Gaya Kita Berbahasa.

Standard

pink-lotusSaya dan suami serta anak-anak sedang dalam perjalanan pulang sehabis membeli beberapa keperluan rumah.  Di jalan suami saya bercerita bahwa ada seorang temannya yang tinggal di luar kota akan ke Jakarta malam ini. Mereka rupanya sedang terlibat pembicaraan lewat sms. Suami saya menawarkan temannya itu agar menginap di rumah kami saja. Karena sedang menyetir, suami saya meminta tolong saya membalaskan smsnya. Ia yang menentukan isinya. Saya hanya mengetikkan kalimatnya. Sebelum dikirim, saya bacakan dulu kalimatnya, guna memastikan apakah redaksionalnya sudah /belum sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh suami saya. Kalau suami saya setuju, maka segera saya kirim. Jika  belum cocok, segera saya perbaiki dan bacakan ulang kembali.

Saat membacakan itu, anak saya yang kecil yang sedari tadi diam ikut menyimak pembicaraan kami tiba-tiba nyeletuk ” Ma, kayanya teman Papa pasti tahu kalau yang membalas sms itu bukan Papa deh. Karena gayanya lain kalau Mama yang menulis” kata anak saya. Oohh!?. “Mengapa begitu?” Tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. ” Kalau Mama yang menulis pasti gayanya panjang-panjang” katanya. O ya? Memang begitu ya? Saya takjub karena ternyata anak saya mengamati  gaya menulis saya. Ia juga bisa membedakannya dengan gaya menulis papanya yang menurutnya sangat beda. Pendek-pendek, singkat, padat dan jelas. “Apa? Siapa? Di mana? Ke mana? Kapan?“.

Loh? Memang tulisan Mama sering tidak jelas ya?” tanya saya khawatir. “Bukan tidak jelas, Ma. Malah sangat jelas. Terlalu jelas. Selain ada apa, siapa, kapan dan di mana, pasti selalu pakai tambahan penjelasan dan pendapat. Kenapa begini? Mengapa begitu? Karena begini… Yang ini aja, soalnya begini,  masalahnya begitu. Bagaimana? Oo.. begini aja ya caranya, biar nantinya begini hasilnya…” anak saya nyerocos terus dan membahas dengan panjang lebar kebiasaan saya menulis. Ha ha..saya tertawa.

Juga kalau marahin. Sama juga. Papa pasti marahinnya singkat, padat dan jelas. Kalau Mama biasanya tidak marah. Tapi ngasih tauin, tidak boleh begini begitu, dengan penjelasan kenapa dan mengapa lalu bagaimana, nye nye nye nye…” kata anak saya memberi indikasi kalau saya cerewet.  Dan ujung-ujungnya kembali ke pointnya dia tadi, bahwa teman papanya itu pasti bisa merasakan bahwa yang membalaskan sms itu tadi pasti orang lain dan bukan papanya sendiri. Karena menurutnya gaya bahasa kami sangat obvious memang berbeda.

Ketika saya tanyakan gaya bahasa mana yang lebih ia sukai, anak saya mengatakan tidak menyukai dua-duanya. Ia menyukai gaya bahasanya sendiri yang pas. Tahu kapan perlu singkat , kapan perlu panjang. Menurutnya pesan papanya terlalu singkat, sehingga membuat orang harus bertanya lagi  jika butuh penjelasan tambahan. Sedangkan saya, ia merasa kepanjangan “Kadang-kadang kan sudah tau reasonnya. Nggak perlu dijelasin lagi lah“. Saya hanya tertawa dan tidak berkomentar lagi.  Barangkali memang ada benarnya penilaian anak saya itu.

Anak saya yang besar membela saya dengan mengatakan betapa pentingnya melibatkan 5W+ 1 H (What, Who/Whom, Why, Where,  When + How) dalam setiap penjelasan. Semuanya menjadi jauh lebih jelas dan mudah dimengerti. Lalu seperti biasa kedua anak saya pun larut dalam perdebatan panjang mempertahankan pendapatnya masing-masing dan dengan gaya bahasanya masing-masing.

Seringkali kita tidak menyadari jika gaya bahasa kita ternyata unik dan berbeda dengan orang lain. Terbentuk oleh kebiasaan sehari-hari. Bermula dari cara kita bertanya atau menjawab sebuah pertanyaan orang lain, lalu berikutnya kita kembali menjawab dengan gaya yang sama,  yang akhirnya lama-lama menjadi sebuah kebiasaan yang bisa diingat oleh orang lain yang berinteraksi dengan kita sehari-hari. Demikian juga dengan saya. Barangkali karena waktu kecil saya bercita-cita menjadi seorang guru, saya memiliki kesenangan menjelaskan segala sesuatu dengan detail kepada orang lain. Terutama kepada anak-anak saya. Karena saya ingin anak-anak saya memahami akar setiap permasalahan yang ada, dan mendapatkan gambaran yang menyeluruh dan utuh dari sebuah kejadian dan bukan hanya sepotong-sepotong atau hanya sebatas di permukaannya saja. Dengan demikian,harapan saya kelak ia akan bisa mengambil keputusan yang tepat dan adil sesuai dengan konteks-nya dan bersikap lebih bijaksana dalam menanggapi setiap permasalahan yang ada.

Tetapi hari ini saya mendapatkan masukan yang sangat menarik dari anak saya tentang gaya bahasa itu yang ternyata bisa juga jadi membosankan karena kepanjangan dan sering diulang-ulang. Hmmm…menarik juga!. Barangkali saya perlu memikirkan ulang bagaimana sebaiknya saya menanggapi masukan dari anak saya dan melihat kemungkinan cara memperbaiki diri saya.

Bagaimanapun gaya bahasa kita, mau itu pendek, panjang, halus, kasar, sinis, sopan, jelas, tidak jelas, terstruktur, amburadul, ketus, ragu, dan sebagainya, akan ditangkap orang lain dan disimpan dalam memorinya.

Jadi sebaiknya memang kita perlu membentuk kebiasaan berbahasa yang baik untuk diri kita sendiri dan nyaman bagi orang lain.

 

5 responses »

  1. anak2 rupanya mengamati banget ya
    he..he.., aku juga ada tuh teman yg selalu banyak nanya krn aku sering ya juga nulis singkat to the point

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s