Urban Farming: Bayam – Berpacu Dengan Ulat.

Standard

bayam 3Berkebun sayuran,  rasanya tidak lengkap jika tidak menanam Bayam.  Bayam (Amaranthus sp) adalah sayuran daun yang barangkali menempati ranking ke dua yang saya sukai setelah kangkung. Mungkin karena bayam ini sering dijadikan campuran Jukut Kables /pelecing, Tipat Santok (sejenis Gado-Gado ala Bali) ataupun Urab Bali yang sering saya makan semasa kecil. Itu sebab mengapasaya jadi suka bayam.

Jadi, bayam sudah pasti perlu saya tanam sebagai bagian dari proggram “Dapur Hidup” saya.  Mengingat lahan yang sempit, tentu saja jumlahnya sangat terbatas ya. Cuma beberapa polybag saja. Tapi jika nanti panen, cukuplah kira-kira buat sekali masak.

Bayam ini saya semai dari bijinya yang sangat kecil-kecil sekecil telor kutu. Cukup cepat tumbuhnya. Hampir berimbanglah dengan kecepatan tumbuh biji jenis sawi-sawian. Setelah tumbuh dipersemaian, begitu daunnya mulai berjumlah 4 lembar, saya mulai memindahkannya ke polybag satu per satu. Tak berapa lama, tumbuh dan berkembanglah tanaman itu.

????????????

Ulat kecil di balik daun bayam.

Sejak niat bertani sayuran (maksudnya di halaman), saya memutuskan untuk tidak menggunakan pestisida sama sekali. Hidup lebih sehat dengan sayuran tanpa pestisida, bukan? Akibatnya, setiap bangun pagi saya perlu melototin daun-daun tanaman kesayangan saya agar jangan sampai dimakan ulat atau diserang kutu putih. Memang agak susah sih. Karena jika halaman rumah penuh tanaman, dengan sendirinya akan mengundang kupu-kupu datang untuk sekedar singgah atau bahkan diam-diam bertelor di balik daun tanaman kita. Itulah yang terjadi dengan tanaman bayam saya.

Yang namanya bayam, daunnya sangat empuk. Tentu sangat menggiurkan bagi para ulat. Rasanya kok saya jadi balapan ya, cepat-cepatan dengan ulat. Siapa yang duluan bisa memakani daun empuk dan lezat hijau royo-royo ini. Saya atau ulat? Waduuuh!. Sebenarnya bayam-bayamini belum cukup besar untuk dipanen.Jadi sayang rasanya  jika gara-gara ulat,  sayuran ini saya panen sebelum waktunya.  Jadi untuk tahap awal saya coba tanggulangi dengan hanya menggunting daun-daun yang rombeng akibat gigitan ulat itu. Berharap sekalian ulatnya juga nangkring di daun yang saya potong itu.

Bayam 5Walaupun semua daun daun yang rombeng sudah saya gunting dan buang, eh..seminggunya kemudian masih ada lagi daun di tanaman bayam lain yang berlubang-lubang digerogoti ulat.  Saya mulai memeriksa tanaman itu satu per satu. Daunnya helai demi helai. Memang ada beberapa ekor ulat kecil berwarna hijau yang bersembunyi di balik daun-daun bayam itu. Entah ada kupu-kupu lain lagi yang bertandang saat saya sedang tidak di rumah, atau kah seekor dua ekor sisa ulat minggu lalu ada yang berhasil sembunyi di bawah daun-daun bayam. Wah..kalau saya biarkan, lama-lama bisa habis deh daun bayam saya.

Apa boleh buat, sekarang saya tidak punya pilihan.Terpaksa adu cepat dengan ulat. Ambil gunting, lalu saya panenlah daun-daun bayam itu. Lumayan dapat seikat. Saya rasa cukup untuk sekali masak tumis bayam. Rupanya ada sebatang bayam yang memiliki daun rombeng yang ikut serta. Anak saya protes. “Tenang! Daun sayuran yang rombeng digerogoti ulat menandakan bahwa sayuran itu tidak terkontaminasi pestisida” kata saya, sambil melihat-lihat dan memastikan tidak ada seekor ulatpun terbawa serta ke dalam wajan.

Happy gardening!

 

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s