Kaki Yang Keseleo.

Standard

KeseleoSaya hendak pergi ke Jogjakarta bersama seorang teman dan ibunya. Di garbarata menuju pintu pesawat yang kami tumpangi, saya merasa ada jeglugan yang jika tidak hati-hati bisa membuat kaki tersandung dan terkilir. Karenanya, cepat-cepat saya memperingatkan ibu teman saya yang berjalan di belakang.  “Hati-hati Bu! Ada jeglugan. Awas tersandung” kata saya. Ibu teman saya mengiyakan peringatan saya. Lalu sayapun berjalan kembali. Tidak sampai semenit, tiba-tiba kaki kiri saya terjungkit ke samping. Keseleo masuk ke dalam parit cekungan di tepi garabarata. “Aduuuh!” Sakit juga rasanya. Saya mentertawakan diri saya sendiri. Terkadang  sibuk memperingatkan orang lain agar jangan lengah, sementara dirinya sendiri malah sangat lengah. Sekarang kebalikannya, Ibu teman saya yang malah mengkhawatirkan kaki saya. Terseok-seok sayapun memasuki pintu pesawat ke tempat duduk. Untungnya selama perjalanan saya tidak merasa sakit.

Setiba di Jogja,  seorang teman menjemput dan mengantarkan berjalan-jalan ke pasar. Barulah saya tahu kalau kaki saya ternyata lebih sakit dari yang saya pikir. Saya berusaha menahan sakit dan terus berjalan. Rasa sakit semakin lama ternyata semakin menyiksa. Cream anti sakit tidak menolong. Setelah pasar ke dua saya berhenti dan duduk. Tak sanggup berjalan lebih jauh lagi di pasar yang ke tiga. Kaki saya membesar, bengkak dan panas.

Rasa sakit semakin bertambah dan saya memutuskan untuk istirahat di hotel saja, sambil berpikir apa yang harus saya lakukan sekarang. Saya memeriksa kaki saya kembali. Sambil meringis saya mencoba menekan dan meraba-raba batas-batas rasa sakitnya di sekitar tulang tarsal dari bagian atas dan dari arah telapak kaki. Saya pikir saya kena masalah di area sekitar tulang cuboid. Rasanya tulangnya sih tidak retak, tapi barangkali otot dan urat di sekitarnya itu.  Cuboid syndrome! Itulah masalah saya. Rupanya saat keseleo, kaki saya miring ke samping melebihi batas maksimalnya 25°.

Saya coba mencari bantuan Google apa yang harus saya lakukan sebagai pertolongan pertama sebelum ke dokter Jawabannya adalah RICE:

Rest: istirahatkan kaki. Jangan dibawa bergerak dulu. Apalagi pergerakan yang eksesif.

Ice:compress dengan air es.

Compression : sebaiknya kaki dibandage untuk memastikan  jangan banyak pergerakan guna menghindari kebengkakan lebih jauh.

Elevation: posisi kaki diangkat lebih tinggi dari jantung saat berbaring untuk mengurangi kebengkakan.

RICE ini perlu dilakukan dalam 72 jam pertama kejadian. Saya juga membaca beberapa lagi bentuk treatment yang menolong misalnya light muscle masage.

Teman saya menelpon tukang urut khusus yang biasa menangani patah tulang dan kaki keseleo di wilayah Sleman – namanya Pak Bayu. Saya mendapatkan slot waktu jam 6 sore. Sebenarnya rada ngeper juga. Dalam perjalanan saya membayangkan rasa sakit yang harus saya derita saat si tukang urut mengubek-ubek kaki saya. Nyali saya terasa ciut.

Setibanya di tempat, saya bertemu Pak Bayu. Masih sangat muda dan kelihatan sangat ramah. Beliau menanyakan bagaimana kejadiannya. Saya bau tahu rupanya banyak juga atlet dan pelaku olahraga yang mengalami masalah serupa atau bahkan lebih parah. Lalu beliau mulai mengurut kaki saya sambil bercerita yang jenaka. Herannya saya sama sekali tidak merasa sakit diurut. padahal tadi saya sempat pegang, terasa lebih sakit. Saya merasa takjub, karena setelah diurut tingkat rasa sakit saya berkurang hingga setengahnya. Pak Bayu hanya berpesan, agar saya jangan bergerak dulu, jangan bersimpuh dan menekan kaki saya yang sakit. Kalau bisa dikompres dengan air es. Ah..serupa dengan apa yang disarankan oleh Om Google.

Saya bertanya, bagaimana beliau bisa melakukan ini? Menyembuhkan rasa sakit hingga ke level setengahnya tanpa saya harus merasa sakit. Jawaban beliau, kuncinya adalah memahami anatomi tubuh dengan sebaik-baiknya . Selain itu memahami gerakan dan denyut nadi serta menyesuaikan gerakan mengurut dengan irama tubuh sang sakit, agar tidak terasa sakit. Saya tidak terlalu menangkap bagaimana maksudnya kalimat kedua itu.  Yang jelas, sakit saya memang berkurang setengahnya.

Akhirnya sampai di Hotel, saya mengompres kaki saya dengan es yang dibalut handuk sebelum tidur. Esok harinya saya bangun, rasa sakit kaki saya sudah sangat jauh berkurang. Barangkali tinggal 20% saja. Sekarang saya sudah bisa berjalan lagi,walaupun masih sedikit tertatih tatih. Tapi setidaknya saya sudah sanggup berjalan lagi.

Sekarang saya mulai menyadari keajaiban yang saya terima. Saya pikir urut ringan dan kompres es itu benar-benar menolong. Berhasil mengurangi rasa sakit kaki saya hingga saya bisa berjalan kembali. Mulai berpikir, apakah “Therapy Urut” dimasukkan ke dalam mata kuliah di fakultas Kedokteran di Indonesia? Saya tidak tahu. Rasanya tidak umum. Tapi bagaimanapun itu, bagi saya therapy urut itu bisa sangat berperanan dalam proses penyembuhan seseorang.  Hanya karena ia tidak dimasukkan secara resmi dalam struktur pelajaran sekolah resmi, bukan berarti ilmu itu tidak ada dan tidak berguna. Semakin saya sadari ilmu itu sedemikian luasnya. Ilmu yang ditampung dan diajarkan di bangku sekolah dan yang di luar bangku sekolah. Sebagian telah kita ketahui, dan sebagian besar lainnya masih belum terkuak dan menjadi misteri bagi kita yang tidak menguasainya.

Lautan ilmu layaknya jagatraya yang entah di mana tepinya. Dan otak kita manusia, berkelana dalam jagat raya ilmu itu. Dengan arah petualangan yang ia jalani sendiri. Dan setiap cabang ilmu laksana planet tersendiri yang mengundang otak kita untuk masuk dan menjelajah ke dalamnya. meneliti setiap detailnya untuk kemudian terbang lagi ke planet ilmu berikutnya. Dan setiap planet itu bersama dengan planet-planet ilmu yang lain berada dalam tata bintang masing-masing, dimana setiap bintang berada dalam kumpulannya yang disebut dengan galaxy.  Ada bermilyard-milyard galaxy dalam jagatraya ilmu itu. Dan siapakah yang bisa menjamin jika jagatraya itu juga cuma ada satu?

Ilmu itu, semakin dipikirkan rasanya semakin tidak terpikirkan.

12 responses »

  1. baca yang RICE
    aku sempat mikir ke beras kencur
    kebiasaan di kampung dulu kalo ada yang keseleo suka ditumbukin beras sama kencur buat balur. ternyata singkatan ya.?

  2. dulu aku juga pernah cedera gara-gara lari mba, trus ya pake metode RICE ini. Memang harus rest agak lama sekitar 3 bulan gak lari. Sekarang harus lebih hati-hati dan membaca kondisi badan sendiri biar gak cedera lagi😀

  3. Kaki kiri ku sempat cedera waktu ngelewatin boat-boat di dermaga pantai sewaktu di Sabang, Mbak.. Karena ngga dipijit, jadi kayak ada tulang nonjol gitu😦

  4. Pingback: Yogyakarta, I Love You… | nimadesriandani

  5. Pingback: Tidak Disiplin. | nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s