Monthly Archives: June 2015

Resep Masakan: Mini Lumpia Udang Ayam.

Standard
Mini Lumpia Udang Ayam

Mini Lumpia Udang Ayam

Kadang-kadang jika sedang mengajak anak-anak makan di luar, saya memperhatikan apakah anak-anak menyukai makanannya atau tidak. Jika mereka kelihatan lahap dan suka, saya berusaha untuk menebak-nebak sendiri resepnya dari rasanya. Lalu saya coba-coba bikin  sendiri di rumah.  Nah kali ini saya ingin berbagi resep jika ingin membuat sendiri Lumpia Udang Ayam mini. Saya sudah membuat sendiri di rumah dan anak-anak sangat menyukainya. Demikian juga suami saya. Barangkali bisa juga dijadikan ide untuk menu sahur atau buka puasa?

Bahan-bahannya:

Kulit lumpia 25 lembar banyak yang dijual sudah jadi di tukang sayur), daging ayam 1/4 kg, udang 1/4kg, wortel 1bh, daun kucai 1 ikat, daun seledri, minyak wijen, kecap manis, kecap ikan, lada bubuk, bawang merah,bawang putih, sedikit minyak kelapa untuk menumis.

Cara membuatnya:

1/. Cuci bersih daging ayam lalu digiling/dicincang. Udang juga dibersihkan lalu digiling/dicincang.

2/. Parut wortel dengan parutan kasar.

3/. Iris tipis daun kucai dan dau seledri.

4/. Iris bawang merah dan bawang putih.

5/. Panaskan wajan, tambahkan sedikit minyak. Tumis bawang merah , bawang putih lalu masukkan daging ayam dan udang yang sudah digiling/dicincang. Masak hingga matang.

6/. Masukkan parutan wortel dan daun bawang kucai dan seledri, alu adukkembali.

7/. Berikan kecap manis secukupnya. Juga tambahkan kecapikan dan lada. Barangkali ada yang ingin menambahkan bumbu kaldu juga tidak masalah. Aduk-aduk kembali di atas api kecil hingga harum dan kering.

8/. Buka lembaran kulit lumpia. Gunting dibagi 2 sehingga membentuk 1/2 lingkaran.

9/. Ambil 1/2 lembar, lalu isi di atasnya dengan sedikit tumisan ayam udang. Lipat kulit lumpia dari sisi kanan dan kiri  di atas tumisan,lalu gulung. Untuk merekatkan agar rapi dan tidak meka saat digoreng, bisa dibantu dengan putih telur.

Nah sekarang lumpia mini siap untuk digoreng dan disajikan. Tampilannya lucu dan imut-imut. Jika mau digunakan untuk hidangan sahur juga bisa disimpan di lemari pendingin dan tinggal digoreng kapan saatnya dibutuhkan.  Selamat mencoba ya…

 

 

Sedekah Seorang Dermawan.

Standard

20150621_193638Ibu  A (sebut saja begitu) menelpon saya untuk mengingatkan bahwa seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini warga perumahan akan memberikan sumbangan lagi kepada keluarga-keluarga yang kurang mampu di kampung atas. Beliau mengajak saya ikut. Ya..saya setuju. “Diharapkan semua warga berpartisipasi, lho! Tahun lalu saya lupa minta sumbangan ke Bu Dani. Jadi tahun ini Ibu harus nyumbang ya…” katanya dengan nada bijak, tapi membuat saya terkejut. Ibu A salah memberikan pernyataan. Beliau lupa, kalau tiap tahun saya selalu ikut berpartisipasi dalam acara ini, tanpa pernah skip. Termasuk tahun lalu juga. Saya ingin mengkoreksi kesalahan itu, tapi kemudian saya pikir lagi. Kalau  hati kita ikhlas memberikan sumbangan itu, mengapa juga harus diungkit lagi. Mau diingat atau tidak oleh si Ibu A, tidak masalah juga sih. Biarlah.Yang penting sumbangan itu sudah nyampe ke target penerimanya. Kan banyak juga orang berdonasi tapi tidak merasa perlu menyebut namanya. Anonim. Atau dari hamba Allah.

Ibu itu menjelaskan bahwa bentuk sumbangan kali ini berupa paket-paket dengan biaya X rupiah per paketnya. Satu paket untuk membeli sekian kilogram beras. “Ibu-ibu yang lain menyumbang minimal 10 paket lho Bu.. Jadi Bu Dani mau menyumbang berapa paket? “tanyanya mendesak. Saya pikir 10 paket itu lumayan besar nilainya. Masak sih pada nyumbang minimal 10 paket?. Saya sering lihat data sumbangan sukarela jenis lain yang diedarkan, rata-rata nilai sumbangan per ibu paling banter setara dengan 2-3 paket itu saja. Jadi kalau ibu A itu mengatakan bahwa ibu-ibu yang lain menyumbang minimal 10 paket kok kedengaran agak terlalu tinggi di telinga saya. Entah kenapa saya merasa Ibu ini agak provokatif. Saya ragu antara ingin menyumbang 10 paket atau cukup 3 paket saja? Ngasih 10 rasanya kebanyakan, ngasih 3  kok tidak enak pada Ibu A. Tapi akhirnya saya memutuskan menyumbang 3 paket saja. Seikhlas hati saya tanpa harus memaksa diri.

Esok paginya Ibu A  datang ke rumah mengambil dana sumbangan. Ibu itu curhat kepada saya, mengeluhkan kurangnya kesadaran warga untuk menyumbang. “Sekarang ibu-ibu di sini susah sekali dimintain sumbangan, Bu. Padahal ini bulan berkah. Kalau nyumbang sekarang kan pastinya mendapatkan imbalan berkah lebih banyak. Waktu ditelpon pada nggak mau berdonasi. Atau kalau nggak, bilangnya akan kasih sendiri-sendiri saja. Padahal kan lebih bagus kalau kolektif ya. Nilainya bisa lebih besar dan lebih kelihatan” katanya mengeluh. Saya pikir pernyataan Ibu ini tidak konsisten dengan telponnya kemarin. Kemarin bilangnya ibu-ibu lain pada ngasih minimal 10 paket. Sekarang bilangnya tidak ada yang mau nyumbang. “Mungkin ibu-ibu lain punya alasan tersendiri mengapa tidak mau kolektif” kata saya pendek karena harus segera berangkat ke kantor.

Di jalan menuju kantor barulah saya teringat. Sebenarnya dulu banget ada  seorang tetangga mengatakan sudah berhenti menyumbang lewat Ibu A, tapi memilih memberikan sendiri langsung ke warga yang kurang mampu yang ia kenal. Ia merasa sumbangan lewat Ibu A itu tidak jelas, karena ia idak pernah tahu berapa banyak dana sumbangan yang terkumpul, dari siapa saja dan kemana saja disalurkannya. Saat itu saya tidak memikirkan cerita itu. Tapi sekarang saya pikir memang bener sih. Saya juga tidak pernah melihat pertanggungjawabannya. Juga tidak pernah menerima tanda bukti bahwa Ibu A telah menerima dana dari saya.  Yang tadi pagi juga tidak ada tanda terimanya. Ya percaya begitu saja. Pantas saja kalau tahun berikutnya dia lupa ya..

Selain itu,  dulu pernah juga saya  ditanya oleh seorang warga kampung atas “Ibu rumahnya yang di blok mana sih?“. Saya menyebutkan Blok rumah saya. Ibu itu mengatakan ia tahu banget blok itu karena sering ke rumah Ibu A. “Warga sini mah sudah pada hapal. Saban taon ada pembagian jatah sembako dari Ibu A. Pada berbondong-bondong ke sono” katanya. Lalu menceritakan betapa Ibu A itu sangat termashyur di kampung itu karena sedekah dan kedermawanannya. “Coba ada lagi ibu-ibu lain nyang mau bagi -bagi sembako ya…, pasti kita lebih senang lagi” katanya berharap sambil tertawa. Saat itu saya tidak memikirkan obrolan itu. Tapi sekarang saya pikir, kelihatannya warga kampung atas itu tidak tahu bahwa sembako yang diberikan Ibu A itu berasal dari sumbangan Ibu-Ibu lainnya juga. Barangkali mereka menyangka itu semua sumbangan pribadi Ibu A yang dermawan.

Memikir itu, sekarang saya melihat ada hubungan sebab akibat di situ. Mengapa Ibu-Ibu tidak mau lagi menyumbangkan dananya melalui Ibu A.  Banyak hal yang saya rasa perlu Ibu A lakukan untuk memulihkan semangat menyumbang Ibu-Ibu yang lain lagi. Seperti misalnya melakukan sosialisasi kegiatan yang sifatnya lebih mengajak dan menghimbau ketimbang mendesak dan memaksa, membuat pertanggungjawaban yang lebih transparant serta menjelaskan dengan lebih baik bahwa sumbangan itu bukanlah sumbangan pribadinya sendiri melainkan sumbangan warga dan memilih tempat umum sebagai tempat pembagian sembako ketimbang di rumahnya sendiri.  Dengan demikian, kelelahannya menjadi koordinator acara bakti sosial tentu akan lebih dihargai.

Di luar itu ada banyak juga pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian ini untuk perbaikan diri saya sendiri.

Sedekah, Derma,  alias Dana Punia, hanya akan berarti jika dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan hati untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun. Bukan agar nantinya kita mendapat berkah atau rejeki yang lebih banyak. Bukan pula untuk mendapatkan nama atau ingin disebut dermawan.Karena begitu kita mengharapkan berkah dari memberi,  maka saat itulah keikhlasan kita hilang. Memberi  karena ingin memberi. Dan membantu karena ingin membantu. Tanpa mengharapkan apa-apa.

Berderma menurut saya juga tidak perlu harus memaksakan diri. Apalagi memaksakan diri  menyumbang jor-joran demi gengsi. Takut dicap pelit atau dicap kurang mampu oleh orang lain. Lain kali harusnya saya tidak usah memikirkan berapa banyak orang lain menyumbang. Tak ada gunanya. Karena inti dari berderma adalah keikhlasan hati kita sendiri. Untuk mengurangi kesusahan orang lain, bukan untuk meningkatkan kecongkakan hati kita. Jadi kenapa harus kita bandingkan dengan orang lain?

Tulisan ini saya buat hanya sebagai pengingat atas pelajaran hidup yang pernah saya dapatkan.

 

Sang Pencari Cahaya & Sang Pembuat Cahaya.

Standard

When you see the road...

JakartaKemarin saya ada urusan di tengah kota.  Berangkatnya cukup lancar, tapi pulangnya itu. Lalu lintas macettttt. Cettt. Cettt.  Parah deh. Tak banyak yang bisa saya lakukan, kecuali memandang ke luar jendela kendaraan di tengah kemacetan.

Seorang perempuan muda keluar dari sebuah gedung perkantoran. Perempuan itu berjalan menunduk, seolah kepalanya diganduli oleh berkilo-kilo beban. Bahu kirinya menyandang sebuah tas. Sementara tangan kanannya tampak menjinjing tas lap top.  Saya memperhatikannya. Langkahnya tampak lesu. Barangkali pulang kerja. Lelah. Begitulah kesan yang saya tangkap. Ia berjalan dalam keremangan cahaya pinggir jalan. Sesaat kemudian saya tidak bisa melihatnya lagi karena sudah jauh.

Mata saya beralih pada gedung-gedung yang menjulang tampak megah. Kokoh laksana penguasa kota yang perkasa. Penuh dengan lampu terang benderang. Sebagian sudah padam. Namun sebagian besar lainnya masih menyala terang. Cayanya ada yang putih lembut, seperti perak, kuning, jingga terang dan bahkan ada juga cahaya biru ataupun merah dan hijau. Tampak indah. Inilah yang namanya Jakarta.  Jakarta yang tak pernah tidur cepat.

Entah berapa banyaknya gedung pencakar langit yang bertebaran di kota ini. Puluhan? Ratusan? Siapa yang mencatat jumlahnya? Saya berhitung kasar di kepala saya. Satu gedung entah terdiri atas berapa lantai. Dua belas? Lima belas? Dua puluh lima?Tiga puluh? Bervariasi, tentunya. Jika setiap gedung sedikitnya menampung satu  kantor per lantainya, berapa jumlah kantor atau perusahaan di Jakarta ini?  Seberapa banyak bisnis yang bergulir dari gedung-gedung tinggi ini? Seberapa banyak tenaga kerja yang bisa diserap di sini? Tak mengherankan berbondong-bondong tenaga kerja datang ke kota ini. Mencari kerja.

“Sedemikian banyaknya lowongan kerja di Jakarta ini,  masak satupun diantaranya tidak ada yang mau menerima saya bekerja?” barangkali itulah yang ada di dalam pikiran optimist para pemburu kerja dari seluruh Indonesia ini ke Jakarta. Termasuk diri saya. Datang ke Jakarta, laksana laron di musim hujan yang tertarik terbang mendatangi sumber cahaya.

Namun siapakah pemilik  sumber-sumber  cahaya yang banyak bertebaran itu? Siapakah para pemilik perusahaan yang kantornya terang benderang di gedung-gedung pencakar langit itu? Sangat banyak jumlahnya. Dan tentu saja saya tidak kenal orangnya. Saya hanyalah seorang karyawan. Seorang pekerja yang tertarik mendekat ke sumber rejeki di gedung-gedung yang banyak itu. Hanya seekor laron diantara jutaan laron yang terbang ke arah cahaya. Namun saya bukanlah sang pemilik cahaya. Lalu siapakah mereka itu? Siapakah mereka para sang pemilik cahaya?.

Sang pemilik cahaya adalah mereka, orang-orang super smart yang menemukan jalan bagaimana caranya membuat api dan cahaya. Bagaikan orang -orang purba menggosok keras bilah kayu dan menampung percikan apinya di atas dedaunan kering yang mudah tersulut, mereka berpikir dan berkreatifitas hebat di atas modal usaha yang mereka miliki. Mereka melihat jalan untuk menemukan modal usaha, layaknya mereka menemukan dedaunan kering. Mereka melihat jalan bagaimana cara menggosok dua bilah kayu kering agar terpercik api dan menyulut dedaunan kering itu. Mereka melihat jalan yang orang lain tidak melihatnya.

Sekali mereka menemukan jalan bagaimana cara membuat cahaya, maka mereka akan membuat dan membuat cahaya lagi di tempat lain. Sehingga mereka memiliki beraneka cahaya putih, perak, kuning, jingga, bahkan biru, hijau ataupun merah. Cahaya yang menarik para laron untuk terbang mendekat. Demikianlah sang pemilik cahaya bekerja.

Saya terkagum-kagum takjub sendiri memikirkan itu. Lalu apakah bedanya antara laron sang pencari cahaya dengan mereka sang pemilik cahaya? Apa yang menyebabkan mengapa segelintir orang bisa sukses di Jakarta, sementara sebagian besar lainnya tidak sukses, sehingga harus bekerja pada orang lain yang mau membayar upah atas pekerjaan, ide-ide dan kreatifitasnya?. Kapankah laron akan berhasil menciptakan cahayanya sendiri? Sehingga ia tidak perlu lagi terbang menyabung nyawa untuk menguber cahaya ?

Para laron tidak melihat jalan untuk membuat cahaya. Ia hanya melihat jalan bagaimana caranya menuju cahaya. Itulah sebabnya mengapa ia menjadi laron. Ia mungkin pernah mendengar bagaimana api diciptakan, tapi ia tidak tahu dimana mencari dedaunan kering yang mudah tersulut. Atau ia tahu di mana dedaunan kering banyak berada, namun ia tidak tahu cara memantik api. Atau barangkali ia pernah mencoba memantik api sendiri, namun tidak cukup kuat menggosoknya. Sehingga ujung-ujungnya ia memilih terbang ke arah cahaya. Saya jadi teringat kepada gadis muda yang berjalan di keremangan tadi.  Ia serupa dengan diri saya. Ia mirip laron yang melihat jalan untuk terbang ke arah cahaya, namun belum menemukan jalan untuk membuat cahaya.

Lalu jika ada laron, apakah nun jauh di bawah sana, di dalam lubang-lubang tanah yang pengap ada juga para rayap pekerja yang tidak melihat cahaya?  Ya…tentunya. Jika kita ibaratkan masyarakat kita serupa dengan koloni rayap, maka di sana banyak juga saudara-saudara kita yang bahkan tidak menemukan jalan bagaimana caranya terbang ke arah cahaya. Mereka belum mampu menemukan sumber rejeki. Masih menjadi pengangguran. Sehingga mereka masih berkutat dengan kemiskinan.

Jika hari ini kita melihat cahaya, tidak ada salahnya kita berusaha semampunya membantu orang lain yang berada di kegelapan agar ikut melihat cahaya dan melihat jalan bagaimana mencapai cahaya. Sambil barangkali berusaha mencari jalan untuk menciptakan sendiri cahaya. Sehingga semakin banyak lagi cahaya-cahaya yang bisa terlihat dan semakin banyak lagi orang-orang yang bisa melihat jalan menunju cahaya.

Selamat pagi teman-teman. Semoga selalu sukses dan terang benderang dipenuhi cahaya.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankannya.

 

Hubungan Manusia.

Standard

Hubungan ManusiaSeorang keponakan suami berkunjung ke rumah setelah agak lama kami tidak bertemu. Selama ini ia selalu mengikuti suaminya berpindah-pindah tugas dari satu kota ke kota lain, maka kami menjadi sangat jarang bertemu. Sebulan ini suaminya kembali lagi bertugas di Jakarta. Jadi sempatlah ia ‘pulang’ kembali ke rumah.

Walaupun jarang pulang, tapi ia mengatakan sangat senang dengan kehidupannya. Berpindah-pindah kota bukanlah hal yang baru dan sulit buatnya. Karena bahkan sebelum menikahpun ia juga sudah sering dibawa berpindah-pindah megikuti papanya yang juga kebetulan tugas berpindah-pindah kota. Dengan begitu ia ikut menjalani kehidupan di berbagai tempat  di tanah air, mulai dari Sabang sampai Merauke. “Tapi seneng juga kok bisa pernah tinggal di berbagai kota, Tante” katanya.

“Jadi aku bisa melihat orang yang berbeda-beda. Bahasanya, adatnya, agamanya. Aku jadi lebih bisa mengerti dan menghargai perbedaan. Kita jadi mudah mengerti  orang lain dengan lebih baik. Kita jadi lebih toleran dan tidak berpikiran sempit. Tidak lagi mengira kebiasaan, adat istiadat, agama dan budaya kita yang paling baik sementara orang lain jelek semua. Nggak seperti katak dalam tempurung” lanjutnya menarik kesimpulan dari pengalaman hidupnya.

Saya sangat setuju dengan apa yang ia katakan. Mengenal dan mengerti orang lain yang berbeda membuat kesenjangan sosial kita berkurang ada bahkan hilang sama sekali.

Jika hanya mengenal attribut (adat, kebiasaan, budaya,agama, bahasa, bangsa) kita sendiri saja, kita cenderung akan merasa sangat asing dengan attribut orang lain. Pandangan dan pikiran kita menjadi terbatas dan sempit, sebatas apa yang kita lihat di permukaan saja. Kita tidak memahami alasan dan filosofi di belakang atribut orang lain, sehingga kita mungkin bisa salah tafsir atau salah mengerti tentang orang lain. Pada pikiran yang sempit, ada 2 kemungkinan yang terjadi:

Pertama, merasa SUPER- kita pikir adat kebiasaan, budaya, agama kita lebih baik dari orang lain.  Yang baik hanya kita, yang lain kurang baik. Yang benar hanya kita, yang lain kurang benar. Kalau sudah begini kita akan mudah menjadi bersikap sok. Sengak. Dan mengecilkan orang lain.

Kemungkinan kedua yang terjadi adalah merasa MINDER, karena menyangka apa yang orang lain miliki itu semua lebih baik dari kita. Kita jadi khawatir, ragu dan tidak percaya diri. Kita takut menyatakan pendapat. Takut mengatakan tidak suka atau tidak setuju, karena  tidak pede.  Boro-boro bersahabat dekat. Mau ngomong aja rasanya sudah gugup. Nggak nyaman. Semuanya terasa asing dan aneh.

Tapi coba kita buka diri. Dengarkan orang lain. Pelajari attribut yang orang lain miliki. Buka mata hati kita lebar-lebar untuk melihat semuanya dengan lebih jelas. Kita akan mulai tahu dan mengerti adat,  kebiasaan, bahasa, agama dan budaya orang lain dengan lebih baik dan proporsional. Pemahaman kita membaik. Cara pandang kita  akan menjadi berbeda. Lebih luas dan tidak lagi sesempit sebelumnya. Kita bisa melihat banyak kelebihan dan kekurangan dimiliki oleh setiap orang, setiap suku, setiap agama, setiap bahasa, setiap bangsa  dan sebagainya.

Pemahaman ini membuat kita jadi lebih bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan orang lain. Kita tidak lagi merasa asing.  Sehingga membuat kita jadi  jauh lebih mudah berbaur. Karena sekarang kita akan fokus melihat kebaikan-kebaikan orang lain dibanding kekurangannya. Apapun suku atau bangsa kita, akan mudah bergaul dengan suku manapun yang ada di Indonesia atau bahkan dengan bangsa manapun di dunia ini,  karena kini kita bisa mengerti adat kebiasannya. Apapun agama kita, kita akan bisa mengerti dan menghormati agama orang lain karena kita mengerti banyak kebaikan dalam ajaran-ajarannya. Kita juga akan lebih tertarik dan menemukan jika bahasa daerah teman kita menjadi lebih menarik karena memperkaya khasanah pengetahuan kita.

Sangat jelas dengan membuka hati seperti ini, kita akan menjadi lebih toleran terhadap orang lain. Kita tidak akan pernah lagi berpikir bahwa perbedaan attribut adat kebiasaan, bahasa, agama, suku bangsa  menjadi penghalang kita untuk berhubungan lebih dekat dengan orang lain yang attributnya berbeda. Karena sekarang kita tidak lagi mengedepankan perbedaan itu.

Semakin kita mengenal adat kebiasaan, suku, budaya, bangsa dan agama orang lain, maka semakin kita mengerti dan merasakan kalau gap perbedaan kita menjadi semakin kecil. Sebaliknya, kita akan merasakan kedekatan dan rasa persaudaraan yang semakin membesar. Kita merasa sejajar. Tidak lagi merasa minder ataupun merasa super terhadap orang lain yang suku,agama atau bangsanya berbeda dengan kita.

Kwalitas hubungan manusia itu tidak ditentukan oleh apa suku bangsanya atau apa bahasa yang diucapkannya. Juga tidak ditentukan oleh apa agama yang dianutnya, tetapi lebih banyak ditentukan pada bagaimana sikap dan tingkah lakunya terhadap orang lain, terhadap sesama.

Ya…. pada akhirnya, orang akan ditentukan oleh tingkah laku dan perbuatannya masing-masing dalam berinteraksi dengan orang lain. Bukan ditentukan oleh adatnya, agamanya, sukunya , bangsanya ataupun bahasanya.

 

 

Mengapa Kreatifitas Kita Berhenti?

Standard

KreatifitasSuatu kali, sepulang saya dari kantor anak saya yang kecil berkata “Ma… aku besok ada tugas dari Ibu Guru untuk membuat prakarya dari flanel“. Saya meletakkan tas kantor dan laptop saya di atas meja belajar. Hari sebenarnya sudah agak malam. “Terus, sudah bikin?” tanya saya. Saya ingat kami masih punya tumpukan flanel warna warni yang cukup banyak. Jadi ia tidak usah membeli lagi.  “Belum! Bikinnya besok di sekolah”katanya. Ooh..jadi tidak perlu terburu-buru ya. “Pengen latihan bikin dulu sekarang. Sama mama aja. Aku takut kalau sendiri nanti nggak bisa” katanya. Ya ampyuuuuun!. Hari sudah malam begini. Menunggu saya yang pulang malam, itu sebenarnya sama saja memangkas waktu untuk berkreatifitas. Padahal bikin, bikin aja dulu. Nanti  kalau ada yang kurang sreg kan bisa dibetulkan lagi.  Walaupun setelah saya katakan begitu,akhirnya anak saya bikin sendiri juga.

Pernah juga di lain kesempatan, seorang teman yang bekerja di sebuah Agency periklanan mengeluh jenuh dengan pekerjaannya. Belakangan ia sering merasa buntu idea. Setiap idea yang keluar terasa garing. Nggak ada sedikitpun kreatif-kreatifnya. Ia pun mulai menyalahkan banyaknya batasan yang diberikan berkenaan dengan positioning Brand yang dikelolanya. Ujung-ujungnya ia merasa kreatifitasnya mandek.

Kalau kita perhatikan, banyak sekali orang-orang di sekitar kita yang merasa kering kreatifitas. Macet dan tak tahu lagi bagaimana harus mencairkannya kembali. Mulai dari blogger yang mengeluh kehabisan idea menulis, pelukis yang catnya mengering sendiri karena lama tak dipakai lagi, pemasar yang kehabisan ide promosi,  dsb hingga ibu rumah tangga yang kehabisan idea memasak. Nah pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah, “Mengapa kreatifitas kita berhenti?”. Saya mencoba memikirkannya. Dan ini adalah beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya.

Pertama, adalah takut tidak bisa. Seperti dalam kasus anak saya. Ia berhenti berkreatifitas karena merasa takut tidak bisa (menjahit). Daripada mencari ide dan mencobanya sendiri dulu, ia lebih memilih menunggu mamanya pulang. Menunggu dan tidak melakukan apa-apa dalam rentang waktu tertentu, sudah pasti membuat kita tidak produktif. Nah..itu semuanya gara-gara perasaan takut tidak bisa. Takut hasilnya salah. Takut hasilnya kurang keren. Perasaan takut akan ‘tidak bisa’ ini sering membuat kita jadi ragu dan akhirnya benar-benar membuat kita tak mampu. Itulah sebabnya banyak yang memberi tahu kita sebagai orang tua untuk mengajarkan anak bahwa ia pasti bisa. Karena dengan mengubah keyakinan anak bahwa ia pasti bisa dalam melakukan sesuatu, akan membantu menumbuhkan semangat dan kepercayaan dirinya bahwa ia sesungguhnya bisa dan hasilnya memang pasti benar-benar bisa. Ayo, kamu pasti bisa!

Kedua, adalah kepercayaan yang salah. Contohnya adalah pemahaman salah bahwa anak lelaki tidak bisa memasak. Anak perempuan tidak bisa memperbaiki atap rumah. Anak perempuan tidak bisa membetulkan kendaraan. Dan sebagainya ‘judgment masyarakat’ yang premature dan bisa jadi salah. Kalau kita percaya pada hal-hal seperti ini, besar kemungkinan akan melimitasi kreatifitas kita. Sebagai perempuan kita cenderung melimitasi diri kita sendiri untuk belajar urusan mesin mobil, karena merasa diri tidak berbakat atau tidak umum perempuan jago otomotif. Bagaimana pula mau disuruh kreatif ya? Wong kita sudah mencap diri kita sejak awal bahwa perempuan tidak berbakat di bidang otomotif? Nah..ujung-ujungnya jadi beneran deh itu kita tidak bisa.  Nah … kepada kedua anak laki-laki saya, saya tidak pernah mau anak saya berpikir bahwa anak laki-laki itu tidak bisa menjahit atau anak laki-laki itu tidak bisa memasak itu biasa. Harus belajar menjahit! Harus bisa memasak. Tidak ada urusan gender di sini.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab matinya kreatifitas adalah rasa khawatir dianggap nyeleneh bin aneh. Takut menjadi pencilan. Khawatir dikatakan sebagai anti-main stream. Datang dengan ide baru yang berbeda yang tidak biasa terkadang membuat seseorang merasa nggak nyaman sendiri dengan kreatifitasnya. Padahal cuek saja. Toh ide kreatif tidak akan membuat kita masuk penjara, sepanjang kreatifitas kita itu tidak melanggar hukum negara, norma agama dan tidak merugikan orang lain.

Atau ada pula teman saya yang sangat reluktan jika diminta membangun ide di atas ide orang lain yang sudah ada. Atau ide di atas idenya sendiri yang sudah dikeluarkan sebelumnya.  Ia merasa hasil kreatifitasnya kurang afdol. Padahal memang demikianlah mekanisme peradaban manusia itu bekerja. Banyak kreatifitas baru yang dibuat untuk memperbaiki kreatifitas yang sudah ada sebelumnya. Demikian juga banyak penemuan dan theory baru dibangun di atas theory lama yang barangkali sudah tidak relevan atau perlu diperbaiki.  Mencontek, menjiplak atau mengcopy ide/kreatifitas orang lain tentu itu tidak ethis. Tetapi jika kita datang dengan ide-ide dan kreatifitas baru yang lebih baik, atau merupakan perbaikan dari ide /kreatifitas orang lain tentu itu syah syah saja.

Ada satu lagi nih…yang menurut saya juga membuat limitasi terhadap kreatifitas kita. Yakni jika kita terlalu “terikat” akan sesuatu . Misalnya terikat akan aturan-aturan design tertentu, atau misalnya brand code – tidak boleh pakai warna tertentu tapi harus warna ini, ini dan itu saja.  Otomatis kreatifitas kita berkurang. Atau di perusahaan tertentu, sangat terikat akan kepercayaan tertentu. Dilarang menggunakan angka yang berakhir dengan 13, karena itu artinya sial atau angka 4 karena erat kaitannya dengan kata mati. Waduuhhh… nah kalau sudah begini, kita menjadi was-was duluan. Takut salah. Bagaimana pula mau menjadi kreatif dalam keadaan takut dan terbatas begini? Atau ada juga misalnya, keterikatan dengan kesuksesan masa lampau. “Dulu sukses lho waktu pakai iklan begini. jadi jangan rubah!“. Lah..tapi kan pasar berubah? Dunia berubah? Masyarakat berubah? Kita tidak bisa selalu memaksakan semua yang sukses di masa lalu. Karena apa yang sukses di masa lalu belum tentu tetap diterima pasar dengan baik saat ini juga.

Mungkin masih ada banyak penyebab mandeknya kreatifitas kita yang belum sempat keluar dari kepala saya. Tapi intinya, yuk kita move on! Terus berkreasi dan gali terus ide-ide baru!. Jangan biarkan segalaketakutan dan kekhawatiran itu membatasi kreatifitas kita.

Selamat pagi, teman-teman! Selamat berkreatiftas. Semoga sukses setiap hari!.

Keping Keberuntungan Gober Bebek.

Standard

Uang logam

Pernah suatu ketika, saya berjalan kaki  bersama seorang teman. Saya melihat ke bawah. Ada sekeping uang logam busuk terlantar di tepi jalan. Sudah aus kena injak orang yang berlalu lalang dan warnanya tak jelas, kotor nyaris sama dengan tanah. Lebih aus lagi daripada photo uang logam di gambar ini.  Tak kelihatan lagi tulisan dan gambarnya. Mungkin sepuluh rupiah.

Melihat saya berhenti melangkah, teman saya bertanya heran. “Apa itu, Dan?“tanya teman saya. “Keping Keberuntungan Gober Bebek“kata saya menahan senyum. “Hah??! Mana ada? Ngarang lu!“sergahnya. Ha ha. Tentu saja saya ngarang.

Donald Bebek!. Bebek yang paling malang sekota bebek.  Pasti banyak diantara kita adalah penggemarnya. Dan saya salah satunya. Tokoh itu selalu menyita perhatian saya ketika kecil dulu. Dan tetap menyita perhatian bahkan setelah saya menjadi dewasa dan tua.  Selain Donald yang merupakan tokoh sentral komik itu, ada banyak tokoh lain yang juga menarik, yakni Trio Kwek Kwik Kwak, Desi Bebek, Professor Lang Ling Lung, Gerombolan Si Berat, Si Mimi Hitam dan… Paman Gober!.  Nah ini dia.

Semua orang tahu kalau Paman Gober adalah paman dari Donald yang kaya raya namun pelit. Hobbynya berenang di gudang uangnya. Dari manakah kekayaannya itu berasal? Tentunya hasil dari berbagai jenis perusahaan yang ia miliki. Intinya Paman Gober adalah seorang konglomerat. Namun dalam episode yang entah mana, saya ingat bahwa nasib Gober Bebek tak lepas dari mujizat sekeping uang logam yang membuatnya selalu beruntung, yang di komik disebut dengan “Keping Keberuntungan Gober Bebek” Itu sebabnya Gober Bebek merasa sangat penting memiliki uang logam itu.  Jangan sampai hilang. Karena jika hilang, tentu nasibnya akan tidak mujur lagi. Bisa bisa kekayaannya menyusut.

Oleh sebab itu Gober Bebek mati-matian berusaha mempertahankannya. Terlebih dengan adanya tokoh Mimi Hitam yang selalu berusaha mencurinya dengan niat untuk dilebur di Gunung Vesuvius agar ia mendapatkan mujijat “Sentuhan Midas’  dimana setiap benda yang disentuh akan menjadi emas. He he..semua pasti tahu cerita itu kan? Dan semua juga pasti tahu bahwa Keping Keberuntungan Gober Bebek itu pasti hanya khayalan si pengarangnya saja.

Ya. Walaupun tahu begitu, tapi tetap saja saya senang membaca cerita komik itu. Sangat menghibur.

*****

Saya ingat cerita itu gara-gara pagi ini saya juga melihat ada keping uang logam yang sudah aus di tepi jalan. Saya lalu ingat akan cerita Keping Keberuntungan Gober Bebek itu lagi. Tapi kalau direnungkan, seperti yang dikatakan teman saya itu, mana ada sih di dunia nyata ini keping keberuntungan seperti itu?.Yang jelas, keping keberuntungan seperti itu hanya Gober Bebek yang punya. Dan kita tahu bahwa Gober Bebek hidup hanya di dunia khayal. Sehingga sangat jelas bahwa Keping Keberuntungan itupun hanya ada di dunia khayal manusia.

Jadi didunia nyata ini, jika saya mengharapkan rejeki yang nyata, saya harus memberi tahu diri saya sendiri, bekerja keraslah seperti Gober Bebek, tetapi  jangan pernah berharap mendapat keberuntungan extra dari sebuah keping.  Ingat ingat bahwa keping keberuntungan itu hanya ada di dunia khayal saja. Artinya  jika kita ingin mendapatkan extra rejeki, maka kita perlu bekerja ekstra smart, extra keras.  Rejeki akan datang menemui setiap orang yang  bekerja keras dan berusaha dengan cara yang baik dan cerdas untuk mendapatkannya. Namun jika kita sudah merasa bekerja cukup keras dan cukup extra cerdas melakukannya dan rejekinya tetap hanya segitu segitu saja, ya mungkin memang hanya cukup sedemikian jatah yang disediakan oleh semesta untuk kita. Kita tetap menerimanya dengan penuh syukur dan terimakasih.

Dan tentunya satu hal lagi yang tak perlu diadopsi dari Gober Bebek adalah pelit. Terkadang kita merasa bahwa rejeki ini kan hasil kerja keras kita sendiri, mengapa kita harus bagi kepada orang lain yang tidak ikut bekerja keras dengan kita? Kita tidak menyadari bahwa ada mekanisme lain yang mengatur di atas semua yang kita lakukan dalam mendapatkan rejeki kita  yang sama sekali bukan atas kerja keras kita. Segala sesuatu yang kita pikir itu sebagai kebetulan dan nasib. Ooh kebetulan saya melihat iklan di koran pas saya butuh pekerjaan, Ooh..kebetulan pesaing saya sedikit saat saya interview, atau Ooh..kebetulan ada investor yang ingin invest saat saya punya ide cemerlang, dan sebagainya. Segala bentuk nasib baik dan kebetulan kebetulan itu tentunya ada mengatur. Tidak tersedia begitu saja dan tinggal pungut.  Ada mekanisme di luar kuasa kita yang telah membantu kita berada pada nasib kita itu selain memang atas upaya dan kerja keras kita sendiri.

Oleh karena itu tidak ada salahnya kita berbagi dengan orang lain di sekitar kita yang memang layak dibantu. Karena sesungguhnya rejeki yang kita terima tidak seratus persen atas kerja keras kita saja, namun juga tidak terlepas dari bantuan beliau Yang Maha Kuasa salah satunya lewat mekanisme nasib baik yang serba kebetulan itu. Barangkali juga kita yang lebih beruntung ditunjukkan pintu rejeki, bukan hanya untuk diri kita sendiri, namun juga sebagian memang titipan bagi orang lain yang belum beruntung menemukan pintu rejekinya masing-masing.

Jika Gober Bebek memiliki 3 kata kunci atas rejekinya: Keping KeberuntunganPelitKerja Keras; maka bagi kita barangkali 3 kata kunci atas rejeki kita adalah : Kerja Keras & UsahaBersyukur & Berterimakasih Berbagi kepada orang lain yang belum beruntung memukan pintu rejekinya.

Selamat pagi teman-teman! Semoga hari ini dilimpahi kebahagiaan dan kesuksesan.

 

 

Cerita Minggu Pagi: Melacak dan Menelusuri.

Standard

2015-06-14 10.51.49Di bunderan jalan di kompleks perumahan saya melihat 3 ekor anjing sedang bermain. Seekor Rottwelier hitam. Seekor Toy Poodle kelabu yang tampak kurang terurus. Entah siapa pemiliknya.Dan seekor anjing berbulu coklat pirang yang saya tidak tahu persis rasnya. Mirip anjing Bali tapi kalau lihat dari bentuk tubuh dan ekornya yang melingkar begitu, saya teringat jenis Shiba Inu. Jadi saya tidak tahu persis apa jenis anjing itu.

Tiba-tiba si anjing coklat itu kencing di pohon yang tumbuh di tengah bunderan itu. Wah ..rupaya ia sedang menandai tempat itu untuk mengingatkan dirinya bahwa ia pernah berada di sana. Setelah itu ia berlari.

Saya  jadi tertarik ingin mengikuti apa yang akan dilakukan berikutnya. Jadi saya ikut berlari mengikuti kemana arah anjing itu berlari. Sesaat kemudian ia berhenti. Mengendus-endus rumput di tepi jalan.Saya ikut berhenti dan memperhatikan perbuatannya. Ia melihat ke arah saya sebentar, lalu lanjut berlari lagi. Saya juga kembali berlari di belakangnya. Ia berhenti lagi. Mengendus-endus tanaman hias di tepi jalan. Saya ikut berhenti berlari dan mengamati kelakuannya lagi. Ia mengendus-endus dan akhirnya kencing di sebuah batang pohon di dekatnya. Lalu berlari lagi.

Demikian seterusnya berkali-kali. Berlari-mengendus-endus – berlari lagi, atau berlari mengendus-endus – kencing dipohon/tonggak/batu- lalu berlari lagi. Sayapun tentunya ikut berlari dan berhenti lalu berlari lagi berulang-ulang.

Saya pikir anjing itu mahluk yang luar biasa. Ia memiliki kelebihan dalam hal indera penciumannya ketimbang mahluk lain. Ia mampu membedakan benda A dengan benda B hanya dari baunya. Yang mana kita manusia hanya dianugerahi kemampuan terbatas dalam hal itu.

Saya ingat di tahun 80-an drh Pudji Raharjo, seorang dosen saya yang sangat banyak berurusan dengan anjing-anjing Bali, suatu kali pernah mendemonstrasikan kehebatan anjing-anjing Bali yang dilatihnya bersama tim kepolisian untuk melacak narkoba dan kejahatan lain.  Dalam demonstrasi yang dilakukan team kepolisian di halaman kampus itu, saya bisa melihat dengan jelas bagaimana anjing-anjing Bali yang cerdas itu bisa dengan cepat dan akurat mampu melacak keberadaan narkotika, hanya dengan diberi sebuah perintah sederhana.

Kehebatan melacak orang juga pernah saya lihat pada seekor anjing milik seorang seniman besar di Bali yang jahil melatih anjingnya mengendus “bau” istrinya. Tentu saja istrinya yang dijahilin itu mencak-mencak walaupun tertawa geli juga mengetahui kekonyolan suami tercintanya. Saya sendiri sangat terkesan akan kehebatan anjing itu. Yahhh… kesimpulannya sangat jelas, anjing memang bisa melacak keberadaan sesuatu dengan sangat baik dari indra penciumannya.

Kemampuan melacak ini juga disertai dengan kemapuan anjing untuk men’tracking’ alias menelusuri sebuah perjalanan. Seperti yang saya ikuti tadi pagi. Anjing itu keluar rumah, lalu kencing di titik-titik tertentu di sepanjang perjalanannya. Dengan kemampuannya mengendus dengan baik tentu ia tahu dititik-titik  mana ia pernah berada. Sehingga walaupun ia melanglang jauh ia pasti selalu bisa pulang kembali ke rumah dan tidak mungkin tersesat. demikian juga ketika anjing ini ingin melakukan tracking terhadap keberadaan lawan jenisnya. Hanya mengendus tempat-tempat di mana lawan jenisnya pernah berada, akan membawanya menemui pasangannya.  Demikianlah cara anjing melakukan tracking terhadap sesuatu.

Men’tracking’ sesuatu adalah kegiatan yang terkadang kita lakukan juga. Misalnya dalam pekerjaan sebagai pemasar, kita melakukan tracking terhadap penjualan kita dari hari ke hari, minggu keminggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.Tracking juga kita lakukan terhadap biaya yang kita keluarkan, harga di pasaran dan sebagainya. Lalu dalam hal menangani permasalahan. Baik  itu pemasalahan dalam kehidupan sehar-hari maupun pekerjaan, kita juga menelusuri sebab musababnya berhasil menemukan ‘root cause’nya untuk membantu kita memberikan pemecahan masalah yang sifatnya lebih ‘causalis’ ketimbang ‘simptomatis’. Yang tentunya hasilnya lebih bagus.

Melacak dan menelusuri, perlu juga sesekali kita lakukan terhadap amal perbuatan kita. Melacak mana saja pemikiran, perkataan dan perbuatan yang baik atau kurang baik yang kita lakukan. Kita bisa menelusuri kembali, apakah dalam rentang waktu tertentu perbuatan baik kita sudah lebih mendominasi? Atau malah perbuatan yang kurang baik malah mendominasi?. Kita juga perlu menelusuri kembali sebab musabab mengapa kita melakukannya dan apa dampaknya terhadap orang lain, untuk kita ambil intisari pelajarannya dan kita perbaiki ke depannya.

Anjing itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah yang pagarnya masih ditutup. Barangkali penghuninya belum bangun. Ia mengendus-endus dan berputar-putar tak jauh dari tempat itu. Lalu berjongkok menghadap ke gerbang halaman, seolah berharap dibukakan pintu. Oooh..barangkali di sana rumahnya. Ia bangun kembali, mengendus-endus, berputar dan kembali lagi berdiri di depan gerbang. Beberapa kali ia melihat ke arah saya.

Sebenarnya saya masih ingin mengamati tingkah laku anjing coklat itu lagi – tapi saya agak tidak nyaman berdiri di sana terlalu lama. Walaupun saya hanya sedang mengamati tingkah laku anjingnya, orang bisa salah paham. Bisa menyangka saya sedang memata-matai rumah dan penghuninya. Tentu itu tidak sopan. Saya mengajaknya berlari lagi, tapi ia tidak mau. Dan lebih memilih menunggu di depan gerbang.

Jadi dengan berat hati, saya terpaksa meninggalkan anjing itu sendiri di sana dan kemudian saya melanjutkan perjalanan saya sendiri.

 

 

Telepon Umum, Icon Komunikasi Masa Lalu.

Standard

Telpon UmumTadi pagi saya berjalan-jalan ke luar rumah. Belum berani berlari cepat untuk menghindari terkilir  ke sekian kalinya. Jadi pelan-pelan saja sambil menyapa para tetangga dan pedagang di perumahan. Tiba di depan ruko, pandangan mata saya tertuju pada kotak telepon umum yang berdiri di sana.  Di bawahnya ada 2 tong sampah. Kelihatan agak kumuh sih.

Sebenarnya box telpon umum ini masih berdiri tegak di tiangnya. Warnanya biru terang, walau catnya sedikit agak pudar, namun secara keseluruhan masih kelihatan bagus.  Ketika saya dekati, pesawat telponnya sudah tidak ada. Sudah digondol entah oleh siapa.Tinggal hanya dinding belakangnya yang memiliki 2 lubang mirip mata. Hmm…sayang sekali. Kenapa ya tidak dipasang lagi pesawat telponnya? Sekarang saya jadi berpikir, apakah telpon umum sudah benar-benar tidak dibutuhkan lagi sekarang ini?. Mengapa pemerintah (baca: PT Telkom) membiarkannya terlantar sedemikian rupa?.

Telpon genggam sekarang bukan lagi barang mewah. Hampir semua lapisan masyarakat memilikinya. Mulai dari yang namanya pejabat hingga rakyat jelata memiliki hape.  Mulai dari si konglomerat hingga pemulungpun juga punya hape. Wah..Indonesia makmur banget ya?. Namun apakah memang sedemikian meratanya kemakmuran rakyat Indonesia sampai semuanya sudah punya telpon genggam? Sehingga telpon umum benar-benar sudah tidak dibutuhkan lagi?  Jika memang benar-benar makmur, mengapa masih ada banyak pengemis kita temukan di jalan raya? Mengapa masih banyak Pak Ogah di jalananan? Masa buat telpon genggam ada, tapi buat makan nggak ada?

Saya pikir pemerintah sebaiknya tetap menyediakan telpon umum. Karena walaupun penetrasi telpon genggam di Indonesia mungkin tinggi, namun saya yakin belum mendekati 100%. Dari sekian ratus juta masyarakat Indonesia tentunya tetap saja ada yang tidak memiliki telpon genggam. Atau barangkali hape-nya sedang rusak atau ketinggalan. Atau punya hape tapi nggak punya pulsa. Ada saja masyarakat yang tetap membutuhkan jasa telpon umum ini. Miinimal untuk keperluan darurat.

Saya salah satu pengguna yang merasa harus berterimakasih banyak  pada jasa telpon umum. Dulunya saya pengguna aktif telpon umum. Terutama karena saya tidak tinggal dengan orang tua saya sejak selepas SMA. jadi telpon umum merupakan sarana komunikasi yang super penting bagi saya. Buat nelpon keluarga, nelpon teman dan tentunya nelpon…..pacar saya di jaman itu. Pake telpon rumah kan biayanya lebih mahal. Lagipula saat itu di tempat kost saya tidak dipasang telpon. Jadi pake telpon umum tentu jauh lebih irit dalam memecahkan masalah komunikasi.

Banyak serunya juga menggunakan telpon umum. Mulai dari mencari lokasi telpon umum yang tidak rusak. Karena walaupun ada banyak telpon umum tersebar di kota tempat saya tinggal, namun secara bergiliran ada saja yang rusak. Nah kalau telpon umum di dekat tempat kost atau di kampus tidak befungsi, saya harus rela naik motor, naik bemo atau bahkan jalan kaki mencari telpon umum yang lain. Dan itu sering banget.

Lalu saat kita betemu telpon umum yang berfungsi dengan baik, belum tentu kita bisa langsung menggunakannya. Saya ingat di masa kejayaannya sekitar tahun 80-an hingga pertengahan tahun 90-an, orang-orang bersedia antri demi bisa menggunakan jasa telpon umum. Barangkali serupa dengan antrian di ATM jaman sekarang. Mengantri di depan telpon genggam saat itu sudah merupakan hal yang biasa. Dan walaupun jarang, kadang-kadang ada juga yang menyerobot di antrian dengan tidak sopannya. Bikin gondok juga. Tapi jika ada orang orang yang punya keperluan darurat ingin mendahului saya di antrian,biasanya saya persilakan dengan senang hati.

Bagian yang tidak enak lainnya adalah ketika antrian sudah sangat panjang dan lama, namun yang sedang menelpon tidak tahu diri. Ngobroooooolll aja terus tanpa perduli orang lain sudah menunggu diluar kehujanan, kepanasan atau berkeringat.

Setelah tiba giliran kita nih, masih ada lagi kemungkinan yang lain. Yaitu koin masuk tapi tidak nyantol dengan mudah. Tapi lepas dan jatuh keluar lagi.  Nggak click, sehingga harus melakukan beruang-ulang sampai uangnya bisa nyantol dan telpon siap digunakan. Hal kurang nyaman lainnya adalah saat kita berbicara tentang sesuatu dan orang lain ikut menguping pembicaraan kita. Nah itu nggak enak rasanya. Untungnya jaman dulu kebanyakan telpon umum ada boxnya dimana kita bisa masuk dan menutup pintu box itu. Walaupun kadang-kadang pintunya rusak juga.

Itu memory saya tentang telpon umum. Ada nggak yang punya kenangan lain seputar telpon umum? Apakah menurutmu Telpon Umum masih perlu disediakan dan dipelihara atau tidak oleh PT Telkom sih?

Mencoba Membuat Sendiri Baklava.

Standard

Baklava 1Mama bisa bikin Baklava?” tanya anak saya. Baklava…baklava.. dimana rasanya saya pernah mendengar nama itu. Saya tak mampu memancing ingatan saya. Akhirnya saya menyerah. Anak saya lalu menunjukkan gambar makanan yang bernama Baklava itu. Oooh! Sekarang saya baru inget. Saya pernah memakan makanan ini dulu banget…saat suatu kali  saya berkunjung ke rumah mantan boss saya. Mantan boss saya itu berkebangsaan Yunani. Waktu itu ia tinggal sendirian di Manchester dan rupanya suka memasak juga untuk dirinya sendiri. Tahu saya sedang berada di kota itu, beliau menjemput dan mengajak  saya mampir ke rumahnya serta memasak berbagai makanan untuk menjamu saya. Salah satunya ada yang serupa dengan Baklava di gambar ini. Rasanya enak dan manis banget dengan rasa kacang  beraroma kayu manis dan cengkeh.

Anak saya mengajak saya untuk mencoba membuat. Jadilah kami ngubek-ubek resep Baklava dan cara membuatnya di internet. Ada petunjuk yang cukup mudah diikuti. Dari sini saya baru tahu bahwa Baklava ternyata adalah makanan asli Turki. Lah..?! Kenapa ya saya menyangka itu masakan khas Yunani?. Anak saya yang sudah lebih dulu mengubek-ubek informasi tentang Baklava ini mengatakan bahwa makanan ini memang asli Turki, namun hingga kini Yunani juga tetap mengatakan kalau Baklava itu makanan khas mereka.  Ahh.. saya pikir bagarangkali serupa dengan makanan Indonesia dan Malaysia yang nggak jauh-jauh berbeda. Nggak masalahlah….siapapun yang mengklaim sebagai makanan khasnya…wong  kenyataannya memang di masak sehari-hari di kedua negara itu.

Baklava 3Akhirnya saya dan anak saya memutuskan untuk melakukan percobaan membuat Baklava.  Kedengeranya keren. Bahan-bahannya kelihatan cukup mudah dibeli di Supermarket. Dibutuhkan Phyllo dough, gula halus, madu, kacang almond, kayu manis bubuk, cengkeh bubuk, mentega, vanilla dan kulit jeruk sunkist.

Buru-buru saya dan anak saya yang besar pergi berbelanja bahan-bahan. Phyllo dough – saya nggak nemu ada yang jual, tapi bisa saya ganti dengan dough untuk pastry yang ready to use. Nah..gula halus habis! Anak saya menemukan Gula tepung. Saya pikir sama..namun belakangan setelah masak saya baru tahu kalau gula tepung itu bukan gula halus, tapi gula halus + tepung. Walah!. Madu ok. Kacang almond dan walnut? Saya nggak nemu walnut. Cuma nemu almond saja. Jadilah saya berinisiatif menggantinya dengan kacang mede dan almond. Kayu manis dan cengkeh nggak ada yang bubuk. Adanya yang kasar. Ok nggak apa-apalah. Margarine saya pakai sebagai pengganti mentega. Vanilla dan jeruk sunkist Ok.

Langkah-langkah membuatnya (sebenarnya bukan membuat ya, tapi menyusun):

1/. Ulaskan mentega/margarine pada permukaan nampan gelas tahan panas.

2/.  Letakkan selembar pastry dough di atasnya.

3/. Cincang kasar kacang Almond dan kacang mede. Bisa juga dengan memblendernya kasar.  Kayu Manis & Cengkeh ditumbuk halus lalu diaduk ke  kacang.

4/. Taburkan kacang di atas lapisan dough pertama. lalu tutup dengan lembaran dough lagi.

5/. Ulaskan kembali mentega di atas lapisan dough yang paling atas. lalu taburkan kacang lagi di atasanya.

6/. Tutup kembali lapisan kacang dengan lembaran dough. Demikian seterusnya sampai 10 lapis. Tapi saya hanya membuatnya 4 lapis saja karena lembaran dough yang saya beli terlalu tebal. Konon di Yunani orang membuatnya hingga 33 lapis lembaran dough tipis.

7/. Setelah disusun sedemikian rupa dan ditutup terakhir dengan lembar dough, potong-potong Baklava lalu panggang  dengan api 230° selama 30 menit hingga Baklava matang.

 

baklava2Untuk sausnya,  saya menjerang air di dalam panci kecil, lalu memasukkan gula halus. Setelah itu masukkan madu. Terakhir tambahkan dengan parutan kulit jeruk sunkist.  Di aduk-aduk sambil dijerang di atas api.  Dinginkan.

Hidangkan Baklava dengan saus madu. Hmm..enak banget!. Rasanya pas seperti apa yang saya bayangkan. Kombinasi rasa kacang dengan kayu manis yang sangat menggoda plus aroma cengkeh yang hangat.

Anak-anak dan suami saya menyukainya. Mencoba membuat sendiri Baklava menyenangkan juga. Bisa menjadi salah satu alternative untuk mengisi weekend bersama keluarga.

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung II.

Standard

Selain relief yang menggambarkan Sumpah Amukti Palapa, di dinding belakang Pendopo Agung Trowulan juga terdapat daftar Raja-Raja Majapahit. Saya mencoba membaca daftar itu walaupun agak susah, karena jenis font yang dipakai agak keriting selain juga karena hari mulai gelap.

Raja-Raja MajapahitMelihat daftar para raja beserta tahun pemerintahannya, kita jadi tahu bahwa Kerajaan Majapahit berdiri selama nyaris 200 tahun. Tepatnya 193 tahun, sejak pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya (1294), hingga runtuhnya di tangan Prabhu Girinderawardhana (1487). Lama juga ya umur negara itu. Indonesia sendiri baru berumur 70 pada tahun ini. Masih dibutuhkan 123 tahun lagi agar minimal bisa meyamai panjangnya umur negara Majapahit. Dan tentunya kita semua berharap agar Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan bisa melebihi Majapahit. Lalu mengapa negara yang sedemikian besar dan sedemikian lama eksistensinya di Nusantara ini akhirnya bisa runtuh?

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Di daftar ini, sepintas lalu semua kelihatan sangat rapi. Namun jika kita tilik lebih jauh, dan pelajari kembali sejarah, di balik kejayaannya, pemerintahan kerajaan Majapahit ini sebenarnya juga tidak mulus-mulus amat.  Dihiasi dengan banyak pemberontakan, mulai dari Ra Kuti, Semi, hingga Ronggolawe. Juga dipenuhi dengan intrik-intrik politik dalam keluarga. Memperebutkan tahta dan kekuasaan, terutama sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan antara tahun 1453-1456, sempat terjadi kekosongan dalam pemerintahan Majapahit. Nah apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari sini?

Ketika Ego dan Keserakahan mengalahkan rasa Persaudaraan dan Kepedulian pada orang lain, maka ketika itu juga kemampuan manusia untuk berjalan ke arah kejayaan akan memudar. Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaannya. Para pendongkel sibuk berusaha merebut kekuasaan. Mereka saling menjatuhkan. Lupa bagaimana cara mengelola negara dengan baik. Lupa memikirkan kesejahteraan rakyat. Perang dan pemberontakan tak terhindarkan. Negara menjadi lemah. Rakyat menderita. Negara yang lemah, dengan sendirinya sangat mudah diguncang dan runtuh.

Hari semakin gelap. Saya tidak mampu lagi membaca. Penjaga pendopo mengajak kami ke bagian belakang Pendopo.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Di sana ada sebuah batu tempat menambatkan gajah tunggangan kerajaan. Konon batu itu sangat kuat tertancap ke tanah, sehingga bahkan tenaga gajahpun tak mampu menariknya.

Petilasan Raden Wijaya.

Di balik tembok belakang Pendopo Agung itu ada sebuah pintu. Saya melongokkan kepala saya ingin tahu. Oops! Alangkah terkejutnya saya. Waduuuh! Kuburan!. Rupanya itu tempat pemakaman. Sebuah pohon besar tampak menaungi. Ada jalan kecil membelah tempat pemakaman itu menuju sebuah bangunan kecil mirip rumah penjaga kuburan. Saya tertegun dan menghentikan langkah saya seketika.

Di belakang Pendopo Agung Trowulan.Terus terang saya merasa gentar juga. Demikian juga kelihatannya ke dua teman saya. Mana malam sudah mulai turun pula. Suasana gelap remang-remang. Sekarang saya mulai meratapi keingin-tahuan saya yang terlalu besar, yang mengantarkan saya nyasar ke tempat seperti ini. Tapi sebagai orang yang tertua diantara mereka, dan yang juga memberi ide untuk bermain ke Trowulan adalah saya sendiri, mau tidak mau terpaksa saya menggagah-gagahkan diri saya agar tidak kelihatan takut di depan mereka. Jika saya menunjukkan rasa takut, pasti mereka berdua akan segera lari terbirit-birit. Jadi saya harus kelihatan setenang mungkin.

Tempat apa ini?” tanya saya kepada penjaga Pendopo. “Petilasan Raden Wijaya. Silakan ke sana” jawab bapak penjaga. Entah kenapa saya merasa kalau orang yang ada di dalam bangunan kecil itu sudah tahu, melihat dan menunggu kedatangan saya. Tentu tidak sopan jika saya menolak masuk dan kabur begitu saja. Sekarang saya tidak punya pilihan selain harus lanjut berjalan dan melawan rasa takut saya. Sayapun berjingkat di jalan kecil di bawah pohon yang kelihatan angker dengan makam di kiri-kanannya itu. Kedua teman saya mengikuti dari belakang dengan ragu.

Panggung.

Di depan gerbangnya ada tulisan.”Panggung. Tempat pertapaan Eyang Raden Wijaya. Tempat Pembacaan Sumpah Amukti Palapa Eyang Patih Gajah Mada“. Saya berhenti sejenak. Dari sana saya lalu mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam yang mempersilakan saya masuk. Saya dan teman-teman sayapun masuk.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Di dalam ada seorang pria yang kelihatan masih muda duduk di lantai dan menyapa kami. Wajahnya kelihatan tenang dan tampan di bawah sinar lampu kecil.  Beliau memperkenalkan diri sebagai pemelihara tempat itu. Sayangnya saya tidak mampu mengingat nama beliau. Saya menjelaskan perihal diri saya apa adanya. Bahwa beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di Kompas tentang situs Kerajaan Majapahit dan sangat tertarik ingin tahu dan melihat sendiri situs-situs itu, tapi baru bisa datang berkunjung hari ini. Pria itu berkata bahwa tidak ada orang yang datang ke tempat itu jika tidak ada yang menuntunnya ke sana. Jika niat itu sudah lama dan ternyata baru bisa datang hari ini, ya itu artinya bahwa jodohnya memang hari ini. Semuanya sudah atas petunjukNya. Entah karena ucapannya itu atau karena suaranya yang rendah dan lambat, saya menjadi semakin ngeper.

Tapi beberapa saat kemudian saya mulai berhasil menguasai ketakutan saya. Saya lalu diberi penjelasan bahwa tempat ini adalah petilasan dari Raden Wijaya. Petilasan adalah tempat dimana Raden Wijaya melakukan tapa semadhi dan mendapatkan inspirasinya untuk membangun Kerajaan Majapahit. Bukan makam Raden Wijaya. Raden Wijaya tidak dimakamkan, karena beliau adalah penganut agama Hindu Ciwa-Budha yang tentu jasadnya dibakar (diaben/diperabukan) dengan maksud mengembalikan Atma (rohnya) kepada Sang Pencipta, sementara unsur-unsur pembentuk badan kasarnya dikembalikan ke alam (Panca Maha Butha – kembali ke air, ke tanah, ke api, ke udara dan ke cahaya). Jadi tidak ada makamnya. Saya sependapat dengannya.

Namun karena keturunan beliau sangat banyak dan saat ini tidak semuanya menganut agama Hindu-Ciwa, karena sebagian diantaranya ada yang kemudian memeluk agama lain dan ingin melakukan ziarah ke leluhurnya, sementara beliau sendiri tidak punya makam. Maka dibuatkanlah maqom (bukan makam) di tempat itu, sebagai tempat berziarah.

Sedangkan makam-makam yang banyak bertebaran di sekitar tempat itu adalah makam-makam penduduk dari generasi belakangan. Paling banter baru sekitar seratusan tahun umurnya.  Bukan dari generasi Majapahit – demikian penjelasannya.

Selain itu saya juga dijelaskan bahwa di tempat ini dahulunya juga merupakan panggung tempat di mana Maha  Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa-nya yang sangat terkenal itu.

Ponco Waliko

Pria itu bercerita panjang dan lebar tentang Raden Wijaya , Gajah Mada dan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Majapahit. Saya mendengarkan dengan takzim. Saya juga dijelaskan tentang tuntunan hidup dari jaman Majapahit yang disebut dengan PONCO WALIKO seperti yang tertera di dinding itu  yang isinya:

1/. Kudu trisno marang sepadaning urip (Harus mencintai sesama mahluk hidup)

2/.Ora pareng nerak wewalering negara (Tidak boleh melanggar hukum negara)

3/. Ora pareng milik sing dudu semestine (Tidak boleh menguasai yang bukan hak miliknya).

4/.Ora pareng sepata nyepatani (Tidak boleh saling menghujat)

5/. Ora pareng cidra hing ubaya ( Tidak boleh melanggar janji).

Petuah hidup yang sangat baik. Jika semua orang di dunia ini berlaku seperti apa yang diajarkan Ponco Waliko itu, tentu dunia akan jauh lebih tenteram dan damai. Semoga kita semua bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Teman saya memberi saya kode kalau kami harus segera ke Surabaya agar tidak ketinggalan pesawat. Saya mencari celah agar bisa memohon pamit dengan sopan  tanpa harus memotong pembicaraan pria itu.  Saya mengucapkan terimakasih atas obrolan dan kesediaannya menerima kedatangan kami.

Sebenarnya, masih banyak  yang ingin saya lihat, dengar dan ketahui tentang Kerajaan Majapahit. Banyak yang belum saya lihat. Namun sayang saya datang sudah terlalu sore. Sudah gelap. Sehingga membuat kunjungan sangat terburu-buru . Baru sempat mengunjungi Pendopo Agung Trowulan itu saja. Suatu saat jika saya memiliki kesempatan, saya ingin datang berkunjung kembali untuk melihat situs-situs Majapahit yang lain.