Musibah Di Jalan Raya.

Standard

KecelakaanHari Rabu minggu yang lalu saya pulang agak malam dari kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Memasuki Jalan Daan Mogot, saya berhenti sebentar hendak membeli Jeruk di mobil pick-up yang parkir di pinggir jalan. Belum sempat memilih, tiba-tiba sebuah kecelakaan sepeda motor terjadi persis di depan mata saya. Sang pengendara terlempar keras ke trotoar. Penabraknya lari dengan kecepatan tinggi. Ulu hati saya seketika terasa nyeri melihat pemandangan itu. Tanpa berpikir panjang saya berlari menghampiri korban. Berusaha memeriksa keadaannya  dengan hanya dibantu cahaya kendaraan yang lewat, karena pinggir jalan cukup gelap. Syukurlah ia sadar dan bisa bangun lagi. Tangan, siku dan kakinya luka. Celana panjangnya sobek sepanjang kakinya. Kelihatannya ia bermasalah dengan leher, punggung dan bahunya karena kebentur trotoar. Saya tidak tahu seberapa parah, karena gelap. Tapi ia mengeluh kepala dan lehernya sakit. “Kalau tidak pakai helm, tidak tahu deh Bu, bagaimana jadinya kepala saya kebentur trotoar” katanya tetap bersyukur.

Saya pikir  saya harus membawanya ke rumah sakit terdekat.Tapi pria itu tidak mau. Ia merasa masih cukup kuat. Akhirnya saya tanya di mana rumahnya? Ia bilang di Kebon Nanas. Saya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, karena melihat motornya yang terlihat ringsek. Beberapa pemotor lain yang lewat berhenti dan bersimpati kepada korban. Semuanya menawarkan pertolongan. Semuanya tidak ada yang keberatan jika harus mengantar pulang atau ikut mendorong motornya hingga ke bengkel terdekat. Dari mereka saya tahu,bahwa sang penabrak itu memang sudah menunjukkan ugal-ugalan di jalan sejak awal. Zig Zag dan mengendarakan motor dengan super cepat. Ada beberapa pemotor lain yang marah mengejar penabrak itu. Tapi rupanya kalah cepat dari sang penabrak.

Seorang teman kantor yang melihat saya di sana, juga ikut berhenti.  “Kenapa Bu?” tanyanya khawatir. Saya lalu bercerita apa yang terjadi. Yang mengalami masalah bukan saya. Tapi pria di depan saya itu.

Karena korban tidak mau diantar ke rumah sakit, saya berusaha memberinya pertolongan pertama dengan membersihkan dan memberi obat luka-lukanya. Sangat beruntung ada obat merah di kendaraan saya. Dan teman saya juga kebetulan sedang membawa alkohol untuk membersihkan luka, perban dan plaster. Ada juga yang memberikan air mineral. Jadi lumayanlah kami bisa membantu menutup lukanya yang terbuka untuk sementara. Kelihatan ia masih sangat gemetar, dan menahan sakit. Beberapa orang motoris menyarankan ia segera melatih menggerak-gerakkan persendiannya agar tidak keburu kaku. Ia pun menurut. Setelah agak lama, ia  mulai terlihat agak tenang dan menguasai dirinya kembali. Ia bilang kalau motornya hidup, mungkin ia masih bisa pulang naik motor.

Coba di start tidak mau hidup. Dicoba lagi berkali-kali tetap tidak mau hidup.  Saya menyarankan agar ia menitipkan di pos Satpam terdekat. Tapi teman saya dan yang lain masih mencoba memperbaiki dan menyambung kabel-kabel motor itu. Yang lain mencoba membantu memberi cahaya dengan hape-nya. Setelah beberapa lama akhirnya motor berhasil hidup kembali.  Syukurlah. Saya merasa sangat terharu.  Ternyata sangat banyak orang peduli akan sesama yang mengalami musibah.

Pria itu lalu  mencoba kendaraannya. Setelah kelihatannya Ok ia pamit dan mengucapkan terimakasih. Kamipun bubar. Saya kembali ke tukang jeruk.

Musibah di jalan raya. Tidak seorangpun ingin mengalaminya.Tapi terkadang tidak bisa kita hindarkan juga. Kita sudah berusaha hati-hati, belum tentu  orang lain juga begitu. Ada saja yang urakan di jalan dan tidak perduli akan keselamatan dirinya sendiri serta keselamatan orang lain. Jadi mesti waspada dan selalu pastikan kita menggunakan perlindungan yang maksimal. Minimal pakai helm. Kalau bisa pakai pakaian yang tebal dan sepatu yang kuat.  Lumayan untuk menghindari kejadian yang lebih parah. Seperti korban kecelakaan yang saya lihat itu. Kepalanya terbentur di trotoar, tapi untungnya masih terlindung oleh helm. Setidaknya,  lukanya bisa berkurang.

Seorang teman lain yang mendengar cerita saya itu bertanya  “Ibu nggak apa-apa? Nggak dikeroyok orang? Hati-hati lho di Jakarta ini. Kadang-kadang menolong orang kecelakaan malah disangka kita yang nabrak. Apalagi jika masa melihat hanya mobil kita satu-satunya yang ada di situ. Bisa-bisa kita yang digebukin masa” katanya. Hmm… saya jadi mikir juga sedikit. Ya sih. Sebelumnya saya pernah juga mendengar cerita begitu. Tapi nggak juga  sih. Orang lain tahu kok kalau bukan saya yang menabrak. Saya hanya bermaksud menolong.

Sebelumnya saya juga pernah mendengar peringatan, agar  hati-hati menolong orang kecelakaan di Jakarta. Mengantarkan orang kecelakaan ke rumah sakit, maksud kita baik tapi  resikonya cukup merepotkan juga. Jika kita yang membawanya ke rumah sakit, terkadang pihak rumah sakit malah membebankan biaya pengobatan kepada kita yang membawanya ke sana. Hmm..masak sih? Saya tidak tahu kebenarannya. Saya pikir seharusnya setiap rumah sakit tentu punya dana x% yang disisihkan untuk membantu  memberi pertolongan orang-orang yang kena musibah seperti ini. Demi kemanusiaan.

Terus ada juga yang cerita, maksud kita menolong malah kita jadi repot dipanggil polisi sebagai saksi. O ya.. menurut saya itu memang bisa saja terjadi. Karena memang kita melihat kejadian itu. Tentu wajarlah kalau polisi memanggil kita menjadi saksi.

Menurut hemat saya, atas nama kemanusiaan apapun resikonya sebaiknya kita tetap perlu berusaha menolong orang lain yang sedang mengalami musibah. Tentu saja sedapatnya kita. Karena  jika semua orang takut dan khawatir membantu orang lain, tentu kasihan sekali para korban kecelakaan itu. Bisa jadi telat mendapatkan pertolongan. Dan jika parah tentu fatal akibatnya.  Syukurnya yang saya lihat tidak begitu. Faktanya kejadian malam itu, banyak kok warga Jabodetabek yang masih peduli sesama. Banyak yang menyatakan kesediaannya untuk menolong. Semoga tetap seperti itu seterusnya.

 

 

8 responses »

  1. Betul banget Mbak Dani, mestinya demi nama kemanusiaan kita tetep harus menolong apapun resikonya termasuk ketika dimintai bertanggung jawab membayar biaya pengobatan. Saya yakin maksud baik menolong korban kecelakaan pasti akan dibantu sama Tuhan. Pelaku yang nabrak parah banget ya Mbak…

  2. Jadi terharu baca kisahnya mbak… ternyata orang baik masih banyak ya d Indonesia ini, semoga terus begitu dan akan semakin mningkat rasa kepeduliannya. Jangan sampai karena takut ini itu malah enggan menolong org yg sedang membutuhkan :))

  3. Kalo niat baik menolong saya pikir pasti baik juga akhirnya. Banyak yang mau menolong. Ternyata jiwa menolong masih kita miliki.
    Saya juga ditolong orang dan teman sewaktu kecelakaan menimpa beberapa tahun lalu. Saya dibawa ke klinik terdekat, kebetulan ada dokternya, sehingga luka menganga di permukaan kaki saya cepat dijahit, 16 jahitan untuk menutupnya.

    • Fey, aku juga sering denger itu. Adek aku pernah koq niatnya mau nolong akhirnya kita harus bayar rumah sakit, polisi dll. Jadinya rada2 males mau nolongin kalau kecelakaan di rumah sakit. Kejadiannya baru2 aja, sekitar 6 bulan lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s