Gunung Bromo: Berkunjung Ke Pura Luhur Poten.

Standard

Pura Luhur PotenKarena hari sudah sangat terang dan pengunjung Pananjakan sudah pada turun, kamipun akhirnya ikut turun juga  menuju lautan pasir Segara Wedi. Sepanjang mata memandang yang ada hanya pasir dan rumput-rumput pendek. Lautan pasir yang berdinding gunung dan bukit. Di bawah ini terasa gersang. Terlebih jika kita memandang ke Gunung Bromo yang kelabu gosong dengan asap yang mengepul di puncaknya. Untungnya, Gunung Batok di sebelahnya tampak tenang dan hijau.

Tiba di perbatasan di mana jeep harus berhenti, saya dan teman-teman berpisah. Karena dari sini kami ingin pergi ke tempat yang berbeda. Teman saya yang hobbynya memotret ingin bertualang mencari spot-spot yang bagus untuk dipotret. Teman saya yang lebih muda ingin mendaki dan melihat kawah Gunung Bromo. Yang jelas saya tidak bisa ikut mendaki karena kaki saya yang sempat keseleo minggu lalu saat ke Jogjakarta, sekarang mulai terasa panas dan membengkak lagi. Jadi saya hanya ingin berkunjung ke tempat suci di tengah lautan pasir itu saja. Seperti yang saya niatkan tadi pagi saat melihat tempat suci itu  dari ketinggian Pananjakan. Sebuah pura yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pura Luhur Poten. Tempat itu terasa seperti magnet buat saya. Saya akan ke sana.

Dengan menunggang seekor kuda putih,  saya pun berangkat menuju tempat itu.  Selama perjalanan saya berbincang dengan pemilik kuda itu tentang Suku Tengger dan upacara Ke Sada. Saya juga bertanya apakah pintu Pura dibuka? Ia menjelaskan kepada saya bahwa saat ini Pemangku Pura sedang ada di dalam Pura. Jadi jika saya kebetulan datang hari ini, sungguh sangat tepat waktunya. Saya bisa bertemu beliau.

Tidak seberapa jauh, tibalah saya di depan pintu gerbang pura itu. Sepintas kelihatan dari ukurannya, Pura itu rasanya belum lama direnovasi. Tukang kuda mempersilakan saya masuk saja langsung ke dalam Pura. Saya pun menaiki anak tangga gerbang dan  masuk ke dalam. Di sini pagi terasa sangat tenang dan damai. Di jaba tengah, saya bertemu dengan seorang gadis yang kelihatannya baru saja habis sembahyang dan tersenyum ramah kepada saya. Sayapun bertanya kembali apakah Pemangku Pura ada. Gadis itu mengatakan kalau Pemangku ada di dalam dan mempersilakan saya masuk.

Pura Luhur Poten Di Gunung Bromo

Pura Luhur Poten Di Gunung Bromo

Sayapun masuk ke Jeroan dan melihat pemangku sedang sibuk membereskan sisa-sisa persembahyangan. Beliau melihat kedatangan saya dan tersenyum. Saya menjelaskan tentang diri saya dan maksud kedatangan saya. Pemangku lalu memberikan saya bunga dan dupa serta mempersilakan jika saya ingin berdoa. Beliau membantu dan menyucikan diri saya dengan Tirtha. Lalu memberkati saya dengan Bija (biji beras) yang saya letakkan di kening, dengan harapan agar benih-benih kebijaksanaan berkembang di dalam diri saya.

Pura ini merupakan tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Brahma, yang menciptakan semesta jagat raya beserta seluruh isinya. Tempat memuja kebesaran Tuhan, bersyukur dan berterimakasih atas segala ciptaanNYA dan menyadari  bahwa diri saya hanyalah salah satu diantaranya.

Pura Luhur Poten 2Saya juga merasa sangat bersyukur dan berterimakasih sudah diberikan kesempatan bisa datang dan melihat sendiri tempat ini.  Tempat yang memberi saya kesadaran makro -kosmik, kebesaran ciptaanNYA yang tak tersentuh oleh pikiran saya. Kesadaran akan betapa kecil diri saya, laksana sebutir debu tak kasat mata di padang pasir kehidupan. Juga tidak lupa untuk bersyukur dan berterimakasih telah diberi kesempatan sebelumnya, untuk melakukan perjalanan ke tepi laut di Jember, yang memberi saya kesadaran mikro-kosmik, perenungan akan arti potensi diri dan penggeraknya. Kesadaran akan betapa besar potensi diri yang dianugerahkan olehNYA, jika niat dan keinginan positive di gunakan untuk menggerakkannya.

Saya merunut kembali perjalanan saya dari Candi Singosari di Malang, ke Probolinggo, Lumajang lalu ke tepi laut, pantai Papuma di Jember. Lalu kembali ke Lumajang, Probolinggo dan naik ke Gunung Bromo. Sebuah perjalanan Nyegara-Gunung, yang memicu perjalanan ke dalam diri sendiri menuju ke kesadaran diri dan alam semesta serta menangkap makna dari  pesan-pesan  kehidupan.

2015-04-19 10.46.14Saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Pemangku Pura dan seorang Bhagawan dari Bali  yang  baru saja selesai melakukan persembahyangan di situ. Percakapan yang sangat menenteramkan hati.

Saya mengucapkan salam damai kepada semua mahluk, seluruh semesta dan Sang Pencipta. Semoga selalu damai di hati, damai di bumi dan damai seluruh alam semesta untuk selamanya. Om Shanti, Shanti , Shanti, Om.

 

2 responses »

  1. suasana pura mungkin jadi terasa beda ya mbak.., di tengah keluasan dan kekuasaan alam seperti ini betul2 bisa bikin kita kontemplasi ya..

  2. Suksma Mbok Ade, mengikuti ziarah jiwa di Pura Luhur Poten. Serasa sekali butir debu pasir di kebesaran alam Bromo ini. Swastyastu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s