Siapakah Saya ? I Am…

Standard

I am Happy

Saya menerima sebuah pesan lewat ‘message box’-nya face book. Saya tidak mengenal namanya. Tapi karena informasi pekerjaan dan lokasinya sangat familiar dengan saya maka sayapun membrowsing timeline-nya juga. Kelihatan informasinya cukup dapat dipercaya. Agar lebih aman, saya juga menanyakan ke beberapa orang teman dan saudara, barangkali ia juga mengenal orang itu . Respon teman dan saudara saya cukup baik. Maka sayapun menjawab message-nya. Saya menanyakan tentang dirinya, ia menjelaskan nama aslinya (tidak sama dengan namanya di facebook), dan ia ada menyebut bahwa ia kenal beberapa orang teman saya juga. Singkat kata bertemanlah kami.

Karena merasa sudah berteman, sekarang saya jadi sedikit lebih berani kaypo dong ya….

Saya bertanya,mengapa ia menggunakan nama samaran di media sosial, dan bukan namanya sendiri. Bukankah jika memakai nama sendiri, teman-teman akan lebih mudah mengenali diri kita?.  Ia menjawab, bahwa alasannya adalah agar lebih trendy. Ya ya.. alasan yang cukup bagus. Saya lihat nama online-nya cukup keren juga. Saya mengerti dari foto-foto yang diuploadnya rupanya yang bersangkutan punya hobby menyanyi. Ooh..mungkin itulah sebabnya mengapa namanya diganti dengan nama lain, lalu ditambahkan kata “Star” di belakangnya. Boleh juga idenya. Cukup aspiratif.

Rasanya sih nggak ada salahnya juga, kalau membuat akun dengan nama aspiratif begitu. Tetapi karena peristiwa itu, saya jadi tertarik memperhatikan beberapa orang yang mengganti atau menambah nama on-linenya dengan sesuatu  yang aspiratif. Misalnya nih,  Ranii Shiii Cuantieq, ZhieManiez, Wawan Okeh, Ria The Star, Ariez KeRen, Yudi Cool, GunkAyu ZiCuaem, IfanWongKEraton dan sebagainya yang keren-keren.

Ada juga sih yang menyebut dirinya dengan pengakuan yang netral – misalnya nih…. I am Chepy, Meera ituuwww Mira, Lily Luph Iwan Celalu, Maria Sukhahejo, DeeChayanknaAguz dan sebagainya. Ya..oke. Lumayan kreatif dan mungkin apa adanya.

Nah..tapi ada juga nama-nama yang saya nggak habis pikir  membacanya. Misalnya ada yang membuat namanya kaya begini : Heri Susakaya, Oki Siplagiatz, DaniarStrez, BayuSiZeleks, YoyokStupidz, GagalManing, SiCebongsLinglung, Aldea Error, AgungCulun, Crazy Sensitive, DexWatiBodoh, Mizkin Tapi Norak, dan sebagainya.

Note: Semua nama-nama diatas saya plintir sedikit, bukan nama sebenarnya – semoga tidak  menyinggung – saya hanya menyebut contoh untuk memperjelas point saya. Minta maaf jika ada yang kurang berkenan.

Nah… kembali lagi ke point saya tadi adalah, mengapa ya mengganti nama di dunia maya dengan nama yang kurang aspiratif begitu? Saya pikir mau di dunia nyata maupun di dunia maya, nama itu hakikatnya sama saja. Yaitu jati diri kita. Siapa diri kita? Nama merefleksikan banyak hal,termasuk pikiran,perasaan kita juga.

Buat saya,  jika saya menggunakan nama di dunia digital, pilihan pertama saya adalah menggunakan nama asli sendiri. Atau minimal menggunakan nama panggilan. Atau mungkin nama kecil atau nama kesayangan kita yang juga umum dikenal orang lain. Mengapa? Karena nama yang diberikan oleh orangtua biasanya bermakna bagus. Dan pasti sudah penuh dengan doa-doa baik orangtua kita agar kita sehat walafiat, selamat, sentosa dan sebagainya yang bagus-bagus.  Saya yakin sangat sangat jarang sekali (atau jangan-jangan tidak ada) ada orang tua yang memberikan anaknya nama yang buruk atau yang bermakna buruk.

Jika kita merasa tak perlu menggunakan nama kita sendiri, pilihan keduanya adalah mengganti nama dengan sesuatu yang baik atau aspiratif. Misalnya ya seperti nama-nama di kelompok pertama yang saya sebut itulah.. seperti dengan tambahan the Star-lah, atau Si Cuantikz, atau Si Guanteng, ZiiBaekhati dan lain sebagainya yang berkonotasi positive dan baik baik begitu (soal gaya menulis ya terserahlah ya..suka-suka sendiri sepanjang tidak melanggar hukum).  Atau minimal seperti gaya yang di kelompok ke dua yang mengatakan dirinya apa adanya I am…

Khusus yang kelompok ke tiga… walaupun ya memang sih, itu kan suka-suka yang punya nama- *kok repot sih?…  terus terang sangat bingung. Misalnya nih… memberi sebutan kepada diri sendiri sebagai si Susakaya alias Susah kaya..kok di telinga saya rasanya seperti mendoakan diri sendiri agar tetap miskin. Atau menyebut diri sendiri dengan nama ZiiGagalManing… sami mawon itu buat saya.. Kok seperti mendoakan diri menjadi gagal terus menerus. Lah kapan suksesnya kalau seperti ini? Demikian juga dengan kata Stress, Pandir, Bego, Error dan sebagainya yang tidak berkonotasi positive.  Orang bilang nama itu adalah doa ya..Semakin sering kita sebut, semakin cepat ia datang ke diri kita. Semakin sering kita menyebut diri kita sendiri Bodoh, Bodoh, Bodoh…ya semakin kejadian deh itu, kita jadi beneran Bodoh. Karena kata bodoh itu sekarang menancap ke dalam diri kita dan bekerja dengan sangat cepat membuat keseluruhan diri kita menjadi Bodoh.

Saya pikir  cara kita menyebut diri,  memberi dampak terhadap diri kita sendiri. Coba saja perhatikan apa jawaban kita – misalnya ketika menjawab pertanyaan “Siapakah kamu?”alias “Who Are You?“. Misalnya kita menjawab dengan kata “I am (a) very happy (person)” atau  “Saya bahagia banget ” atawa “Saya orang yang bahagia banget“. Pikirkanlah sejenak kata bahagia itu, lalu rasakan apa yang ada di hati kita? Bahagia!.  Beneran, bahagia. Atau misalnya yang terlintas di kepala kita adalah jawaban “I am (a) lucky (person)” alias “Saya beruntung” atawa “Saya orang yang beruntung“. Lalu pikirkan dan rasakan apa yang ada di hati saat kita mengucapkan kata itu. Saya yakin perasaan kita juga bahagia dan senang, karena kita merasakan keberuntungan yang kita miliki.

Sebaliknya jika kita menjawab dengan kata yang berkonotasi buruk seperti tadi “I am StupiDz“, nah..saya rasa diri kita langsung merasa StupiDz dan diri kita juga langsung memberikan konfirmasi bahwa kita memang StupiDz. Atau kalaupun  belum bisa memberi konfirmasi segera,  maka ia akan mencari-cari sampai benar-benar ketemu bahwa kita memang StupiDz.

Begitulah saya rasa.  Karena nama adalah doa, yuk kita doakan diri kita agar selalu baik-baik. Stop menyebut diri kita dengan nama buruk dan stop mendoakan diri kita dengan hal-hal yang kurang positive.

 

 

18 responses »

  1. Betul sekali, setuju sama postingan mbak. Segala ucapan, apalagi nama, adalah doa. Makanya berucaplah yg baik dan berilah julukan/nama panggilan yg baik🙂

  2. iya ya maunya nama (atau julukan) ya yang bagus2 aja.
    tapi emang sekarang di socmed banyak nama yang aneh2 termasuk yang gak bagus (menurut kita), cuma mungkin karena unik dan isi socmed nya lucu akhirnya malah jadi ngetop.

  3. Suka bingung bacanyaaa hehe

    Banyak yg ngajak temenan, tp namanya asing sekali, ditambah PP nya bukan mukanya dia… trs albumnya ditutup krn belum temenan, jdnya pada dicuekkin gitu deh…hehe

  4. Salam kenal mbak, saya baru mengunjungi blog mbak pertama kali nih. Mengenai siapakah saya, saya itu (scr umum) merupakan kumpulan dari lingkungan, pikiran dan imajinasi mbak. Jadi hidup kita ditentukan oleh 3 itu kalau menurut saya, dan untuk kedepannya semua itu tergantung dari ke 3 faktor tersebut. Salam kenal mbak.

  5. Yes, Mba Andani. Nama adalah sebuah do’a dan banyak orang memang menyepelekan penggunaan nama. Saya jadi terinspirasi untuk juga menuliskan postingan tentang nama. Dan saya rasa ada hubungan dalam pembahasan postingan ini dengan sedikit pikiran bawah sadar mengenai jawaban ketika ditanya “Who are you?”. Great and Thanks. Sukses blognya dan salam kenal Mba.

  6. kalo saya udah delete duluan orang yang ngajak temenan di somed namanya alay kayak gitu. Eh tapi di fb saya pake nama pena Yasashii Kaze. Sebetulnya bukan karena nggak bangga dengan nama dari orang tua, tapi lebih karena jaman SMA suka sama judul lagu itu. hehe, kalo soal nama pena, barangkali beda alasan ya mbak.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s