Dapur Hidup: Menanam Terong Bukan Karena “Milu-Milu Tuwung”.

Standard

20151116_072426.jpgSalah satu kiasan yang banyak digunakan dalam bahasa Bali adalah “Milu-milu tuwung” (artinya Ikut-ikutan kaya Terong). Kiasan ini digunakan untuk menggambarkan orang yang mengatakan atau melakukan sesuatu karena latah, tanpa alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya nih, ikut-ikutan mengcopy pendapat orang lain, padahal ia sendiri tidak terlalu paham apa makna sesungguhnya. Atau untuk orang-orang yang ikut melakukan apa yang orang lain lakukan, padahal ia sendiri tidak tahu mengapa dan apa gunanya ia melakukan hal itu. Tidak mengerti baik dan buruknya. Sehingga orang tua di Bali biasanya memberi petuah kepada anak cucunya,  dengan mengatakan “Sing dadi cening milu-milu tuwung” (terjemahan bebasnya: Jangan suka ikut-ikutan, nak!), dengan maksud agar  jika anak /cucunya mengatakan ataupun melakukan sesuatu, setidaknya ia punya alasan yang jelas mengapa ia mengatakan demikian atau berbuat demikian. Bukan karena sekedar ikut-ikutan.

Nah mengapa tiba-tiba saya teringat akan kiasan lama itu? Ini karena saya sedang memetik buah terung dari pohonnya yang saya tanam di halaman rumah. Terong atau terung dalam bahasa Balinya adalah Tuwung (Solanum melongena). Ketika saya ingat kata “Tuwung”berikutnya yang muncul di kepala saya adalah kiasan itu tadi.

Terong adalah salah satu tanaman yang saya coba tanam di pekarangan rumah. Tentunya bukan karena saya “milu-milu tuwung” atau latah ikut-ikutan orang lain,  tetapi karena saya mempunyai alasan bagus untuk itu. Pertama karena saya memang suka masakan yang berbahan dasar terong. Kedua, karena menurut referensi terong sangat berguna untuk kesehatan, terutama terong yang ungu, karena mengandung bioflavonoid serta Vitamin K yang tinggi.   Berguna untuk mencegah diabetes, mengontrol tekanan darah tinggi dan juga bagus untuk otak. Oleh karenanya, semakin semangatlah saya menanamnya.

Ada beberapa jenis yang saya tahu. Mulai dari terong lalap yang kecil kecil bulat atau lonjong, lalu ada yang bentuk dan ukurannya lebih besar dan gendut, lalu ada juga yang buahnya panjang. Warnanya juga bervariasi. Ada yang putih, hijau atau ungu.

Lalu di mana bisa membeli bibit terong? Saya pergi ke toko Trubus yang  kebetulan letaknya tak jauh dari rumah. Di sana ada beberapa jenis bibit terong yang dijual. Saya memutuskan membeli bibit terong sayur warna ungu. Isinya tidak terlalu banyak. Tapi sudah dicoating dengan baik untuk menghindarkan serangan jamur.  Begitu sampai di rumah, bibit langsung saya semaikan dalam box persemaian.

Dalam beberapa hari bibit tumbuh dengan baik. Setiap hari anakan pohon terong ini saya siram. Setelah daunnya menjadi 4 lembar kemudian saya pindahkan ke dalam polybag.  Saya sangat beruntung karena tanpa saya duga pohon terong ini tumbuh sangat subur. Daunnya lebar-lebar.  Kebetulan saya memiliki pot yang lebih permanen, lalu saya pindahkan lagi pohon-pohon terong ini ke dalam pot. Dalam waktu singkat iapun berbunga.

Seperti halnya tananaman Solanaceae lainnya, bunga tanaman terong berbentuk bintang. Warnanya ungu dengan benang sari berwarna kuning. Sebenarnya sangat menarik dilihat. Sayangnya kebanyakan mahkota  bunganya menunduk ke bawah. Sehingga sulit untuk untuk dilihat.

Tak lama kemudian, bunga bunga itupun menjadi buah. Mulai bergelantungan di sela-sela daunnya yang lebar. Dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lamauntukmembuat buah terong ini menjadi besar. Sekarang saya mulai bisa memanennya satu per satu untuk keperluan dapur.

Lalu terong ungu ini bisa dimasak apa saja? Macam-macam sih. Misalnya bisa ditumis. Bisa juga dibuat sambel terong. Buat campuran sayur lodeh. Atau dibikin terong balado. Enak juga dibakar. Atau dibikin Beberok ala Lombok. Atau direbus saja, dijadikan teman lalapan dan dicoel-coel sambel terasi. Rasanya manis dan empuk.
Saya pikir cukup menyenangkan untuk memiliki pilihan sayuran lain dari halaman rumah sendiri selain pare, kangkung, bayam atau pakchoi. Sangat berguna ditanam sebagau selingan. Dengan demikian tanaman terong ini membuat Dapur Hidup saya semakin beragam.

Yuk kita menanam terong sayur di halaman. Kita bikin Dapur Hidup!.

8 responses »

    • Ha ha… kupikir karena terong itu sangat lembek jika dimasak. Dan karena texturnya yg mirip spons, ia jadi cenderung menyerap air/bumbu lebih banyak dari sekitarnya sehingga rasa aslinya sendiri terdegradasi jauh mengikuti bumbu yg digunakan. Ikut-ikutan…

  1. terongnya segaaar…
    variasi hidangan terong apalagi ya mbak..
    taunya cuma disambal atau bakar kecap, atau kari yaitu jenis terong bulat besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s