Monthly Archives: October 2015

Urban Farming: Tomat Cherry Kampung Yang Terabaikan.

Standard

 

wpid-20151031_091514.jpgSalah satu tanaman yang menarik hati untuk saya tanam di halaman rumah saya yang sempit adalah Tomat Cherry. Tomat Cherry yang saya maksudkan ini bukan yang biasa kita temui di Supermarket ataupun di toko toko buah lho. Tapi Tomat Cherry yang biasa kita temukan liar dan terbuang di kampung. Mengapa terbuang? Karena dengan diameter 2-3mm, tomat ini terlalu kecil dan dianggap tidak punya nilai ekonomi. Jadi biasanya diabaikan saja oleh para petani yang biasanya menanam tomat dengan ukuran minimal segede telor ayam atau bahkan lebih besar dari telapak tangan.

Nah tomat jenis ini kalau di kampung saya di Bali disebut dengan Tomat Grongseng. Dan kalau di kampung saya di tepi danau Batur, tomat imut-imut ini disebut dengan Gereng-Gerengan. Di masa kecil saya sering menjadikannya mainan karena mirip kelereng.
Selain  itu rasa tomat ini juga agak lebih asam dibanding tomat buah. Jadi mungkin lebih cocok jika dibuat sambal. Tapi buat saya tanaman yang buahnya bulat ini sangat menarik tampilannya. Dan tentunya menarik untuk di tanam di halaman. Saya pikir masih cukup enak juga dijadikan salad.

Saya mendapatkan bibit tanaman ini dari desa Cikidang di Sukabumi, berupa buah matang dari sebuah tanaman terlantar di bawah pohon pisang yang tak seorangpun perduli. Saya ambil buahnya yang tua dan saya jadikan bibit. Ada banyak sekali bibit tanaman yang tumbuh tapi sayangnya halaman saya yang sempit tidak cukup untuk menampung semuanya. Akhirnya hanya beberapa saja yang saja tanam.  Ada yang di pot dekat tembok pagar ada juga yang hanya saya tanam di polybag. Senang rasanya melihat tanaman ini tumbuh, lalu berbunga dan berbuah. Mulai dari butir kecil berwarna hijau, lalu membesar dan kemudian memiliki semburat pigment kuning, jingga lalu merah ranum. Tidak terlalu banyak masalah saat nenumbuhkannya. Walaupun ada sedikit gangguan serangan kutu putih, tapi saya atasi secara manual. Karena saya berkomitment  tidak menggunakan pestisida untuk semua tanaman di pekarangan rumah saya.

 

Hampir tiga bulan kemudian, pohon Tomat Cherry di halaman saya sudah berbuah dan mulai ranum satu per satu. Hati saya sangat senang. Saya pikir mulai hari ini dan berikutnya saya mulai bisa memanfaatkan buah tanaman ini untuk keperluan dapur. Ini termasuk salah satu upaya saya melanjutkan proggram “Dapur Hidup”.

Yuk kita bertanam sayuran di halaman!

Cerita Tentang Sebuah Troley.

Standard

wpid-2015-10-26-07.07.52.jpg.jpegSaya dan teman- teman baru pulang dari Yogyakarta. Sudah malam. Membaca di pengumuman, bagasi akan bisa diambil di belt 11. Saya ke sana. Di belt 11, petugas menginformasikan bahwa bagasi dari Yogya dipindahkan ke belt 9. Saya mendorong troley saya ke belt 9. Penuh sekali ya. Susah mendorong troley ini masuk mendekati koper-koper yang bergerak berkeliling itu. Karena penuh sesak dengan orang.

Akhirnya kami berbagi tugas. Teman saya yang mengambil bagasi, sementara saya menunggu troley. Lama sekali. Saya rasa tempat pengambilan bagasi di belt 9 ini terlalu penuh. Ada 4 penerbangan yang menyalurkan bagasinya di sini. Bagaimana nggak lama ya…

Baru dapat 1 koper milik teman saya saja, eh petugas mengumumkan lagi kalau bagasi pesawat yg saya tumpangi dipindahkan ke jalur 11 lagi. Waduuuh…

Saya mendorong troley saya ke jalur 11 lagi dan memarkirnya dengan moncong tegak lurus tepat di depan belt. Maksudnya untuk memudahkan kami memindahkan koper langsung ke troley.
Malam itu bandara memang penuh
sekali. Orang orang berkerumun di sekitar tempat pengambilan bagasi. Seorang pria setengah baya berdiri di sebelah saya. Menunggu bagasinya yang belum kunjung tiba juga. Mungkin karena kelelahan berdiri, bapak itu akhirnya duduk di troleynya yang sudah berisi 1 koper.  Barangkali ia ambil dari jalur 9 sebelumnya. Sama seperti saya.

Saya masih berdiri dan memusatkan pandangan ke ban berjalan menunggu kedatangan koper saya.  Tiba tiba,  “Gubruuaaaaakkk!!!!”. Saya menoleh. Bapak yang duduk di troley itu jatuh terpelanting dari troleynya. Orang-orang kaget dan melihat ke arah Bapak itu yang sekarang berusaha bangun dari lantai. Beliau berusaha menggapai dasar troley dan menjadikannya tumpuan untuk bangkit. Karena ditekan,  troley yang sudah berbeban sebuah koper itu bergerak menjauh dan gedubraaaaak…!!!!.

Bapak itu jatuh lagi. Tangannya menggapai-gapai. Berusaha keras untuk bangkit. Saya mendekat. Berniat membantu. Tapi belum kesampaian niat saya…. Gedubrakkkk!   Bapak itu jatuh lagi untuk ketiga kalinya. Rupanya troley yang dipakai tumpuan berdiri oleh Bapak itu  bergerak lagi karena terdorong oleh tangan kanannya yang berusaha  menekan troley. Akibatnya si bapak terpelanting.

Saya dan seorang Bapak lain di dekatnya membantu menarik tangannya. Syukurlah akhirnya beliau bisa berdiri kembali. Bapak itu kelihatan malu. Wajahnya merah. Barangkali karena semua mata orang di sekitar sana tertuju kepadanya. Sayapun segera melepaskan pegangan tangan saya pada Bapak itu.

Saya kembali memfokuskan pandangan mata saya ke tempat bagasi sambil memikirkan  apa yang barusan terjadi. Jatuh seperti itu dengan punggung menghantam troley tentu sangat sakit. Semoga tidak ada cedera yang serius.

Mengapa Bapak itu bisa jatuh terpelanting sampai 3x?  Seharusnya ia bisa bangkit kembali dengan baik.

Saya pikir masalah utamanya adalah karena saat ingin bangkit Bapak itu berusaha berpegangan kuat pada troley. Sedangkan troley itu sendiri memiliki roda. Sangat mudah bergerak. Apalagi jika ditekan. Jadi posisinya tidak ‘firm’. Ia bergerak sesuai dengan gaya yang mendorongnya. Ketika Bapak itu mencoba bangkit dengan bertumpu pada troley, maka seketika troley itu mendapatkan gaya dorong dan bergerak. Tentu saja tak bisa dihandalkan lagi sebagai tumpuan untuk bangun.  Demikian  juga yang berikutnya. Bapak itu melakukan kesalahan lagi dengan bertumpu pada troley yang tidak stabil.

Saya masih memikirkan kejadian itu sampai di dekat tempat parkir. Untuk bisa bangkit dengan baik kita perlu bertumpu pada sesuatu yang lebih ‘firm’ dan kuat. Lebih stabil dari sekedar troley yang bergerak. Misalnya pagar besi, tembok atau batang kayu yang kokoh tertancap. Atau seseorang yang berdiri di dekat kita. Jika tidak ada, gunakan lantai tempat kita berpijak sebagai tumpuan. Itu jauh lebih baik dan pasti.  Hmmmm….menarik juga untuk direnungkan.

Sekali lagi saya menemukan sebuah pengingat bagi diri saya sendiri yang saya dapatkan dari kejadian sekitar. “Jangan pernah bertumpu pada sesuatu yang goyah”. Bukankah hal yang serupa juga berlaku dalam kehidupan kita?

Dalam menjalani kehidupan,  tentunya kitapun pernah mengalami saat-saat jatuh dan terpuruk. Entah itu kejatuhan secara finansial, kejatuhan karir ataupun kejatuhan secara mental sosial lainnya. Saat demikian, kita pun  berusaha menggapai sesuatu atau seseorang yang barangkali bisa membantu, guna kita jadikan tumpuan untuk bangkit kembali.

Namun sama seperti kasus troley tadi, kita membutuhkan tumpuan yang kuat dan tidak goyah. Jika tumpuan kita tidak kuat, bisa-bisa kita jatuh kembali berulangkali. Dan lebib parah lagi bahkan tumpuan kitapun bisa jadi ikut pula jatuh bersama kita.

Jadi jangan pernah mengandalkan sesuatu yang tidak pasti. Carilah pegangan yang lebih kokoh dan tidak mudah goyah.

Jikapun apes-apesnya tidak ada tumpuan yang cukup kuat di sekitar kita,  barangkali jalan terbaik adalah bertumpu pada dasar keyakinan kita sendiri daripada mengandalkan sesuatu yang lemah dan labil.

Drama Pagi.

Standard

Seekor semut sedang mencari makan di sari bunga Melati Air (Echinodorus palaefolius) di halaman rumah. Saya menonton kelakuannya dengan sangat takjub.

Rupanya ada beberapa ekor. Tersebar di 18 kuntum bunga tanaman air yg mekar pagi ini. Sibuk sekali mereka bekerja. Tidak heran jika orang orang menggunakannya sebagai symbol pekerja keras.

Beberapa waktu kemudian,  seekor tawon kecil datang, diikuti teman-temannya. Mereka ikut mencari makan di kuntum-kuntum bunga melati air yang bermekaran. Waah….ramenya!.
Saya menonton. Keramaian itu sekarang memicu persaingan. Kelihatannya sekarang para semut pencari nektar itu mengalah dan minggir. Mereka bersembunyi dibalik benang sari dan kelopak bunga. Hanya saat sang tawon pergi, terbang je kuntum bunga yang lain si semut berani keluar lagi. Tetapi ia tetap bekerja lagi.

Sang tawon berjaya dalam persaingan ini. Tentu saja, karena tawon itu memiliki sayap sehingga ia bisa terbang berpindah -pindah dari satu kuntum ke kuntum bunga yang lainnya. Jafi ua busa mendapatkan nektar dengan lebih cepat dibanding semut yang hanya berjalan kaki. Ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh si semut. Yaitu sayap. Saya masih tetap setia nenonton.

Tak seberapa lama, seekor lebah yang ukurannya lebih besar dari tawon kecil datang. Suaranya berdengung membuat semut ketakutan. Gerakannya yang gesit dan perkasa melibas setiap tawon kecil yang berani menghalanginya.
Hyiaaaaa…! Perseteruan  makin memanas. Lebah menggasak semua nektar yang ada. Terbang dan mengambil dari setiap kuntum yang mekar. Persaingan semakin sulit!. Tawon tawon kecil itu bubar. Tidak tahan akan kekasaran prilaku lebah.

Saya terhenyak. Persaingan!. Terkadang dunia ini kelihatan tidak adil.
Yang bermodal besar mengalahkan mereka yang bermodal kecil. Yang kuat mengalahkan mereka yang lemah. Yang cepat mengalahkan mereka yang lambat.
Saya tetap setia menonton drama pagi itu….

Setelah sekian lama….akhirnya lebah itu pergi dengan membawa kerakusannya. Tawon tawon kecil itu juga telah terbang entah kemana. Yang tinggal hanya semut-semut kecil itu. Ia tetap setia bekerja di sana. Mengumpulkan sisa sisa nektar yang masih ada. Sedikit demi sedikit. Ia ambil sejumlah yang bisa ia bawa. Lalu ia kumpulkan sebagai persediaan untuk musim paceklik. Perlahan lahan. Tapi pasti.
Kesetiaan pada usaha, sampai berhasil. Walaupun ada banyak tekanan dan persaingan. Itulah yang membedakan semut dengan tawon kecil.

Perseverance!. Membantu kita tetap berhasil bahkan dalam keadaan sulit.

Cuci Mata: Tas Renda Cantik Dari Yogyakarta.

Standard

Pikiran positive akan selalu menghasilkan hal yang positive“.

*****

Tas Crochet 7

Dalam perjalanan ke Yogyakarta, teman duduk di sebelah saya bercerita “Bu, sekarang yang lagi happening banget  di Yogyakarta itu tas renda, Bu. Nanti kalau ada waktu saya pengen mampir melihat-lihat tas untuk istri saya” katanya.  Sebagai seorang penggemar karya-karya kerajinan crochet, saya jadi tertarik untuk mengekor teman saya itu ikut melihat-lihat tas crochet yang dimaksud.  Lebih baik petang ini saja selagi bukan jam kantor. Akhirnya berangkatlah kami menuju workshopnya di Jl Deresan I no 5, Yogyakarta.

Wah.. senangnya berkunjung ke workshop itu ya seperti ini. Ada banyak produk yang baru saja selesai atau bahkan yang masih belum jadi.  Berbagai macam model. Ada  yang bentuknya persegi, ada yang seperti box, ada yang setengah lingkaran. Ada yang tali panjang, tali pendek. Ada yang besar ada yang kecil. Berbagai macam warna. Ada yang hitam,  coklat tua, beige, biru, hijau,ungu, belang-belang dan sebagainya. Demikian juga motif crochet-nya. Berbagai rupa.  Whuaaa!!!! Saya senang sekali. Dan pastinya… harganya pun lebih miring dibanding jiia kita beli di boutique resmi  di hotel.

Saya sendiri tertarik untuk membeli tas yang modelnya lebih firm, dengan rusuk-rusuk yang kuat. Sudah ketemu sih sebenarnya. Ada 2-3 alternative dan sudah sempat saya foto-foto. Tetapi kemudian ketika melihat tas lain dengan lapis dalam berbahan suede, entah kenapa saya jadi mulai galau dan bingung memilih. Kadang-kadang kalau kebanyakan pilihan, kita malah jadi bingung sendiri. Semuanya bagus. Ha ha..

Dibalik semua karya-karya crochet yang bagus itu, sebenarnya saya lebih tertarik lagi dengan semangat dua orang wanita dibalik brand tas crochet yang bernama TULIP ini, yaitu Mbak Linda dan Mbak Tutut.   Kebetulan keduanya saat itu sedang ada di workshop. Jadi kesempatan banget deh buat saya ngobrol dengan mereka berdua.

Mbak Tutut & Mbak Linda dari TULIP tas rajut

Saya baru tahu kalau ternyata nama TULIP itu sendiri adalah gabungan nama dari 2 orang wanita kreatif itu, yakni singkatan dari “TUtut & LInda Production”.  Owalaaa….keren banget!.

Saya jadi penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa memulai bisnisnya berdua?

Mbak Linda bercerita kalau pada awalnya mereka adalah Ibu Rumah Tangga biasa yang berteman gara-gara bertemu saat mengantar dan menunggu anak-anak mereka di Sekolah. Dari sini mereka menjadi bersahabat. Daripada mengisi waktu dengan ngerumpi yang kurang produktif atau menjadikan pertemuan ibu-ibu sebagai ajang pamer kekayaan, mereka memutuskan untuk mengisi persahabatannya dengan sesuatu yang positive. Merekapun mulai membuat batik  dan menggunakannya sendiri. Eh..ternyata para ibu-ibu yang lain pada menyukainya dan memesan. Lalu selanjutnya mereka mencoba membuat tas. Ibu-Ibu yang lainpun menyukainya juga. Lalu rame-rame memesan. Demikian seterusnya mereka memproduksi tas rajut/renda dan dompet, selain juga tas/dompet yang berbahan kulit dan berbahan kain batik.  Memasarkannya dari mulut ke mulut. Bahkan ketika anak-anak sudah tidak sekolah lagi di sana, mereka meneruskan kegiatannya dan mendirikan usaha dengan merk TULIP ini. Wah…luarbiasa!. Positive banget.  Saya sangat terkesan.

Lalu apa bedanya dengan tas rajut merk lain yang ada di kota itu? Mereka memiliki koleksi dengan design -design bagus yang mereka rancang sendiri. Bahkan saat saya di sana, saya juga dipersilakan misalnya jika ingin memesan dengan motif yang begini tapi design yang begitu juga boleh (tentunya perlu beberapa hari ya untuk mengerjakannya). Mereka juga menyediakan tas-tas dengan handle berbahan kulit asli dengan lapisan dalam suede yang berbeda dengan pengrajin lainnya  karena kebanyakan pengrajin menggunakan bahan plastik sebagai handle-nya.

 

Yang jelas, karya ke dua Ibu-Ibu muda ini telah berhasil memperkaya kota Yogyakarta dengan memberikan option lain bagi pengunjung yang ingin mencari oleh-oleh ataupun kerajinan khas Yogyakarta yang bermutu bagus, selain batik, gudeg, bakpia ataupun wingko.  Dan tentunya itu sangat penting bagi kota Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Saya rasa apa yang dilakukan oleh kedua wanita ini juga bisa memberi inspirasi bagi kita, para wanita agar lebih positive dalam menjalani hidup. Lebih kreatif dan tentunya lebih produktif.

Yuk kita main ke Yogyakarta! Banyak hal menarik yang bisa kita lihat dan nikmati di sini.

Yogyakarta : Menonton “Bird Free Flight”

Standard

Anda pencinta burung? Ingin tetap bisa memelihara burung kesayangan anda tanpa harus mengurungnya dalam sangkar?  Barangkali Free Flight Training untuk burung anda, merupakan jawaban yang baik.

****************************************************************************************************

Burung Wood Swallow

Ini masih cerita di Alun-Alun Utara  Yogyakarta. Ketika saya sedang sibuk memotret sekawanan burung yang hinggap di atas beringin, saya melihat Ricky, teman saya ngobrol dengan seorang anak muda. Ricky melambaikan tangannya ke saya. Saya pun mendekat. Wow! Rupanya ada seekor burung liar di tangannya. Burung berwarna hitam kelabu dengan dada dan perut putih ini terlihat sangat indah. Saya mencoba mengingat-ingat burung apa itu. “Bukannya ini Wood  Swallow ya?” tanya saya. Anak muda yang kemudian saya kenal bernama Adi itu terlihat sedikit terperanjat. “Wah! Kok Ibu tahu ?” tanyanya. “Benar Bu. Ini Wood Swallow“katanya.  “Padahal burung jenis ini sangat jarang lho Bu yang memelihara. Bukan jenis burung yang bersuara merdu” lanjutnya lagi. Ya saya setuju. Burung jenis ini sangat jarang di pasaran burung untuk diperdagangkan. Barangkali memang karena suaranya tidak tergolong merdu sehingga orang kurang tertarik memelihara.

Saya pencinta Burung. Terutama Burung Liar di alam lepas. Ada beberapa jenis burung yang saya kenal. Dan lebih banyak lagi jenis yang saya tidak tahu. Tapi saya tidak memelihara burung. Tidak senang melihat burung dalam sangkar” kata saya. Mendengar itu Adi lalu berkata “Sama Bu. Saya juga pencinta burung. Tapi tidak senang melihat burung dalam sangkar. Itulah sebabnya kenapa saya bergabung dalam Free Flight ini. Biar tetap bisa memelihara burung tanpa harus mengurungnya dalam sangkar“. WOw! Giliran saya yang terperanjat.

Free Flight! Ide yang kedengarannya sangat menarik di telinga saya. Adi lalu bercerita bagaimana asal mulanya ia memelihara Burung Wood Swallow alias Burung Kekep (Artamus leucorynchus). Ia menemukannya sejak usia masih lolohan (bayi) di pasar burung. Ia merawat dan memberi makan bayi burung itu dengan penuh kasih sayang dan melatihnya terbang. Sejak kecil memang tidak pernah disangkarkan. Boleh terbang bebas kemanapun ia suka.  Barangkali karena ia merasa di sana rumahnya, burung itu pasti pulang kembali walau sejauh apapun ia  terbang. Menarik ya?  Bagi saya cerita itu sangat menarik, walaupun sebelumnya saya pernah mendengar cerita serupa tentang burung  bangau yang selalu pulang ke rumah pemeliharanya, walaupun ia terbang jauh.

Love Bird

Selain  Wood Swallow, rupanya Adi juga memelihara seekor Love Bird berwarna biru yang sering dilatihnya terbang bebas.  Saya terpesona melihat burung itu terbang bebas di udara, tapi begitu merasa lelah iapun cepat-cepat turun dan hinggap di tangan Adi.

Adi memberinya makan. Mengusap-usap kepalanya dan melatihnya terbang sambil ia sendiri ikut berlari bersama. Burung itu terbang dengan riang di sampingnya. Saya pikir ia memang seorang penyayang burung. Sehingga tidak berkeberatan mengalokasikan waktunya hanya untuk merawat, memelihara dan  melatih anak burung itu hingga dewasa.

Adi juga memperkenalkan saya pada rekan-rekan pencinta burung dan free flight yang tergabung dalam Yogyakarta “Parrot Lovers” yang sore ini bersama-sama melatih terbang burung kesayangannya masing-masing.

Sore itu Alun -Alun Utara penuh warna warni burung-burung paruh bengkok, mulai dari Love bird, Sun Conure, Australian Cockatiel dan sebagainya.  Burung -burung itu benar-benar terbang bebas. Ada yang terbang lalu hinggap di tanah Alun-Alun. Tapi kebanyakan kembali ke tangan pelatihnya.  Ada juga satu dua yang menclok ke bahu penonton. Termasuk ke bahu saya. Juga ke bahu Ricky. Wah.. ha ha.. rasanya sangat senang ketika ada burung yang tiba-tiba menclok begitu dengan jinaknya di bahu kita.

Cockatiel Free Fligt hinggap di bahuKami tidak takut ia terbang tinggi atau jauh. Karena pasti ia akan kembali. Yang  kami takuti justru jika ada orang yang menangkap dan memasukkannya ke dalam kandang“. kata Adi saat saya bertanya, apakah ia tidak takut burung kesayangannya itu lepas dan pergi tak kembali.

Sukses bagi teman-teman pelatih Free Flight untuk burung-burung dan teman-teman yang tergabung dalam Yogyakarta Parrot Lovers. Saya masih tetap percaya bahwa tempat terbaik bagi burung-burung adalah di alam bebas. Namun jika tidak bisa melepaskannya, maka melatihnya “Free Flight” barangkali menjadi pilihan yang lebih baik. Setidaknya dengan Free Flight burung-burung masih diberi kebebasan untuk terbang tinggi. Juga diberi hak untuk terbang jauh dan tak kembali atau akhirnya pulang. Keputusan diserahkan kepada para burung – walaupun biasanya ia akan pulang kembali.

 

Yogyakarta: Burung-Burung Liar Di Alun-Alun Utara.

Standard

Tekukur 5Minggu yang lalu saya ada di Yogyakarta dan kembali ke Jakarta pada hari Sabtu pukul 7 malam. Hari itu kebetulan urusan saya sudah selesai sekitar jam 2.30 siang.  Agak kelamaan kalau menunggu di airport. Jadi saya dan teman-teman ingin mengisi waktu dengan melihat-lihat sudut kota Yogyakarta.  Setelah berembug, kami memutuskan untuk melihat Keraton. Tapi sayangnya ketika kami tiba, Keraton sudah tutup. Yaaah…kecewa deh penonton.

Empat orang teman saya memutuskan untuk melihat-lihat batik produksi rumahan yang dipromosikan tukang becak. Saya sendiri lebih berminat untuk mengamati burung -burung liar di sekitar Alun-Alun Utara. “Melihat burung liar di lapangan?” Seorang teman saya kaget, bagaimana saya yakin di sana ada banyak burung yang bisa dipotret?. Saya tertawa. Ya..barangkali karena saya memang tertarik pada satwa liar (terutama burung-burung liar), jadi ketika kendaraan kami melewati Alun-Alun itu, dari kejauhan mata saya sudah menangkap ada beberapa ekor burung perkutut hinggap di lapangan berpasir itu.  Sementara bagi yang kurang berminat, tentu saja keberadaan urung-burung liar itu akan luput dari pandangannya. Karena mata kita cenderung mencari apa yang ingin kita lihat.

Satu orang teman saya yang lain, akhirnya memutuskan untuk menemani saya berjalan-jalan di sekitar Alun-Alun. jadilah saya berdua dengan teman saya itu memasuki lapangan yang tanahnya kering dan tandus dengan dua pohon beringin terpagkas itu. Selain dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan, ada beberapa pohon beringin lain juga yang mengelilingi lapangan itu. Memberikan akomodasi yang cukup bagi para burung. Tak heran saya mendengar kicauan burung yang riuh serta belasan burung-burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

1/. Burung Tekukur.

Saat memasuki lapangan, saya melihat ada belasan ekor burung tekukur sedang sibuk berjalan-jalan atau mencari makan.  Kebanyakan dari mereka berpasangan. Mengais-ngais dan mencari sesuatu di tanah dan rerumputan yang kering. Saya hanya duduk nongkrong mengamati tingkah lakunya. Burung Tekukur alias Kukur, alias Spotted Dove (Streptopelia chinensis) sebenarnya merupakan salah satu burung yang banyak disangkarkan orang. Melihatnya terbang bebas di alam membuat hati saya terasa sangat bahagia.Karena kelihatannya burung-burung itu juga sangat berbahagia. Sebenarnya mereka bisa hidup mandiri. Mereka bisa mencari makanannya sendiri- berupa biji-biji rumput maupun biji pepohonan tanpa perlu bantuan kita, manusia untuk membelikannya makanan setiap hari.

Burung-burung ini tampak santai. Ia membiarkan saya untuk tetap berjongkok mengamati tingkah lakunya dari jarak sekitar  4-5 meter. Hanya ketika saya bergerak terlalu dekat, merekapun terbang.

Sangat mudah mengenali burung ini, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Secara umum berwarna kelabu semu coklat kemerahan dengan sayap coklat berbercak-bercak. Leher bagian belakangnya berkalung hitam putih. Kepalanya kelabu kebiruan.Paruhnya berwarna kelabu. Kakinya berwarna pink.  Melihat kalungnya, tentu kita tidak akan tertukar dengan burung jenis lain.

Suaranya sangat merdu dan penuh kedamaian bagai siapa saja yang mendengarnya “ Tekkkukuurrrrr….. tekkukuurrrrrr…“.

Melihat banyaknya yang terbang berkelompok maupun berpasangan dari satu pohon beringin ke beringin yang lainnya, saya pikir jumlah populasi burung Tekukur di area ini mungkin puluhan mendekati ratusan.

2/. Burung Perkutut.

Burung ke dua yang jumlahnya cukup banyak juga di sekitar alun-alun ini adalah Burung Perkutut. Sama dengan Burung Tekukur, Burung Perkutut  juga merupakan salah satu burung yang sangat digemari untuk dipelihara. Suaranya yng merdu “Kwarrrr ketengkung…Kwarrr ketengkung…” membuatnya diburu orang. Baik untuk didengarkan sendiri maupun untuk dilombakan. Sayang sekali ya….banyak burung ini yang nasibnya berakhir di sangkar.

Burung Perkutut alias Titiran alias Zebra Dove (Geopelia Striata) rupanya agak mirip dengan Burung Tekukur, tetapi jika kita perhatikan tentu saja banyak bedanya.  Ukuran tubuh Burung Perkutut lebih kecil dari burung Tekukur. Warnanya merupakan campuran kelabu dan coklat kemerahan. Burung Perkutut tidak memiliki kalung bintik hitam putih di leher belakangnya.  Sayapnya juga tidak berbercak-bercak, tetapi motifnya cenderung membentuk alur-alur lurik mirip motif zebra, sehingga tidak heran disebut juga dengan nama Zebra Dove.

Populasinya di area ini juga lumayan banyak. Sama seperti Tekukur, mereka mencari makan dan terbang berpasang-pasangan. Syang banyak gambar yang saya ambil sangat blur.

3/.Burung Punai.

Burung Punai

Selain ke dua jenis burung di atas, sebenarnya saya berpikir masih ada beberapa jenis burung lain yang menghuni pohon-pohon beringin di sekitar area itu. Barangkali jenis merpati lain , burung jalak dan sebagainya. Tapi saya tidak bisa melihat dengan baik.Hanya mendengar ocehan suaranya yang berbeda.  Suatu kali saya melihat serombongan burung yang awalnya saya pikir Tekukur menclok di pohon beringin di tengah alun-alun.  Saya mengarahkan kamera saya ke puncak pohon, lalu jeprat jepret ala kadarnya di beberapa bagin puncak pohon itu tanpa memeriksa lagi hasilnya. Belakangan saya baru sadar bahwa yang tertangkap oleh kamera saya justru gerombolan Burung-Burung Punai alias Green Pigeon (Treron Capellei) bukan Burung Tekukur.  Ada belasan jumlahnya bertengger di sana. Salah satunya adalah seperti yang tampak di foto di atas ini. Wahhhh…sungguh saya jadi menyesal tidak mengambil foto yang lebih baik dan lebih banyak lagi.

4/. Burung Gereja.

Burung Gereja

Berbaur dengn para Burung Perkutut dan Burung Tekukur, tak mau kalah adalah gerombolan Burung Gereja (Passer domesticus). Burung-burung kecil ini ikut sibuk mengais-ngais makanan di sela-sela rumput dan pasir Alun-alun ini. Suaranya yang bercerecet lumayan  menghibur, meramaikan suasana sore Alun-Alun Utara Yogyakarta.

5/. Burung Cerukcuk.

Burung CerukcukMenjelang pulang, tepat sebelum saya masuk ke kendaraan yang akan mengantarkan saya ke bandara, saya melihat seekor Burung Cerukcuk ( Pycnonotus goiavier) di atap bangunan tak jauh dari tempat kami parkir. Burung penanda pagi ini tampaknya hanya beristirahat sebentar di sana lalu terbang menyusul temannya dan menghilang di balik rimbunan daun-daun beringin.

Sore yang sangat menyenangkan di Yogyakarta. Senang bisa menyaksikan kehidupan liar masih ada di seputar kota. Semoga pemerintah setempat memberi perhatian terhadap kehidupan burung-burung ini,  agar kebebasannya tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil yang ingin menangkap dan memperjual-belikannya.

Yuk kita cintai Lingkungan Hidup kita!.

 

Menonton Andri Concert Di Indonesia Young Musician Performance 2015.

Standard

Indonesia Young Musician Performance 2015 - AndriSaya hampir melupakan moment ini untuk ditulis. Padahal ini moment yang penting buat anak saya yang besar. Dan tentunya moment yang sangat penting juga bagi saya sebagai seorang Ibu yang selalu mengharapkan pertumbuhan positif anaknya. Jadi nggak apa apa ya..  agak telat sedikit , tapi tetap saya tulis  sekarang di sini buat catatan bagi saya sendiri dan anak saya tentang apa yang telah ia lakukan dalam kehidupan masa kecilnya.

Ini ceritanya Sabtu, 19 September yang lalu. Andri Titan Yade, anak saya yang besar mendaftarkan diri untuk ikut Concert Bersama Nasional  ini yang diselenggarakan  oleh Majalah Stacatto di Yamaha Concert Hall Jakarta. Kebetulan kakak saya sedang ada di Jakarta juga. Jadi sekalianlah saya ajak ikut menonton keponakannya konser.

Saya senang melihat anak-anak bisa tampil dalam panggung seperti ini, di mana mereka bisa bermain dengan optimal tanpa perasaan tertekan. Karena panggung ini bukan panggung kompetisi. Jadi mereka bisa mengambil benefits dari performance dengan baik, sehingga bisa lebih berani dan percaya diri menghadapi sorotan penonton. Itulah sebabnya, walaupun kali ini anak saya sebenarnya kurang punya waktu untuk latihan – berhubung jam sekolahnya sekarang sangat panjang – saya tetap mengijinkannya untuk ikut concert. Saya pikir nggak apa-apalah jika misalnya ia kurang hapal atau ada salah-salah sedikit karena kurang latihan. Yang penting berani tampil saja dulu, menurut saya itu sudah bagus. Jadi saya harus memberikannya dukungan.

Anak saya masuk di umur yang sesuai untuknya. Walaupun karena postur tubuhnya yang sangat bongsor, rasanya penonton hari itu sulit untuk mempercayai jika umurnya baru mau akan masuk 15 tahun.

Indonesia Young Musician Performance 2015

Andri bermain Solo Piano membawakan “Reverie” yang artinya a state of dreamy meditation karya composer Perancis Claude-Achille Debussy. Bagi saya yang awam, musik ini terdengar indah. Tapi belakangan saya mendengar komentar dari penyelenggara yang mengulas permainan anak saya, bahwa karya-karya Debussy, termasuk Reverie ternyata adalah karya-karya yang terkenal sangat sulit dimainkan. Sangat terkenal karena sensory content-nya dan sering menggunakan atonality.  Itulah sebabnya menurut penyelenggara, mengapa tidak banyak musician yang percaya diri memainkan karya composer itu. Dan saya mendengar penyelenggara mengucapkan terimakasih kepada anak saya atas keberaniannya memainkan karya itu di panggung Indonesia Young Musician Performance 2015. Wah.. terharu juga saya mendengar ulasan itu.

Menurut saya,  pengalaman manggung sangat penting artinya bagi perkembangan seorang anak. Karena dengan melatih anak berada di atas manggung, di bawah sorotan cahaya lampu dan tatapan mata penonton setidaknya anak akan terbiasa dengan keadaan ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih percaya diri saat kelak harus menghadapi orang banyak.

Selain itu, menurut saya memainkan musik akan membantu melatih kepekaan jiwa anak.  Mengisi jiwa anak dengan keindahan dan keharmonisan akan membantunya mengidentifikasi dan memilah hal-hal yang baik dan harmonis dalam hidup dari hal-hal yang yang kurang baik dan kurang harmonis.

Musik adalah jemari halus yang mengetuk pintu kalbu untuk membangunkan kehangatan dari tidurnya yang lelap”

= Kahlil Gibran =

 

 

 

Burung Cucak Hijau Yang Mampir Di Halaman.

Standard

Cucak Ijo 5Hari Minggu siang. Panas musim kemarau sangat terik. Anak saya yang baru kembali dari luar bercerita bahwa ia melihat seekor burung yang sangat bagus sedang bermain di kolam kecil di halaman depan.Warnanya hijau. Suaranya sangat bagus. Kicauannya sangat rame.Saya melihat ke luar. Burung itu sudah terbang. “Mungkin burung madu?” tanya saya.”Bukan!“kata anak saya.  Burungnya lebih besar dari burung madu. Anak saya merasa belum pernah melihat burung seperti itu.  Saya mencoba memikir-mikir, burung apa kira-kira yang dilihat anak saya itu.

Cucak Ijo 9Selang kira-kira dua jam berikutnya. Panas matahari mulai sedikit berkurang, walaupun terasa masih menyengat juga. Si Mbak yang lewat di halaman depan memberi tahu saya kalau ada seekor burung hijau sedang bermain di halaman. Saya dan anak saya segera keluar. Seekor burung nampak sedang meloncat-loncat di pinggir kolam. “Ya..itu burung yang tadi”  kata anak saya.

Cucak Ijo

Ooh..itu Burung Cucak Ijo alias Cica Daun (Chloropsis sonnerati). Baru pertama kali ini saya melihat burung ini di alam bebas. Selama ini saya hanya pernah melihatnya  ada di dalam sangkar pedagang burung. Sangat mengejutkan juga bisa melihatnya tiba-tiba di depan mata. Saya rasa kemarau yang panjang membawa burung itu mampir ke kolam saya untuk minum.

Cucak Ijo 11Saya dan anak saya menonton tingkah lakunya dengan takjub. Berloncatan di dekat aliran air. Lalu pindah berjumpalitan ke dahan pohon Bintaro. Sibuk berloncat-loncat di sana. Lalu pindah lagi ke dahan pohon Frangipani. Berloncat-loncatan lagi sambil berjumpalitan dan berkicau. Kelihatan benar jika hatinya sedang riang. Ia tidak takut sedikitpun pada saya dan anak saya. Membuat anak saya gemes ingin menangkapnya.”Jangan!!!. Biarkan dia bebas di alam” kata saya.

Cucak Ijo 3Lihatlah betapa riangnya ia berkicau dengan bebas merdeka. Jika kita menangkapnya dan memasukkannya ke dalam kandang yang sempit, sebenarnya kita sedang merampas kebebasannya. Merampas kemerdekaannya. Juga merampas kebahagiaannya. Memeliharanya dalam sangkar, walaupun kita merawat dan memberinya makan, tetap tidak bisa menggantikan kebahagiaannya. Mengapa kita harus menyakiti mahluk lain? Biarkanlah kebahagiaan itu tetap dimiliki burung-burung di alam bebas. Anak saya bersungut-sungut.Tapi tidak berani membantah kata-kata saya. Akhirnya kembali kami hanya menonton.

Cucak Ijo 8Burung Cucak Ijo sesuai dengan namanya memang secara keseluruhan berwarna hijau.  Sayapnya ada sedikit semu kuning kehijauan. Leher bagian bawah/kerongkongannya berwarna hitam gelap dengan bintik biru. Matanya berwarna hitam, dengan paruh gelap dan demikian juga dengan kakinya.  Makanannya biasanya adalah serangga.

Saya pikir burung ini sebenarnya bukan jenis burung langka. Akan tetapi penangkapan tak terkendali untuk diperdagangkan akan membuat burung ini cepat menghilang dari alam bebas.