Ceritaku Tentang Buku Lagi.

Standard

nimadesriandani - bookMasih dalam rangka membersihkan dan merapikan buku-buku di rak yang sudah penuh dan tumpang tindih.  Walaupun sudah banyak yang tua dan ada pula yang sobek di sana sini, dan walaupun barangkali suatu saat kelak buku-buku cetak akan digantikan dengan buku digital, saya rasa saya akan tetap mencintai buku cetak ini.  Bagaimanapun juga  saya memiliki banyak kenangan indah dengan buku.

Lho?! Kok terbalik?.

Jika musim ulangan, kami anak-anak selalu diharuskan belajar oleh Bapak.Tapi yang namanya anak kecil barangkali ya, tetap saja bandel dan malas kalau disuruh belajar.  Suatu malam Bapak dan Ibu saya lagi ngobrol di belakang. Saya dan adik-adik belajar di kamar. Ada yang duduk di kursi belajar, ada juga yang membaca sambil tiduran. Pokoknya belajarlah. Entah bagaimana asal mulanya, seseorang berinisiatif untuk bermain kartu remi. Kamipun bermain di tempat tidur di bawah selimut dengan buku pelajaran terlempar entah ke mana. Lupakanlah buku sejenak. Kami asyik bermain kartu. Tiba-tiba terdengar langkah kaki Bapak saya akan masuk ke kamar tempat kami belajar. Saya rasa pasti akan memeriksa apakah kami sedang belajar atau tidak. Maka tanpa diperintah saya dan adik-adik langsung mengambil buku masing-masing dan memasang wajah serius seolah-olah sedang membaca. Apes bagi kami, ternyata Si Ketut, adik saya yang nomer empat melakukan kesalahan fatal. Barangkali karena mengambil bukuya tergesa-gesa, ia membaca dalam posisi buku yang terbalik. Judul dibawah, sementara nomer halaman di atas. O o??!. Ketahuan deh!. Berikutnya bisa ditebak, Bapakpun marah-marah kepada kami semua dan memberi nasihat panjang lebar akan betapa pentingnya belajar dengan serius. Ha ha… geli juga mengingat masa itu.

Buku ini aku pinjam. 

Gaya pacaran remaja jaman dulu barangkali berbeda dengan gaya berpacaran remaja jaman sekarang ya. Saya tidak tahu kalau sekarang bagaimana. Tapi kalau dulu  buku merupakan benda penting sebagai penghubung remaja yang pacaran. Mengapa? Karena tidak berani bertemu, boro-boro mengungkapkan perasaan secara langsung, jadilah aktifitas utamanya adalah surat-suratan. Mengekspresikan perasaan, rindu dendam kepada pujaan hati dan sebagainya, semua lewat surat.  Dan surat itu diselipkan di buku dong, biar nggak ketahuan. Buku cetakan atau buku tulis, sama saja. Lalu dititipkan ke salah seorang sahabat agar disampaikan kepada si dia. Oh, betapa maha pentingnya buku pada jaman itu. Mirip lagunya Iwan Fals, “Buku ini aku pinjam, kan kutulis sajak indah, hanya untukmu seorang, tentang mimpi-mimpi  malam…” hua ha ha.. pokoknya romantis habis deh.. Ada yang ngalamin gaya pacaran macam begini juga nggak ya?

Jadi fungsi buku  di sini adalah sebagai mediator.

Maling Doyan Buku?

Ini cerita waktu saya baru saja menikah. Kalau ada yang bilang bahwa rumah tangganya mulai dari bawah. Nah bisa saya pastikan bahwa rumah tangga kami benar-benar mulai dari bawah dalam arti yang sesungguhnya. Ceritanya begini nih…

Saking terpesonanya saya akan pak suami  waktu itu (ehmm! Kok agak batuk ya..), saya nurut saja diajak nikah dan dibawa kabur dari Bali ke Jakarta. Sebagai taggung jawab atas kenekatan itu, kami harus hidup mandiri tanpa support orang tua. Gengsi dong kalau harus ngeluh dan meminta bantuan. Sapa suruh datang Jakarta. Mulailah kami mengontrak rumah kosong tanpa perabot. Karena tak punya tempat tidur, maka kami tidur di lantai beralaskan kasur gulung (nah ini benar-benar rumah tangga yang dimulai dari bawah alias dari lantai).

Apa yang terjadi dengan tidur di lantai? Entah tanah merupakan pengantar suara yang baik atau bukan, setiap suara langkah kaki orang terdengar lebih jelas. Suatu malam saya terbangun karena mendengar suara kaki orang mengendap-endap di dekat jendela rumah kontrakan kami. “Wah! Ada maling” pikir saya. Cepat-cepat saya membangunkan suami saya, “Bangun!. Bangun!Ada maling” kata saya berbisik ketakutan. Tetapi suami saya susah sekali dibangunin. Setelah saya guncang-guncangkan badannya lebih keras lagi, barulah ia bangun dan berkata dengan sangat malasnya “Biarin aja maling masuk. Apa yang mau dicuri dari kita. Wong kita tidak punya apa-apa.” katanya lalu melihat ke sekeliling. “Kecuali…buku!. Kita hanya punya buku.  Memangnya maling doyan buku?” tanya suami saya menunjuk buku lalu tidur lagi tidak perduli pada si Maling saking ngantuknya.Tinggallah saya sendirian. Melihat ke sekeliling. Benar juga kata suami saya. Kami tak punya apa-apa. Yang ada hanya buku. Dan saya belum pernah mendengar ada maling yang doyan mencuri buku.

Seketika saya sadar, ternyata kami memang miskin harta duniawi. Tidak punya harta apa-apa yang menarik pencuri untuk datang.  Tapi di sisi lain saya mendapatkan kesadaran yang baik, bahwa salah satu kekayaan yang tidak bisa dicuri dan tidak menarik untuk dicuri adalah pengetahuan. Seandainyapun bisa dicuri, pengetahuan adalah harta abadi yang tidak akan hilang ataupun berkurang walaupun dibagikan atau bahkan dicuri orang lain. Karena pengetahuan menempel di dalam diri kita.  Selain itu yang mencuri juga belum tentu tertarik untuk mencuri. Jangankan jika pengetahuan itu sudah menempel di dalam diri kita, bahkan jika masih dalam bentuk buku yang belum terbacapun maling kagak doyan.

Bunga-Bunga dan daun Kering.

Bunga KeringSalah satu kegunaan buku bagi saya adalah untuk mengeringkan bunga-bunga dan daun yang indah untuk prakarya, dijadikan prakarya atau kolase dengan goresan pensil/lukisan. Bisa dibuat untuk hiasan kartu ucapan dan sebagainya. Kebetulan kapan hari anak saya yang pengen tahu, penasaran bagaimana caranya membuat bunga kering. Nah salah satu cara yang bisa saya ajarkan adalah dengan cara mem-press-nya di antara halaman buku.  Sangat kebetulan saya punya specimen daun yang saya press sejak tahun  2000, masih awet hingga sekarang. Padahal sudah 15 tahun yang lalu. Padahal tanpa bahan pengawet.

Horeee! Ada yang ditunjukkan ke anak-anak dengan bangga.

Nah itulah sebagian kenangan saya akan buku. Saya yakin teman-teman yang lain juga pasti memiliki kenangan indah akan buku yang bisa diceritakan.

6 responses »

  1. Wah banyak juga kenangannya tentang buku.
    Kalo kolase dulu waktu saya sd pernah bikin mengeringkan bunga dan kupu2 kecil memakai buku tebal tentang sejarah perang dunia kedua kepunyaan bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s