Urban Farming: Tomat Mutiara (Yang Retak).

Standard

 

wpid-2015-11-11-09.54.02.jpg.jpegSetelah sebelumnya saya berhasil dengan Tomat Cherry alias Tomat Grongseng alias Gereng-gerengan yang kecil imut imut, saya ingin dong bisa sukses dengan lebih besar. Jadi apa yang lebih besar? Panennya yang tadinya cuma beberapa biji lalu menjadi berton-ton? Bukaaan!!!!!!. Panennya sih  masih tetap beberapa gelintir buah tomat juga.

Atau lahan perkebunan tomatnya yang tadinya cuma semeter dua meter persegi lalu sekarang menjadi satu hektar? Bukaaaaannn jugaaaa!!!!!!!. Tentu saja saya tidak punya lahan seluas itu. Ini masih tetap lahan yang sama, yang 1×2 meter itu. Letaknya masih di tempat yang sama. Di halaman belakang depan dapur. Contextnya masih sama yaitu Dapur Hidup. Masih memanfaatkan pekarangan yang seadanya untuk mengurangi pengeluaran dapur.

Loh? Lalu apanya yang menjadi lebih besar?.

Yang membesar adalah ukuran buah tomatnya. Ha ha ha. Sekarang saya menanam dan nemanen pohon tomat yang buahnya lebih besar dari jenis Tomat Cherry. Tomat ini adalah tomat yang sering kita beli di tukang sayur untuk nyambel. Tomat sambal. Ukurannya kira-kira segede telor ayam kampung. Disebutnya dengan nama Tomat Mutiara. Barangkali karena permukaan kulit tomat ini halus semulus mutiara.


Tentu saya sangat senang dengan hasil tanaman ini. Saat ini baru hanya beberapa belas buah yang masak menguning dan memerah. Sisanya masih hijau semua.  Tapi tidak apa. Justru bagus. Karena untuk sekali masak saya hanya perlu satu butir atau maksimum dua butir saja. Jika matangnya bergantian, harapannya setiap hari saya akan selalu mempunyai persediaan tomat di halaman untuk keperluan dapur. Duuuh…senangnya.

Mutiara yang retak.

wpid-2015-11-11-09.46.07.jpg.jpegTapi diluar itu, rasa senang rupanya selalu didampingi rasa sedih juga. Ternyata beberapa buah tomat yang tadinya halus mulus bak mutiara itu ada yang retak buahnya.  Kaget bercampur sedih. Galau pisanlah pokoknya. Mencoba mencari tahu dari Google sebab musababnya. Ternyata penyerapan air yang sangat cepat, terlalu banyak dan mendadak oleh pohon tomat membuat isi buah tomat cepat menggelembung tapi tidak diimbangi dengan kecepatan pertumbuhan kulit buahnya. Untuk itu saya bisa simpulkan kesalahannya terletak pada musim kemarau yang terlalu kering dan usaya saya nenyelamatkannya dari kekeringan dengan menyiram air yang terlalu banyak. Terjadilah keretakan pada kulit buah tomat. Harusnya jika menghadapi musim kering seperti itu, sebaiknya saya menyiramnya dengan volume air yang lebih sedikit tetapi lebih sering. Dengan demikian absorpsi air oleh pohon tomat itu hanya aksn sebatas yang ia butuhkan untuk mengembangkan isi dan kulit buah dengan berimbang, sehingga keretakan kulit tomat tidak terjadi.  Ooh..begitu.

Jadi pelajaran moral dari pohon tomat kali ini adalah bahwa jika kita ingin sukses dengan baik, maka selain kita perlu mempersiapkan konten yang baik kita juga perlu menyiapkan kontainer yang sama baiknya dengan konten yang kita sediakan itu.
Pelajaran lainnya adalah bahwa tidak ada shortcut untuk sukses yang sempurna. Semuanya butuh proses dan kesabaran. Instant proses akan menghasilkan kesuksesan partial dengan beberapa kekurangan yang tentu hasilnya tidak bisa kita bandingkan dengan jika kita mencapainya melalui tahapan-tahapan proses yang benar.

Namun demikian walaupun buah tomat saya ada yang retak, saya tetap bersemangat. Saya rasa bertanam sayuran di pekarangan rumah tetap menyenangkan.
Ayo kita bikin Dapur Hidup!!!

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s