Kisah Petualangan: Mengejar Matahari Terbenam Di Papuma.

Standard

Petualangan Segara Gunung  – part I.

Tanjung Papuma. Foto milik Wasti Priandjani.

Tanjung Papuma. Foto milik Wasti Priandjani.

Seorang teman  mengajak berkunjung ke pantai PAPUMA. Saya tidak tahu seperti apa dan di mana letak pantai Papuma itu. Namanya unik. Kedengeran di telinga saya seperti PAPUA. Jadi penasaran juga. Tanpa bertanya apa-apa, saya dan seorang teman lain ikut saja. Percaya penuh kepada teman saya yang sering melanglang buana demi kecintaannya akan dunia photography. Ia pasti tahu jauh lebih banyak ketimbang saya.  Jadi berangkatlah kami bertiga.

Empat Petualang.

Kami mengejar matahari terbenam. Mau dipotret, tentu saja. Namanya photographer memang begitu barangkali ya?. Demi selembar photo indah, ke ujung duniapun diuber olehnya.  Saya sendiri bukan photographer. Tapi saya senang mengikutinya, dengan motivasi yang berbeda. Saya ingin ikut melihat-lihat, barangkali ada hal menarik di perjalanan yang bisa saya tulis di blog saya. Ha ha. Sementara teman saya yang ke tiga, yang sangat jauh lebih muda, memiliki motivasi tersendiri. Ia haus pengetahuan dan ingin melihat setiap sudut dunia.  Kami diantar oleh seorang sopir sewaan yang tentunya ikut melakukan perjalanan ini dengan motivasi untuk mencari nafkah. Mendapatkan uang.

Empat orang manusia  dengan motivasinya masing-masing, melakukan perjalanan, berpetualang dan menggelandang bersama-sama. Ha ha.. bakalan seru juga ini kelihatannya!.

Sopir Yang Sepuh.

Bapak sopir  yang mengantarkan kami kelihatannya sudah sepuh. Pengalaman puluhan tahun menyetir, memberinya pengetahuan akan seluk-beluk kota, kabupaten, jalan bahkan gang yang akan kami lalui. Juga memberinya pemahaman akan tingkat kelancaran, kemacetan, mana jalan yang berlubang, mana yang sedang diperbaiki. Termasuk juga mana area rawan dan area yang aman tenteram, di mana nanti kami bisa berhenti dan makan. Serta barangkali juga pemahaman tentang adat istiadat, budaya bahkan sejarah daerah itu, di mana nanti saya bisa banyak bertanya. Itulah kelebihan dari sebuah ke”sepuh”an.

Namun  di sisi lain ke’sepuh’an juga memberi keraguan tersendiri. Apakah fisik beliau akan cukup kuat jika menyetir mengantar kami berkeliling hingga esok hari. Apakah beliau cukup sigap dan tangkas untuk menghindar jika sesuatu terjadi di jalan raya. Ah! Saya menepis keraguan saya. Saya tidak mau memikirkannya lebih jauh. Saya harus yakin jika Bapak itu sehat, kuat , awas dan sigap.

Perjalanan yang sangat  panjang.

Kami berangkat agak siang dari Singosari, Malang. Istirahat sebentar di Probolinggo  untuk makan siang, lalu melanjutkan perjalanan lagi. Di perjalanan saya memandang keluar jendela. Sawah ladang berseling dengan rumah penduduk. Sangat menarik. Desa demi desa berlalu, saya tidak melihat ada tanda-tanda kami sudah dekat dengan laut. Tidak tercium bau laut. Saya bahkan merasa kami menjauh dari pantai. Ini aneh. Padahal bukannya Probolinggo ada di tepi pantai ya? Lalu Papuma ada di sebelah mana ya?

Karena penasaran, saya lalu menggunakan Google Maps untuk memastikan di mana kiranya saya sedang berada. Rupanya kami ada di jalur Probolinggo menuju Lumajang. Pantai Papuma itu ternyata berada di Jember.  Whua la… jauh juga ya?  Dan PAPUMA itu rupanya singkatan dari pantai PAsir PUtih MAlikan. Wah..ada-ada saja.

Sekarang saya tahu kami akan menemui masalah baru. Saat itu jam menunjukkan pukul empat sore dan kami baru memasuki Lumajang. Perjalanan kelihatannya masih panjang. Sementara matahari akan terbenam pada pukul 5.23 sore.  Teman saya ingin memotret indahnya matahari menjelang terbenam. Mampukah kami tiba sebelum jam itu? Kekhawatiran saya bertambah begitu menatap langit  dan melihat banyak mendung menggelayut. Kasihan teman saya.

Saya sendiri tidak perlu dikhawatirkan. Dengan atau tanpa matahari, perjalanan itu sendiri sudah menjadi sebuah cerita menarik bagi saya, yang bisa saya tuliskan dan ceritakan kembali kepada orang lain.

Kendaran terus melaju. Akhirnya kami memasuki wilayah Jember. Teringat akan sahabat blogger RZ Hakim yang tinggal di kota ini. Jika punya waktu ingin rasanya mampir buat kopdar dan bersilaturahmi, namun apa daya sore semakin mendesak.

Jombang, Kencong, Gumuk Mas, Puger kami lewati. Lalu kami berbelok masuk ke  Ambulu melalui Wuluhan. Yang terlihat sekarang hamparan bukit karang yang membentang.  Mana pantainya ya? Apakah di balik bukit itu?

Papuma 2

Pantai Papuma

Benar saja. Setelah mendaki bukit karang itu, akhirnya kami tiba di pantai Papuma. Tepat pada pukul 5.23. Tepat saat matahari terbenam.  Rupanya pantai ini memang berada di balik bukit. Teman saya menghibur dirinya sendiri “Walaupun jika kita tiba lebih awal, toh matahari tetap tidak akan terlihat karena mendung” katanya.  Namun demikian ia tetap semangat memotret dan mengajak kami mencari lokasi yang lebih baik.  Itu hal yang sangat saya sukai darinya. Pantang menyerah!!!!.

Sementara ia sibuk memotret, saya juga memotret, namun hasilnya buram. Akhirnya saya hanya menikmati pantai dan senja.

papuma 12

Samudera dan Penggeraknya.

Saya berdiri memandang bukit-bukit batu  yang berserakan di situ, sepertinya membentuk sebuah garis. Apa yang terjadi di sana sebelumnya? Barangkali dulunya bukit ini menjorok ke tengah laut, lalu dihempas gelombang yang membuatnya jebol dan ambruk. Tinggallah puing-puingnya yang berserakan seperti ini. Bukit-bukit batu kecil. Sebagian tegak, sebagian ambruk.  Alangkah dahsyatnya gelombang Samudera Indonesia ini.

Pikiran saya melayang. Siapakah samudera? Siapakah laut? Hanya air. Hanya kumpulan molekul-molekul air yang sangat kecil dan mikroskopik. Namun jika ia berkumpul bersama-sama dan bekerjasama dengan sang bayu, maka ia menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat, yang bahkan hanya lidah gelombangnya saja pun mampu menghancurkan bukit batu yang kokoh. Luar biasa!!.

Sesungguhnya benih kedahsyatan yang dimiliki oleh samudera, juga bersemayam dalam diri kita. Molekul-molekul air di samudera ini, adalah molekul molekul air yang sama yang juga membentuk tubuh kita juga. Bukankah 70% dari tubuh kita tersusun oleh air?. Sepanjang unsur air masih membangun diri kita, maka benih kedahsyatan seperti samudera tetap ada di dalam diri kita. Kuncinya hanyalah pada bayu. Pada sesuatu yang mampu menggerakkannya.

Laksana angin yang menggerakkan samudera, demikian juga “niat dan keinginan” akan menggerakkan potensi yang ada dalam diri setiap manusia. Karena jika “niat dan keinginan” itu tidak ada, maka potensi itu tidak akan pernah keluar dengan optimal, sebagaimana halnya laut  jika tidak ada sang bayu.  Ia tidak lebih dari sebuah kumpulan raksasa dari  molekul-molekul air yang diam dan tak bergerak.

Keterhubungan.

Saya berjalan mendekati bibir air. Pantai ini posisinya di sebelah barat Taman nasional Meru Betiri. Jika kita berjalan ke timur, maka kita akan bertemu dengan pantai-pantai di Banyuwangi. Seterusnya jika kita berjalan lagi tentu kita akan tiba di Selat Bali. Alangkah dekatnya Bali dari sini. Memikirkan Bali, saya menjadi kangen dan ingin pulang.

Saya berjongkok. Air laut ini terhubung dengan air laut-laut lain di seluruh dunia. Laut ini sama dengan laut yang juga menyentuh pesisir Afrika, pantai-pantai di Jepang, di Eropa dan sebagainya, bahkan di Kutub dan juga di Bali tentu saja. Artinya, jika saya memberi salam dengan menyentuh ujung ombak pantai ini dengan jemari tangan saya saat ini, salam dan sentuhan saya akan dibawa gelombang dan disampaikan ke pantai -pantai di di Bali dan tempat -tempat lain di seluruh dunia.  Ah! Laut membuat saya merasa terhubungkan dengan cepat ke Bali. Saya merasa sangat senang dengan apa yang saya pikirkan dan rasakan.

Sekarang saya merasa bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh Segara kepada diri saya. Tentang potensi diri dan penggeraknya,  serta tentang sebuah keterhubungan. Pesan yang tidak sempat terpikirkan oleh saya, jika saya tidak datang ke pantai ini.

Malam mulai turun. Pantai menjadi terlalu gelap. Kedua orang teman saya masih sibuk memotret. Saya berjingkat mendekati mereka. Kamipun kembali berangkat ke tempat tujuan berikutnya.

 

12 responses »

  1. Dari satu perjalanan bisa dapet banyak banget cerita dan bahan perenungan ya Mbak. Saya jadi kepikiran si Bapak juga, sama dengan mertua saya yang sudah sepuh tapi berpegang teguh tak mau disetirin kendaraannya. Foto pertamanya bagus sekali Mbak Dani. Sayang sekali temennya tidak sempat dapat sunsetnya ya..

  2. Senang sekali dengan keterhubungan melalui laut dan samudra ini Jeng, sehingga dimanapun kita berada selalu terhubung ke ‘rumah’
    Eloknya berburu foto bareng fotografer, di foto awal serasa melihat wajah di bukit karang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s