Daily Archives: August 2, 2015

Hati-Hati Palang Parkir Otomatis! Sayangi Kepala Anda.

Standard

Palang ParkirKemarin saya pergi ke pasar.  Mungkin karena sudah agak siang, parkiran kelihatan tidak sepadat biasanya. Tapi saat masuk tetap ngantri juga sih, walaupun tidak terlalu panjang. Di depan saya masih ada sebuah kendaraan yang sedang antri  juga, karena di depannya masih ada lagi kendaraan lain yang sedang mengambil karcis parkir.

Kendaraan yang paling depan itu berhenti. Dan pintu palang parkir (portal) pun dengan otomatis berada dalam posisi melintang. Setelah pengemudi itu mengambil karcisnya, palang parkir itu terangkat. Sehingga kendaraan paling depan itupun bisa melaju. Memberikan giliran kepada sopir kendaraan di depan saya untuk mengambil karcis berikutnya. Palang pintu parkirpun bergerak turun lagi.

Tepat  pada saat itu, saya melihat seorang ibu dengan anaknya berjalan keluar dari halaman pasar dan melintas tepat di bawah palang pintu yang sedang turun dengan otomatis. Melenggang dengan santainya. Tidak perhatian sama sekali pada palang pintu yang sedang turun itu. Aduuuh!!. Saya kaget. Darah saya tersirap seketika. Ya ampuuuun….Kepala Ibu itu nyaris kejedot palang pintu parkir otomastis.  Benar-benar nyaris.  Untung tidak kena. Saya menarik nafas panjang untuk menenangkan hati saya sendiri, dan bolak balik bersyukur bahwa ibu itu tidak kejedot kepalanya.

Ibu itu mungkin tidak ngeh sama sekali dengan apa yang nyaris terjadi. Karena ia tetap melenggang santai saja sambil ngobrol dengan anaknya. Tapi saya yang melihat bagaimana palang pintu itu bergerak dan nyaris membentur kepalanya merasa sangat ngeri. Dan masih tetap merasa ngeri hingga beberapa menit kemudian.

Sebelumnya saya pernah juga melihat ada orang yang kejedot kepalanya oleh palang parkir di tempat lain. Untung saat itu orang tersebut berjalan dengan helm masih melekat di kepalanya. Kalau helmnya dilepas, saya tidak bisa membayangkan seberapa benjol jadinya ya.

Melihat kejadian itu saya lalu memperhatikan area sekitar palang  pintu itu. Ooh..rupanya memang tidak dibuatkan jalan khusus untuk pejalan kaki yang bisa lewat di pinggir tempat itu tanpa harus khawatir kejedot palang. Wah..bahaya ya? Orang harus lewat mana dong biar aman? Tidak ada jalan lain selain gerbang itu. Kalaupun ada di sebelahnya, itu sangat sempit mirip jalan tikus. Kelihatannya hanya seperti celah tidak resmi. Barangkali  celah yang hanya terbentuk karena sering dilintasi orang yang jalan kaki  menghindari palang pintu otomatis itu saja.

Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang pernah mengalami kejedot palang pintu otomatis, tapi serius ini saya menghimbau para pengelola tempat -tempat umum seperti pasar, mall, gedung atau rumah sakit agar memperhatikan keselamatan para pejalan kaki yang melintasi portal.  Karena tentunya tidak semua orang selalu siaga dan siap bahwa setiap saat palang tiba-tiba saja bisa turun ketika ada kendaraan yang harus mengambil karcis/membayar parkir . Sebagian memang sudah menyediakan jalur lintasan terpisah buat pejalan kaki. Tapi saya rasa masih ada juga beberapa tempat yang tidak menyediakan celah/lintasan yang terpisah – barangkali di tempat yang sama, hanya sedikit lebih lebar dari palangnya sendiri.

Demikian juga jika kita yang berjalan kaki dan melintas di gerbang parkir, sebaiknya berhati-hatilah. Lebih aman memilih berjalan di celah terpisah yang memang disediakan bagi pejalan kaki biasanya di kiri atau kanan gerbang/palang. Jika celah itu tidak ada, perhatikanlah selalu posisi palang dan arus kendaraan yang masuk/keluar tempat parkiran. Lewatlah hanya jika telah memastikan posisi palang dalam keadaan melintang. Biasanya masih ada tersisa area bebas sekitar selebar badan orang dewasa yang bisa kita lewati.

Jadi berhati-hatilah selalu.

School Art: Membangun Kepekaan Rasa, Pikiran Dan Imaginasi.

Standard

Minggu yang lalu, saya berkunjung ke sekolah Ricci II untuk mengurus buku-buku dan seragam anak. Rasanya sudah cukup lama saya tidak ke sekolah. Senang sekali melihat lapangan basket, melintasi kelas demi kelas dan berbincang dengan Ibu dan Bapak Guru. Sambil menunggu, saya sempat juga melihat-lihat ke dinding sekolah.  Ada banyak sekali gambar-gambar yang dipajang di majalah dinding. Gambar anak-anak yang indah-indah dan berwarna warni. Dinding sekolahpun terlihat cantik dari kejauhan.

Saya mendekat dan mengamat-amati gambar-gambar itu satu per satu. Rupanya ada berbagai macam thema yang dipajang . Secara umum berkelompok, tetapi kelihatannya tidak terlalu homogen juga. Sehingga dari kejauhan tampak seperti mozaik. Tak tahan rasanya untuk tidak mengabadikannya.

Kehidupan Bawah Air.

Ada thema tentang  kehidupan dalam air. Sebuah thema yang menurut saya selalu indah. Anak-anak menggambarkannya dengan sangat baik.  Ada banyak sekali gambar yang bercerita tentang kehidupan bawah air ini. Sayang saya tidak bisa memuat gambarnya semua.

Yang paling banyak digambar anak-anak tentunya adalah ikan. Berbagai jenis ikan terlihat di sana. Mulai dari arwana, plati pedang, ikan mas, ikan nemo, tuna, dan sebagainya hingga ke jenis ikan laut dalam seperti ikan lentera pun ada yang menggambar. Lalu ada paus dan juga ada lumba-lumba. Selain itu, banyak juga anak-anak yang menggambar bintang laut, cumi-cumi, gurita, kuda laut, penyu, kepiting dan tentunya ganggang laut dan terumbu karang. Malah ada juga yang menggambar lengkap dengan dua orang penyelam yang berenang dikelilingi ikan dan ubur-ubur. Rupanya masing-masing menggambar sesuai dengan imaginasinya sendiri. Menarik sekali. Saya pikir guru memberikan thema dan membebaskan murid untuk berimaginasi dan menggambarkannya.

Alam dan Lingkungan.

Thema lain yang kelihatannya juga muncul di dinding adalah tentang alam dan lingkungan. Lagi-lagi saya menduga,bahwa guru hanya memberikan thema dan mempersilakan murid untuk menangkap rasa dari alam sekitarnya dan membangun imaginasinya sendiri serta menuangkannya dalam kertas gambar. Terlihat dari beragamnya lukisan yang dibuat. Kreatif sekali murd-murid ini.

Jaman dulu kalau saya melukis pemandangan biasanya standard banget. Ada gunung, ada matahari, ada sawah di lembah dan ada pohon kelapa. Belakangan setelah ngobrol dengan beberapa teman seumuran dari berbagai daerah, ternyata saya baru tahu kalau lukisan begitu rupanya digambar oleh sejuta murid Indonesia dari Sabang sampai Merauke di jaman itu. Seragam semua idenya begitu. Lah?!.

Nah..murid-murid sekarang ternyata jauh lebih kreatif dari murid-murid jaman dulu. Ketika diminta menggambar dengan thema alam, mereka mengeksplorasi  segala kemungkinan concept yang cocok dengan thema alam. Lalu keluarlah berbagai bentuk gambaran alam yang sangat variatif. Tidak lagi terbatas hanya pada gunung, matahari, sawah dan pohon kelapa seperti jaman dulu.  Ada danau yang biru, ada sungai dan tebing, ada yang menggambar hutan rimbun dengan berbagai jenis tanaman,  ada alam yang terkesan gersang dengan pohon coklat entah mau mati atau kebakar, ada kebun bunga dengan unggas, ada lukisan sungai dengan jembatan di atasnya,  ada kebun dengan ayam jago, lalu ada juga halaman rumah yang asri penuh dengan bunga dan pohon rindang dan sebagainya. Banyak variasinya. Hingga gambar alam dengan kincir angin dan bunga-bunga tulip Belandapun ada.

Dan yang sangat menarik buat saya, ternyata aliran lukisnya pun beragam. Bahkan ada yang menggambarkan alam pepohonan dengan gaya lukis bak emroidery dari Skandinavia.  Menarik! menarik banget!.

Unggas & Pottery.

Ada juga gambar-gambar berbagai macam unggas dan pottery yang juga menarik untuk disimak. Disinipun saya melihat keberagaman ekspresi rasa dan imaginary. Walaupun secara umum yang digambar adalah sama dan serupa, ayam (ada yang jantan ada yang betina) dan burung (umumnya adalah burung-burung berparuh bengkok), namun goresan pensil, sapuan warna serta penempatan obyek lukisan membuat setiap lukisan memancarkan jiwanya sendiri yang berbeda. Demikian juga yang terjadi pada pottery. Pot gerabah dan keramik yang digambarkan pun terasa beda jiwanya satu sama lain.

Sebenarnya masih ada banyak lagi gambar-gambar yang dipajang. Saya salut akan apa yang dilakukan sekolah ini, memajang karya gambar murid-muridnya. Bukan saja memperindah dinding sekolah, tetapi sekaligus juga membuat anak-anak bangga akan hasil karya mereka.  Hal ini tentunya akan semakin menambah semangat para murid untuk terus berkreasi. Dan ini penting, karena menurut saya ada banyak manfaat yang didapatkan jika anak-anak dilatih terus untuk berkesian dan berkreasi.

Seni membuat anak mampu melakukan eksplorasi jauh ke alam pikirnya, bahkan hingga ke sudut sudut dan pelosoknya. Hal ini  akan membuatnya penuh dengan ide-ide yang cemerlang dan kreatif  dalam membuat concept, thema, tata ruang, tata gaya, tata warna dan sebagainya yang ingin ia ekspresikan ke dunia luar.

Mengenal seni, akan membuat anak-anak  bisa menerima realitas dan sekaligus menerima keabsurd-an pada saat yang bersamaan. Langit itu biru. Tapi siapa bilang bahwa langit harus selalu biru? Terkadang langit bisa juga merah, pink,  kuning, hitam atau bahkan hijau dan berwarna warni saat pelangi mengembang. Anak-anak akan lebih mudah menerima dan terbuka atas pemikiran dan ide-ide baru dan berbeda.

Tanpa disadari, sebenarnya melakukan pekerjaan seni, juga melatih perhatian dan meningkatkan fokus anak akan sesuatu.  Juga melatih koordinasi antara pikiran, perasaan dan gerakan mata serta tangannya.

Saya pikir masih banyak lagi manfaat lainnya yang pada intinya membangkitkan rasa, pikiran dan imaginasi anak-anak.