Sedekah Seorang Dermawan.

Standard

20150621_193638Ibu  A (sebut saja begitu) menelpon saya untuk mengingatkan bahwa seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini warga perumahan akan memberikan sumbangan lagi kepada keluarga-keluarga yang kurang mampu di kampung atas. Beliau mengajak saya ikut. Ya..saya setuju. “Diharapkan semua warga berpartisipasi, lho! Tahun lalu saya lupa minta sumbangan ke Bu Dani. Jadi tahun ini Ibu harus nyumbang ya…” katanya dengan nada bijak, tapi membuat saya terkejut. Ibu A salah memberikan pernyataan. Beliau lupa, kalau tiap tahun saya selalu ikut berpartisipasi dalam acara ini, tanpa pernah skip. Termasuk tahun lalu juga. Saya ingin mengkoreksi kesalahan itu, tapi kemudian saya pikir lagi. Kalau  hati kita ikhlas memberikan sumbangan itu, mengapa juga harus diungkit lagi. Mau diingat atau tidak oleh si Ibu A, tidak masalah juga sih. Biarlah.Yang penting sumbangan itu sudah nyampe ke target penerimanya. Kan banyak juga orang berdonasi tapi tidak merasa perlu menyebut namanya. Anonim. Atau dari hamba Allah.

Ibu itu menjelaskan bahwa bentuk sumbangan kali ini berupa paket-paket dengan biaya X rupiah per paketnya. Satu paket untuk membeli sekian kilogram beras. “Ibu-ibu yang lain menyumbang minimal 10 paket lho Bu.. Jadi Bu Dani mau menyumbang berapa paket? “tanyanya mendesak. Saya pikir 10 paket itu lumayan besar nilainya. Masak sih pada nyumbang minimal 10 paket?. Saya sering lihat data sumbangan sukarela jenis lain yang diedarkan, rata-rata nilai sumbangan per ibu paling banter setara dengan 2-3 paket itu saja. Jadi kalau ibu A itu mengatakan bahwa ibu-ibu yang lain menyumbang minimal 10 paket kok kedengaran agak terlalu tinggi di telinga saya. Entah kenapa saya merasa Ibu ini agak provokatif. Saya ragu antara ingin menyumbang 10 paket atau cukup 3 paket saja? Ngasih 10 rasanya kebanyakan, ngasih 3  kok tidak enak pada Ibu A. Tapi akhirnya saya memutuskan menyumbang 3 paket saja. Seikhlas hati saya tanpa harus memaksa diri.

Esok paginya Ibu A  datang ke rumah mengambil dana sumbangan. Ibu itu curhat kepada saya, mengeluhkan kurangnya kesadaran warga untuk menyumbang. “Sekarang ibu-ibu di sini susah sekali dimintain sumbangan, Bu. Padahal ini bulan berkah. Kalau nyumbang sekarang kan pastinya mendapatkan imbalan berkah lebih banyak. Waktu ditelpon pada nggak mau berdonasi. Atau kalau nggak, bilangnya akan kasih sendiri-sendiri saja. Padahal kan lebih bagus kalau kolektif ya. Nilainya bisa lebih besar dan lebih kelihatan” katanya mengeluh. Saya pikir pernyataan Ibu ini tidak konsisten dengan telponnya kemarin. Kemarin bilangnya ibu-ibu lain pada ngasih minimal 10 paket. Sekarang bilangnya tidak ada yang mau nyumbang. “Mungkin ibu-ibu lain punya alasan tersendiri mengapa tidak mau kolektif” kata saya pendek karena harus segera berangkat ke kantor.

Di jalan menuju kantor barulah saya teringat. Sebenarnya dulu banget ada  seorang tetangga mengatakan sudah berhenti menyumbang lewat Ibu A, tapi memilih memberikan sendiri langsung ke warga yang kurang mampu yang ia kenal. Ia merasa sumbangan lewat Ibu A itu tidak jelas, karena ia idak pernah tahu berapa banyak dana sumbangan yang terkumpul, dari siapa saja dan kemana saja disalurkannya. Saat itu saya tidak memikirkan cerita itu. Tapi sekarang saya pikir memang bener sih. Saya juga tidak pernah melihat pertanggungjawabannya. Juga tidak pernah menerima tanda bukti bahwa Ibu A telah menerima dana dari saya.  Yang tadi pagi juga tidak ada tanda terimanya. Ya percaya begitu saja. Pantas saja kalau tahun berikutnya dia lupa ya..

Selain itu,  dulu pernah juga saya  ditanya oleh seorang warga kampung atas “Ibu rumahnya yang di blok mana sih?“. Saya menyebutkan Blok rumah saya. Ibu itu mengatakan ia tahu banget blok itu karena sering ke rumah Ibu A. “Warga sini mah sudah pada hapal. Saban taon ada pembagian jatah sembako dari Ibu A. Pada berbondong-bondong ke sono” katanya. Lalu menceritakan betapa Ibu A itu sangat termashyur di kampung itu karena sedekah dan kedermawanannya. “Coba ada lagi ibu-ibu lain nyang mau bagi -bagi sembako ya…, pasti kita lebih senang lagi” katanya berharap sambil tertawa. Saat itu saya tidak memikirkan obrolan itu. Tapi sekarang saya pikir, kelihatannya warga kampung atas itu tidak tahu bahwa sembako yang diberikan Ibu A itu berasal dari sumbangan Ibu-Ibu lainnya juga. Barangkali mereka menyangka itu semua sumbangan pribadi Ibu A yang dermawan.

Memikir itu, sekarang saya melihat ada hubungan sebab akibat di situ. Mengapa Ibu-Ibu tidak mau lagi menyumbangkan dananya melalui Ibu A.  Banyak hal yang saya rasa perlu Ibu A lakukan untuk memulihkan semangat menyumbang Ibu-Ibu yang lain lagi. Seperti misalnya melakukan sosialisasi kegiatan yang sifatnya lebih mengajak dan menghimbau ketimbang mendesak dan memaksa, membuat pertanggungjawaban yang lebih transparant serta menjelaskan dengan lebih baik bahwa sumbangan itu bukanlah sumbangan pribadinya sendiri melainkan sumbangan warga dan memilih tempat umum sebagai tempat pembagian sembako ketimbang di rumahnya sendiri.  Dengan demikian, kelelahannya menjadi koordinator acara bakti sosial tentu akan lebih dihargai.

Di luar itu ada banyak juga pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian ini untuk perbaikan diri saya sendiri.

Sedekah, Derma,  alias Dana Punia, hanya akan berarti jika dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan hati untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun. Bukan agar nantinya kita mendapat berkah atau rejeki yang lebih banyak. Bukan pula untuk mendapatkan nama atau ingin disebut dermawan.Karena begitu kita mengharapkan berkah dari memberi,  maka saat itulah keikhlasan kita hilang. Memberi  karena ingin memberi. Dan membantu karena ingin membantu. Tanpa mengharapkan apa-apa.

Berderma menurut saya juga tidak perlu harus memaksakan diri. Apalagi memaksakan diri  menyumbang jor-joran demi gengsi. Takut dicap pelit atau dicap kurang mampu oleh orang lain. Lain kali harusnya saya tidak usah memikirkan berapa banyak orang lain menyumbang. Tak ada gunanya. Karena inti dari berderma adalah keikhlasan hati kita sendiri. Untuk mengurangi kesusahan orang lain, bukan untuk meningkatkan kecongkakan hati kita. Jadi kenapa harus kita bandingkan dengan orang lain?

Tulisan ini saya buat hanya sebagai pengingat atas pelajaran hidup yang pernah saya dapatkan.

 

5 responses »

  1. sepakat mbaa… menyumbang atas dasar keihklasan, bukan paksaan… apalagi kalo ngeliat si ini nyumbang segini, si itu segitu.. jadinya malah pamrih😀

  2. Memang lebih bagus kalo sedekah antarin sendiri, atau bisa melalui transfer ke badan amal yang terpercaya.
    Kelakuan ibu A sungguh tidak terpuji. Gak kebayang punya kelakuan kayak begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s