Telepon Umum, Icon Komunikasi Masa Lalu.

Standard

Telpon UmumTadi pagi saya berjalan-jalan ke luar rumah. Belum berani berlari cepat untuk menghindari terkilir  ke sekian kalinya. Jadi pelan-pelan saja sambil menyapa para tetangga dan pedagang di perumahan. Tiba di depan ruko, pandangan mata saya tertuju pada kotak telepon umum yang berdiri di sana.  Di bawahnya ada 2 tong sampah. Kelihatan agak kumuh sih.

Sebenarnya box telpon umum ini masih berdiri tegak di tiangnya. Warnanya biru terang, walau catnya sedikit agak pudar, namun secara keseluruhan masih kelihatan bagus.  Ketika saya dekati, pesawat telponnya sudah tidak ada. Sudah digondol entah oleh siapa.Tinggal hanya dinding belakangnya yang memiliki 2 lubang mirip mata. Hmm…sayang sekali. Kenapa ya tidak dipasang lagi pesawat telponnya? Sekarang saya jadi berpikir, apakah telpon umum sudah benar-benar tidak dibutuhkan lagi sekarang ini?. Mengapa pemerintah (baca: PT Telkom) membiarkannya terlantar sedemikian rupa?.

Telpon genggam sekarang bukan lagi barang mewah. Hampir semua lapisan masyarakat memilikinya. Mulai dari yang namanya pejabat hingga rakyat jelata memiliki hape.  Mulai dari si konglomerat hingga pemulungpun juga punya hape. Wah..Indonesia makmur banget ya?. Namun apakah memang sedemikian meratanya kemakmuran rakyat Indonesia sampai semuanya sudah punya telpon genggam? Sehingga telpon umum benar-benar sudah tidak dibutuhkan lagi?  Jika memang benar-benar makmur, mengapa masih ada banyak pengemis kita temukan di jalan raya? Mengapa masih banyak Pak Ogah di jalananan? Masa buat telpon genggam ada, tapi buat makan nggak ada?

Saya pikir pemerintah sebaiknya tetap menyediakan telpon umum. Karena walaupun penetrasi telpon genggam di Indonesia mungkin tinggi, namun saya yakin belum mendekati 100%. Dari sekian ratus juta masyarakat Indonesia tentunya tetap saja ada yang tidak memiliki telpon genggam. Atau barangkali hape-nya sedang rusak atau ketinggalan. Atau punya hape tapi nggak punya pulsa. Ada saja masyarakat yang tetap membutuhkan jasa telpon umum ini. Miinimal untuk keperluan darurat.

Saya salah satu pengguna yang merasa harus berterimakasih banyak  pada jasa telpon umum. Dulunya saya pengguna aktif telpon umum. Terutama karena saya tidak tinggal dengan orang tua saya sejak selepas SMA. jadi telpon umum merupakan sarana komunikasi yang super penting bagi saya. Buat nelpon keluarga, nelpon teman dan tentunya nelpon…..pacar saya di jaman itu. Pake telpon rumah kan biayanya lebih mahal. Lagipula saat itu di tempat kost saya tidak dipasang telpon. Jadi pake telpon umum tentu jauh lebih irit dalam memecahkan masalah komunikasi.

Banyak serunya juga menggunakan telpon umum. Mulai dari mencari lokasi telpon umum yang tidak rusak. Karena walaupun ada banyak telpon umum tersebar di kota tempat saya tinggal, namun secara bergiliran ada saja yang rusak. Nah kalau telpon umum di dekat tempat kost atau di kampus tidak befungsi, saya harus rela naik motor, naik bemo atau bahkan jalan kaki mencari telpon umum yang lain. Dan itu sering banget.

Lalu saat kita betemu telpon umum yang berfungsi dengan baik, belum tentu kita bisa langsung menggunakannya. Saya ingat di masa kejayaannya sekitar tahun 80-an hingga pertengahan tahun 90-an, orang-orang bersedia antri demi bisa menggunakan jasa telpon umum. Barangkali serupa dengan antrian di ATM jaman sekarang. Mengantri di depan telpon genggam saat itu sudah merupakan hal yang biasa. Dan walaupun jarang, kadang-kadang ada juga yang menyerobot di antrian dengan tidak sopannya. Bikin gondok juga. Tapi jika ada orang orang yang punya keperluan darurat ingin mendahului saya di antrian,biasanya saya persilakan dengan senang hati.

Bagian yang tidak enak lainnya adalah ketika antrian sudah sangat panjang dan lama, namun yang sedang menelpon tidak tahu diri. Ngobroooooolll aja terus tanpa perduli orang lain sudah menunggu diluar kehujanan, kepanasan atau berkeringat.

Setelah tiba giliran kita nih, masih ada lagi kemungkinan yang lain. Yaitu koin masuk tapi tidak nyantol dengan mudah. Tapi lepas dan jatuh keluar lagi.  Nggak click, sehingga harus melakukan beruang-ulang sampai uangnya bisa nyantol dan telpon siap digunakan. Hal kurang nyaman lainnya adalah saat kita berbicara tentang sesuatu dan orang lain ikut menguping pembicaraan kita. Nah itu nggak enak rasanya. Untungnya jaman dulu kebanyakan telpon umum ada boxnya dimana kita bisa masuk dan menutup pintu box itu. Walaupun kadang-kadang pintunya rusak juga.

Itu memory saya tentang telpon umum. Ada nggak yang punya kenangan lain seputar telpon umum? Apakah menurutmu Telpon Umum masih perlu disediakan dan dipelihara atau tidak oleh PT Telkom sih?

9 responses »

  1. Selain telpon umum, dulu wartel juga sangat laris.
    Selain pakai koin, saya suka pakai kartu telepon. Gambarnya lucu2, kadang dijadiin koleksi deh.

  2. Pernah jadi yang ngantri lamaa gara2 yang nelepon gak ngeh sama sekali. Pernah juga jadi yang nelepon kayak gitu. Hehehehe.
    Jadi inget diajari trik nelepon lama tp murah mbak. Pakai tali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s