Urban Farming: Belajar Bertanam Hidroponik.

Standard

Trial & Error. Percobaan Yang Belum Sukses  Juga.

Hydroponik 1Di toko Trubus saya melihat ada instalasi Hidroponik ditawarkan. Ukurannya 1 x 1 meter. Dilengkapi dengan bibit tanaman dan pupuk. Harganya 3.5 juta. Mahal tidak ya? Saya sangat tertarik. Suami saya mengatakan  gampang dan murah jika membuat sendiri instalasi itu. “Paralon murah. Yang mahal paling hanya pompa airnya saja” katanya. Dan ia berjanji akhir pekan akan membuatkannya untuk saya.

Akhir pekan berlalu, suami saya rupanya terlalu sibuk  dan benar-benar tak sempat memenuhi janjinya.  Apa boleh buat. Akhirnya saya memanggil tukang bangunan yang biasa memperbaiki atap bocor atau masalah lain di rumah untuk membuatkan instalasi hidroponik. Saya mengajaknya pergi ke Toko Bahan Bangunan * Semangat baja*. Ngapain? Ya membeli paralon dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk membuat instalasi air itu. Ya… kelihatannya memang jauh lebih murah kalau buat sendiri.  Pak Tukangpun mulai mengukur-ukur dan memotong.

Sementara tukang mulai bekerja, saya pergi ke Toko Aquarium membeli pompa air.  Pemilik toko Aquarium memberi saya informasi, pompa yang paling banyak digunakan orang untuk Hidroponik adalah yang 38 watt. Kalau 25 watt terlalu kecil. Banyak yang sudah membeli, tidak puas dan ingin mengembalikan -tapi tentunya pihak toko tidak mau terima kembali. Karena takut salah, akhirnya saya membeli yang sesuai dengan advise tukang Aquarium sajalah. Harganya tidak sampai Rp 300 ribu. Setelah itu berikutnya lalu membeli ember besar buat wadah air.  Nah..sekarang tinggal menunggu tukang selesai bekerja.

Keberatan beban.

Pak tukang membuat instalasi berukuran 1meter x 1.5 meter. Tidak bertingkat. Flat. Satu lantai saja. Karena ini baru belajar, saya tidak ingin membuatnya complicated dulu.

Terdiri atas 11 batang paralon 1 meter masing-masing dilengkapi dengan 6 buah lubang tanam. Jadi totalnya ada 66 buah lubang tanam. Pipa-pipa paralon disambungkan. Diletakkan di atas tiang penyangga yang terbuat dari paralon berdiameter lebih kecil.  System pemasukan air dengan slang dan pembuangan kembali ke ember pun diatur. Pompa sudah dipasang. Sempat terjadi kebocoran di selang-selang kecil di tiap batang paralon tapi kemudian bisa diatasi denga lem. Sekarang instalasi Hydroponik siap digunakan.

Saya membeli media tanam dan pupuk khusus Hidroponik.  Karena rockwool mahal dan stocknya sedang tidak ada, saya disarankan menggunakan Sekam Bakar saja untuk media tanam.  Saya punya bibit Caisim manis dan Pakcoy yang saya tempatkan di wadah gelas plastik air mineral yang dilubangi agar air dan pupuk bisa keluar masuk. Begitu semua tanaman diletakkan di lubang tanam, pompa air dinyalakan. Tak berapa lama tiba-tiba paralon penyangga  agak meleot pada bagian tengahnya. Bocor dan banjir lagi. Hyaaa!!!!.

Rupanya keberatan beban air. 50 liter air dipompakan ke atas, plus sekam. Tidak mampu disangga dengan baik. Hitungan matematikanya dapat score 0 besar. Untung tidak sedang Ujian Nasional. Ha ha ha.  Terpaksalah masing-masing diberi tambahan paralon lagi untuk menyangga agar lebih kuat.

Daun Yang Kuning Muda.

Hari-hari berlalu. Saya menambahkan pupuk Hidroponik A+B ke dalam ember. Tanaman tumbuh dengan cukup baik.  Tapi lama-lama kok daunnya menjadi pucat kuning muda warnanya. Klorofilnya mana? Whuaaaa…! Saya salah meletakkan instalasi hidroponik itu. Di tempat yang kurang sinar matahari. Mana bagian atasnya tertutup pula. Padahal harusnya kena paparan sinar matahari minimal 4 jam sehari ya?. Mengapa kebodohan seperti ini bisa saya lakukan ya? (*garuk-garuk kepala).

Sudahlah. Tak usah meratapi nasib. Segera perbaiki kesalahan. Akhirnya dengan meminta tolong orang-orang di rumah, saya menggotong instalasi air itu  ke tempat yang memungkinkan buat tanaman ini bisa terpapar sinar matahari pagi. Beberapa hari kemudian sebagian daun-daun tanaman sayuran itu mulai ada yang membaik. Level klorofilnya meningkat. Sekarang mulai sedikit menghijau. Walaupun belum royo-royo.

Aliran Air Mampet.

Ujian rupanya tidak cukup sampai di sini. Sekarang saya menghadapi masalah baru.  Aliran air kurang lancar. Penyebabnya Sekam Bakar yang dijadikan sebagai media tanam, keluar dari gelas plastik. Barangkali karena lubangnya kebesaran. Sekam lalu dihanyutkan air dan membuat pompa macet. Pompa harus dibersihkan berkali-kali. Bukan saja merepotkan tetapi juga membuat pertumbuhan tanaman terganggu. Waduuh!. Mungkin saya harus mengganti gelas-gelas plastik ini dengan yang baru, dengan lubang-lubang yang lebih kecil.

Hydroponik 13Pilihan lainnya adalah mencari pengganti media tanam. Kembali saya berkonsultasi ke Trubus. Jika tidak ada rockwool, apalagi media alternatif yang bisa saya pakai?  Sesuatu yang berserat dan porous. Yang penting bisa menyimpan air lebih banyak dan memungkinkan akar bisa tembus. Barangkali serabut kelapa. Tapi di mana saya mencari serabut kelapa?  Aha! Akhirnya saya terpikir akan Dacron.

Bagaimana dengan Dacron? Bukankah Dacron juga porous dan bisa menyimpan banyak air?. Dacron adalah sejenis bahan sintetis mirip kapas yang biasanya digunakan untuk mengisi  bantal, guling, boneka, bed cover atau kerajinan quilting. Saya ada menyimpan sedikit Dacron juga di rumah.  “Coba aja Bu” kata orang Trubus.

Dacron ini tidak akan terbawa arus air. Harapan saya dengan mengganti sekam bakar dengan dacron, air akan menjadi lebih bersih tanpa residu.

Kemarin saya coba mengganti media sebagian dari tanaman itu dengan Dacron. Untuk percobaan saja dulu. Jika tanaman tidak layu dan bisa survive, akan saya lanjutkan kemudian pada tanaman berikutnya. Dalam sehari masih belum kelihatan hasilnya. Tanaman kelihatan kurang segar, tapi tidak layu.

Belum sukses -sukses juga. Banyak kekurangan. Trial & error.

Saya melirik tanaman yang di polybag. Kelihatan jauh lebih segar dan lebih cepat tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Pantang berputus asa.  Tetap semangat dan berusaha terus memperbaikinya.  Semoga kali ini saya berhasil dengan lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9 responses »

  1. Coba ibu tunggu beberapa minggu apakah daun yang baru tetap berwarna hijau kuning. Kalau ya mungkin dosis pupuk kebanyakan. Coba nanti saat awal nanam g usah pakai pupuk dulu. Atau mungkin ibu ganti semuanya dengan bibit baru. Kalau eman2 bisa 3/4 gelas ganti dengan bibit baru. Kalau g berhasil juga coba ganti dengan jenis yang lain.
    Apa memang harus pake pompa bu? Kalau fungsinya hanya untuk memasukkan air ke instalasi sih pakai kran juga bisa. Atau ibu ciduk sehari 3/4 ciduk kan lama-lama penuh juga, soalnya kan penguapannya g tinggi, terhalang media paralon dan gelas. Jadi g perlu ganti sekam. Oh ya saya juga mengingatkan, kalau trial ibu gagal, tolong semuanya dicycle atau diuse lagi ya bu, utamanya yang berbahan plastik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s