Tidak Disiplin.

Standard

kakiSeorang teman dari Bali sedang ada di Jakarta. Ia menghubungi saya dan mengajak ketemuan. Sayang sekali saya tidak bisa. Kemudian anak saya ingin menonton AFAID 2015, pameran Anime di Kemayoran. Lagi-lagi saya tidak bisa. Terpaksa meminta tolong keponakan untuk menemani mereka ke sana. Penyebabnya?

Bulan April yang lalu saya pernah bercerita di sini tentang kaki saya yang keseleo. Rasanya sungguh tidak enak. Sakit. Untungnya saat itu saya ditolong oleh Pak Bayu, seorang tukang urut di Bantul, sehingga  saya bisa berjalan normal kembali. Namun sayangnya, belakangan ini sakit di kaki saya kambuh lagi. Saya kurang tahu persis penyebabnya.

Barangkali gara-gara saya turun dari kendaraan agak terburu-buru. Atau barangkali karena berat badan saya yang melewati standard. Saya sendiri sudah berusaha mengantisipasi. Sudah lama saya meninggalkan sepatu jenis stiletto. Bahkan wedges pun sudah jarang saya gunakan. Sehari-hari saya hanya menggunakan sepatu ringan ber-hak datar. Bahkan untuk menghadiri beberapa acara resmi pun saya tetap menggunakan sepatu datar. Walau teman-teman saya banyak juga yang protes “Bu!. Pakai sepatu yang hak-nya lebih tinggi sedikit dong, Bu! Masak ngasih sambutan ke audience pake sepatu datar. Kok ya..rasanya kurang nyambung” pernah seorang teman memberi saran.Teman yang lain bahkan pernah rela menukar dan meminjamkan sepatunya yang ber-hak tinggi untuk saya. Tapi saya tetap memilih menggunakan sepatu datar. Karena rasa sakit yang amat sangat itu. Persis di tempat yang sama saat keseleo.

Kaki kiri saya benar-benar tidak bisa digunakan untuk bertumpu. Juga tidak nyaman jika dibiarkan menggelayut saat duduk. Jadi, walaupun hanya kaki yang sakit, tapi  gerakan saya menjadi sangat terbatas. Jam kehidupan saya serasa beku. Hidup saya jadi sangat pasif. Saya enggan melakukan aktifitas apapun. Saya tidak ke kantor. Saya tidak menulis. Saya tidak mengurus tanaman. Tidak melakukan hal-hal yang biasanya saya senang lakukan dengan riang gembira. Bahkan untuk turun dari tempat tidurpun terasa berat.

Akhirnya saya memutuskan untuk menemui tukang urut tak jauh dari rumah, yang biasa menangani kaki orang terkilir. Jawabannya sangat jelas. “Banyak yang begini. Sakitnya kambuh di tempat yang sama. Biasanya karena tidak disiplin. Kalau disuruh istirahat, harusnya istirahat saja dulu di tempat tidur. Dikompres air dingin dan kakinya diangkat tinggi-tinggi. Jangan dipaksa dibawa jalan. Kalau sudah begini jadi lebih repot” katanya.  Saya tidak berkata apa-apa. Diam-diam mengakui apa yang dikatakannya. Sejak pertama kali keseleo, sebenarnya saya memang tidak pernah mengistirahatkan kaki saya. Saya tetap berjalan. Karena saya pikir rasa sakitnya sudah berkurang. Dan bahkan seminggu setelah keseleo saya  masih sempat bermain ke Gunung Bromo.

Sambil menahan sakit saat diurut oleh Pak Tukang Urut, saya memikirkan diri saya sendiri. Yah.. mungkin ini memang ganjarannya bagi orang yang tidak disiplin. Ada Sebab, ada Akibat. Kalau orang Bali bilang itu salah satu bentuk hukum Karmapala. Ada Karma, Ada Pahala.  Hukum Semesta yang berlaku tidak hanya untuk kehidupan yang berada di permukaan bumi saja, namun juga berlaku di semua galaxy dan seantero semesta raya. Apa yang engkau perbuat, itulah yang kelak akan engkau tuai. Perbuatan baik akan selalu menghasilkan kebahagiaan. Sebaliknya perbuatan buruk akan selalu menghasilkan penderitaan. Jika tidak dibayar dalam kehidupan ini, barangkali suatu saat akan dibayar di phase kehidupan berikutnya.

Nah… diluar apa yang ditanamkan keras oleh orang tua kita seperti “jangan mencuri!, jangan menipu!, jangan memfitnah!, jangan membunuh!, jangan menyakiti!, jangan korupsi!, jangan berkhianat!, jangan mabok!, jangan serakah!,….dst banyak jangan..! dan jangan…! yang lainnya lagi” karena semua itu adalah perbuatan yang tidak baik, ketidak-displinan tentu saja termasuk salah satu perbuatan yang kurang baik. Perbuatan kurang baik yang tentunya akan  menghasilkan akibat yang kurang baik juga. Disebabkan oleh ketidakdisplinan mengistirahatkan kaki,  ya…akibatnya  saya harus menerima jika kaki saya jadi sakit seperti ini.

Selain itu, sebenarnya agak tidak fair juga perbuatan saya yang kurang disiplin ini terhadap orang lain (tukang urut/dokter) yang sudah berusaha membantu. Bagimana mungkin saya mengharapkan orang lain membantu saya, sementara saya sendiri kurang berusaha membantu diri sendiri.  Tukang urut ataupun dokter mungkin saja bisa membantu, namun jika saya sendiri tidak disiplin dan malah melakukan hal-hal yang memperberat kesembuhan kaki saya, tentu kesembuhan tidak akan pernah terjadi. Kalaupun terjadi, sifatnya hanya sementara dan itu hanya berkat jasa para pelaku medik dan sama sekali tidak atas jasa diri saya sendiri.  Malu juga sih memikirkan ini.

Kesembuhan yang sesungguhnya akan terjadi, hanya jika diri kita sendiri sebagai pasien yang juga berusaha keras mendisiplinkan diri  untuk melakukan hal-hal yang harusnya dilakukan jika kita benar-benar ingin sehat.

Jadi…. sebenarnya jawaban atas semua yang kita alami itu ada di dalam diri kita sendiri.

 

 

 

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s