Jejak Kaki Kucing.

Standard

20150401_063735Ada jejak kucing tampak di sebuah tanah yang lembek di tepi jalan. Jejaknya tampak cukup dalam dan memikat hati saya.  Kaki-kaki kucing itu sungguh mungil dan lucu. Saya mengamatinya sepintas. Ada jejak bantalan telapak kakinya yang kelihatan agak membulat, lalu ada empat buah jari kaki di masing-masing jejak telapak kaki itu.  Saya rasa, kucing itu sedang mengembangkan cakarnya saat ia berdiri di situ, karena  jari-jari kaki itu tampak tajam dan runcing di ujung-ujungnya.

Ada empat buah. Tentunya itu kaki depan, kaki belakang yang kiri dan yang kanan. Saya mencoba mencari jejak kaki kucing yang lain. Tidak ada lagi. Hanya empat buah itu saja. Padahal tanah lembek itu cukup luas. Bagiamana ia bisa meninggalkan jejak di tengah-tengah begitu?  Aha! Saya tahu jawabannya.Tentulah ia melompat ke sana dari arah jalan yang beraspal, mendarat dan meninggalkan jejaknya sekali, lalu melompat lagi ke rerumputan. Bukan berjalan santai. Karena jika ia memang berjalan ke sana, tentu jejak kakinya ada lebih dari 4 buah. Fakta lain adalah bahwa jejak kaki kucing itu sangat dalam. Jejak sedalam itu hanya mungkin dibuat oleh kucing yang berbobot badan sangat berat, atau…ditinggalkan oleh kaki yang sedang melompat, dimana gaya tekan yang bekerja di tanah lembek itu cukup besar. Mungkin ia berlari kencang dan melompat.

Fakta lain yang menarik lagi adalah ternyata jejak kaki-kaki kucing itu berada dalam posisi tidak normal. Kedua kaki kirinya yang depan dan belakang berada pada titik yang sangat berdekatan, Sementara jarak kedua kaki kanan yang depan dan belakang lebih jauh. Saya jadi membayangkan, tentulah kucing itu berada dalam posisi badan yang melengkung saat mendarat di tanah lembek itu. Kucing berlari kencang -melompat-badannya melengkung- cakarnya keluar.   Apa yang terjadi semalam saat kucing itu meompat dan berlari di sana? Mungkin ia sangat semangat. Tentulah ia mengejar sesuatu. Tikus? Atau malah ketakutan? Jangan-jangan dikejar sesuatu? Anjing?  Saya mencoba mencari-cari jejak yang lain untuk mendukung pikiran saya. Barangkali ada jejak tikus atau anjing di sekitar itu.

20150401_063836Dan… yes! Benar saja, di belakang jejak itu tampak sebuah jejak kaki anjing. Mirip jejak kaki kucing tapi ukurannya jauh lebih besar. Tidak terlalu jelas. Hanya sebuah kaki, karena tanah lembek di tempat anjing itu berdiri hanya sedikit. Jejak 3 buah kakinya yang lain tidak terlihat. Jejak itu tampak lebih ringan dan dangkal ketimbang jejak kaki kucing tadi. Saya rasa anjing ini berada dalam posisi yang di atas angin, lebih santai. Sementara si kucing sedang berada di posisi yang terancam. Tegang dan ketakutan.

Entah kenapa saya jadi merasa bisa membayangkan apa yang terjadi semalam saat kucing itu melompat dan berlari di sana. Saya bisa merasakan ketakutan kucing itu. Naluri untuk menyelamatkan diri yang menekan kepalanya dan memerintahkan anggota tubuhnya untuk berlari sekencang dan  sejauh mungkin serta melompat agar terhindar dari anjing itu. Gambaran itu berputar di kepala saya seolah saya sedang melihat sendiri kejadian itu. Walah! Mungkin sebagian teman saya akan berpendapat bahwa saya terlalu lebay. Jejak kaki kucing aja kok dipikirin. Kurang kerjaan.  Ha ha ha.. barangkali saya terlalu banyak membaca buku Old Shatterhand atau Trio Detektif dan Lima Sekawan waktu kecil. Atau kebanyakan berpetualang mencari jejak waktu menjadi anggota Pramuka jaman dulu.

Tapi sungguh, bagi saya membaca jejak itu bisa menjadi hal yang menarik dan menyenangkan juga. Karena sebenarnya setiap mahluk itu memiliki dan meninggalkan jejak dalam hidupnya. Jejak yang ia tinggalkan untuk setiap hal yang ia lakukan dalam hidupnya. Jejak yang mendalam maupun jejak yang samar. Jejak yang baik ataupun jejak yang buruk. Jejak yang hanya bisa terbaca dalam jangka waktu pendek maupun jejak yang akan tetap abadi dan tetap terbaca bahkan ketika ia telah meninggalkan dunia ini dan kembali kepadaNYA.

Tentunya kita semua ingin meninggalkan jejak yang baik dalam hidup kita.

4 responses »

  1. baru aja mau kasih komen mbak seperti orang Indian cari jejak .., huf..
    ternyata di paragraf bawah udah diceritain juga he..he..
    kreatif lho mbak, dari jejak kucing bisa jadi postingan

  2. Silaturahmi Bu Made. Kita memang merasa menjadi pembaca jejak yang baik terhadap hal-hal yang tampak. Namun, untuk jejak-jejak yang telah kita tinggalkan dalam kehidupan ini, kita sangat-sangat amatir, kalau tidak mau dibilang masa bodo lah. Kita begitu fasih dan pandai membaca jejak kejelekan2 orang lain, apalagi yang pernah berbuat jahat kepada kita, sulit hapusnya. Kuman diseberang lautan nampak jelas, sedangkan gajah di pelupuk mata tak bisa kita lihat. Ibaratnya jejak2 kejelekan orang tersebut kita simpan di flashdisc yang canggih dan awet yang sewaktu2 dapat kita buka dimana saja kita berada. Padahal yang dikatakan pembaca jejak yang baik itu adalah kita merekam jejak2 kejelekan kita untuk ditaubati bukan untuk dilupakan, dan menyimpan jejak kebaikan2 yang telah dilakukan oleh orang lain kepada kita. Nyatanya, mayoritas kita adalah pembaca jejak kelas wahid terhadap jejak2 kejelekan orang yang dilakukan kepada kita dan jejak2 kebaikan kita yang kita lakukan kepada orang lain. Pembaca jejak expert itu adalah yang berlawanan dengan kalimat tersebut. Ini pemikiran saya. Dan terus terang saja untuk menjadi yang seperti ini sangat susah sekali, tetapi toh kita tetap harus berusaha kan. Saya yakin tak ada satu pun ajaran di dunia ini yang mengajarkan pemeluknya untuk selalu me’metani’ atau mengorek-orek kesalahan dan kejelekan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s