Urban Farming: 38 Hari Kehidupan Caisim.

Standard
Caisim

Caisim

Akhir bulan Juli, saya menyadari jumlah pot di rumah tidak mencukupi untuk menanam potongan sayur limbah dapur (kangkung, bawang daun, sereh dan sebagainya), saya pergi ke toko Trubus dekat rumah untuk membeli polybag dan media tanam. Di sana saya melihat berbagai jenis biji sayuran dijual.  Saya tertarik membeli biji Caisim Manis. Caisim Manis adalah sawi yang ukurannya lebih kecil dari Caisim biasa alias Sawi hijau, dan biasanya berbatang pendek. Saya suka Caisim Manis. Harganya Rp 15 500  sebungkus.

Di bungkusnya ada keterangan : “Mampu beradaptasi pada dataran rendah hingga menengah, produksi tinggi, lambat berbunga, batang daun tebal, renyah, berserat, panen 25-30 HST, potensi hasil 25-30 ton/ha“. Saya nyengir membacanya. Tentu saja saya tidak punya tanah sehektar. Hanya halaman belakang rumah yang sangat sempit. Ah… tidak apa sempit,  yang penting semangat.Nanti nanemnya ya… sedikit saja. Secukupnya untuk memenuhi kebutuhan variasi sayuran buat dapur sendiri.

Lalu HST apaan ya? Saya mencoba menerka. Barangkali maksudnya Hari Setelah Tanam (nyocok-nyocokin) – jadi mungkin tanaman ini sudah bisa dipanen dalam waktu 25-30 hari setelah ditanam.

Lalu dibelakangnya ada lagi keterangan. Daya tumbuh 85%. Kemurnian 98%. Berat bresih 25 g. Ada keterangan tanggal kadaluwarsa. Hindari dari sinar matahari langsung atau temperatur tinggi. Ya, oke. Akhirnya saya belilah itu biji-biji caisim.

Satu bungkus benih Caisim isinya banyak sekali. Saya tidak bisa menghitungnya.  Hanya saya taburkan sedikit saja di pot yang kosong. Biji caisim ini seperti halnya biji sawi lainnya bentuknya ya bulat-bulat berukuran kecil berwarna hitam bervariasi coklat merah karat atau kebiruan. Pada tanggal 30 Juli saya melihat biji-biji itu sudah mulai tumbuh. Senangnya hati saya.

Benih Caisim berdaun dua. Bentuk daunnya bergelombang. Pertumbuhannya sangat cepat. Dalam beberapa hari daunnya sudah menjadi 4 lembar. Saya pikir sekarang waktunya untuk memindahkannya ke dalam polybag.  Jika tidak saya pindahkan saya khawatir tanaman ini akan kurus karena harus hidup berhimpit-himpitan dan berebut makanan. Selain  itu  karena lahir dari biji yang ditabur di atas permukaan tanah di dalam pot, akarnya hanya sedikit di bawah permukaan tanah. Jadi saya pindahkan tanaman ini setahap demi setahap ke dalam kantong-kantong polybag.

Setiap hari Caisim ini saya siram. Dua kali sehari. Pagi-pagi sebelum saya berangkat ke kantor, dan malam hari setelah saya pulang ke kantor. Tanaman Caisim ini tumbuh makin hari makin besar. Dari empat lembar daun kini menjadi 5, 6, 7, 8 lembar. Makin hari ukuran daunnya makin besar.

Di sinilah persoalannya  mulai muncul. Saya kok tidak melihat ada batang seperti  pada batang yang umumnya kita temukan pada jenis Caisim Manis ya?  Saya coba tunggu. Tapi batang tiada kunjung keluar. Daun-daun sawi itu keluar dari pangkal batang yang sangat pendek, nyaris dari tempat yang sama. Membentuk roset. Jangan-jangan ini tanaman Caisim biasa. Bukan Caisim Manis. Tapi kenapa di kemasan biji yang saya beli itu ditulis Caisim Manis ya?  Tingkat kemurniannya menurut keterangan 98%.

Hingga di usia 25 hari. Batang yang saya pikirkan tetap tiada keluar. Apakah barangkali karena di tanam di polybag sehingga tanaman ini menjadi kurus dan batangnya tidak keluar ya? Tapi kalau melihat daunnya sih menurut saya cukup subur. Akhirnya masa 30 Hari Setelah Tanampun tiba. Harusnya saya sudah bisa memanennya sekarang. Bahkan sebenarnya sejak 5 hari sebelumnya.

Saya ingin memanen. Tapi saya urungkan niat saya karena 2 alasan. Pertama rasanya kok tidak tega memanen tanaman yang kelihatan hijau segar itu. Ingin rasanya menjadikannya sebagai tanaman hias saja. “Ibu, itu kaya memotong ayam peliharaan sendiri. Tidak tega” kata si Mbak. Ya, bener juga ya. selain itu saya masih penasaran dengan batang Caisim Manis yang seharusnya keluar tapi tidak muncul juga. Akhirnya saya beri waktu lagi untuk saya amati perkembangannya.

Hari ini hari ke 38. Saya pikir sudah cukup waktu yang saya berikan untuk Caisim Manis menunjukkan batangnya. Tapi tiada kunjung datang juga.  Ya sudahlah.  Barangkali memang ini tanaman Caisim biasa. Bukan Caisim manis seperti yang saya tahu. Atau barangkali saya yang salah pemahaman?Jangan-jangan sawi jenis ini yang disebut dengan Caisim Manis?  Entahlah.

Saya cederung berpikir produsennya kurang ketat dalam Quality Control. Tapi sudahlah. Daripada mencari-cari kesalahan orang lain,  lebih baik saya mulai panen saja hari ini.   Toh saya juga memang menyukai  jenis Caisim biasa begini. Hanya beberapa pohon yang saya panen, untuk keperluan sekali masak saja.  Masih banyak di polybag. Jika memang ini jenis yang ada batangnya, suatu saat nanti batangnya pasti akan muncul juga.

Yap. Kembali lagi ke tujuan awal saya. Bertani di perkotaan. Memanfaatkan halaman rumah yang sempit, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dapur sendiri. Jenis sayuran apapun tidak masalah.

Ayo kita galang semangat swadesi alias berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di dapur, dengan menanam sendiri tanaman-tanaman Dapur Hidup di halaman.

 

 

 

 

 

 

8 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s