Yogyakarta : Bermain Ke Gua Pindul Di Gunung Kidul.

Standard

Ceritanya sudah beberapa minggu yang lalu. Ada acara Cave Tubing ke Gua Pindul di Gunung Kidul, Yogyakarta.  Karena tidak jago berenang,  awalnya saya tidak berminat ikut. Saya hanya ingin melihat-lihat area sekitar. Sekedar mengamati flora fauna, terutama burung-burung dan kupu-kupu di bukit berkapur yang bisa jadi berbeda dengan di  dataran rendah. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan rute Cave Tubing dari petugas, akhirnya saya memutuskan ikut terjun ke air. Kamera terpaksa saya tinggalkan karena beresiko tercebur ke air dan basah.

Walau ber-Cave Tubing di Gua Pindul sudah sering diceritakan orang, tapi saya tetap tertarik ingin melihat seperti apa sih di dalam gua itu.Gua Pindul

Menelusuri Gua Pindul.

Mudah ditebak. Karena letaknya di pegunungan kapur Gunung Kidul, tentu gua ini terbentuk dari proses batuan kapur. Panjang gua sekitar  350 meter dengan lebar sekitar 5 meter, tetapi di tengah-tengah gua ada juga jalur yang hanya cukup dilewati satu  orang saja.  Untungnya karena kemarau, permukaan air sedang tidak terlalu tinggi, sehingga atap gua terasa jauh di atas sana. Memungkinkan saya  untuk bernafas lega, karena udara leluasa bisa keluar masuk ke dalam gua.

Dengan menelusuri gua ini perlahan, ada banyak hal yang bisa kita lihat. Sayangnya saya hanya bisa memanfaatkan kamera ponsel yang daya jangkaunya tidak seberapa. Itupun semakin nggak jelas akibat harus dimasukkan ke dalam selongsong tahan air. Takut kecebur tanpa sengaja. Jadi foto-foto yang saya hasilkan kwalitasnya sangat buruk.

Gua Pindul dulunya dihuni oleh banyak Burung Sriti.  Saaat ini saya tak berhasil  melihat seekorpun. Barangkali karena gua itu sudah dikunjungi oleh terlalu banyak orang,  sehingga ketenangan burung-burung Sriti itupun terusik. Akhirnya menyingkirlah mereka dari sana.

Stalagtit Gua PindulNamun demikian, saya masih bisa melihat-lihat bebatuan yang ada di dalam gua. Cahaya matahari masih bisa masuk di bagian sini. Ada banyak Stalagtit yang bergelantungan dengan sangat indahnya di atap gua. Terbentuk dari tetesan mineral calcium carbonate selama ribuan tahun. Beragam ukurannya. Dari yang  kecil-kecil beberapa cm hingga yang panjang nyaris menyentuh permukaan air sungai.  Tak terbayang seberapa lama  mineral itu secara konsisten harus menetes, mengingat pertumbuhan stalagtit paling cepat adalah 3 mm per tahun.

Sedikit agak masuk ke dalam gua, saya melihat ada tangga besi terpasang ke atas. Entah siapa yang memasang dan untuk apa.  Saya lupa bertanya kepada Mas Guide. Apa barangkali dulunya  digunakan untuk mengamati burung-burung  Sriti ya…

Gua Pindul 2Setelah tangga ada cekungan yang agak dalam ke dinding di depan saya. Rupanya cekungan itu dulunya digunakan orang untuk bertapa. Mencari ketenangan jiwa ataupun pengetahuan spiritual. Setelah itu saya melihat masih banyak stalagtit besar kecil bergelantungan.

Kami memasuki zona remang-remang. Saya melihat ke atap  gua, berusaha mencari tahu ada apa gerangan di atas sana. Tidak begitu jelas. Mas Guide menyalakan senter dan saya melihat seekor kelelawar bergantung. Jenis kelelawar pemakan buah alias Codot. Saya tidak memotret Codot ini  karena cahaya senter si Mas sudah berpindah.  Saya baru paham dari mas Guide ini bahwa Kelelawar jenis Codot seperti ini memang lebih menyukai Zona Remang-Remang gua ketimbang Zona Gelap Gulita yang lebih disukai saudaranya yang jenis pemakan nyamuk.

Di zona ini  saya juga sempat melihat ada stalagtit yang berkilauan menarik perhatian saya. Berbeda dengan stalagtit stalagtit yang lainnya. Menurut keterangan Si Mas Guide, stalagtit kristal jenis ini terbentuk dari tetesan termurni dari kapur. Katanya banyak digunakan orang untuk perhiasan. Tapi entunya dilarang diambil dari gua Pindul ini.

Kami terus menyusuri gua dan mengikuti arus air sungai yang perlahan-lahan membawa kami ke Zona Gelap. Ruangan gua menyempit. Hanya bisa dilalui satu ban.  Kami bergerak dengan lambat. Ada Stalagtit terbesar di area ini. Juga ada Stalagtit dengan cucuran air yang masih ‘on’. Orang-orang percaya, konon  jika kita lewat di bawahnya dan kena cucuran air Stalagtit itu akan membuat kita awet muda. Saya lewat tapi tidak kena cucurannya… wadah.. alamat bakalan awet tua deh ini. Ha ha ha…

Eh tapi sebenarnya saya lebih tertarik untuk mengetahui eksistensi kehidupan di sana. Benar seperti yang disampaikan si Mas tadi, bahwa di langit-langit Zona gelap ini sangat banyak bergelantungan kelelawar pemakan serangga. Langit-langit gua yang kena cakar kelelawar yang bergelantungan membentuk kubah-kubah mirip mangkok terbalik yang serupa dengan ruang-ruang. Pengetahuan baru untuk saya adalah bahwa ternyata menurut si Mas ruang-ruang itupun berbeda-beda peruntukannya. Ada ruang bayi dan anak-anak kelelawar. Lalu ada ruang untuk para kelelawar dewasa. Ada ada juga ruang khusus yang berfungsi seperti toilet kelelawar. Lalu ada ruang khusus untuk bercinta. Walah..ada ada saja.  Saya mencoba memotret. Tapi ya karena kwalitas fotonya  kurang baik, jadi kelihatan hanya mirip lukisan batik. Yang hitam itu sebenarnya adalah para kelelawar.

Gua Pindul 3Kurang lebih setengah jam,  kami mendekati pintu keluar gua. Cahaya matahari sedikit demi sedikit memasuki ruangan gua. Dan di ujung sana bahkan ada sebuah lubang yang cukup besar di atap gua itu. Cahaya matahari menerobos masuk. Melalui celah-celah dedaunan yang tumbuh di tepi lubang itu. Alangkah indah dan dramatisnya. Saya terpesona akan keagungan ciptaanNYA. Menyempatkan diri untuk sejenak memanjatkan doa dan mengucapkan syukur terimakasih atas karunia yang dilimpahkan ke dalam kehidupan saya.

Teman-teman saya sebagian ada yang turun dari ban dan berenang. Ada juga yang berhenti dan bersitirahat di sebuah cekungan kering di dalam gua. Saya masih terpesona dengan sinar matahari pagi yang menerobos dari lubang atap gua. Tiba-tiba terdengar teriakan “Bu Dani ulang tahunuuuuun!!! Bu Dani ulang tahuuuuuuunnnn!!” Waduuu… gawat. Saya bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Cepat-cepat saya mengangkat tangan dan menyatakan diri tidak bisa berenang sebelum mereka mengambil ancang-ancang untuk menceburkan saya ke air sungai.  Lumayan berhasil menyelamatkan diri. Namun tak urung air sungai dicipratkan beramai-ramai ke arah saya sehingga akhirnya saya basah kuyup juga. Ha ha ha…  Saya bahagia berada di tengah-tengah teman-teman dan para sahabat saya.

Yuk kita  berkunjung ke Yogyakarta! Cintai tanah air kita.

 

5 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s