Ceritaku Di Kereta Api.

Standard

Kereta ApiSelama ini Kereta Api, adalah alat transportasi yang paling kurang familiar buat saya. Masalah utamanya adalah karena tidak ada kereta api di kampung saya di Bali sana. Jadi saya tidak pernah naik kereta api semasa kecil. Pertama kali naik kereta terjadi saat saya SMA. Waktu itu saya mau ikut perkemahan Pramuka di Cibubur. Dari Bali kami menumpang bis. Lalu menyebrangi Selat Bali dengan kapal laut ke Banyuwangi. Kemudian kembali naik bis sampai ke Surabaya. Barulah dari Surabaya saya naik kereta api. Saya ingat kala itu naiknya dari Stasiun Gubeng.

Setelah itu saya memang pernah naik kereta api keluar kota beberapa kali lagi. Tapi sangat jarang. Belum pernah menggunakannya sebagai alat angkut ke kantor. Barangkali karena ada alat angkutan alternatif yang bisa saya pakai sehari-hari. Selain itu jalur lintasan Kereta api yg ada tidak praktis juga ke arah kantor saya. Nah bagaimana kalau sekarang saya mencoba menjadikan kereta api sebagai alat transportasi alternatif?

Gara-garanya, saya tertarik mendengar cerita teman saya yang pulang kerja naik kereta api. Kedengarannya seru. Saya memutuskan untuk ikut mencoba.  Ternyata memang sebuah pengalaman yang sangat menarik buat saya. Teman-teman saya langsung menebak..”Pasti ntar ditulis  di blog...” kata mereka. “Pasti ntar blognya penuh dengan tulisan tentang Kereta Api” kata yang lain.  Hi hi…Ya iyalah. Kan setiap pengalaman yang menarik perlu ditulis. Termasukperjalanandengan kereta api ini. Biar nanti bisa saya kenang atau ambil intisari pelajarannya.

Transportasi Super Duper Murah.

Hari pertama saya naik Kereta Api, saya ikut teman-teman. Naik dari Stasiun Sudirman (Duku Atas), lalu mengganti kereta di Stasiun Duri dan turun di Stasiun Poris. Kurang lebih sejam lamanya perjalanan. Dari Stasiun Sudirman, kereta yang saya tumpangi sangat bagus dan bersih. Dinginnya AC terasa.  Penumpangnya kebanyakan para karyawati kantor yang masih bersih dan cukup wangi. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Jadi saya bisa duduk. Tapi begitu bertukar kereta di Stasiun Duri, bedanya jauuuh banget. Empet-empetan berdiri sampai sulit mencari ruang untuk berpegangan.  Tapi saya tak perlu khawatir akan jatuh jika tak berpegangan. Karena saking padatnya penumpang, jika misalnya pun keretanya ngerem mendadak, saya yakin saya tidak akan jatuh tapi tetap berdiri.  Mengapa?Ya… karena badan saya sudah terjepit dengan pas dari depan, dari belakang, dari samping kiri, samping kanan. Seperrti di-press begitu. Bagaimana mungkin jatuh ya?

Ya okelah soal berdiri himpit-himpitan. Tapi yang benar-benar menakjubkan adalah ongkosnya!. Saya membeli karcis di Stasiun Sudirman seharga Rp 12 000. Setelah keluar dari Stasiun Poris, ternyata karcis saya itu bisa dire-fund Rp 10 000.  Lah?! Jadi ongkosnya cuma Rp 2 000? Sejauh itu? Melintas berapa stasiun itu ya?. Nggak salah inih? Serius, hitungannya saya cuma bayar Rp 2 000. Padahal jarak tempuhnya sejauh itu ya? Coba bandingkan dengan naik taxi yang mungkin jika perjalanannya panjang begini bisa habis beberapa ratus ribu rupiah sekali naik. Top banget deh.  Sebaiknya jumlah Kereta Api ditambah dong, biar lebih memadai dan tak perlu berhimpit-himpitan.

The Beauty of Being…Gendut.

Kemaren adalah hari ke dua.  Pulang melakukan urusan kerjaan di daerah Jatinegara, saya naik kereta lagi. Berangkat dari Stasiun Manggarai, ganti kereta di Stasiun Tanah Abang lalu turun di Stasiun JurangMangu. Dari Stasiun Manggarai saya berangkat dengan seorang teman saya. Tapi saya turun untuk mengganti kereta di Stasiun Tanah Abang, sementara teman saya meneruskan perjalanannya hingga ke Stasiun Duri. Jadi yang ini lebih keren ya. Pertama kali lewat jalur ini dan seorang diri!.

Karena ini pengalaman pertama, saya memutuskan untuk ikut arus saja sambil bertanya ke petugas yang ada, bagaimanakah caranya jika saya ingin pergi ke Bintaro.? Ternyata saya disarankan mengambil platform no 5 atau 6 dan berhenti di Stasiun Jurang Mangu yang lokasinya berdekatan dengan Bintaro X-Change.

Kereta Api di plaform no 6 ternyata sangat penuh sekali. Saya memutuskan untuk mengambil yang di platform 5 saja. Kereta baru saja berhenti menurunkan sebagian penumpang. Saya menunggu di depan pintu Gerbong pertama.  Sangat sesak. Orang-orang pada berebut dan berdesakan. Baik yang mau naik maupun yang mau turun sama aggresif-nya. Pria dan wanita sama gagahnya kalau sudah memperjuangkan posisi berdiri di kereta.

Seorang wanita muda yang berbadan kekar mendorong orang-orang di sekitarnya dengan menggunakan sikunya. Sangat percaya diri, berani dan terkesan galak. Saya hanya bisa melihatnya dengan takjub. Orang-orang yang lainpun ikut mendorong-dorong juga. Nggak mau kalah.  Tiba-tiba siku anak perempuan itu mengenai perut saya tanpa sengaja. Refleks saya melindungi diri dengan melintangkan tangan di depan perut dan dada saya. Ia melihat saya dan tiba-tiba mukanya yang tadinya sangar berubah menjadi pucat pasi seketika.

Aduuuuh.. maaf ya Bu..maaf ya Bu…. Nggak sengaja.” katanya dengan gugup. Hmmm??##!?# Saya sendiri bingung. Mengapa tiba-tiba ia sepucat dan sugugup itu?. Mengapa ia meminta maaf kepada saya? Bukankah ia menyikut semua orang lain juga? Kenapa meminta maafnya hanya kepada saya?. Dan lebih aneh lagi, kerumunanpun tiba-tiba terasa agak mengendor. Saya bengong.

Mudah-mudahan nggak apa-apa perutnya, Bu?” tanya seorang Ibu lain di sebelah saya. “Hati-hati, Bu” nasihat yang lainnya. Saya kaget.  Lalu tertawa sendiri di dalam hati. Huaa ha ha..sekarang saya mengerti. Rupanya orang itu menyangka saya sedang hamil muda. Ya ampuuun..rupanyanya saya segendut itu sampai orang-orang menyangka saya sedang hamil. Dan kombinasi tubuh yang gendut dan sikap refleks melindungi perut ketika didesak, semakin memperkuat dugaan bahwa saya memang sedang hamil.  Hualaa….

Ibu-ibu di sebelah kiri dan kanan memberikan saya  jalan dan ikut membantu saya naik ke kereta duluan. Saya tidak apa-apa mengantri. Saya ngaku aja kepada mereka jika saya tidak sedang hamil kok. Cuma memang gendut saja.. Sebenarnya agak malu juga sih mengaku begitu. Tapi ya..mau bagaimana lagi ya….Memang begitu sih keadaannya.  Dan kembali lagi kalau lihat dari sisi positive-nya saja…. ya.. justru itulah the beauty of being gendut. Disangka hamil dan diberikan prioritas oleh penumpang lain.. Ha ha…!.

Tapi saya senang dampaknya. Orang-orang sekarang lebih tenang dan tertib mengantri. Tidak seperti di awal tadi.

Penemuan saya dari kejadian kecil itu adalah, bahwa ternyata masih banyak warga Jakarta yang peduli terhadap sesama. Dan terutama peduli terhadap wanita hamil yang dianggap lemah dan tak berdaya.

 

18 responses »

  1. hahaha kocak…🙂

    tapi emang paling parah dah orang indo kalo masalah ngantri. harusnya yang keluar didulukan baru orang2 naik. tapi yang ada malah dorong2an gitu ya.. ampun dah…

  2. Hahaha the beauty of gendut. Disamping yg kadar karena main sikut-sikutan, perempuan hamil ternyata emang masih beruntung naik kereta ya Mbak Dani..,

  3. Pengalaman yang menarik sekali Mbak Dani. Hihihi. Memang ya bahkan mbak-mbak lembut bisa berubah ganas kalau berhadapan di gerbong KRL. Tapi kepedulian orang juga masih tinggi. Waktu saya bawa A, masih banyak orang yang sukarela memberikan tempat duduknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s