Cerita Tentang Sebuah Troley.

Standard

wpid-2015-10-26-07.07.52.jpg.jpegSaya dan teman- teman baru pulang dari Yogyakarta. Sudah malam. Membaca di pengumuman, bagasi akan bisa diambil di belt 11. Saya ke sana. Di belt 11, petugas menginformasikan bahwa bagasi dari Yogya dipindahkan ke belt 9. Saya mendorong troley saya ke belt 9. Penuh sekali ya. Susah mendorong troley ini masuk mendekati koper-koper yang bergerak berkeliling itu. Karena penuh sesak dengan orang.

Akhirnya kami berbagi tugas. Teman saya yang mengambil bagasi, sementara saya menunggu troley. Lama sekali. Saya rasa tempat pengambilan bagasi di belt 9 ini terlalu penuh. Ada 4 penerbangan yang menyalurkan bagasinya di sini. Bagaimana nggak lama ya…

Baru dapat 1 koper milik teman saya saja, eh petugas mengumumkan lagi kalau bagasi pesawat yg saya tumpangi dipindahkan ke jalur 11 lagi. Waduuuh…

Saya mendorong troley saya ke jalur 11 lagi dan memarkirnya dengan moncong tegak lurus tepat di depan belt. Maksudnya untuk memudahkan kami memindahkan koper langsung ke troley.
Malam itu bandara memang penuh
sekali. Orang orang berkerumun di sekitar tempat pengambilan bagasi. Seorang pria setengah baya berdiri di sebelah saya. Menunggu bagasinya yang belum kunjung tiba juga. Mungkin karena kelelahan berdiri, bapak itu akhirnya duduk di troleynya yang sudah berisi 1 koper.  Barangkali ia ambil dari jalur 9 sebelumnya. Sama seperti saya.

Saya masih berdiri dan memusatkan pandangan ke ban berjalan menunggu kedatangan koper saya.  Tiba tiba,  “Gubruuaaaaakkk!!!!”. Saya menoleh. Bapak yang duduk di troley itu jatuh terpelanting dari troleynya. Orang-orang kaget dan melihat ke arah Bapak itu yang sekarang berusaha bangun dari lantai. Beliau berusaha menggapai dasar troley dan menjadikannya tumpuan untuk bangkit. Karena ditekan,  troley yang sudah berbeban sebuah koper itu bergerak menjauh dan gedubraaaaak…!!!!.

Bapak itu jatuh lagi. Tangannya menggapai-gapai. Berusaha keras untuk bangkit. Saya mendekat. Berniat membantu. Tapi belum kesampaian niat saya…. Gedubrakkkk!   Bapak itu jatuh lagi untuk ketiga kalinya. Rupanya troley yang dipakai tumpuan berdiri oleh Bapak itu  bergerak lagi karena terdorong oleh tangan kanannya yang berusaha  menekan troley. Akibatnya si bapak terpelanting.

Saya dan seorang Bapak lain di dekatnya membantu menarik tangannya. Syukurlah akhirnya beliau bisa berdiri kembali. Bapak itu kelihatan malu. Wajahnya merah. Barangkali karena semua mata orang di sekitar sana tertuju kepadanya. Sayapun segera melepaskan pegangan tangan saya pada Bapak itu.

Saya kembali memfokuskan pandangan mata saya ke tempat bagasi sambil memikirkan  apa yang barusan terjadi. Jatuh seperti itu dengan punggung menghantam troley tentu sangat sakit. Semoga tidak ada cedera yang serius.

Mengapa Bapak itu bisa jatuh terpelanting sampai 3x?  Seharusnya ia bisa bangkit kembali dengan baik.

Saya pikir masalah utamanya adalah karena saat ingin bangkit Bapak itu berusaha berpegangan kuat pada troley. Sedangkan troley itu sendiri memiliki roda. Sangat mudah bergerak. Apalagi jika ditekan. Jadi posisinya tidak ‘firm’. Ia bergerak sesuai dengan gaya yang mendorongnya. Ketika Bapak itu mencoba bangkit dengan bertumpu pada troley, maka seketika troley itu mendapatkan gaya dorong dan bergerak. Tentu saja tak bisa dihandalkan lagi sebagai tumpuan untuk bangun.  Demikian  juga yang berikutnya. Bapak itu melakukan kesalahan lagi dengan bertumpu pada troley yang tidak stabil.

Saya masih memikirkan kejadian itu sampai di dekat tempat parkir. Untuk bisa bangkit dengan baik kita perlu bertumpu pada sesuatu yang lebih ‘firm’ dan kuat. Lebih stabil dari sekedar troley yang bergerak. Misalnya pagar besi, tembok atau batang kayu yang kokoh tertancap. Atau seseorang yang berdiri di dekat kita. Jika tidak ada, gunakan lantai tempat kita berpijak sebagai tumpuan. Itu jauh lebih baik dan pasti.  Hmmmm….menarik juga untuk direnungkan.

Sekali lagi saya menemukan sebuah pengingat bagi diri saya sendiri yang saya dapatkan dari kejadian sekitar. “Jangan pernah bertumpu pada sesuatu yang goyah”. Bukankah hal yang serupa juga berlaku dalam kehidupan kita?

Dalam menjalani kehidupan,  tentunya kitapun pernah mengalami saat-saat jatuh dan terpuruk. Entah itu kejatuhan secara finansial, kejatuhan karir ataupun kejatuhan secara mental sosial lainnya. Saat demikian, kita pun  berusaha menggapai sesuatu atau seseorang yang barangkali bisa membantu, guna kita jadikan tumpuan untuk bangkit kembali.

Namun sama seperti kasus troley tadi, kita membutuhkan tumpuan yang kuat dan tidak goyah. Jika tumpuan kita tidak kuat, bisa-bisa kita jatuh kembali berulangkali. Dan lebib parah lagi bahkan tumpuan kitapun bisa jadi ikut pula jatuh bersama kita.

Jadi jangan pernah mengandalkan sesuatu yang tidak pasti. Carilah pegangan yang lebih kokoh dan tidak mudah goyah.

Jikapun apes-apesnya tidak ada tumpuan yang cukup kuat di sekitar kita,  barangkali jalan terbaik adalah bertumpu pada dasar keyakinan kita sendiri daripada mengandalkan sesuatu yang lemah dan labil.

3 responses »

  1. iih.. kebayang mba sakitnya gimana, sampe 3X.. huhuuuu..

    Suka banget sama kalimat ini >> Jangan pernah bertumpu pada sesuatu yang goyah” termasuk dalam hidup ini ya mbaa😀

  2. Kasian bapak itu. Mungkin dia lelah dan tidak konsentrasi, lalu lalai dan jadilah peristiwa memalukan itu. Tentu pihak bandara ikut andil karena orang dipimpong seenaknya.

  3. ya ampun kasian banget si bapak itu sampe 3 kali jatuh.
    tapi harusnya emang udah sekali jatuh karena pegangan di koper harusnya jangan diulangin lagi ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s