Monthly Archives: September 2015

Urban Farming: Bayam – Berpacu Dengan Ulat.

Standard

bayam 3Berkebun sayuran,  rasanya tidak lengkap jika tidak menanam Bayam.  Bayam (Amaranthus sp) adalah sayuran daun yang barangkali menempati ranking ke dua yang saya sukai setelah kangkung. Mungkin karena bayam ini sering dijadikan campuran Jukut Kables /pelecing, Tipat Santok (sejenis Gado-Gado ala Bali) ataupun Urab Bali yang sering saya makan semasa kecil. Itu sebab mengapasaya jadi suka bayam.

Jadi, bayam sudah pasti perlu saya tanam sebagai bagian dari proggram “Dapur Hidup” saya.  Mengingat lahan yang sempit, tentu saja jumlahnya sangat terbatas ya. Cuma beberapa polybag saja. Tapi jika nanti panen, cukuplah kira-kira buat sekali masak.

Bayam ini saya semai dari bijinya yang sangat kecil-kecil sekecil telor kutu. Cukup cepat tumbuhnya. Hampir berimbanglah dengan kecepatan tumbuh biji jenis sawi-sawian. Setelah tumbuh dipersemaian, begitu daunnya mulai berjumlah 4 lembar, saya mulai memindahkannya ke polybag satu per satu. Tak berapa lama, tumbuh dan berkembanglah tanaman itu.

????????????

Ulat kecil di balik daun bayam.

Sejak niat bertani sayuran (maksudnya di halaman), saya memutuskan untuk tidak menggunakan pestisida sama sekali. Hidup lebih sehat dengan sayuran tanpa pestisida, bukan? Akibatnya, setiap bangun pagi saya perlu melototin daun-daun tanaman kesayangan saya agar jangan sampai dimakan ulat atau diserang kutu putih. Memang agak susah sih. Karena jika halaman rumah penuh tanaman, dengan sendirinya akan mengundang kupu-kupu datang untuk sekedar singgah atau bahkan diam-diam bertelor di balik daun tanaman kita. Itulah yang terjadi dengan tanaman bayam saya.

Yang namanya bayam, daunnya sangat empuk. Tentu sangat menggiurkan bagi para ulat. Rasanya kok saya jadi balapan ya, cepat-cepatan dengan ulat. Siapa yang duluan bisa memakani daun empuk dan lezat hijau royo-royo ini. Saya atau ulat? Waduuuh!. Sebenarnya bayam-bayamini belum cukup besar untuk dipanen.Jadi sayang rasanya  jika gara-gara ulat,  sayuran ini saya panen sebelum waktunya.  Jadi untuk tahap awal saya coba tanggulangi dengan hanya menggunting daun-daun yang rombeng akibat gigitan ulat itu. Berharap sekalian ulatnya juga nangkring di daun yang saya potong itu.

Bayam 5Walaupun semua daun daun yang rombeng sudah saya gunting dan buang, eh..seminggunya kemudian masih ada lagi daun di tanaman bayam lain yang berlubang-lubang digerogoti ulat.  Saya mulai memeriksa tanaman itu satu per satu. Daunnya helai demi helai. Memang ada beberapa ekor ulat kecil berwarna hijau yang bersembunyi di balik daun-daun bayam itu. Entah ada kupu-kupu lain lagi yang bertandang saat saya sedang tidak di rumah, atau kah seekor dua ekor sisa ulat minggu lalu ada yang berhasil sembunyi di bawah daun-daun bayam. Wah..kalau saya biarkan, lama-lama bisa habis deh daun bayam saya.

Apa boleh buat, sekarang saya tidak punya pilihan.Terpaksa adu cepat dengan ulat. Ambil gunting, lalu saya panenlah daun-daun bayam itu. Lumayan dapat seikat. Saya rasa cukup untuk sekali masak tumis bayam. Rupanya ada sebatang bayam yang memiliki daun rombeng yang ikut serta. Anak saya protes. “Tenang! Daun sayuran yang rombeng digerogoti ulat menandakan bahwa sayuran itu tidak terkontaminasi pestisida” kata saya, sambil melihat-lihat dan memastikan tidak ada seekor ulatpun terbawa serta ke dalam wajan.

Happy gardening!

 

Advertisements

Tidak Disiplin.

Standard

kakiSeorang teman dari Bali sedang ada di Jakarta. Ia menghubungi saya dan mengajak ketemuan. Sayang sekali saya tidak bisa. Kemudian anak saya ingin menonton AFAID 2015, pameran Anime di Kemayoran. Lagi-lagi saya tidak bisa. Terpaksa meminta tolong keponakan untuk menemani mereka ke sana. Penyebabnya?

Bulan April yang lalu saya pernah bercerita di sini tentang kaki saya yang keseleo. Rasanya sungguh tidak enak. Sakit. Untungnya saat itu saya ditolong oleh Pak Bayu, seorang tukang urut di Bantul, sehingga  saya bisa berjalan normal kembali. Namun sayangnya, belakangan ini sakit di kaki saya kambuh lagi. Saya kurang tahu persis penyebabnya.

Barangkali gara-gara saya turun dari kendaraan agak terburu-buru. Atau barangkali karena berat badan saya yang melewati standard. Saya sendiri sudah berusaha mengantisipasi. Sudah lama saya meninggalkan sepatu jenis stiletto. Bahkan wedges pun sudah jarang saya gunakan. Sehari-hari saya hanya menggunakan sepatu ringan ber-hak datar. Bahkan untuk menghadiri beberapa acara resmi pun saya tetap menggunakan sepatu datar. Walau teman-teman saya banyak juga yang protes “Bu!. Pakai sepatu yang hak-nya lebih tinggi sedikit dong, Bu! Masak ngasih sambutan ke audience pake sepatu datar. Kok ya..rasanya kurang nyambung” pernah seorang teman memberi saran.Teman yang lain bahkan pernah rela menukar dan meminjamkan sepatunya yang ber-hak tinggi untuk saya. Tapi saya tetap memilih menggunakan sepatu datar. Karena rasa sakit yang amat sangat itu. Persis di tempat yang sama saat keseleo.

Kaki kiri saya benar-benar tidak bisa digunakan untuk bertumpu. Juga tidak nyaman jika dibiarkan menggelayut saat duduk. Jadi, walaupun hanya kaki yang sakit, tapi  gerakan saya menjadi sangat terbatas. Jam kehidupan saya serasa beku. Hidup saya jadi sangat pasif. Saya enggan melakukan aktifitas apapun. Saya tidak ke kantor. Saya tidak menulis. Saya tidak mengurus tanaman. Tidak melakukan hal-hal yang biasanya saya senang lakukan dengan riang gembira. Bahkan untuk turun dari tempat tidurpun terasa berat.

Akhirnya saya memutuskan untuk menemui tukang urut tak jauh dari rumah, yang biasa menangani kaki orang terkilir. Jawabannya sangat jelas. “Banyak yang begini. Sakitnya kambuh di tempat yang sama. Biasanya karena tidak disiplin. Kalau disuruh istirahat, harusnya istirahat saja dulu di tempat tidur. Dikompres air dingin dan kakinya diangkat tinggi-tinggi. Jangan dipaksa dibawa jalan. Kalau sudah begini jadi lebih repot” katanya.  Saya tidak berkata apa-apa. Diam-diam mengakui apa yang dikatakannya. Sejak pertama kali keseleo, sebenarnya saya memang tidak pernah mengistirahatkan kaki saya. Saya tetap berjalan. Karena saya pikir rasa sakitnya sudah berkurang. Dan bahkan seminggu setelah keseleo saya  masih sempat bermain ke Gunung Bromo.

Sambil menahan sakit saat diurut oleh Pak Tukang Urut, saya memikirkan diri saya sendiri. Yah.. mungkin ini memang ganjarannya bagi orang yang tidak disiplin. Ada Sebab, ada Akibat. Kalau orang Bali bilang itu salah satu bentuk hukum Karmapala. Ada Karma, Ada Pahala.  Hukum Semesta yang berlaku tidak hanya untuk kehidupan yang berada di permukaan bumi saja, namun juga berlaku di semua galaxy dan seantero semesta raya. Apa yang engkau perbuat, itulah yang kelak akan engkau tuai. Perbuatan baik akan selalu menghasilkan kebahagiaan. Sebaliknya perbuatan buruk akan selalu menghasilkan penderitaan. Jika tidak dibayar dalam kehidupan ini, barangkali suatu saat akan dibayar di phase kehidupan berikutnya.

Nah… diluar apa yang ditanamkan keras oleh orang tua kita seperti “jangan mencuri!, jangan menipu!, jangan memfitnah!, jangan membunuh!, jangan menyakiti!, jangan korupsi!, jangan berkhianat!, jangan mabok!, jangan serakah!,….dst banyak jangan..! dan jangan…! yang lainnya lagi” karena semua itu adalah perbuatan yang tidak baik, ketidak-displinan tentu saja termasuk salah satu perbuatan yang kurang baik. Perbuatan kurang baik yang tentunya akan  menghasilkan akibat yang kurang baik juga. Disebabkan oleh ketidakdisplinan mengistirahatkan kaki,  ya…akibatnya  saya harus menerima jika kaki saya jadi sakit seperti ini.

Selain itu, sebenarnya agak tidak fair juga perbuatan saya yang kurang disiplin ini terhadap orang lain (tukang urut/dokter) yang sudah berusaha membantu. Bagimana mungkin saya mengharapkan orang lain membantu saya, sementara saya sendiri kurang berusaha membantu diri sendiri.  Tukang urut ataupun dokter mungkin saja bisa membantu, namun jika saya sendiri tidak disiplin dan malah melakukan hal-hal yang memperberat kesembuhan kaki saya, tentu kesembuhan tidak akan pernah terjadi. Kalaupun terjadi, sifatnya hanya sementara dan itu hanya berkat jasa para pelaku medik dan sama sekali tidak atas jasa diri saya sendiri.  Malu juga sih memikirkan ini.

Kesembuhan yang sesungguhnya akan terjadi, hanya jika diri kita sendiri sebagai pasien yang juga berusaha keras mendisiplinkan diri  untuk melakukan hal-hal yang harusnya dilakukan jika kita benar-benar ingin sehat.

Jadi…. sebenarnya jawaban atas semua yang kita alami itu ada di dalam diri kita sendiri.

 

 

 

Urban Farming: Belajar Bertanam Hidroponik.

Standard

Trial & Error. Percobaan Yang Belum Sukses  Juga.

Hydroponik 1Di toko Trubus saya melihat ada instalasi Hidroponik ditawarkan. Ukurannya 1 x 1 meter. Dilengkapi dengan bibit tanaman dan pupuk. Harganya 3.5 juta. Mahal tidak ya? Saya sangat tertarik. Suami saya mengatakan  gampang dan murah jika membuat sendiri instalasi itu. “Paralon murah. Yang mahal paling hanya pompa airnya saja” katanya. Dan ia berjanji akhir pekan akan membuatkannya untuk saya.

Akhir pekan berlalu, suami saya rupanya terlalu sibuk  dan benar-benar tak sempat memenuhi janjinya.  Apa boleh buat. Akhirnya saya memanggil tukang bangunan yang biasa memperbaiki atap bocor atau masalah lain di rumah untuk membuatkan instalasi hidroponik. Saya mengajaknya pergi ke Toko Bahan Bangunan * Semangat baja*. Ngapain? Ya membeli paralon dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk membuat instalasi air itu. Ya… kelihatannya memang jauh lebih murah kalau buat sendiri.  Pak Tukangpun mulai mengukur-ukur dan memotong.

Sementara tukang mulai bekerja, saya pergi ke Toko Aquarium membeli pompa air.  Pemilik toko Aquarium memberi saya informasi, pompa yang paling banyak digunakan orang untuk Hidroponik adalah yang 38 watt. Kalau 25 watt terlalu kecil. Banyak yang sudah membeli, tidak puas dan ingin mengembalikan -tapi tentunya pihak toko tidak mau terima kembali. Karena takut salah, akhirnya saya membeli yang sesuai dengan advise tukang Aquarium sajalah. Harganya tidak sampai Rp 300 ribu. Setelah itu berikutnya lalu membeli ember besar buat wadah air.  Nah..sekarang tinggal menunggu tukang selesai bekerja.

Keberatan beban.

Pak tukang membuat instalasi berukuran 1meter x 1.5 meter. Tidak bertingkat. Flat. Satu lantai saja. Karena ini baru belajar, saya tidak ingin membuatnya complicated dulu.

Terdiri atas 11 batang paralon 1 meter masing-masing dilengkapi dengan 6 buah lubang tanam. Jadi totalnya ada 66 buah lubang tanam. Pipa-pipa paralon disambungkan. Diletakkan di atas tiang penyangga yang terbuat dari paralon berdiameter lebih kecil.  System pemasukan air dengan slang dan pembuangan kembali ke ember pun diatur. Pompa sudah dipasang. Sempat terjadi kebocoran di selang-selang kecil di tiap batang paralon tapi kemudian bisa diatasi denga lem. Sekarang instalasi Hydroponik siap digunakan.

Saya membeli media tanam dan pupuk khusus Hidroponik.  Karena rockwool mahal dan stocknya sedang tidak ada, saya disarankan menggunakan Sekam Bakar saja untuk media tanam.  Saya punya bibit Caisim manis dan Pakcoy yang saya tempatkan di wadah gelas plastik air mineral yang dilubangi agar air dan pupuk bisa keluar masuk. Begitu semua tanaman diletakkan di lubang tanam, pompa air dinyalakan. Tak berapa lama tiba-tiba paralon penyangga  agak meleot pada bagian tengahnya. Bocor dan banjir lagi. Hyaaa!!!!.

Rupanya keberatan beban air. 50 liter air dipompakan ke atas, plus sekam. Tidak mampu disangga dengan baik. Hitungan matematikanya dapat score 0 besar. Untung tidak sedang Ujian Nasional. Ha ha ha.  Terpaksalah masing-masing diberi tambahan paralon lagi untuk menyangga agar lebih kuat.

Daun Yang Kuning Muda.

Hari-hari berlalu. Saya menambahkan pupuk Hidroponik A+B ke dalam ember. Tanaman tumbuh dengan cukup baik.  Tapi lama-lama kok daunnya menjadi pucat kuning muda warnanya. Klorofilnya mana? Whuaaaa…! Saya salah meletakkan instalasi hidroponik itu. Di tempat yang kurang sinar matahari. Mana bagian atasnya tertutup pula. Padahal harusnya kena paparan sinar matahari minimal 4 jam sehari ya?. Mengapa kebodohan seperti ini bisa saya lakukan ya? (*garuk-garuk kepala).

Sudahlah. Tak usah meratapi nasib. Segera perbaiki kesalahan. Akhirnya dengan meminta tolong orang-orang di rumah, saya menggotong instalasi air itu  ke tempat yang memungkinkan buat tanaman ini bisa terpapar sinar matahari pagi. Beberapa hari kemudian sebagian daun-daun tanaman sayuran itu mulai ada yang membaik. Level klorofilnya meningkat. Sekarang mulai sedikit menghijau. Walaupun belum royo-royo.

Aliran Air Mampet.

Ujian rupanya tidak cukup sampai di sini. Sekarang saya menghadapi masalah baru.  Aliran air kurang lancar. Penyebabnya Sekam Bakar yang dijadikan sebagai media tanam, keluar dari gelas plastik. Barangkali karena lubangnya kebesaran. Sekam lalu dihanyutkan air dan membuat pompa macet. Pompa harus dibersihkan berkali-kali. Bukan saja merepotkan tetapi juga membuat pertumbuhan tanaman terganggu. Waduuh!. Mungkin saya harus mengganti gelas-gelas plastik ini dengan yang baru, dengan lubang-lubang yang lebih kecil.

Hydroponik 13Pilihan lainnya adalah mencari pengganti media tanam. Kembali saya berkonsultasi ke Trubus. Jika tidak ada rockwool, apalagi media alternatif yang bisa saya pakai?  Sesuatu yang berserat dan porous. Yang penting bisa menyimpan air lebih banyak dan memungkinkan akar bisa tembus. Barangkali serabut kelapa. Tapi di mana saya mencari serabut kelapa?  Aha! Akhirnya saya terpikir akan Dacron.

Bagaimana dengan Dacron? Bukankah Dacron juga porous dan bisa menyimpan banyak air?. Dacron adalah sejenis bahan sintetis mirip kapas yang biasanya digunakan untuk mengisi  bantal, guling, boneka, bed cover atau kerajinan quilting. Saya ada menyimpan sedikit Dacron juga di rumah.  “Coba aja Bu” kata orang Trubus.

Dacron ini tidak akan terbawa arus air. Harapan saya dengan mengganti sekam bakar dengan dacron, air akan menjadi lebih bersih tanpa residu.

Kemarin saya coba mengganti media sebagian dari tanaman itu dengan Dacron. Untuk percobaan saja dulu. Jika tanaman tidak layu dan bisa survive, akan saya lanjutkan kemudian pada tanaman berikutnya. Dalam sehari masih belum kelihatan hasilnya. Tanaman kelihatan kurang segar, tapi tidak layu.

Belum sukses -sukses juga. Banyak kekurangan. Trial & error.

Saya melirik tanaman yang di polybag. Kelihatan jauh lebih segar dan lebih cepat tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Pantang berputus asa.  Tetap semangat dan berusaha terus memperbaikinya.  Semoga kali ini saya berhasil dengan lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Musibah Di Jalan Raya.

Standard

KecelakaanHari Rabu minggu yang lalu saya pulang agak malam dari kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Memasuki Jalan Daan Mogot, saya berhenti sebentar hendak membeli Jeruk di mobil pick-up yang parkir di pinggir jalan. Belum sempat memilih, tiba-tiba sebuah kecelakaan sepeda motor terjadi persis di depan mata saya. Sang pengendara terlempar keras ke trotoar. Penabraknya lari dengan kecepatan tinggi. Ulu hati saya seketika terasa nyeri melihat pemandangan itu. Tanpa berpikir panjang saya berlari menghampiri korban. Berusaha memeriksa keadaannya  dengan hanya dibantu cahaya kendaraan yang lewat, karena pinggir jalan cukup gelap. Syukurlah ia sadar dan bisa bangun lagi. Tangan, siku dan kakinya luka. Celana panjangnya sobek sepanjang kakinya. Kelihatannya ia bermasalah dengan leher, punggung dan bahunya karena kebentur trotoar. Saya tidak tahu seberapa parah, karena gelap. Tapi ia mengeluh kepala dan lehernya sakit. “Kalau tidak pakai helm, tidak tahu deh Bu, bagaimana jadinya kepala saya kebentur trotoar” katanya tetap bersyukur.

Saya pikir  saya harus membawanya ke rumah sakit terdekat.Tapi pria itu tidak mau. Ia merasa masih cukup kuat. Akhirnya saya tanya di mana rumahnya? Ia bilang di Kebon Nanas. Saya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, karena melihat motornya yang terlihat ringsek. Beberapa pemotor lain yang lewat berhenti dan bersimpati kepada korban. Semuanya menawarkan pertolongan. Semuanya tidak ada yang keberatan jika harus mengantar pulang atau ikut mendorong motornya hingga ke bengkel terdekat. Dari mereka saya tahu,bahwa sang penabrak itu memang sudah menunjukkan ugal-ugalan di jalan sejak awal. Zig Zag dan mengendarakan motor dengan super cepat. Ada beberapa pemotor lain yang marah mengejar penabrak itu. Tapi rupanya kalah cepat dari sang penabrak.

Seorang teman kantor yang melihat saya di sana, juga ikut berhenti.  “Kenapa Bu?” tanyanya khawatir. Saya lalu bercerita apa yang terjadi. Yang mengalami masalah bukan saya. Tapi pria di depan saya itu.

Karena korban tidak mau diantar ke rumah sakit, saya berusaha memberinya pertolongan pertama dengan membersihkan dan memberi obat luka-lukanya. Sangat beruntung ada obat merah di kendaraan saya. Dan teman saya juga kebetulan sedang membawa alkohol untuk membersihkan luka, perban dan plaster. Ada juga yang memberikan air mineral. Jadi lumayanlah kami bisa membantu menutup lukanya yang terbuka untuk sementara. Kelihatan ia masih sangat gemetar, dan menahan sakit. Beberapa orang motoris menyarankan ia segera melatih menggerak-gerakkan persendiannya agar tidak keburu kaku. Ia pun menurut. Setelah agak lama, ia  mulai terlihat agak tenang dan menguasai dirinya kembali. Ia bilang kalau motornya hidup, mungkin ia masih bisa pulang naik motor.

Coba di start tidak mau hidup. Dicoba lagi berkali-kali tetap tidak mau hidup.  Saya menyarankan agar ia menitipkan di pos Satpam terdekat. Tapi teman saya dan yang lain masih mencoba memperbaiki dan menyambung kabel-kabel motor itu. Yang lain mencoba membantu memberi cahaya dengan hape-nya. Setelah beberapa lama akhirnya motor berhasil hidup kembali.  Syukurlah. Saya merasa sangat terharu.  Ternyata sangat banyak orang peduli akan sesama yang mengalami musibah.

Pria itu lalu  mencoba kendaraannya. Setelah kelihatannya Ok ia pamit dan mengucapkan terimakasih. Kamipun bubar. Saya kembali ke tukang jeruk.

Musibah di jalan raya. Tidak seorangpun ingin mengalaminya.Tapi terkadang tidak bisa kita hindarkan juga. Kita sudah berusaha hati-hati, belum tentu  orang lain juga begitu. Ada saja yang urakan di jalan dan tidak perduli akan keselamatan dirinya sendiri serta keselamatan orang lain. Jadi mesti waspada dan selalu pastikan kita menggunakan perlindungan yang maksimal. Minimal pakai helm. Kalau bisa pakai pakaian yang tebal dan sepatu yang kuat.  Lumayan untuk menghindari kejadian yang lebih parah. Seperti korban kecelakaan yang saya lihat itu. Kepalanya terbentur di trotoar, tapi untungnya masih terlindung oleh helm. Setidaknya,  lukanya bisa berkurang.

Seorang teman lain yang mendengar cerita saya itu bertanya  “Ibu nggak apa-apa? Nggak dikeroyok orang? Hati-hati lho di Jakarta ini. Kadang-kadang menolong orang kecelakaan malah disangka kita yang nabrak. Apalagi jika masa melihat hanya mobil kita satu-satunya yang ada di situ. Bisa-bisa kita yang digebukin masa” katanya. Hmm… saya jadi mikir juga sedikit. Ya sih. Sebelumnya saya pernah juga mendengar cerita begitu. Tapi nggak juga  sih. Orang lain tahu kok kalau bukan saya yang menabrak. Saya hanya bermaksud menolong.

Sebelumnya saya juga pernah mendengar peringatan, agar  hati-hati menolong orang kecelakaan di Jakarta. Mengantarkan orang kecelakaan ke rumah sakit, maksud kita baik tapi  resikonya cukup merepotkan juga. Jika kita yang membawanya ke rumah sakit, terkadang pihak rumah sakit malah membebankan biaya pengobatan kepada kita yang membawanya ke sana. Hmm..masak sih? Saya tidak tahu kebenarannya. Saya pikir seharusnya setiap rumah sakit tentu punya dana x% yang disisihkan untuk membantu  memberi pertolongan orang-orang yang kena musibah seperti ini. Demi kemanusiaan.

Terus ada juga yang cerita, maksud kita menolong malah kita jadi repot dipanggil polisi sebagai saksi. O ya.. menurut saya itu memang bisa saja terjadi. Karena memang kita melihat kejadian itu. Tentu wajarlah kalau polisi memanggil kita menjadi saksi.

Menurut hemat saya, atas nama kemanusiaan apapun resikonya sebaiknya kita tetap perlu berusaha menolong orang lain yang sedang mengalami musibah. Tentu saja sedapatnya kita. Karena  jika semua orang takut dan khawatir membantu orang lain, tentu kasihan sekali para korban kecelakaan itu. Bisa jadi telat mendapatkan pertolongan. Dan jika parah tentu fatal akibatnya.  Syukurnya yang saya lihat tidak begitu. Faktanya kejadian malam itu, banyak kok warga Jabodetabek yang masih peduli sesama. Banyak yang menyatakan kesediaannya untuk menolong. Semoga tetap seperti itu seterusnya.

 

 

Urban Farming: 38 Hari Kehidupan Caisim.

Standard
Caisim

Caisim

Akhir bulan Juli, saya menyadari jumlah pot di rumah tidak mencukupi untuk menanam potongan sayur limbah dapur (kangkung, bawang daun, sereh dan sebagainya), saya pergi ke toko Trubus dekat rumah untuk membeli polybag dan media tanam. Di sana saya melihat berbagai jenis biji sayuran dijual.  Saya tertarik membeli biji Caisim Manis. Caisim Manis adalah sawi yang ukurannya lebih kecil dari Caisim biasa alias Sawi hijau, dan biasanya berbatang pendek. Saya suka Caisim Manis. Harganya Rp 15 500  sebungkus.

Di bungkusnya ada keterangan : “Mampu beradaptasi pada dataran rendah hingga menengah, produksi tinggi, lambat berbunga, batang daun tebal, renyah, berserat, panen 25-30 HST, potensi hasil 25-30 ton/ha“. Saya nyengir membacanya. Tentu saja saya tidak punya tanah sehektar. Hanya halaman belakang rumah yang sangat sempit. Ah… tidak apa sempit,  yang penting semangat.Nanti nanemnya ya… sedikit saja. Secukupnya untuk memenuhi kebutuhan variasi sayuran buat dapur sendiri.

Lalu HST apaan ya? Saya mencoba menerka. Barangkali maksudnya Hari Setelah Tanam (nyocok-nyocokin) – jadi mungkin tanaman ini sudah bisa dipanen dalam waktu 25-30 hari setelah ditanam.

Lalu dibelakangnya ada lagi keterangan. Daya tumbuh 85%. Kemurnian 98%. Berat bresih 25 g. Ada keterangan tanggal kadaluwarsa. Hindari dari sinar matahari langsung atau temperatur tinggi. Ya, oke. Akhirnya saya belilah itu biji-biji caisim.

Satu bungkus benih Caisim isinya banyak sekali. Saya tidak bisa menghitungnya.  Hanya saya taburkan sedikit saja di pot yang kosong. Biji caisim ini seperti halnya biji sawi lainnya bentuknya ya bulat-bulat berukuran kecil berwarna hitam bervariasi coklat merah karat atau kebiruan. Pada tanggal 30 Juli saya melihat biji-biji itu sudah mulai tumbuh. Senangnya hati saya.

Benih Caisim berdaun dua. Bentuk daunnya bergelombang. Pertumbuhannya sangat cepat. Dalam beberapa hari daunnya sudah menjadi 4 lembar. Saya pikir sekarang waktunya untuk memindahkannya ke dalam polybag.  Jika tidak saya pindahkan saya khawatir tanaman ini akan kurus karena harus hidup berhimpit-himpitan dan berebut makanan. Selain  itu  karena lahir dari biji yang ditabur di atas permukaan tanah di dalam pot, akarnya hanya sedikit di bawah permukaan tanah. Jadi saya pindahkan tanaman ini setahap demi setahap ke dalam kantong-kantong polybag.

Setiap hari Caisim ini saya siram. Dua kali sehari. Pagi-pagi sebelum saya berangkat ke kantor, dan malam hari setelah saya pulang ke kantor. Tanaman Caisim ini tumbuh makin hari makin besar. Dari empat lembar daun kini menjadi 5, 6, 7, 8 lembar. Makin hari ukuran daunnya makin besar.

Di sinilah persoalannya  mulai muncul. Saya kok tidak melihat ada batang seperti  pada batang yang umumnya kita temukan pada jenis Caisim Manis ya?  Saya coba tunggu. Tapi batang tiada kunjung keluar. Daun-daun sawi itu keluar dari pangkal batang yang sangat pendek, nyaris dari tempat yang sama. Membentuk roset. Jangan-jangan ini tanaman Caisim biasa. Bukan Caisim Manis. Tapi kenapa di kemasan biji yang saya beli itu ditulis Caisim Manis ya?  Tingkat kemurniannya menurut keterangan 98%.

Hingga di usia 25 hari. Batang yang saya pikirkan tetap tiada keluar. Apakah barangkali karena di tanam di polybag sehingga tanaman ini menjadi kurus dan batangnya tidak keluar ya? Tapi kalau melihat daunnya sih menurut saya cukup subur. Akhirnya masa 30 Hari Setelah Tanampun tiba. Harusnya saya sudah bisa memanennya sekarang. Bahkan sebenarnya sejak 5 hari sebelumnya.

Saya ingin memanen. Tapi saya urungkan niat saya karena 2 alasan. Pertama rasanya kok tidak tega memanen tanaman yang kelihatan hijau segar itu. Ingin rasanya menjadikannya sebagai tanaman hias saja. “Ibu, itu kaya memotong ayam peliharaan sendiri. Tidak tega” kata si Mbak. Ya, bener juga ya. selain itu saya masih penasaran dengan batang Caisim Manis yang seharusnya keluar tapi tidak muncul juga. Akhirnya saya beri waktu lagi untuk saya amati perkembangannya.

Hari ini hari ke 38. Saya pikir sudah cukup waktu yang saya berikan untuk Caisim Manis menunjukkan batangnya. Tapi tiada kunjung datang juga.  Ya sudahlah.  Barangkali memang ini tanaman Caisim biasa. Bukan Caisim manis seperti yang saya tahu. Atau barangkali saya yang salah pemahaman?Jangan-jangan sawi jenis ini yang disebut dengan Caisim Manis?  Entahlah.

Saya cederung berpikir produsennya kurang ketat dalam Quality Control. Tapi sudahlah. Daripada mencari-cari kesalahan orang lain,  lebih baik saya mulai panen saja hari ini.   Toh saya juga memang menyukai  jenis Caisim biasa begini. Hanya beberapa pohon yang saya panen, untuk keperluan sekali masak saja.  Masih banyak di polybag. Jika memang ini jenis yang ada batangnya, suatu saat nanti batangnya pasti akan muncul juga.

Yap. Kembali lagi ke tujuan awal saya. Bertani di perkotaan. Memanfaatkan halaman rumah yang sempit, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dapur sendiri. Jenis sayuran apapun tidak masalah.

Ayo kita galang semangat swadesi alias berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di dapur, dengan menanam sendiri tanaman-tanaman Dapur Hidup di halaman.

 

 

 

 

 

 

Inside Out – Gejolak Emosi Dibalik Personality Anak.

Standard
INSIDE OUT

INSIDE OUT

Akhir pekan. Sedang sibuk menata ulang halaman belakang agar bisa memuat lebih banyak tanaman, anak saya merengek minta nonton film “Inside Out”. Kalau menonton, biasanya anak saya pergi bersama teman-temannya atau anak tetangga dan didampingi oleh orang tua salah seorang temannya. Rupanya kali ini tidak ada temannya yang menonton. Jadilah dia menggeret-geret saya. Saya menghentikan pekerjaan saya dan mulai mengGoogle jadwal film XXI di Bintaro Plaza dan Bintaro X-Change. Akhirnya kami sepakat menonton jam 16.40 di Bintaro X-Change setelah saya usai merapikan tanaman.

Saya pikir film yang diproduksi Pixar Animation Studios dan direlease oleh Walt Disney Pictures ini menarik dan beda. Menjelaskan bagaimana emosi berperanan dalam membentuk kepribadian seseorang. Bagaimana  memori terbentuk dan disimpan dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Barangkali sedikit agak berat dicerna untuk ukuran film kanak-kanak – terutama jika saya lihat ternyata ada cukup banyak Ibu-Ibu yang membawa anaknya yang masih balita untuk menonton film ini. Tetapi di satu sisi untuk anak-anak pra remaja, saya pikir film ini, justru sangat membantu memudahkan anak-anak untuk memahami sedikit neuro-science dan pyschology sederhana. Karena semuanya dikemas dengan simple dalam bentuk 3D animasi.

Barangkali ada yang belum sempat nonton filmnya – saya ceritakan garis besarnya.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley seorang anak perempuan kecil, hidup bahagia bersama ke dua orangtuanya. Seperti kita semua, Riley memiliki emosi di dalam dirinya sendiri yang mengendalikan ekspresinya ke dunia luar setiap hari. Ada Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger.  Kalau di “bahasa-gampang”kannya ya  Gembira, Sedih, Takut, Jijik/Muak, Marah. Walaupun semua emosi ini  mengambil peranan dalam hidup Riley, tetapi Joy alias kegembiraanlah yang mendominasi hidup Riley.

Riley banyak mengalami kejadian-kejadian yang menyenangkan dan membahagiakan dengan kedua orangtuanya, dengan teman-temannya, dengan lingkungan alam sekitarnya. Walaupun tentu saja ada juga hal-hal kecil yang menyedihkan, menakutkan, membuat ia jijik ataupun marah pernah melintas dalam kehidupannya.

Inside out3Misalnya nih… ia merasa sangat jijik akan brokoli, marah ketika ayahnya mengancam tidak akan memberikannya hidangan penutup yang manis jika tidak mau makan brokoli. Atau sedih ketika kalah bermain Hoki dan sebagainya. Tetapi secara umum hidupnya sangat bahagia. Semuanya itu disimpan dalam pulau-pulau memori yang hidup dan menyala. Ada pulau Canda, pulau Sahabat, pulau Kejujuran, pulau Keluarga.

Semua itu berubah ketika ayahnya mendapatkan pekerjaan baru dan mereka harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tempat tinggal baru, sekolah baru dan suasana baru. Rumah yang besar dan kosong, tikus yang lewat, toko piza yang hanya menyediakan piza brokoli dan sebagainya. Di sini emosinya silih berganti menguasai dirinya. Joy masih mampu mendominasi.

Inside Out 4Perubahan sangat terasa ketika ia masuk ke Sekolah barunya. Teman-teman asing dan suasana asing. Terlebih ketika gurunya meminta ia menceritakan dirinya dan Minnesota kota kelahirannya. Ia tak mampu membendung kesedihannya dan menangis di depan kelas. Hal ini membuatnya tertekan. Demikian juga ketika berikutnya ia tak mampu bermain Hoki dengan baik. Semakin membuatnya tertekan. Orangtuanya berusaha membantu, tetapi Riley malah didominasi oleh kemarahan yang memicu kemarahan ayahnya. Satu per satu pulau-pulau memori yang indah dalam dirinyapun hancur. Tiada lagi pulau Canda. Pulau Hoki-nya juga hancur. Ia merasa kesepian. Tiada sahabat yang biasa ia ajak bicara. Pulau Sahabatnya pun hancur.

Ia sangat merindukan Minnesota dan memutuskan untuk kabur dari rumah dan kembali ke sana. Ia mencuri Credit card ibunya untuk membeli ticket bus ke Minnesota. Pulau Kejujurannya pun hancur juga. Kekacauan emosi semakin menjadi-jadi. Tapi seperti biasanya, sudah bisa ditebak kalau film ini pasti juga berakhir dengan Happy Ending. Sebelum pulau Keluarga hancur,  lima sekawan emosi ini plus Bing Bong, teman khayalan Riley waktu kecil berhasil membantu mengembalikan personality Riley seperti sedia kala.  Dimana Sadness yang selama ini dianggap mengganggu kebahagiaan Riley, justru sukses membawa Riley pulang kembali ke pelukan ayah ibunya.

Pada akhirnya, cinta,kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pada akhirnya, cinta, kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pesan moral yang saya tangkap adalah hidup itu memang penuh warna. Setiap emosi itu penting adanya dalam hidup seseorang – dalam hal ini hidup seorang anak. Ada kalanya emosi-emosi yang lain di luar kegembiraan berperanan juga untuk mengembalikan kebahagiaan anak. Ada kalanya kita perlu membiarkan emosi anak-anak kita disalurkan dengan baik. Dan yang lebih penting lagi adalah peranan keluarga dalam perkembangan emosi dan personality anak.  Betapa pentingnya kita sebagai orangtua membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta, perhatian, kehangatan dan kasih sayang. Karena pada akhirnya itulah fondasi yang sangat kuat yang akan membawa anak-anak kita ke dalam kestabilan emosi dan kejiwaannya. Tontonan yang menarik!.

Selain menarik, Film ini menjadi istimewa karena sudut pandang penceritaan diambil dari sudut internal emosi sang anak (Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger),  dan  bukan si anak itu sendiri (Riley), walaupun film ini berkisah tentang Riley. Jadi yang kita tonton, tokoh utamanya adalah Joy. Ia yang bertindak sebagai Subyek. Sedangkan Riley hanya sebagai obyek. Jadi dari sudut Cinematography-pun memang menarik.