Kisah Petualangan: Mengejar Matahari Terbit Di Bromo.

Standard

Petualangan Segara Gunung -part II.

 

IMG-20150419-WA0005Seusainya menikmati pantai Papuma di Jember, kami bermaksud melanjutkan perjalanan ke gunung Bromo. Hari telah benar-benar gelap.  Perjalanan ke sana akan memakan waktu sekitar 4 jam. Jika kami berhenti untuk istirahat dan makan malam di jalan, saya memperkirakan kami akan tiba di Gunung Bromo tepat tengah malam.

Kembali  menyusuri bukit dan jalanan yang berkelok. Jalan sama yang kami lalui saat berangkat, melewati Puger, Gumuk Mas dan seterusnya. Hujan turun sangat deras saat kami tiba di Lumajang. Jalanan menjadi licin akibat hujan. Pak Hari, sopir yang mengantarkan kami -memperlambat laju kendaraan dan lebih berhati-hati.

Lewat pukul sepuluh malam kami tiba di Probolinggo. Istirahat dan makan malam sebentar lalu  melanjutkan perjalanan kembali menuju Gunung Bromo. Naik, naik dan naik terus. Udara semakin dingin. Beberapa kali kami coba diberhentikan oleh penduduk yang menawarkan jeep, tapi Pak Hari mengatakan bahwa jeep yang kami butuhkan sudah disiapkan oleh hotel tempat kami menginap.

Tepat tengah malam kami tiba di hotel. Pengurus hotel segera menemui kami. Mendiskusikan dan mempersiapkan segala kebutuhan kami. Termasuk juga rencana perjalanan kami ke Pananjakan untuk melihat matahari terbit. Kami diberitahu bahwa kami akan berangkat pada pukul 3.00 pagi dengan jeep. Wah! Pagi amat ya?!Ya..memang harus sepagi itu. Karena jika tidak, jalan ke Pananjakan akan macet dan tidak bisa dilalui lagi. Waduuuh!. Akhirnya saya memutuskan untuk mengisi waktu dengan tidur. Dua setengah jam lumayan juga untuk beristirahat.

Pukul 2.30 saya bangun dan mandi serta bersiap untuk berangkat. Banyak yang memberi nasihat agar saya mengenakan jacket berlapis karena katanya sangat dingin. Daripada mengambil resiko, akhirnya saya mengenakan jacket tahan angin berbahan parachut tebal dan jacket musim dingin yang quilted. Pak Sutiko, sopir jeep mengingatkan  nomer jeep yang kami tumpangi dan memberikan nomer telponnya buat jaga-jaga seandainya ada sesuatu terjadi dengan kami nanti.

Kami berangkat dari Hotel dan menuruni bibir kaldera menuju Segara wedi lalu naik ke Pananjakan. Astagaa! Rupanya apa yang kami kira kepagian ternyata sama sekali salah. Jalanan sudah sangat ramai. Saya takjub melihat jumlah jeep yang beroperasi pagi itu. Ada ratusan. Bahkan belum sampai di Pananjakan, jeep terpaksa berhenti dan saya harus jalan kaki atau naik ojek jika tetap ingin ke atas. Rasanya agak ngos-ngosan juga jika memaksakan jalan kaki. Saya naik ojek saja sampai ke tempat dimana ojek dilarang masuk dan meneruskan berjalan kaki.

Di puncak sini gelap. Dingin dan berangin. Banyak orang duduk-duduk dan berdiri di balkon yang tersedia. Semuanya berebut agar berada di posisi yang bisa melihat matahari terbit pertama kali. Sayapun ikut berjejal di situ.  Ikut berdiri memandang ke dalam kegelapan. Tak ada yang saya lakukan kecuali hanya menunggu dan menguping pembicaraan orang-orang di sebelah saya.  Mereka bercakap-cakap . Riuh seperti suara kumbang.

Akhirnya warna merah pertama muncul di langit. Tapi sayang sekali, langit agak mendung. Sehingga kali inipun tak ada orang yang berhasil mengabadikan matahari terbit. Saya jadi kasihan akan teman saya yang hobinya photography. Sudah jauh-jauh ke sini  mengejar matahai terbit atau kabut bromo, keinginannya tidak tercapai. Matahari terbit tertutup awan tebal, sementara kabutpun tidak ada menyelimuti lautan pasir. Syukurnya ia tetap semangat dan terus mengabadikan moment-moment lain dari perjalanan itu.

Kaldera Tengger dengan Gunung Batok, Gunung Bromo serta Gunung Semeru di latar belakang.

Kaldera Tengger dengan Gunung Batok, Gunung Bromo serta Gunung Semeru di latar belakang.

Walaupun banyak orang yang terlihat kecewa dan bergegas meninggalkan tempat itu, saya sendiri  masih tetap berdiri di situ hingga sejamnya kemudian. Saya sangat senang bisa berada di situ. Masih terpaku dan terkagum-kagum memandang ke arah Gunung Batok, Gunung Bromo dan Gunung Semeru yang makin lama makin jelas bentuknya. Sekarang saya bisa melihat jika saya sedang berdiri di bibir sebuah kaldera. Kaldera Gunung purba Tengger yang luar biasa besarnya. WOW!. Mega Volcanic!.

Saking besar diameternya, di dalamnya bisa menampung beberapa gunung dan lautan pasir. Rada-rada mirip dengan kaldera besar Gunung Batur di kampung halaman saya di Kintamani. Bedanya jika di dalam kaldera purba ini ada lautan pasir, di kaldera Gunung Batur purba ada danau Batur yang luas.

Saya membayangkan betapa dahsyat letusan yang menghasilkan kaldera raksasa seperti ini. Ledakan yang luar biasa, dengan dentuman yang menggelegar dan goncangan  yang melemparkan bongkahan batu, pasir dan  debu, disertai bunga api dan asap yang bergulung-gulung menggelapkan dunia, terasa membayang di depan mata saya. Kapan terjadinya?. Tentunya sudah lama sekali. Barangkali ratusan ribu tahun yang lalu ?. Saya tidak tahu  persis. Yang jelas, daerah sekitar Gunung Tengger purba itu sekarang sudah hijau royo-royo. Batuan bekas letusannya sudah mengalami pelapukan dan berubah menjadi ladang yang subur. Ladang tomat, kol, kentang dan berbagai jenis sayur mayur lain yang subur, memberi penghidupan kepada ribuan penduduk yang yang berdiam di sana.  Berkah gunung.

Di Gunung Bromo 3Kembali saya memandang ke dalam kaldera itu. Paling depan yang warnanya hijau adalah Gunung Batok. Gunung mati yang tak pernah aktif itu bentuknya sangat sempurna. Seperti kerucut yang dipapas puncaknya. Tak habis pikir rasanya bagaimana gunung itu diciptakan kok bisa ya bentuknya sesempurna itu.

Di belakangnya tampak Gunung Bromo yang gersang kelabu akibat sisa letusan tahun 2011. Gunung aktif itu masih mengepulkan asap pagi itu. Di belakangnya ada beberapa bukit atau gunung yang saya tak tahu namanya. Lalu paling tinggi di latar belakang kaldera raksasa Tengger ini adalah Gunung Semeru.

Kaldera raksasa, lautan pasir, gunung yang gosong dengan asap yang mengepul. Pemandangan yang menakjubkan ini tiba-tiba mengingatkan betapa kecil dan tak berdayanya diri saya.  Padahal kompleks pegunungan ini hanyalah satu dari entah berapa ribu kompleks pegunungan yang ada di permukaan bumi ini. Dan bumi, hanyalah satu diantara planet dari sebuah tata surya yang berada di dalam sebuah galaxy. Hanya dari sebuah galaxy diantara milyaran galaxy yang berada di dalam semesta ini yang selanjutnya tak terpikirkan lagi oleh saya. Siapakah saya? Hanya mahluk kecil, lemah dan tak berdaya diantara ciptaanNYA. Ibarat setitik debu yang melayang dan tak kasat mata diantara luasnya lautan pasir di bawah itu.

Perasaan kecil, lemah dan tak berdaya itu terasa membasuh segala kesombongan dan kebanggaan diri saya dengan cepat. Manusia, seberapapun tinggi derajatnya, besar  kesuksesannya dan pencapaiannya, ia tetap adalah mahluk yang lemah dan tidak ada apa-apanya dibanding semua ini. Saya menundukkan kepala saya di bawah kebesaranNYA. Memohon agar segala bentuk ketinggian hati dan kesombongan diri dibersihkan dari hati saya. Perlahan-lahan terang terasa memenuhi pikiran saya.

Teman saya sudah selesai memotret. Sekali lagi saya melempar pandang ke Gunung Bromo dan lautan pasirnya. Sebuah  bangunan tampak di tengah lautan pasir, di kaki gunung itu. Sangat kecil terlihat dari kejauhan sini. Orang yang berdiri di sebelah saya mengatakan bahwa itu adalah bangunan sebuah tempat suci. Saya ingin sekali berkunjung ke sana.

Pak Sutiko, supir jip yang mengantarkan kami  sudah menyusul dan mengkhawatirkan keberadaan kami serta mengajak kami turun kembali. Barangkali karena kami terlalu lama berada di sana.

 

 

 

 

8 responses »

  1. Suka banget lihatnya Mbak foto-fotonya. Ditambah ceritanya semakin sempurna deh perjalanannya. Makasih ya Mbak Danii sudah sharing perjalanannya..🙂
    Saya sendiri asli Jawa Timur tapi belum pernah ke Bromo..😦

  2. Suksma Jeng Dani berbagi keagungan Bromo berlatar biru Semeru. Saya sudah luamaa sekali tidak ke Bromo dan selalu kangen dengan eksotiknya.
    Salam

  3. Artikel yg sangat menarik. Saya sangat ingin berkunjung ke Bromo tapi belum kesampaian, jadi artikel sedikit mengobati keinginan saya. Salam Ibu Andani, komentar pertama nih.

  4. Ah, Mbak Dani masih tetep keliatan mudaaaa.. Sehat terus ya, Mbak.. Makasih uda sharing pengalaman en pemandangan indah di Bromo.. Jadi aku yang belom pernah ke sana ini makin mupeng. Wkwkwk😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s