Drama Pagi.

Standard

Seekor semut sedang mencari makan di sari bunga Melati Air (Echinodorus palaefolius) di halaman rumah. Saya menonton kelakuannya dengan sangat takjub.

Rupanya ada beberapa ekor. Tersebar di 18 kuntum bunga tanaman air yg mekar pagi ini. Sibuk sekali mereka bekerja. Tidak heran jika orang orang menggunakannya sebagai symbol pekerja keras.

Beberapa waktu kemudian,  seekor tawon kecil datang, diikuti teman-temannya. Mereka ikut mencari makan di kuntum-kuntum bunga melati air yang bermekaran. Waah….ramenya!.
Saya menonton. Keramaian itu sekarang memicu persaingan. Kelihatannya sekarang para semut pencari nektar itu mengalah dan minggir. Mereka bersembunyi dibalik benang sari dan kelopak bunga. Hanya saat sang tawon pergi, terbang je kuntum bunga yang lain si semut berani keluar lagi. Tetapi ia tetap bekerja lagi.

Sang tawon berjaya dalam persaingan ini. Tentu saja, karena tawon itu memiliki sayap sehingga ia bisa terbang berpindah -pindah dari satu kuntum ke kuntum bunga yang lainnya. Jafi ua busa mendapatkan nektar dengan lebih cepat dibanding semut yang hanya berjalan kaki. Ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh si semut. Yaitu sayap. Saya masih tetap setia nenonton.

Tak seberapa lama, seekor lebah yang ukurannya lebih besar dari tawon kecil datang. Suaranya berdengung membuat semut ketakutan. Gerakannya yang gesit dan perkasa melibas setiap tawon kecil yang berani menghalanginya.
Hyiaaaaa…! Perseteruan  makin memanas. Lebah menggasak semua nektar yang ada. Terbang dan mengambil dari setiap kuntum yang mekar. Persaingan semakin sulit!. Tawon tawon kecil itu bubar. Tidak tahan akan kekasaran prilaku lebah.

Saya terhenyak. Persaingan!. Terkadang dunia ini kelihatan tidak adil.
Yang bermodal besar mengalahkan mereka yang bermodal kecil. Yang kuat mengalahkan mereka yang lemah. Yang cepat mengalahkan mereka yang lambat.
Saya tetap setia menonton drama pagi itu….

Setelah sekian lama….akhirnya lebah itu pergi dengan membawa kerakusannya. Tawon tawon kecil itu juga telah terbang entah kemana. Yang tinggal hanya semut-semut kecil itu. Ia tetap setia bekerja di sana. Mengumpulkan sisa sisa nektar yang masih ada. Sedikit demi sedikit. Ia ambil sejumlah yang bisa ia bawa. Lalu ia kumpulkan sebagai persediaan untuk musim paceklik. Perlahan lahan. Tapi pasti.
Kesetiaan pada usaha, sampai berhasil. Walaupun ada banyak tekanan dan persaingan. Itulah yang membedakan semut dengan tawon kecil.

Perseverance!. Membantu kita tetap berhasil bahkan dalam keadaan sulit.

6 responses »

  1. Saya kira si lebah kecil tak give up, dia mencari pemecahan masalah dengan memanfaatkan anugerah yang diberikan Sang Pencipta kepadanya, yakni sayap dan penciumannya yang tajam. Buktinya bunga Lili Perdamaian yang saya letakkan di dalam rumah disambangi tawon kecil ini/lanceng, semut apalagi si lebah tak ada. Semut lebih menyukai cairan gula pekat dibanding nektar. Dia akan mengerubungi kuncup2 bunga yang manis seperti kuncup bunga Thunbergia atau Anggrek Asem, juga vanili2an – saya lupa namanya, barusan nemu udah lupa lagi; daunnya tebal seperti cocor bebek, menempel di pohon, bunganya sangat manis karena diselimuti cairan gula pekat –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s