Ceritaku Tentang Buku.

Standard
nimadesriandani-books

nimadesriandani-books

Banyak yang nanya, ngapain aja lo selama liburan? Nggak pernah kasih kabar, nggak update status di grup, nggak juga nulis di blog. He he.. sebenarnya banyak juga sih yang saya lakukan. Liburan dari kantor, ya …berarti menjadi ibu rumah tangga 100% (walaupun sesekali tetap juga nengok-nengok e-mail kantor barangkali ada yang darurat dan harus di-feed back secepatnya). Saya ada di rumah. Banyak kerjaan rumah tentu saja. Mulai dari kerjaan dapur, masakin anak-anak & suami, ngasih makan kucing, bongkar pasang tanaman, hingga berberes-beres. Kalau diceritain satu per satu pasti banyak deh.

Salah satu yang saya lakukan adalah membongkar dan membersihkan rak buku yang ternyata memakan waktu nyaris seharian penuh. Walaupun bukan kutu buku amat, seingat saya, saya  ini memang penyuka buku sejak kecil.  Sejak jaman majalah si Kuncung beredar (ayoo..masih ada yang inget nggak jaman itu?), saya sudah doyan membaca.

Sejak jaman dulu setiap kali  punya sisa uang jajan, selalu saya belikan buku. Sangat jarang uang jajan saya gunakan untuk membeli lipstick atau pakaian.  Buat saya, punya buku lebih penting daripada punya lipstick atau pakaian bagus. Karena buat saya buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Dan saya tertarik kepada orang-orang yang memiliki ‘software’ yang baik. Oleh karenanya saya selalu merasa perlu mengupgrade software saya sendiri agar tak ketinggalan amat.

Kesenangan akan buku itu terus berlanjut hingga saya tinggal di Jakarta. Saya hanya membawa sedikit sekali buku-buku saya dari Bali. Tapi di Jakarta saya mulai lagi membeli buku bacaan yang menarik hati saya satu per satu. Tanpa sadar eh…jumlahnya lumayan banyak juga ya.  Cuma sayangnya buku saya juga banyak tercecer di sana -sini. Ada yang minjam terus nggak dikembalikan. Ada juga yang hilang saat pindah lokasi, beres-beres, bersih-bersih dan sebagainya. Atau saya lupa ketinggalan entah di mana.

Walaupun dengan kondisi yang sudah banyak hilang itu, saat ini  setidaknya di rak saya masih tersimpan sekitar dua ribuan buku. Barangkali tidak seberapa banyak dibanding koleksi teman-teman pencinta buku lainnya. Tapi jika diturunkan dari raknya lumayan juga memenuhi lantai rumah saya yang sempit dan lumayan membuat sulit melangkah lewat.

Karena saya menyukai banyak hal, buku yang saya koleksi juga jenisnya beragam. Ada buku tentang masakan sekitar 90 buah, buku tentang pemasaran sekitar 50-an buah, buku tentang bisnis management dan leadership sekitar 70-an buah, buku tentang pengembangan  diri sekitar 40 -an buah.

Lalu ada cukup banyak buku tentang farmasi dan obat-obatan, kedokteran, ensiklopedia, kedokteran hewan, buku-buku tentang binatang mulai dari buku tentang burung-burung, buku tentang ikan hias, tentang kambing, tentang sapi, tentang ayam, bebek, kambing, kupu-kupu, kuda, anjing, ular,binatang liar dan sebagainya berbagai binatang lainnya.

Lalu ada juga buku tentang tanaman hias, berbagai jenis tanaman bunga, herbal dan khasiatnya, buku-buku berbagai agama dan spiritual. Buku-buku tentang kewanitaan, buku menjahit, merenda, menyulam, kerja tangan wanita dan sebagainya. Lalu ada juga buku-buku perbankan, ekonomi, accounting dan buku-buku tentang hukum,  bahkan hingga kebuku-buku komik, sastra, novel dan sebagainya.

Jaman sekarang saat di mana semua informasi bisa didapatkan secara on-line, apakah memiliki buku masih penting?. Agak terasa galau juga memikirkan jawaban pertanyaan ini.

Saya pikir ke depannya mungkin memang akan semakin banyak orang mencari dan mendapatkan informasi lewat internet. Membeli buku bisa on-line. Membaca buku bisa lewat e-book. Ingin tau tentang apapun tinggal search di Google atau lihat di Wikipedia.  Sangat menakjubkan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan ilmu sedemikian banyak dengan gratis jika kita rajin mencari informasi di dunia Digital. Jadi kembali lagi, apakah buku cetak masih perlu ke depannya?

Agak sulit menjawabnya. Saya sendiri secara pribadi merasa bahwa buku cetak tetap masih perlu, walaupun  takbisa dipungkiri saya juga mendapatkan banyak sekali infornasi dari dunia digital. Setidaknya saya merasa masih tetap merasa perlu menyimpannya.  Ada banyak alasan.

Pertama buku-buku cetak jaman dulu belum tentu semuanya sudah di ‘on-line’kan. Maksud saya walaupun sudah banyak informasi yang bisa kita dapat di internet, tetapi ada juga banyak pengetahuan yang hanya bisa kita temukan di buku cetak tertentu dan belum ada di internet.

Kedua, membaca buku cetak itu sensasinya beda lho!. Kita bisa meraba covernya, membuka halaman demi halamannya,  terus membacanya sambil berbaring hingga mata mengantuk dan kita tertidur pulas. Jadilah itu buku sebagai bantal pengganti. Nah..sensasi seperti itu tidak kita dapatkan jika kita baca buku di internet bukan?Masak mau tidur di atas laptop? he he..

Ketiga, buku cetak juga bisa dipajang.  Terutama bagi ibu rumah tangga macam saya yang nggak punya barang-barang antik atau benda mewah buat dipajang di rumah, buku -buku cetak bisa juga dijadikan penghias ruangan. Nggak apa-apa nggak kelihatan kaya. Karena memang nggak kaya juga sih. Tapi oke juga lah kalau kelihatan agak banyak membaca dikit. Nah..kalau e-book gimana dong mau majangnya? Dicetak dulu?

Keempat,  buat kasih kado. Nah.. terkadang buku cetak juga merupakan pilihan yang bagus buat ngasih kado ke keponakan atau ke sahabat tersayang. Saya banyak juga menerima buku pemberian dari sahabat-sahabat saya. Sebaliknya saya pernah juga memberikan hadiah buku bagi beberapa orang-orang yang saya sayangi.

Kelima, jika punya tempat yang baik, ada gunanya juga membuka perpustakaan kecil buat orang-orang yang kurang mampu membeli buku atau mengakses internet. Membuka keran ilmu pengetahuan bagi orang lain tentu perbuatan yang baik bukan? Ilmu akan mengalir kepada lebih banyak orang. Ilmu yang mengalir akan membuat dunia yang gelap gulita menjadi lebih terang benderang. Oh, itu cita-citaku.

Saya yakin masih banyak lagi kegunaan buku cetak yang lain. Barangkali ada teman yang mau menambahkan?

 

 

11 responses »

    • Ya…adalah sekitar segitu Pak. Kan itu terkumpulnya setelah puluhan tahun lah ya Pak.Dan termasuk juga di dalam rak itu ada buku- buku suami dan anak-anak..walaupun sebagian besar memang buku saya sih he he..

    • ya…kayanya ada sekitar segituan sih Prit – termasuk buku-buku milik suami dan anak-anak. Walaupun kebanyakan sih bukuku sendiri….Baru terasa saat diturunkan dari rak-raknya dan dihitung sepintas lalu sambil ngelap-ngelap dan bersihin… Tapi jumlah itu nggak terjadi sim salabim dalam semalam..tapi lewat proses beli-baca dan terima hadiah buku dari orang lain yang terjadi selama puluhan tahun…

  1. Kok sama dg saya ya bu. Saya juga nyenangi apa saja n suka beli buku juga. But setelah harga buku gila2an saya pun jadi ngerem beli. Biasanya kalau ada pameran baru beli, tak peduli koleksi lama atau baru yg penting saya suka ya saya beli. Saya sangat pelit ut memberi buku. Lebih baik beri uang dibanding beri buku …

  2. Wow banyak juga bukunya, Mbak. Dan Mbak Dani masih rajin bersihin raknya? Keren! Aku terus terang sudah lama nggak bersihin rak sampai kemarin baru sadar kalau ada beberapa buku dimakan rayap, mana itu buku sudah nggak ada yang jual lagi 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s