Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung – I.

Standard

Pendopo Agung

Beberapa tahun  yang lalu sebuah artikel di harian Kompas menceritakan tentang penggalian situs yang diduga bekas istana Majapahit di Trowulan. Saya sangat tertarik dengan tulisan itu. Dan memendam keinginan untuk bisa bermain ke sana dan melihat sendiri situs-situs peninggalan kerajaan terbesar di Nusantara itu. Sayang hingga berapa tahun berlalu, niat saya belum juga kesampaian.

Sekembalinya dari Gunung Bromo, saya punya sedikit waktu untuk bermain ke Trowulan di Mojokerto. Jalanan agak macet. Perjalanan dari Probolinggo ke Mojokerto memakan waktu lebih lama daris eharusnya. Sehingga kami baru bisa mencapai Trowulan pukul lima sore. Museum Majapahit sudah tutup. Mencoba mencari tahu di mana persisnya lokasi penggalian situs yang diduga istana itu, sayangnya bolak balik nanya ke penduduk setempat tidak ada yang tahu persis. Pak sopir jadi muter-muter karena informasi berbeda-beda yang kami terima. Sementara hari semakin sore dan saya khawatir gelap malam akan segera tiba. Akhirnya seseorang memberi tahu kami sebaiknya kami berkunjung ke Pendopo Agung saja. Daripada tidak ada situs yang berhasil kami kunjungi hari itu, akhirnya kami pun ke sana.

Petugas yang berjaga di pintu depan Pendopo Agung menemani kami masuk. Pendopo itu adalah bangunan terbuka tanpa dinding. Mirip bangunan bale banjar kalau di Bali. Saya mencoba menerka-nerka, bangunan apakah sebenarnya ini? Terlihat sangat modern dan jauuuuuuuh  sekali dari kesan bahwa itu adalah salah satu situs peninggalan Majapahit. Tidak terlihat bangunan batu bata merah khas Majapahit seperti yang terlihat di photo-photo. Saya dijelaskan bahwa areal itu sekarang merupakan property yang dibangun dan dikelola oleh TNI. Itulah sebabnya mengapa terlihat baru dan modern.

 

Maha Patih Gajah MadaMaha Patih Gajah Mada.

Begitu memasuki halaman depan, kita akan melihat sebuah arca Maha Patih Gajah Mada yang  juga terlihat sangat baru,  dipersembahkan oleh Corps Polisi Militer tahun 1986. Walaupun hati saya  agak kecewa melihat tingkat ke’baru’annya, namun sedikitnya saya terhibur bisa diajak mengenang kembali kebesaran cita-cita dan upaya sang Maha Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya itu dalam menyatukan Nusantara. Sebuah cita-cita yang memang selayaknya tetap kita junjung sebagai bagsa Indonesia.

Raden Wijaya

Raden Wijaya Dan Resiliensi Manusia.

Di depan pendopo tampak berdiri sebuah arca baru perwujudan dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Terus terang, melihat arca itu membuat pikiran saya berlari pesat ke pelajaran sejarah yang dijelaskan oleh Pak Wayan Suta , guru saya saat kelas IV SD.  Apa yang berkecamuk dalam pikiran Raden Wijaya sebagai sang menantu Prabu Kerthanegara – raja Singasari terakhir ketika kerajaan Singasari diserang dan dihancurkan habis oleh Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang? Walaupun pasukannya sendiri menang di utara, tetapi sang prabu dan istananya telah hancur diserang dari arah selatan. Tentu beliau sangat kecewa, lelah dan sedih. Namun apakah beliau berputus asa? Tidak! sama sekali tidak!. Yang jelas beliau tetap semangat. Tetap mencari jalan keluar. Dengan bantuan sahabatnya Arya Wiraraja, sang Bupati Sumenep, beliau kembali menyusun strategy-nya dengan baik. Mencari jalan keluar yang lebih baik dan bahkan berhasil membangun  kerajaan baru, yakni Kerajaan Majapahit yang justru jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari kerajaan Singasari sebelumnya.

Guru saya satu itu memang sangat jago bercerita sejarah. Sehingga ketika beliau mengajar, rasanya saya seperti ikut berada di sana. Ikut saat Raden Wijaya terlunta-lunta di dalam hutan, mencari bantuan Arya Wiraraja lalu masuk dan membangun wilayah hutan Tarik.

Saya menundukkan kepala saya. Memberikan penghormatan saya yang tertinggi terhadap Resiliensi yang beliau miliki. Kemampuan yang sangat sangat tinggi dari seorang anak manusia untuk keluar dari permasalahan yang terjadi, menata dirinya kembali, jalan pikirannya, kata-kata serta langkah-langkah yang beliau ambil  untuk akhirnya memenangkan pertarungan dalam kehidupan. Keluar dari kekisruhan Singasari dan membangun kejayaan Majapahit!.

Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah  Mada menyatakan sumpahnya

Sumpah Amukti Palapa.

Di bagian belakang pendopo terdapat dinding dengan relief yang menggambarkan peristiwa pengambilan “Sumpah Amukti Palapa” yang sangat terkenal itu diucapkan oleh Gajah Mada pada saat beliau diangkat sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit. Saya melihat ke relief itu dan membaca kalimat sumpah itu dalam keremangan senja.

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjung Pura,  ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Artinya kira-kira begini:  Jika Nusantara masih kalah, saya akan amukti palapa. Jika kalah di Gurun, di Seran, di Tanjung Pura, di Haru, di Pahang, Dompo, di Bali, Sunda,Palembang, Tumasik, selamanya saya akan amukti palapa.

Saya tidak tahu persis apa artinya “Amukti Palapa” karena sebagian orang menterjemahkannya sebagai “puasa memakan buah palapa”, sebagian lagi mengatakan “puasa istirahat & tidak mengambil cuti kerja”. Sementara guru saya waktu kelas IV SD  menjelaskan bahwa palapa = rebung bambu muda, yang konon merupakan makanan enak pada jaman dulu.  Sehingga Amukti Palapa arti literalnya adalah “puasa memakan rebung bambu” namun makna sesungguhnya adalah “Puasa dalam menikmati kenikmatan duniawi (tidak makan enak/tidak bersenang-senang/tidak berplesir- ria/tidak berhura-hura, dsb)”. Saya sendiri cenderung mengikuti penjelasan dari bapak Guru saya itu.

Namun demikian, sedikit perbedaan pemahaman buat saya tidak jadi masalah, karena pada prinisipnya semua kita paham bahwa Maha patih dari kerajaan majapahit ini telah bersumpah tidak akan bersenang-senang sebelum Nusantara dapat dipersatukan. Membaca Sumpah yang tertera di dinding itu membuat saya merinding. Darah terasa mengalir sangat cepat. Gajah Mada telah menunjukkan kepada kita bahwa sebuah tekad dalam menentukan cita-cita yang tinggi dan dengan penuh ketekunan melaksanakn apa yang seharusnya dilakukan akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tidak terbayang betapa besar kerja keras yang harus dilakukan untuk menyatukan Nusantara pada jaman itu, namun Maha Patih Gajah Mada  menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan dengan keteguhan hati. Dan beliau berhasil!.

Rasanya saya sangat kagum dan terharu memikirkan ini. Gajah Mada dan kebulatan tekadnya. Majapahit yang jaya. Nusantara yang bersatu dan kuat. Semoga Indonesia tetap bersatu dan semakin jaya.

Adakah yang lebih baik dilakukan oleh seorang anak bangsa daripada mempelajari sejarah leluhurnya dan mengambil intisari pelajaran darinya dan berusaha menggunakannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari?

Yuk kita pelajari sejarah kita dan cintai tanah air dan bangsa kita!.

 

 

9 responses »

  1. saya juga suka banget baca buku sejarah indonesia dan nusantara kita dulu mbak. Makanya mengusahakan banget kalo ke suatu kota minimal mampir ke situs atau peninggalan sejarahnya.
    Kalo guru sejarah yang paling berkesan buat saya justru guru pas SMA karena yaitu, beliau kalo bercerita bisa bikin kita terhanyut dan pengen naik mesin waktu ke zaman dahulu kala.

  2. Saya mendukung usaha untuk penggalian situs di Trowulan itu sehingga kita tahu peninggalan sejarah yang agung itu.

    Bicara guru sejarah, saya kagum cara mengajar guru sejarah saya waktu smp.

  3. di bagian belakang Museum Majapahit ada mbak situs bekas rumah2 penduduk, sekarang dikasih pelindung atap..
    aku sempat mampir sebentar di Museum in pulang dari Bromo juga,
    kalau bangunan candi bata merahnya tersebar di berbagai lokasi yang cukup jauh, akupun cuma sempat melihat dari jalan aja Gapura Wringin Lawang, waktu mau balik ke Mojokerto

    penasaran ya mbak kalau belum ketemu yang dicari

  4. Saya tuh suka bingung ya sama pemerintah kita tidak pernah melakukan riset besar-besaran tentang Majapahit, Sriwijaya, Kutai, atau semua kerajaan di Indonesia.. Padahal keuntungannya tuh banyak banget: masyarakat makin bangga dengan negaranya sendiri, untuk urusan wisata bisa jadi lebih dalam ceritanya, dll. Saya kepengen banget nih kesini.. tapi belum sempat, cuman sempat lewat saja ketika di Jawa Timur. Tapi saya udah pernah ke makamnya ibu Gajah Mada yang secara random saya temukan ketika survey.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s