Jeruk Kesturi.

Standard

20150118_075839Seorang kakek tua mendorong gerobak berisi bibit tanaman melintas di depan rumah. Saya memberinya tanda untuk berhenti, karena tertarik untuk membeli bibit Jeruk Purut.  Beberapa waktu yang lalu, pohon Jeruk Purut saya mati dimakan rayap. Jadi saya ingin menggantinya dengan tanaman Jeruk Purut baru. Setelah memilih dan menawar, akhirnya saya memutuskan membeli sebatang.  Saat itu mata saya tertarik pada sebatang pohon Jeruk lain. Buahnya kecil-kecil. Mirip jeruk yang dijadikan hiasan saat perayaan Sin Cia.

Ini namanya Jeruk Kesturi. Ada juga yang bilang Songkit. Mau Neng?” tanya kakek itu sekalian menawarkan. Saya berpikir sejenak. Jeruk itu mulai kelihatan berbuah. Kecil-kecil. Banyak juga buahnya. “Bisa dimakan?“tanya saya. “Bisa.Tapi asem” katanya. Saya bimbang.”Lalu buat apa ditanam kalau asem?” tanya saya. “Buat jeruk peras. Kalau nggak, buat nyambel” katanya.

Akhirnya saya memutuskan untuk membelinya sebatang. Belum terpikir untuk apa dan mau ditanam di sebelah mana. Akhirnya saya letakkan saja dulu di tepi kolam. Saya pikir walaupun tidak dikonsumsi, tapi kelihatannya pohon jeruk ini cantik juga jika sedang berbuah. “Buat hiasan” pikir saya.

20150325_061915Pohon Jeruk Kesturi saya berbuah banyak dan kulit buahnya sedikit-sedikit mulai berubah kekuningan. Saya sangat senang melihatnya. Namun sayangnya, suatu pagi saya menyadari kalau buah jeruk itu menghilang satu per satu. Makin hari makin berkurang jumlahnya. Kelihatannya ada yang memetik setiap hari. Saya tidak tahu siapa yang sangat kreatif melakukannya. Saya tanya orang rumah, tidak ada yang tahu.

Karena posisinya di depan, tentu saja banyak orang lalu lalang. Selain itu ada banyak juga anak-anak kecil yang bermain ke halaman rumah saya untuk melihat kolam, menonton ikan dan kura-kura. Apa barangkali mereka memetik buahnya dan menjadikannya mainan? Barangkali mereka tertarik melihat buah jeruk yang mungil sebesar kelerang itu.  Saya tidak tahu persis, belum tentu juga mereka yang memetik buah jeruk itu. Saya hanya pernah memergoki mereka sedang memetiki bunga teratai saya dan menjadikannya mainan. Ya sudahlah. Namanya juga anak-anak.

Tapi lama-lama pohon Jeruk yang tadinya berbuah lebat itu, sekarang buahnya tinggal sedikit. Bisa dihitung jari.

Jeruk KesturiMelihat itu, saya jadi ingin mencoba Jeruk itu sebuah. Fuahh!! Kecutnya. Tapi kemudian saya menyadari, barangkali buah Jeruk yang kecil ini memang sangat pekat kandungannya. walaupun sudah kuning,namun asemnya bukan main.  Akhirnya saya coba peras sebuah dan Saya seduh dengan air panas secangkir dan tambahkan sedikit gula. Ternyata segar dan enak sekali. Rasa jeruknya sangat terasa.

Saya pikir, normalnya untuk membuat air jeruk dengan rasa sesegar ini, setidaknya saya membutuhkan sekitar 3-4 buah jeruk Siam biasa.  Tapi kali ini saya bisa membuatnya hanya dengan menggunakan satu buah jeruk Kesturi yang berukuran sangat mini ini. Diameternya tidak lebih dari diameter uang logam, tapi konsentrasinya memang luar biasa. Wah! Saya takjub. Sungguh buah jeruk ini layak disebut Jeruk konsentrat! Jeruk dengan konsentrasi tinggi.

Karena tidak mau rugi, akhirnya saya petik lagi buah jeruk itu sebelum keburu dipetik orang lain. Sebuah setiap pagi. Sampai buahnya benar-benar habis. Sungguh saya merasa beruntung membelinya.

 

7 responses »

  1. Saya jadi penasaran denganlebatnya buahnya Mbak Dani. Pasti bagus banget ketika sudah berbuah ya. Sekarang untuk mengatasi buahnya yang sudah tidak terlalu lebat bagaimana Mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s