Sarang, Adalah Rumah Bagi Burung-Burung.

Standard

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 4Di halaman rumah, ada sebatang pohon bunga Asoka putih (Ixora sp.). Bunganya yang mirip jarum cukup banyak mekar hari ini. Mengundang berbagai jenis kupu-kupu untuk mampir. Dari sela-sela daunnya yang rimbun, saya mendengar suara cericit burung pipit. Saya mendekat. Dua ekor burung pipit (Lonchura leucogastroides) tampak bertengger di dahannya yang agak tinggi. Di dekatnya sebuah sarang tampak tersangkut. Pintu sarang berada tepat di arah saya berdiri. Sehingga saya bisa melihat ke arah pintunya,walaupun posisinya agak tinggi. Kelihatan kosong. Barangkali sarang itu milik ke dua ekor burung pipit itu. Sesaat kemudian kedua ekor burung pipit itupun terbang.

Sekitar pukul dua siang saya menengok sarang burung itu lagi. Tampak seekor induk burung pipit sekarang sedang berada di dalamnya. Kepalanya kelihatan menyembul keluar. Kepalanya hitam, demikian juga paruh atasnya. Paruh bawahnya berwarna kelabu pucat nyaris putih. Dadanya putih. Saya pikir barangkali ia sedang mengerami telornya. Tapi tak lama kemudian saya melihat seekor anak burung pipit mendekati sarang. Ooh… rupanya burung itu tidak sedang mengeram. Anaknya sudah lahir dan bahkan sudah bisa terbang. Walau demikian, ia tetap pulang menemui induknya di sarangnya.

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 1Saya memperhatikan anak-anak burung pipit itu yang terbang jarak pendek. Kadang menclok di dahan bunga Kenanga, kadang di kawat listrik, kadang di dahan pohon Srikaya. Lalu kembali ke dahan pohon Asoka dan masuk ke sarangnya. Demikian saya mengamatinya di pagi hari, siang hari dan sore hari setiap hari selama saya liburan.

Anak saya ingin memasang jaring dan menangkap burung-burung itu.”Untuk apa?” tanya saya. Ia ingin memilikinya dan memasukkannya ke kandang. Sayapun melarang dan memberinya pengertian bahwa burung-burung itu lebih suka hidup di alam bebas. dDn kita tidak punya hak untuk merampas kebebasannya.

Betapapun enaknya makanan yang kita sediakan, betapapun mudahnya ia mendapatkan makanan, gratis dan tinggal suap saja,  burung-burung tetap lebih suka hidup di alam bebas mencari makanannya sendiri,walaupun harus bekerja keras.   Kandang yang kita sediakan mungkin lebih besar dari sarangnya, tetapi burung-burung lebih suka tidur dan bersitirahat di sarangnya sendiri. Walaupun lebih sederhana, walaupun lebih sempit.

Dua ekor anak burung pipit 1Sarang, adalah rumah bagi burung-burung. Adalah tempat untuk berlindung dari hujan, dari terik matahari, dari tiupan angin kencang. Juga tempat berlindung dari dari gangguan pemangsa dan dari orang iseng yang berbuat jahat. Rumah adalah tempat yang paling aman di dunia.

Serupa dengan kita, rumah adalah tempat untuk pulang. Titik di mana kita jadikan pangkalan untuk kembali setelah bepergian ke tempat yang dekat maupun jauh. Tempat di mana kita tidak pernah tersesat, karena kita hapal semua sudut dan bahkan kolong-kolongnya.

Rumah adalah tempat untuk beristirahat dari kelelahan, setelah seharian mencari makan dan mengais rejeki di luar rumah. Rumah memberi suntikan energi yang memulihkan semangat untuk berjuang kembali esok hari.

Sebagaimana sarang yang merupakan tempat bagi burung-burung untuk menetaskan telur dan membesarkan anak-anaknya, rumah bagi kita adalah tempat di mana kita dibesarkan dengan penuh kehangatan dan cinta. Rumah adalah tempat untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi suka dan duka.

Sekecil apapun rumah kita, dan sesederhana apapun, rumah yang hangat diselimuti penuh dengan perhatian dan cinta para penghuninya, akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman di dunia.

Burung Pipit di sarangnya10Saya mengajak anak saya melihat lebih dekat ke sarang burung itu melalui lensa tele. Tampak 3 ekor burung, seekor induk dan dua ekor anaknya sedang duduk berdesak-desakan di sana. Mereka kelihatan bahagia dan nyaman.  Walaupun sempit, tetapi burung-burung itu tetap lebih suka tinggal berdesak-desakan begitu di sana. Padahal anak-anaknya sebenarnya sudah besar dan bisa terbang, tapi tetap saja mereka lebih suka tinggal bersama di sarang itu. Itu membuktikan bahwa sarang itu bukan saja nyaman dan aman,namun juga hangat karena dipenuhi kasih sayang keluarga burung itu. Kehangatan itulah yang tidak akan pernah bisa kita gantikan sekalipun dengan kandang mewah berharga puluhan juta rupiah. Jadi, biarkanlah burung-burung itu tetap berada di sarangnya sendiri.

Saya mengambil beberapa foto. Anak saya sekarang sibuk mengamat-amati foto-foto burung pipit yang sedang berada di sarangnya itu. Tampak ia senang dan mulai bisa memahami apa yang saya katakan kepadanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengambil burung-burung itu dari sarangnya. Semoga ia mengerti apa arti rumah bagi setiap mahluk hidup, termasuk artinya bagi dirinya sendiri.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s