab anak saya. “Nah! Itu kalian sendiri yang menjawab. Bukan B+ atau 90 atau 80 kan?. Tapi A. Atau 100. “tanya saya sambil menegaskan. Anak anak setuju dan tertawa. “Bukan Mama lho yang bilang begitu. Kalian sendiri” kata saya. Anak saya mengangguk. “Jadi target A itu adalah dari diri kalian sendiri, bukan dari mama“kata saya mengakhiri. Anak saya terdiam dan tidak mempermasalahkan video itu lagi.

Seketika saya menyadari bahwa betapa pentingnya saya membuat “Target perolehan nilai mata pelajaran yang mereka harus capai” sebagai target yang mereka Set sendiri, usahakan sendiri dan evaluasi sendiri. Bukan target dari saya. Sehingga mereka merasa Target itu memang miliknya. Mereka yang akan mengejarnya dan mencapainya. Bukan karena saya yang menetapkan.

Saya bukan penentu hidup mereka. Sebagai orangtua saya hanya bertugas sebagai Coach dalam kehidupan mereka.

” ….You are the bows from which your children as living arrows are sent forth. The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
 Let your bending in the archer’s hand be for gladness; For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable”  – Kahli Gibran on Children –

 

Yogyakarta: Jamur-Jamur Yang Cantik.

Standard

Jamur adalah salah satu tanaman yang menarik perhatian saya sejak kecil. Saya suka mengamatinya tumbuh di halaman rumah, di kebun, dekat tanaman,dekat sarang laron, di batang pohon yang membusuk dan sebagainya. Terkadang saya juga belajar mengidentifikasi mana yang beracun dan tidak dari ibu saya. Sayangnya sampai sekarang saya masih belum hapal juga yang mana saja jenis jamur yang ‘edible’dan mana yang tidak.  Tetap saja ragu jika melihat jamur di alam, apakah bisa dimakan atau tidak.

Beberapa waktu yang lalu, ketika berkunjung ke kota Yogyakarta, saya mampir di sebuah rumah makan yang semua menunya terdiri atas jamur. Berbagai jenis jamur – yang semuanya bisa dimakan tentunya.

Sebenarnya pernah membaca tentang rumah makan ini sebelumnya dari tulisan teman-teman blogger lainnya. Namun begitu melihat sedemikian banyaknya jenis hidangan dari  jamur  yang tersedia di sana (dan…enak semuanya), saya jadi merasa sangat takjub!. Selama ini saya hanya mengolah jamur menjadi pepes, tumis, sup ataupun gorengan. Tapi ternyata di luar itu, jamur bisa juga di sate. Di bikin rendang,  asam manis, oseng-oseng, lumpia, peyek, dan sebagainya…hingga minumanpun bisa dibuat dengan jamur. Walah… Kita bisa belajar kreatif dari restaurant ini.

Selain itu, di sebuah pojok  restaurant disediakan display berbagai jenis jamur hidup yang membantu kita untuk mengetahui berbagai jenis jamur yang bisa dimakan ataupun dijadikan obat. Ada berbagai macam. Warnanya cerah dan bentuknya cantik-cantik dan artistik. Sangat cocok dijadikan penghias ruangan. Walaupun tidak sedang membawa kamera, saya merasa sangat beruntung jaman sekarang kita bisa menggunakan telpon genggam untuk mengabadikan apa yang kita lihat.

Ade beberapa yang masih saya ingat namanya, walaupun sebagian lupa juga. Setidaknya di sana ada jamur Lingzhi yang diyakini berkhasiat menyembuhkan beberapa jenis penyakit tertentu. Lalu ada jamur tiram yang cantik. Warnanya putih dan bentuknya seperti tiram. Namun ada juga jenis jamur tiram merah yang warnanya sungguh sangat indah. Lalu saya juga melihat ada jenis jamur kuping. Terus jamur kancing. Lalu ada jenis jamur besar yang mirip King oyster.  Kemudian ada lagi jenis jamur yang entah apa namanya, warnanya hitam legam. Jamur-jamur itu ditata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menarik sebagai penghias pojok ruangan.

Yuk, kita berkunjung  ke Yogya !

Anakku & Indonesia Piano Competition 2015.

Standard

20150412_180710Anak saya menyatakan ingin ikut Indonesia Piano Competition. Semangat sekali. Padahal ia sedang Ujian Akhir Sekolah. Awalnya saya agak ragu. Saya takut ia kurang fokus dengan pelajaran sekolahnya. Tapi melihat semangatnya yang tinggi dan keyakinannya yang menggebu akhirnya saya ijinkan ia ikut kompetisi itu. Tentu saja latihannya hanya boleh disela-sela waktu belajarnya. Tapi rupanya ia tetap menjaga semangatnya.

Nah kemarin tanggal 11 April, ikutlah ia dalam kompetisi itu di Menara Top Food, Alam Sutera. Pesertanya cukup banyak juga. 300 orang lebih.Waduh!. Umurnya 14 tahun. Ia masuk ke kategori Elementary C.  Pukul 2 siang ia sudah siap masuk ke kursi peserta.  Saya melihatnya dari kejauhan. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya bertanding, ia tampak grogi dan gelisah. Saya hanya bisa berdoa semoga ia diberi ketenangan.  Hingga akhirnya saat itupun tiba juga. Ia naik ke panggung, membungkukkan tubuhnya yang jangkung ke arah penonton, lalu mulai duduk di depan piano di atas panggung yang lampunya temaram. Dan mulai membawakan  musiknya. Bach kleine preludien no 4 BMV 927. Barangkali karena grogi, saya mendengar ia memainkannya tidak sebagus biasanya ia memainkannya di rumah. Temponya agak kurang smooth, tapi secara umum ia bisa menguasai diri dan alat musiknya dengan cukup baik.

2015-04-11 16.02.08Ingin sekali saya mengambil gambarnya. Sayang sekali panitia berkali-kali memberi peringatan agar penonton tidak mengambil gambar dengan flash atau blitz. Akhirnya saya hanya mengambil fotonya dengan kamera hape tanpa flash, yang walhasil….buram nyaris gelap gulita. Setelah saya lakukan sedikit edit, ya lumayan bisa terlihat walaupun tidak optimal.

Setelah selesai, anak saya turun dari panggung dan menceritakan betapa grogi dan paniknya dia. Saya menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu hal biasa. Apalagi pengalaman pertama. Sangat wajar. Berikutnya ia hanya perlu belajar menenangkan diri. Permainan musiknya tidak bermasalah. Lalu saya katakan, bahwa  ambisi untuk memenangkan kompetisi itu sangat penting, Tetapi hal pertama yang lebih penting dicapai adalah mendapatkan pengalaman panggung.  Saya adalah salah seorang yang percaya bahwa tingkat kepercayaan diri seseorang dalam berbicara di depan publik, sangat dibantu oleh pengalaman panggung masa kecilnya.

2015-04-13 00.08.31Jika orang itu sejak kecil terlatih naik turun panggung, maka ketika ia dewasa ia akan menjadi terbiasa menghadapi orang banyak dan berbicara di depan publik ketika kelak dibutuhkan. Demikian juga dengan kebiasaan bertanding dan berkompetisi. Orang yang sering ikut kompetisi akan lebih terlatih untuk menghadapi situasi menang ataupun kalah. Ia akan lebih sportif  dan mengerti aturan main yang fair. Jagi bagi saya, kalah ataupun menang baginya kali ini bukanlah hal yang paling penting.Saya hanya ingin ia merasakan bagaimana ia naik ke panggung di depan ratusan pasang mata penonton di ballrooom itu dan bertanding secara jujur.  Cari pengalaman, anakku!

Nah tadi sore keluarlah pengumumannya.Anak saya sangat tegang. Saya menghiburnya dan berkali-kali menegaskan bahwa yang penting adalah pengalamannya,bukan soal menang atau kalahnya. Pembawa acara pun mengumumnkan pemenangnya. Bukan anak saya. Ada beberapa orang yang lebih baik darinya. Tetapi belakangan diumumkan bahwa ia mendapatkan Award untuk Music Achievement. Hadirin pun bertepuk tangan dengan riuh. Wajah anak saya tampak lega. Ia berjalan ke depan untuk menerima Award itu. Saya bangga melihatnya.

Congratulation, anakku!.

Kaki Yang Keseleo.

Standard

KeseleoSaya hendak pergi ke Jogjakarta bersama seorang teman dan ibunya. Di garbarata menuju pintu pesawat yang kami tumpangi, saya merasa ada jeglugan yang jika tidak hati-hati bisa membuat kaki tersandung dan terkilir. Karenanya, cepat-cepat saya memperingatkan ibu teman saya yang berjalan di belakang.  “Hati-hati Bu! Ada jeglugan. Awas tersandung” kata saya. Ibu teman saya mengiyakan peringatan saya. Lalu sayapun berjalan kembali. Tidak sampai semenit, tiba-tiba kaki kiri saya terjungkit ke samping. Keseleo masuk ke dalam parit cekungan di tepi garabarata. “Aduuuh!” Sakit juga rasanya. Saya mentertawakan diri saya sendiri. Terkadang  sibuk memperingatkan orang lain agar jangan lengah, sementara dirinya sendiri malah sangat lengah. Sekarang kebalikannya, Ibu teman saya yang malah mengkhawatirkan kaki saya. Terseok-seok sayapun memasuki pintu pesawat ke tempat duduk. Untungnya selama perjalanan saya tidak merasa sakit.

Setiba di Jogja,  seorang teman menjemput dan mengantarkan berjalan-jalan ke pasar. Barulah saya tahu kalau kaki saya ternyata lebih sakit dari yang saya pikir. Saya berusaha menahan sakit dan terus berjalan. Rasa sakit semakin lama ternyata semakin menyiksa. Cream anti sakit tidak menolong. Setelah pasar ke dua saya berhenti dan duduk. Tak sanggup berjalan lebih jauh lagi di pasar yang ke tiga. Kaki saya membesar, bengkak dan panas.

Rasa sakit semakin bertambah dan saya memutuskan untuk istirahat di hotel saja, sambil berpikir apa yang harus saya lakukan sekarang. Saya memeriksa kaki saya kembali. Sambil meringis saya mencoba menekan dan meraba-raba batas-batas rasa sakitnya di sekitar tulang tarsal dari bagian atas dan dari arah telapak kaki. Saya pikir saya kena masalah di area sekitar tulang cuboid. Rasanya tulangnya sih tidak retak, tapi barangkali otot dan urat di sekitarnya itu.  Cuboid syndrome! Itulah masalah saya. Rupanya saat keseleo, kaki saya miring ke samping melebihi batas maksimalnya 25°.

Saya coba mencari bantuan Google apa yang harus saya lakukan sebagai pertolongan pertama sebelum ke dokter Jawabannya adalah RICE:

Rest: istirahatkan kaki. Jangan dibawa bergerak dulu. Apalagi pergerakan yang eksesif.

Ice:compress dengan air es.

Compression : sebaiknya kaki dibandage untuk memastikan  jangan banyak pergerakan guna menghindari kebengkakan lebih jauh.

Elevation: posisi kaki diangkat lebih tinggi dari jantung saat berbaring untuk mengurangi kebengkakan.

RICE ini perlu dilakukan dalam 72 jam pertama kejadian. Saya juga membaca beberapa lagi bentuk treatment yang menolong misalnya light muscle masage.

Teman saya menelpon tukang urut khusus yang biasa menangani patah tulang dan kaki keseleo di wilayah Sleman – namanya Pak Bayu. Saya mendapatkan slot waktu jam 6 sore. Sebenarnya rada ngeper juga. Dalam perjalanan saya membayangkan rasa sakit yang harus saya derita saat si tukang urut mengubek-ubek kaki saya. Nyali saya terasa ciut.

Setibanya di tempat, saya bertemu Pak Bayu. Masih sangat muda dan kelihatan sangat ramah. Beliau menanyakan bagaimana kejadiannya. Saya bau tahu rupanya banyak juga atlet dan pelaku olahraga yang mengalami masalah serupa atau bahkan lebih parah. Lalu beliau mulai mengurut kaki saya sambil bercerita yang jenaka. Herannya saya sama sekali tidak merasa sakit diurut. padahal tadi saya sempat pegang, terasa lebih sakit. Saya merasa takjub, karena setelah diurut tingkat rasa sakit saya berkurang hingga setengahnya. Pak Bayu hanya berpesan, agar saya jangan bergerak dulu, jangan bersimpuh dan menekan kaki saya yang sakit. Kalau bisa dikompres dengan air es. Ah..serupa dengan apa yang disarankan oleh Om Google.

Saya bertanya, bagaimana beliau bisa melakukan ini? Menyembuhkan rasa sakit hingga ke level setengahnya tanpa saya harus merasa sakit. Jawaban beliau, kuncinya adalah memahami anatomi tubuh dengan sebaik-baiknya . Selain itu memahami gerakan dan denyut nadi serta menyesuaikan gerakan mengurut dengan irama tubuh sang sakit, agar tidak terasa sakit. Saya tidak terlalu menangkap bagaimana maksudnya kalimat kedua itu.  Yang jelas, sakit saya memang berkurang setengahnya.

Akhirnya sampai di Hotel, saya mengompres kaki saya dengan es yang dibalut handuk sebelum tidur. Esok harinya saya bangun, rasa sakit kaki saya sudah sangat jauh berkurang. Barangkali tinggal 20% saja. Sekarang saya sudah bisa berjalan lagi,walaupun masih sedikit tertatih tatih. Tapi setidaknya saya sudah sanggup berjalan lagi.

Sekarang saya mulai menyadari keajaiban yang saya terima. Saya pikir urut ringan dan kompres es itu benar-benar menolong. Berhasil mengurangi rasa sakit kaki saya hingga saya bisa berjalan kembali. Mulai berpikir, apakah “Therapy Urut” dimasukkan ke dalam mata kuliah di fakultas Kedokteran di Indonesia? Saya tidak tahu. Rasanya tidak umum. Tapi bagaimanapun itu, bagi saya therapy urut itu bisa sangat berperanan dalam proses penyembuhan seseorang.  Hanya karena ia tidak dimasukkan secara resmi dalam struktur pelajaran sekolah resmi, bukan berarti ilmu itu tidak ada dan tidak berguna. Semakin saya sadari ilmu itu sedemikian luasnya. Ilmu yang ditampung dan diajarkan di bangku sekolah dan yang di luar bangku sekolah. Sebagian telah kita ketahui, dan sebagian besar lainnya masih belum terkuak dan menjadi misteri bagi kita yang tidak menguasainya.

Lautan ilmu layaknya jagatraya yang entah di mana tepinya. Dan otak kita manusia, berkelana dalam jagat raya ilmu itu. Dengan arah petualangan yang ia jalani sendiri. Dan setiap cabang ilmu laksana planet tersendiri yang mengundang otak kita untuk masuk dan menjelajah ke dalamnya. meneliti setiap detailnya untuk kemudian terbang lagi ke planet ilmu berikutnya. Dan setiap planet itu bersama dengan planet-planet ilmu yang lain berada dalam tata bintang masing-masing, dimana setiap bintang berada dalam kumpulannya yang disebut dengan galaxy.  Ada bermilyard-milyard galaxy dalam jagatraya ilmu itu. Dan siapakah yang bisa menjamin jika jagatraya itu juga cuma ada satu?

Ilmu itu, semakin dipikirkan rasanya semakin tidak terpikirkan.

Gerhana, Saat Sang Kala Rahu Nadah Bulan.

Standard

sang kala rauSeorang teman saya mempost di Group BB “Lihat segera ke langit! Ada Kala Rau nadah bulan” katanya (Bahasa Bali: nadah bulan = memakan bulan). Maksudnya adalah mengajak kami untuk ramai-ramai melihat langit menonton Gerhana Bulan.Walaupun tidak bisa segera melihat ke langit, tak urung saya tersenyum juga membaca ajakannya itu. Kala Rau! Alias Kala Rahu.  Sudah lama saya tidak mendengar nama asura/raksasa itu diucapkan.

Kala Rahu dalam mitos yang berkembang di kalangan Masyarakat Bali adalah nama seorang raksasa yang kepalanya putus dipenggal oleh Dewa Wisnu gara-gara ketahuan mencuri dan meminum air suci  tirta amertha milik para Dewa yang diyakini dapat memberinya umur panjang. Karena ia sudah sempat menenggak air suci itu hingga ke kerongkongannya, maka walaupun kepalanya putus namun tetap bisa hidup dan melayang-layang di angkasa. Konon ia sangat dendam kepada Dewi Ratih, sang dewi bulan yang telah melaporkan perbuatannya itu kepada Dewa Wisnu. Itulah sebabnya pada saat tertentu, ia muncul dan memangsa Dewi Ratih dengan lahapnya. Namun karena lehernya putus, setiap kali ia berhasil menelan Dewi Ratih, maka Dewi Ratih keluar lagi dari kerongkongannya yang putus itu. Ha ha.. cocok juga rasanya kalau dipikir-pikir. Bulan terang, lalu  menjadi gelap sedikit demi sedikit sampai bulan habis dan gelap, lalu setelah itu bulan muncul lagi sedikit demi sedikit hingga kembali penuh. Jaman dulu orang-orang membunyikan kentongan untuk mengusir sang Kala Rahu. Agar sang Kala Rahu cepat-cepat pergi dan Dewi Ratih bisa selamat kembali (padahal tanpa dipukulin kentonganpun, dewi Ratih tetap akan segera muncul kembali ya…).

Namun tentunya semua tahu kalau cerita di atas hanyalah mitos belaka ya. Semua tahu kalau gerhana bulan terjadi jika sebagian atau seluruh permukaan bulan tertutup oleh bayangan bumi. Tidak ada urusannya dengan Sang Kala Rahu.  Eiits… tapi tunggu dulu!. Jika dalam bahasa Bali, Kala itu berarti Waktu, setelah saya pikir-pikir, sesungguhnya yang disebut dengan Rahu itu adalah Bayangan Bumi. Sehingga jika kita terjemahkan, sebenarnya Kala Rahu adalah saat Bayangan Bumi menutupi sesuatu . Dan dalam konteks ini, sesuatu itu adalah Bulan. Jadi bulan berada di bawah bayang-bayang Bumi. Betul sekali!. Jadi istilah Kala Rahu itu memang tidak ada salahnya. Memang benar saat Sang Kala Rahu memakan bulan adalah kiasan saat dimana permukaan Bulan berada dalam bayangan Bumi.

Memikirkan itu, saya membayangkan jika seandainya bulan itu adalah manusia, berada di bawah bayang-bayang seseorang tentu tidaklah menyenangkan. Ketika kita hidup dalam bayangan seseorang yang lebih hebat dan lebih dalam banyak hal, kita cenderung akan merasa minder dan kurang berarti. Bayangan besar membuat kita menjadi pemalu, takut dan mengkeret. Sehingga tidak heran orang lainpun akan melihat kita semakin kecil. Bayang-bayang membuat jiwa kita sulit tumbuh karena tidak mendapatkan cahaya yang layak untuk pertumbuhan jiwa kita.  Jadi walaupun terkadang ada untungnya juga berlindung di balik bayangan seseorang,  sesungguhnya hidup di bawah  bayang-bayang seseorang itu lebih banyak ruginya.

Barangkali kita perlu meniru bulan. Jangan mau berlama-lama berada di bawah bayangan orang lain. Cepat-cepatlah keluar dan tunjukkan cahaya kita yang memang cemerlang. Lihatlah gerhana bulan!  Hanya sekian menit total berada dalam kegelapan bayangan, lalu muncul dan meraih kembali kecemerlangannya.

Bulan memberikan kita contoh yang baik, agar jangan berlama-lama berada di bawah bayangan orang lain.

 

 

Jejak Kaki Kucing.

Standard

20150401_063735Ada jejak kucing tampak di sebuah tanah yang lembek di tepi jalan. Jejaknya tampak cukup dalam dan memikat hati saya.  Kaki-kaki kucing itu sungguh mungil dan lucu. Saya mengamatinya sepintas. Ada jejak bantalan telapak kakinya yang kelihatan agak membulat, lalu ada empat buah jari kaki di masing-masing jejak telapak kaki itu.  Saya rasa, kucing itu sedang mengembangkan cakarnya saat ia berdiri di situ, karena  jari-jari kaki itu tampak tajam dan runcing di ujung-ujungnya.

Ada empat buah. Tentunya itu kaki depan, kaki belakang yang kiri dan yang kanan. Saya mencoba mencari jejak kaki kucing yang lain. Tidak ada lagi. Hanya empat buah itu saja. Padahal tanah lembek itu cukup luas. Bagiamana ia bisa meninggalkan jejak di tengah-tengah begitu?  Aha! Saya tahu jawabannya.Tentulah ia melompat ke sana dari arah jalan yang beraspal, mendarat dan meninggalkan jejaknya sekali, lalu melompat lagi ke rerumputan. Bukan berjalan santai. Karena jika ia memang berjalan ke sana, tentu jejak kakinya ada lebih dari 4 buah. Fakta lain adalah bahwa jejak kaki kucing itu sangat dalam. Jejak sedalam itu hanya mungkin dibuat oleh kucing yang berbobot badan sangat berat, atau…ditinggalkan oleh kaki yang sedang melompat, dimana gaya tekan yang bekerja di tanah lembek itu cukup besar. Mungkin ia berlari kencang dan melompat.

Fakta lain yang menarik lagi adalah ternyata jejak kaki-kaki kucing itu berada dalam posisi tidak normal. Kedua kaki kirinya yang depan dan belakang berada pada titik yang sangat berdekatan, Sementara jarak kedua kaki kanan yang depan dan belakang lebih jauh. Saya jadi membayangkan, tentulah kucing itu berada dalam posisi badan yang melengkung saat mendarat di tanah lembek itu. Kucing berlari kencang -melompat-badannya melengkung- cakarnya keluar.   Apa yang terjadi semalam saat kucing itu meompat dan berlari di sana? Mungkin ia sangat semangat. Tentulah ia mengejar sesuatu. Tikus? Atau malah ketakutan? Jangan-jangan dikejar sesuatu? Anjing?  Saya mencoba mencari-cari jejak yang lain untuk mendukung pikiran saya. Barangkali ada jejak tikus atau anjing di sekitar itu.

20150401_063836Dan… yes! Benar saja, di belakang jejak itu tampak sebuah jejak kaki anjing. Mirip jejak kaki kucing tapi ukurannya jauh lebih besar. Tidak terlalu jelas. Hanya sebuah kaki, karena tanah lembek di tempat anjing itu berdiri hanya sedikit. Jejak 3 buah kakinya yang lain tidak terlihat. Jejak itu tampak lebih ringan dan dangkal ketimbang jejak kaki kucing tadi. Saya rasa anjing ini berada dalam posisi yang di atas angin, lebih santai. Sementara si kucing sedang berada di posisi yang terancam. Tegang dan ketakutan.

Entah kenapa saya jadi merasa bisa membayangkan apa yang terjadi semalam saat kucing itu melompat dan berlari di sana. Saya bisa merasakan ketakutan kucing itu. Naluri untuk menyelamatkan diri yang menekan kepalanya dan memerintahkan anggota tubuhnya untuk berlari sekencang dan  sejauh mungkin serta melompat agar terhindar dari anjing itu. Gambaran itu berputar di kepala saya seolah saya sedang melihat sendiri kejadian itu. Walah! Mungkin sebagian teman saya akan berpendapat bahwa saya terlalu lebay. Jejak kaki kucing aja kok dipikirin. Kurang kerjaan.  Ha ha ha.. barangkali saya terlalu banyak membaca buku Old Shatterhand atau Trio Detektif dan Lima Sekawan waktu kecil. Atau kebanyakan berpetualang mencari jejak waktu menjadi anggota Pramuka jaman dulu.

Tapi sungguh, bagi saya membaca jejak itu bisa menjadi hal yang menarik dan menyenangkan juga. Karena sebenarnya setiap mahluk itu memiliki dan meninggalkan jejak dalam hidupnya. Jejak yang ia tinggalkan untuk setiap hal yang ia lakukan dalam hidupnya. Jejak yang mendalam maupun jejak yang samar. Jejak yang baik ataupun jejak yang buruk. Jejak yang hanya bisa terbaca dalam jangka waktu pendek maupun jejak yang akan tetap abadi dan tetap terbaca bahkan ketika ia telah meninggalkan dunia ini dan kembali kepadaNYA.

Tentunya kita semua ingin meninggalkan jejak yang baik dalam hidup kita.

Jeruk Kesturi.

Standard

20150118_075839Seorang kakek tua mendorong gerobak berisi bibit tanaman melintas di depan rumah. Saya memberinya tanda untuk berhenti, karena tertarik untuk membeli bibit Jeruk Purut.  Beberapa waktu yang lalu, pohon Jeruk Purut saya mati dimakan rayap. Jadi saya ingin menggantinya dengan tanaman Jeruk Purut baru. Setelah memilih dan menawar, akhirnya saya memutuskan membeli sebatang.  Saat itu mata saya tertarik pada sebatang pohon Jeruk lain. Buahnya kecil-kecil. Mirip jeruk yang dijadikan hiasan saat perayaan Sin Cia.

Ini namanya Jeruk Kesturi. Ada juga yang bilang Songkit. Mau Neng?” tanya kakek itu sekalian menawarkan. Saya berpikir sejenak. Jeruk itu mulai kelihatan berbuah. Kecil-kecil. Banyak juga buahnya. “Bisa dimakan?“tanya saya. “Bisa.Tapi asem” katanya. Saya bimbang.”Lalu buat apa ditanam kalau asem?” tanya saya. “Buat jeruk peras. Kalau nggak, buat nyambel” katanya.

Akhirnya saya memutuskan untuk membelinya sebatang. Belum terpikir untuk apa dan mau ditanam di sebelah mana. Akhirnya saya letakkan saja dulu di tepi kolam. Saya pikir walaupun tidak dikonsumsi, tapi kelihatannya pohon jeruk ini cantik juga jika sedang berbuah. “Buat hiasan” pikir saya.

20150325_061915Pohon Jeruk Kesturi saya berbuah banyak dan kulit buahnya sedikit-sedikit mulai berubah kekuningan. Saya sangat senang melihatnya. Namun sayangnya, suatu pagi saya menyadari kalau buah jeruk itu menghilang satu per satu. Makin hari makin berkurang jumlahnya. Kelihatannya ada yang memetik setiap hari. Saya tidak tahu siapa yang sangat kreatif melakukannya. Saya tanya orang rumah, tidak ada yang tahu.

Karena posisinya di depan, tentu saja banyak orang lalu lalang. Selain itu ada banyak juga anak-anak kecil yang bermain ke halaman rumah saya untuk melihat kolam, menonton ikan dan kura-kura. Apa barangkali mereka memetik buahnya dan menjadikannya mainan? Barangkali mereka tertarik melihat buah jeruk yang mungil sebesar kelerang itu.  Saya tidak tahu persis, belum tentu juga mereka yang memetik buah jeruk itu. Saya hanya pernah memergoki mereka sedang memetiki bunga teratai saya dan menjadikannya mainan. Ya sudahlah. Namanya juga anak-anak.

Tapi lama-lama pohon Jeruk yang tadinya berbuah lebat itu, sekarang buahnya tinggal sedikit. Bisa dihitung jari.

Jeruk KesturiMelihat itu, saya jadi ingin mencoba Jeruk itu sebuah. Fuahh!! Kecutnya. Tapi kemudian saya menyadari, barangkali buah Jeruk yang kecil ini memang sangat pekat kandungannya. walaupun sudah kuning,namun asemnya bukan main.  Akhirnya saya coba peras sebuah dan Saya seduh dengan air panas secangkir dan tambahkan sedikit gula. Ternyata segar dan enak sekali. Rasa jeruknya sangat terasa.

Saya pikir, normalnya untuk membuat air jeruk dengan rasa sesegar ini, setidaknya saya membutuhkan sekitar 3-4 buah jeruk Siam biasa.  Tapi kali ini saya bisa membuatnya hanya dengan menggunakan satu buah jeruk Kesturi yang berukuran sangat mini ini. Diameternya tidak lebih dari diameter uang logam, tapi konsentrasinya memang luar biasa. Wah! Saya takjub. Sungguh buah jeruk ini layak disebut Jeruk konsentrat! Jeruk dengan konsentrasi tinggi.

Karena tidak mau rugi, akhirnya saya petik lagi buah jeruk itu sebelum keburu dipetik orang lain. Sebuah setiap pagi. Sampai buahnya benar-benar habis. Sungguh saya merasa beruntung membelinya.