Livi Zheng & Passionnya Dalam Film “Brush With Danger”.

Standard

wpid-20151120_201427.jpgJumat malam tanggal 20 yang lalu, saya diundang oleh sutradara muda Livi Zheng untuk menghadiri pemutaran perdana filmnya yaitu “Brush With Danger” di CGV Blitz di Grand Indonesia. Premierenya ini dibuka oleh pak Djarot Saiful Hidayat,  Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tentu saja saya sangat senang dan berterimakasih pada Livi atas kesempatan bagus yang diberikan olehnya.

Pertama, karena Brush With Danger adalah film Hollywood pertama yang disutradarai oleh orang Indonesia dan saya bisa ikut menyaksikan pemutaran perdananya. Livi Zheng adalah sutradara sekaligus pemeran utama dan penulis cerita film Brush With Danger ini. Ia  berasal dari Blitar, Jawa Timur.

Kedua, dari cerita Livi saya tahu bahwa film ini dibuat dengan usaha yang luarbiasa yang dilakukan oleh seorang wanita yang masih sedemikian muda. Bayangkan saja, scenario film ini sebelumnya sempat ditolak sebanyak 32x. Tetapi Livi yang usianya baru 26 tahun ini, tidak pernah berputus asa. Ia terus berusaha lagi dan berusaha lagi, mencoba kembali dengan segala semangat dan daya upayanya hingga akhirnya berhasil. Nah, apa yang terjadi jika penolakan itu terjadi pada kita? Jangan-jangan baru ditolak sekali atau dua kali saja kita sudah langsung  mundur dan berputus asa. Sungguh wanita muda ini luar biasa sekali.

Dan yang ke tiga, Brush With Danger juga sempat terpilih masuk seleksi Oscar walaupun belum sempat masuk nominasi. Tetap saja ini merupakan prestasi yang luar biasa mengingat untuk bisa masuk ke ajang film bergengsi ini tentu ribuan film telah masuk ke tangan panitya. Sudah berhasil masuk ke babak seleksi saja tentu sudah merupakan sebuah prestasi sendiri yang membanggakan.

Brush With DangerFilm ini sendiri berkisah tentang dua orang kakak beradik imigrant gelap Alice Qiang (diperankan sendiri oleh Livi Zheng) dan Ken Qiang (Ken Zheng) yang datang menyelundup dari Asia dengan menggunakan container untuk mengadu nasib di Amerika yang dilihatnya sebagai tanah impian.
Alice sendiri adalah seorang artist yang selain menekuni aliran  seni yang disebutnya sebagai Asia Art,  juga mampu meniru lukisan orang lain walaupun secara pribadi ia tidak suka dengan perbuatan itu. Selain itu Alice dan adiknya sama-sama jago martial art. Kemampuan yang banyak membantu mereka dalam menjalani kehidupan.

Di film ini digambarkan dengan baik bagaimana susahnya kehidupan mereka di masa awal. Mengais makanan dari tong sampah, mencoba menjual lukisan namun tidak laku namun mereka tetap tabah. Bahkan masih sempat membantu  menyelamatkan seorang wanita pemilik toko yang bernama Elizabeth (Stephanie Hilbert) yang kelak kemudian menawarkan persahabatan bagi mereka berdua.

Untuk mempermudah mendapatkan uang untuk makan sehari-hari, kerapkali Ken memamerkan kemampuan teknisnya dalam bela diri pada kerumunan masa. Ia juga memaksa Alice untuk melakukan hal yang sama. Dan kenyataannya memang lebih mudah mencari uang dengan cara begini daripada menjual lukisan. Namun cara ini juga menarik perhatian Justus Sullivan (Norman Newkirk), pemilik gallery yang kaya raya dari usahanya melakukan pemalsuan lukisan-lukisan ternama. Ia berhasil menarik kakak beradik itu untuk tinggal bersamanya dan mengikuti rencananya. Ia berhasil membujuk Ken untuk ikut club tinju dan bertarung. Ia juga memberikan fasilitas studio agar Alice bisa melukis di sana. Dengans egala fasilitas dan keramahan yang diberikan oleh Justus, mereka menyangka bahwa mereka sudah menemukan impiannya.

Belakangan Justus mulai memanfaatkan Alice untuk membuat copy lukisan Van Gogh.  Sekarang kakak beradik ini berada dalam keadaan bahaya tanpa mereka sadari. Untunglah ada Detektif Nick Thopmson (Nikita Breznikov) yang membantu mereka keluar dari masalah ini. Nick juga yang menjembatani mereka mendapatkan penghargaan dari pemerintah dan akhirnya bisa tinggal menetap di Amerika tanpa rasa was was lagi. Happy ending.

Detail ceritanya bisa ditonton sendiri nanti. Karena per tanggal 26, film Brush With  Danger akan mulai beredar di bioskop -bioskop di seluruh Indonesia.

Terlepas dari feedback pro-kontra yang diterima oleh film ini setelah beredar di Amerika, bagi saya, film yang berdurasi 90 menit ini, berhasil mengangkat sesuatu yang cukup unik juga. Imigrant gelap yang berpikir bahwa Amerika adalah tanah impian dan karenanya mudah untuk mendapatkan sukses di sana, namun kenyataannya tidaklah sedemikian mudah juga. Setiap orang perlu berusaha dan bekerja keras untuk bisa sukses. Dan tidak jarang juga dibarengi bahaya.

Penonton sangat terhibur dengan humor -humor yang diselipkan oleh Livi di sana-sini dalam beberapa adegannya,  yang menjaga film laga penuh pertarungan ini tetap enak ditonton bahkan bagi mereka yang tidak menyukai kekerasan.

Secara keseluruhan film ini sangat menarik untuk ditonton. Ceritanya mengalir dengan baik. Pengambilan gambar demi gambarnya juga bagus. Demikian juga colour tone dan pencahayaannya. Menarik!.

Saya sendiri pertama kali menyaksikan trailer film ini sekitar sebulan sebelumnya dan seketika saya katakan pada Livi bahwa filmnya pasti sangat bagus. Saya ingin menontonnya.

LiviSebagai hasil karya seorang sutradara yang masih sangat muda, tentunya ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.  Tak heran hingga Pak Ahok pun bangga dan ikut mengendorse hasil karya Livi Zheng ini. Tentu saja. Kita semua pasti bangga akan ketekunan dan ketangguhan Livi dalam upayanya mencapai sukses di kelas dunia.

Walaupun demikian Livi yang berasal dari kota Blitar di Jawa Timur ini tetap rendah hati, ramah dan tidak sombong. Ini mengingatkan pada kita semua, bahwa seberapapun tingginya pencapaiankita,  tidak perlu hati dan sikap kitapun ikut meninggi.

Viva Livi Zheng! Semoga makin berprestasi dan tetap humble.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s