Hati-Hati Palang Parkir Otomatis! Sayangi Kepala Anda.

Standard

Palang ParkirKemarin saya pergi ke pasar.  Mungkin karena sudah agak siang, parkiran kelihatan tidak sepadat biasanya. Tapi saat masuk tetap ngantri juga sih, walaupun tidak terlalu panjang. Di depan saya masih ada sebuah kendaraan yang sedang antri  juga, karena di depannya masih ada lagi kendaraan lain yang sedang mengambil karcis parkir.

Kendaraan yang paling depan itu berhenti. Dan pintu palang parkir (portal) pun dengan otomatis berada dalam posisi melintang. Setelah pengemudi itu mengambil karcisnya, palang parkir itu terangkat. Sehingga kendaraan paling depan itupun bisa melaju. Memberikan giliran kepada sopir kendaraan di depan saya untuk mengambil karcis berikutnya. Palang pintu parkirpun bergerak turun lagi.

Tepat  pada saat itu, saya melihat seorang ibu dengan anaknya berjalan keluar dari halaman pasar dan melintas tepat di bawah palang pintu yang sedang turun dengan otomatis. Melenggang dengan santainya. Tidak perhatian sama sekali pada palang pintu yang sedang turun itu. Aduuuh!!. Saya kaget. Darah saya tersirap seketika. Ya ampuuuun….Kepala Ibu itu nyaris kejedot palang pintu parkir otomastis.  Benar-benar nyaris.  Untung tidak kena. Saya menarik nafas panjang untuk menenangkan hati saya sendiri, dan bolak balik bersyukur bahwa ibu itu tidak kejedot kepalanya.

Ibu itu mungkin tidak ngeh sama sekali dengan apa yang nyaris terjadi. Karena ia tetap melenggang santai saja sambil ngobrol dengan anaknya. Tapi saya yang melihat bagaimana palang pintu itu bergerak dan nyaris membentur kepalanya merasa sangat ngeri. Dan masih tetap merasa ngeri hingga beberapa menit kemudian.

Sebelumnya saya pernah juga melihat ada orang yang kejedot kepalanya oleh palang parkir di tempat lain. Untung saat itu orang tersebut berjalan dengan helm masih melekat di kepalanya. Kalau helmnya dilepas, saya tidak bisa membayangkan seberapa benjol jadinya ya.

Melihat kejadian itu saya lalu memperhatikan area sekitar palang  pintu itu. Ooh..rupanya memang tidak dibuatkan jalan khusus untuk pejalan kaki yang bisa lewat di pinggir tempat itu tanpa harus khawatir kejedot palang. Wah..bahaya ya? Orang harus lewat mana dong biar aman? Tidak ada jalan lain selain gerbang itu. Kalaupun ada di sebelahnya, itu sangat sempit mirip jalan tikus. Kelihatannya hanya seperti celah tidak resmi. Barangkali  celah yang hanya terbentuk karena sering dilintasi orang yang jalan kaki  menghindari palang pintu otomatis itu saja.

Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang pernah mengalami kejedot palang pintu otomatis, tapi serius ini saya menghimbau para pengelola tempat -tempat umum seperti pasar, mall, gedung atau rumah sakit agar memperhatikan keselamatan para pejalan kaki yang melintasi portal.  Karena tentunya tidak semua orang selalu siaga dan siap bahwa setiap saat palang tiba-tiba saja bisa turun ketika ada kendaraan yang harus mengambil karcis/membayar parkir . Sebagian memang sudah menyediakan jalur lintasan terpisah buat pejalan kaki. Tapi saya rasa masih ada juga beberapa tempat yang tidak menyediakan celah/lintasan yang terpisah – barangkali di tempat yang sama, hanya sedikit lebih lebar dari palangnya sendiri.

Demikian juga jika kita yang berjalan kaki dan melintas di gerbang parkir, sebaiknya berhati-hatilah. Lebih aman memilih berjalan di celah terpisah yang memang disediakan bagi pejalan kaki biasanya di kiri atau kanan gerbang/palang. Jika celah itu tidak ada, perhatikanlah selalu posisi palang dan arus kendaraan yang masuk/keluar tempat parkiran. Lewatlah hanya jika telah memastikan posisi palang dalam keadaan melintang. Biasanya masih ada tersisa area bebas sekitar selebar badan orang dewasa yang bisa kita lewati.

Jadi berhati-hatilah selalu.

8 responses »

  1. Huft ada-ada saja, untung tu ibu gak kenapa-kenapa…
    lagian ngapain juga tu ibu jalan kaki melintasi portal pintu masuk, kalau terjadi apa-apa kan petugas sulit untuk bertanggung jawab.

  2. Berbeda dengan palang perlintasan sebidang untuk jalur kereta api, harusnya sich jangan sampai melewati palang pintu parkir kalau kita sedang berjalan kaki, karena memang dikhususkan untuk mobil dan motor.
    Kalau pengendara motor pun harus mewaspadai hal ini, karena bisa saja kepalanya kena walau pakai helm

  3. Aku pernah ngalamin Mbak, gara-gara jalan sambil ngelamun nggak sadar kalau jalan di dekat portal otomatis itu. Untungnya portal itu turun satu detik lebih cepat dari saat aku lewat di bawahnya, tapi tetap aja karena turunnya pas di depan muka, jadinya bikin aku ciuman sama portal meskipun ciumnya nggak keras sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s