Monthly Archives: December 2015

Bangli: Sarcophagus Di Desa Adat Cekeng.

Standard

Wisata Sejarah Bangli.

Suatu kali Komang Karwijaya, seorang teman dari adik saya nge-tag sejumlah foto-foto menarik di time line media social. Foto-fotonya banyak. Tentang berbagai tempat dan hal-hal menarik di Bangli.  Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah foto tentang keberadaan Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Kecamatan Susut, Bangli. Saya terkesima.

Seperti kita tahu Sarcophagus adalah salah satu peninggalan sejarah berupa kubur batu. Selama ini saya hanya mengetahuinya dari pelajaran sejarah. Sama sekali tidak pernah menduga jika di Bangli, daerah kelahiran saya juga menyimpan sisa peninggalan sejarah itu. Dan rupanya ada di beberapa desa juga. Salah satunya adalah yang berada di Desa Cekeng ini.

Sarcophagus pada umumnya merupakan cekung batu yang terdiri atas bagian wadah (palung) dan bagian atap. Didalamnya diletakkan tubuh sang meninggal dalam posisi meringkuk seperti bayi, dengan filosofi bahwa posisi saat meninggal disesuaikan dengan posisi saat bayi berada dalam kandungan ibu. Di dalamnya juga umumnya terdapat beal kubur berupa manik-manik dan perhiasan lain. Kubur batu ini kemudian ditutup. Pada bagian depan dan belakangnya biasanya terdapat tonjolan yang diukir dengan motif  kepala kura-kura atau wajah manusia.

Menurut informasi dari lembaga Pubakala yang sempat saya baca, cara mengubur dalam peti batu ini dilakukan oleh masyarakat bali pada Jaman Besi-Perunggu atau masa pra sejarah. Sekitar 200-500 tahun sebelum Masehi. Berarti tua banget ya…

Sesuai informasi Sarcophagus di desa Cekeng ini ada 2 buah.

Sarcophagus di Desa Adat cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Yang pertama letaknya di pura Puseh desa adat Cekeng. Ukurannya agak besar. Yang tersisa hanya palung batu bagian bawahnya saja. Penutupnya tidak ada. Demikian juga isinya. Pada bagian depan terdapat tonjolan yang mungkin berfungsi sebagai bagian dari pintu sarcophagus. Tonjolan itu diukir dengan wajah manusia yang mirip kura-kura. Sarcophagus ini diletakkan di sebuah bangunan kecil dan beratap.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus yang ke dua terdapat di tegalan. Juga tidak lengkap. Hanya tersisa bagian bawahnya saja. Ukurannya lebih kecil dari sarcophagus yang di Pura Puseh Cekeng. Karena tergeletak di udara terbuka di tegalan, sarcophagus ini agak lumutan dan tentunya menjadi penampung air jika hujan turun.

Kelihatannya sangat menarik dari apa yang saya lihat di foto dan sedikit penjelasan dari Komang.  Ini tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi jika suatu saat saya mendapatkan kesempatan berlibur.  Saya ingin datang dan melihat sendiri tempat ini dan peninggalan sejarahnya.  Saya pikir banyak orang lain juga pasti ingin berkunjung ke sini. Apalagi mereka yang menyukai wisata sejarah.  Yuk kita main ke desa Cekeng.

Bagaimana cara mengakses tempat ini? Cukup mudah. Kita bisa mengaksesnya lewat Desa Penglipuran. (Tahu dong, Desa Penglipuran? Adalah salah satu Desa Traditional di Bali yang masih mempertahankan tradisi Bali asli. Saat ini merupakan salah satu desa tujuan wisata Bali). Kira-kira jaraknya sekitar 45 – 50 km dari Denpasar.  Cara lain kita juga bisa mengaksesnya dari banjar Alis Bintang, desa Susut – kecamatan Susut Bangli.

Selain Sarcophagus ini, saya denger desa cekeng juga memiliki peninggalan-peninggalan lain yang tak kalah menariknya untuk dilihat. Gapura Agung dan bangunan-bangunan suci lainnya yang penuh dengan ornamen kuno. Di sana kita juga masih bisa melihat alat penumbuk padi jaman dulu.

Yuk kita berkunjung ke desa Cekeng!

Kita kenali sejarah kita dan cintai tanah air kita!.

Telor Dadar Bangli.

Standard

image

Ngobrol di group teman teman SMA Bangli selalu menyenangkan. Banyaklah yang diobrolkan. Mulai dari kabar teman-teman, keluarga, acara dan upacara, pingpong, joke hingga ke masakan.

Nah sore tadi entah bagaimana mulainya kami ngobrol soal masakan traditional Bali. Bukan rahasia lagi kalau kaum pria di Bali banyak yang lebih jago masak ketimbang para wanitanya. Dan sudah pasti diantara para pria teman-teman kami yang  ada di grup itu ada yang jago masak.

Saya memanfaatkan kesempatan untuk dibimbing membuat sate lilit yang enak. Secara kedua anak saya adalah penggemar sate lilit Bali. Namun sayangnya teman saya itu hanya mengatakan kuncinya ada pada cara mengadonnya. Dan agar menempel baik di tangkai sate, tekanan tangan saat menempelkan bahan sate harus pas sehingga hasil dan bentuknya indah dan mulus. Wah…saya masih tetap tidak tahu clue-nya.

Lalu ia memberi resep sederhana telor dadar/telor goreng yang enak. Sepintas lalu rasanya tidak ada yang baru. 2 butir telor dikocok dengan rajangan halus bawang merah (4 siung), bawang putih (1 siung), 1 batang daun seledri, sekuku jahe, selembar daun jeruk, cabe rawit nerah yang dibuang bijinya (4 buah) dan garam secukupnya. Lalu apanya yang berbeda? Penggunaan rajangan jahe dan daun jeruk. Itu yang membuatnya berbeda.

Merajang bahan-bahan ini harus halus. Dan telor dikocok agak lama hingga benar benar tercampur.

Panaskan sedikit minyak dalam wajan, gerakkan ke seluruh permukaan penggorengan untuk mencegah lengket. Sebenarnya sih terserah mau digoreng atau didadar. Tergantung selera. Intinya masak di atas api kecil hingga matang dan kekuningan.  Angkat telor. Hidangkan di atas piring saji.

Nah… saya pikir ini sesuatu yang mudah dan cepat dibuat. Mengapa tidak dibuat saja? Saya lalu memeriksa apa saja yang ada di dapur. Semuanya ada. Kecuali daun jeruk.  Baiklah untuk kali ini saya tidak pakai daun jeruk dulu. Tapi saya ada jahe.

Ternyata setelah saya coba enak banget. Bahkan wanginya saat mendadar saja sudah menggoda. Rasanya agak hangat-hangat khas begitu. Mungkin karena pengaruh sedikit jahe di dalamnya. Juga mengingatkan akan rasa telor dadar masa lalu di kampung halaman saya di Bangli. Makan dengan nasi hangat-hangat tentu lebih enak lagi.

Nah…saya kasih lah masakan ini dengan nama Telor Dadar Bangli.

Itulah salah satu guna teman. Berbagi resep masakan. Terimakasih ya teman…

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Wayang Di Tepi Kali Opak.

Standard

Di depan restaurant kali Opak di tempat saya makan siang di daerah Klaten, ada sebuah workshop. Saya diberitahu bahwa di sana saya bisa menonton wayang. Karena informasi itu, sayapun ke sana hendak melihat-lihat.
Sesampai di sana tanpa diduga saya melihat seorang bapak sedang tekun memahat kulit untuk dijadikan wayang. Saya tertegun melihatnya. Walaupun  semasa kecil saya di Bali saya sering menonton wayang, seumur hidup, baru kali ini saya melihat bagaimana benda seni ini dibuat.

Pak Nono,pembuat wayang dari tepi kali Opak.

Pak Nono,pembuat wayang dari tepi kali Opak.

Saya meminta ijin untuk mengambil gambar. Bapak pembuat wayang itu setuju. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai Pak Nono. Selain membuat wayang kulit,beliau sendiri adalah seorang dalang.  Di Bali, seorang dalang wayang kulit memiliki kedudukan penting dalam masyarakat dan tentunya sangat dihormati. Karena dianggap menguasai filosofi kehidupan dengan sangat baik. Saya pikir barangkali tidak terlalu berbeda dengan di Jawa.

Saya lalu melihat-lihat apa yang telah beliau ciptakan. Ada beragam wayang kulit di situ. Kebanyakan dari seri Mahabharata.

Gunungan

Gunungan

Pertama yang menarik hati saya adalah Gunungan. Gunungan atau dalam Wayang Kulit Bali ini setara dengan Kayon. Hanya saja kalau di Bali seingat saya bentuknya  lonjong lebih mirip daun. Gunungan, seperti namanya berbentuk seperti gunung. Bentuknya sangat khas, dengan ujung yang runcip di atasnya. Di bawahnya saya lihat ada gambar rumah, hutan serta isinya. Berfungsi sebagai  pembuka dan penutup pertunjukan. Juga pemilah adegan. Gunungan ini merupakan refleksi dari lingkungan alam sekitar yang menjadi tempat tinggal segala mahluk di alam semesta. Termasuk mahluk-mahluk yang digambarkan dalam lakon wayang ini.

Berikutnya yang menarik perhatian saya adalah wayang-wayang dari seri Maha Bharata. Karena kisah ini bertutur tentang perjalanan hidup keluarga Bharata,  keturunan dari dua orang kakak beradik Prabhu Pandu & Drestarasta  yang mengakhiri persengketaan mereka dengan perang besar yang disebut dengan Bharata Yudha di padang Kurukshetra. Putra Pandu dengan Dewi Kunti disebut dengan (Panca) Pandhawa. Sedangkan keturunan Prabhu Drestarastadengan Dewi Gandari disebut dengan (Satus) Kaurawa.

Putra-putra Pandu yang jumlahnya ada lima, dikenal memiliki budi pekerti yang sangat baik dan merupakan pembela kebenaran. DharmawangsaYang paling tua bernama Yudisthira alias Dharmawangsa. Nama ini diberikan karena Yudisthira adalah seseorang yang selalu menjalankan ajaran dharma (kebaikan dan kebenaran) hingga akhir hayatnya. Dikenal dengan sifatnya yang sangat penyayang, penuh welas asih, jujur, adil  dan bijaksana. Yudisthira memimpin adik adik dan keluarganya dalam masa penyamaran.
Ketika berbicara tentang Yudisthira, yang paling saya ingat adalah penggalan ceritanya saat ia mendaki puncak Himalaya bersama anjingnya.

BimaPutra Pandu yang ke dua bernama Bima. Bima adalah seorang ksatria yang sangat gagah berani. satya wacana serta Satya Laksana.Tidak ada satupun musuh yang ditakutinya. Senjatanya gada. Mempunyai putra bernama Gatotkaca dari perkawinannya dengan Dewi Arimbi. Cerita yang paling saya ingat tentang Bima adalah ketika ia mencari Tirtha Amerta Kamandalu mengikuti perintah Drona, gurunya yang bersikap curang dan ingin mencelakannya. Ia melakukan perintah gurunya dengan taat,walaupun haris menyabung nyawanya bertempur dengan raksasa, naga basuki ataupun ombak lautan yang ganas.Pada akhirnya ia berhasilmendapatkan Tirtha amertha itu dengan pertolongan Dewa Ruci. Bima memberi kita contoh akan sikap ksatria yang perlu ditiru. Berani, setia pada ucapan dan setia pada pelaksanaan.

 

Arjuna

Arjuna

Putra ketiga Pandu bernama Arjuna. Ksatria yang tersohor karena kepiawaiannya memanah. Selalu tepat sasaran tanpa pernah meleset. Arjuna juga terkenal akan kegantengannya. Wanita tergila gila padanya. Penggalan kisah Arjuna banyak yang menarik menurut saya. Diantaranya adalah ketika Arjuna bertapa di Gunung Indrakila dalam upayanya untuk mencari kesaktian dan akhirnya mendapatkan anugerah panah Pasupati. Tapi yang lebih menarik lagi adalah saat menjelang perang  besar Bharata Yudha. Dikisahkan bahwa Arjuna sempat berhati lemah dan ragu untuk melakukan perang dan menceritakan kegundahannya pada Krishna. Pembicaraan antara Krishna dengan Arjuna itu penuh dengan pemahaman keTUHANan yang dirangkum dalam kitab suci Bhagawad Githa. Bhagawad Githa = Nyanyian Tuhan.

Nakula - SahadewaAdik Arjuna yang keempat dan ke lima adalah dua anak kembar yang bernama Nakula dan Sahadewa. Dua kesatria kembar ini merupakan adik tiri (adik satu bapak – Pandu tapi beda ibu – DewiMadri) dari Yudisthira,Bima dan Arjuna.Namun demkian, ketiga kakaknya tidak pernah membeda-bedakannya.

Sebenarnya masih banyak lagi wayang-wayang karya Pak Nono yang diletakkan di tempat itu. Setidaknya ada anggota Kaurawa seperti Duryodhana, Dususana, Citraksa, Citraksi, juga dewi Kunti, Dewi Banowati dan sebagainya. Juga tokoh-tokoh dari kisah Ramayana seperti Rama, Sintha, Anuman dan lainnya.

Saya sangat terkesan. Bukan karena banyaknya jumlah wayang yang bisa saya lihat di sana, tetapi kepada rasa heran dan kagum – saya beruntung bisa bertemu dengan  salah satu orang yang mencintai budayanya sendiri dan melestraikannya.

Keripik Kentang Kampung.

Standard

image

Hujan -hujan. Pas musim liburan. Nggak nyaman pergi ke mana-mana. Akhirnya hanya bengang bengong di rumah.
Nah biar anak-anak tidak bosan, kita minum teh hangat saja ya. Temannya kita bikin keripik kentang tipis – tipis alias Potato Chips. Tentu saja bukan Potato Chips a la pabrikan…tapi keripik kentang gaya rumahan.
Idenya sata dapat saat kemarin siang main ke daerah Lembang. Karena macet, saya berhenti di sebuah restaurant di pinggir jalan. Di daftar menunya ada Potato’s skin. Nah saya orderlah. Yang ada di bayangan saya adalah kulit kentang panggang yang ada isinya misalnya ayam atau jamur.  Nah ini yang keluar ternyata gorengan kentang tipis tipis setipis kulit kentang (dan termasuk jg kulitnya). Enak juga dicocol sambel barbeque. Persis seperti keripik kentang di kampung. Ide bagus yang layak dicontek nih…
Cara membuatnya gampang sih. Empat butir kentang. Cuci bersih. Lalu iris tipis tipis. Jika ada alat pengiris khusus tentu tingkat ketipisan irisan bisa terkontrol dengan lebih baik. Rendam irisan kentang dalam air bersih dan sedikit garam. Tiriskan. Lalu goreng hingga warnanya kuning keemasan. Angkat dan tiriskan di atas kertas tissue.
Untuk cocolan, bisa pakai sambal apa saja. Kentang garing. Anak anak pasti suka.

Dapur Hidup: Timun, Panen Yang Ke Dua.

Standard

 

20151212_125656.jpgTimun di halaman rumah sungguh pandai membuat kejutan. Setelah minggu yang lalu saya panen – lumayan dapat 6 buah – hari Minggu pagi  saya melihat ada lagi buahnya yang bergelantungan. Tiba tiba kok sudah besar-besar. Cepat sekali.  Wah…terlambat manen lagi nih.

Sebenarnya suami saya sangat suka mentimun yang kecil-kecil dan muda untuk lalap. Kalau sudah sebongsor ini ya.. mulai kelihatan kurang appealing untuknya.

Tapi tidak apa apalah. Jika tidak dipetik sekarang ia akan menjadi semakin tua lagi dalam beberapa hari. Saya petik lagi buahnya satu persatu dengan menggunakan galah yang diujungnya disambung dengan jaring untuk memastikan buah tidak jatuh saat ditarik. Lumayan dapat 7 buah. Sayangnya yang satu keburu dimakan sehingga tak sempat difoto deh.

Kalau dipikir -pikir punya Dapur Hidup itu enak juga. Ada beberapa tanaman dapur hidup yang bisa dipanen berulang. Contohnya  tomat – saya sempat memanen buahnya dalam jumlah yang lumayan banyak (minmal 1/2 kg) sebanyak 7x  sebelum pohonnya tua dan meranggas dan akhirnya saya cabut. Demikian juga pare, terong, bayan, kangkung dan sebagainya. Saya bisa panen beberapakali.  Termasuk timun ini. Kita hanya perlu sekali menanam. Tetapi setelahnya kita bisa memanen beberapa kali.

Nah..yang mau saya tunjukkan di sini adalah bahwa bercocok tanam itu sebenarnya tidak terlalu repot. Hanya sekali saja kok. Dan jika kita sibuk bekerja, kita bisa melakukannya di akhir pekan. Ya…sisanya paling nyiram saja. Jika musim kemarau. Jika musim hujan, alampun ikut membantu kita menyiram.

Jika kita rajin menanam, maka kita bisa rajin memanen juga. Dan apa yang kita tanam, itu juga yang kita hasilkan.Jika kita menanam tomat, tentu kta akan memanen tomat yang berlimpah.Jika yang kita tanam adalah terung,  kelak yang akan kita panen adalah terong. Sangat mirip dengan perbuatan kita sehari-hari ya. Jika kita banyak tersenyum kepada orang lain, maka akan banyak pula senyum yang kita dapatkan kembali.  Jika kita ramah terhadap orang lain, niscaya keramahan juga yang akan banyak kita terima. Menanam perbuatan baik, akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya jikakeburukan yang kita tanam,makayang kita dapat adalah keburukan juga.

Yuk kita menanam hal-halyang baik!.

Mengejar Ekor Sendiri.

Standard

 

20151213_160205.jpgSaya sedang bekerja di halaman belakang. Menggunting dan mencabut tanaman tomat yang sudah tua dan meranggas, serta bermaksud menggantinya dengan bibit tanaman pakchoi. Tiga ekor anak kucing ikut bermain-main petak umpet di sekitar saya. Di tumpukan sampah pohon-pohon tomat tua itu. Kelihatan sangat riang gembira.

Tak berapa lama saya selesai dengan pekerjaan gunting menggunting saya. Lumayan juga keringetan. Anggap saja berolahraga ya. Saya mengambil minum dan istirahat sejenak. Anak -anak kucing itu pun ikut bubar.  Dua ekor, yang hitam dan yang coklat sekarang sibuk menyusu pada ibunya. Tetapi yang seekor berwarna putih tidak kelihatan bersama. Kemana ya? Saya mencari.

Ooh..rupanya ia masih bermain sendiri di dekat pojok halaman. Sibuk bergerak-gerak sendiri.  Meloncat-loncat dan berputar-putar sendiri. Sedang ngapain sih?  Saya jadi penasaran. Apakah ada anak kelelawar, anak tikus atau mahluk hidup lain yang tertangkap olehnya dan dijadikan mainan kali ini?. Anak kucing ini pernah saya lihat membawa anak kelelawar sebelumnya. Saya lalu mendekat untuk mengamati kelakuan anak kucing itu. Tidak ada anak kelelawar. Tidak ada anak tikus. Tidak ada apa apa. Lalu mengapa ia meloncat loncat dan berputar putar? Ooh rupanya ia mengejar ekornya sendiri.

Anak kucing kecil yang ini ekornya memang agak panjang. Ketika ia menengok ke belakang , barangkali ia melihat ekornya sendiri bergerak-gerak dan menyangka jika itu adalah binatang kecil. Ia tertarik untuk menangkapnya. Bergeraklah ia mengejar ekornya ke belakang. Tetapi karena ia bergerak, maka ekornya mengikuti gerakan tubuhnya ke depan. Anak kucing itu berusaha menangkap lagi. Dan lagi. Berulang- ulang. Tapi tidak pernah tertangkap olehnya sekalipun. Karena si ekor yang menjadi targetnya, bergerak sama gesitnya dengan badan beserta cakar di kaki depannya. Itulah sebabnya mengapa ia berloncat-loncatan dan berputar-putar mirip kucing gila. Ha ha ha… geli juga saya melihat kelakuan anak kucing ini.

Beberapa saat kemudian, akhirnya anak kucing itu menyerah juga. Mungkin ia kelelahan mengejar ekornya sendiri tanpa hasil. Ia terduduk dengan nafas terengah-engah. Saya merasa kasihan padanya. Akhirnya saya usap-usap kepalanya dan saya ambilkan air bersih untuk diminumnya. Cukuplah exercise ini.

Mengejar target itu harusnya memang jelas. Apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya.

Sangat penting bagi si kucing untuk mengetahui dengan jelas, apakah benda yang menarik perhatiannya itu kadal, kelelawar, kodok, tikus ataukah ekornya sendiri. Dengan memahami secara jelas apa yang dijadikan targetnya, sekaligus ia akan mengetahui juga kelemahan dan kekuatan targetnya itu. Serta bagaimana cara memenangkan pertarungannya dengan baik. Misalnya jika itu kodok, setidaknya ia akan tahu bahwa kodok itu jago melompat, bisa sembunyi di celah yang sempit  yang mungkin tidak terjangkau cakar. Dan beberapa jenis tertentu mungkin berbisa juga jika diterkam. Akan tetapi, secara umum kodok adalah target yang sangat mungkin dikejar. Bukan target yang susah. Karena jangkauan dari lompatan kucing lebih jauh dari lompatan kodok. Selain itu kucing juga bisa bergerak lebih cepat dan lebih gesit. Selain itu tubuh kucing sudah pasti lebih besar dari tubuh kodok lah ya.

Tetapi kucing juga perlu memahami di depan untuk apa ia mengejar kodok? Untuk dimakan? Untuk mainan? Atau hanya sekedar menjajal kemampuan dan menjawab tantangan saja? Kalau untuk dimakan kodok beracun jelaslah bikan target yang tepat untuk dikejar.

Jika kita tidak jelas akan apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya, tidaklah heran jika kitapun mirip kucing yang mengejar ekornya sendiri. Berputar -putar tidak jelas. Dan meloncat-loncat ke sana kemari. Mundur maju. Ke depan ke belakang. Menghabiskan waktu dan tenaga dengan sia -sia. Tanpa hasil.

Sekarang saya jadi mulai mengingat-ingat kembali di kepala saya. Apa-apa saja target yang ingin saya capai dalam hidup saya. Rasanya perlu meneliti ulang apakah saya cukup jelas dengan apa-apa yang ingin saya capai dan mengapa saya menginginkannya.

Dunia Pinggir Kali: Bayam Liar Yang Segar.

Standard

 

2015-12-13-22.15.52.jpg.jpegSudah lama saya tidak bermain ke tepi kali belakang rumah. Kesibukan pekerjaanlah yang membuat begitu. Nah..mumpung agak senggang, saya memanfaatkan kesempatan.

Rupanya tetangga saya sudah selesai merenovasi rumahnya. Dan juga sekaligus memperbaiki pagar tepi kali yang mulai doyong. Temboknya tinggi juga. Untungnya masih dibuatkan pintu sehingga saya bisa nerobos keluar pagar jika ingin mengamati kehidupan burung-burung liar. Whuiii!!. Bantaran kali sekaligus juga sudah dibersihkan. Terimakasih tetangga!.

Rumput-rumput liar dicabutin dan sampah dibakar. Tanah di bantaran kali jadi lumayan terang. Rumput Benggala sudah tidak ada. Pohon jarak, pohon lamtoro dan pohon pisang ditebang. Tanaman oyong yang sebelumnya merambat di sana juga sudah tidak ada. Terang benderang!. Sebagian tanah masih kelihatan gundul tanpa penutup. Tanah di sekitar sini warnanya agak merah.

Karena hujan turun, rupanya biji-biji rerumputan dan tanaman mulai berkecambah. Ada banyak anak-anak tanaman baru. Senang melihat bantaran kali seperti ini. Sebentar lagi,  anak-anak tanaman dan rumput ini tentu akan tinggi lagi. Musim hujan membuatnya menjadi sangat subur. Selain di bantaran kali ini sangat jarang orang lewat. Tanaman-tanaman ini akan liar dan merajalela tanpa seorangpun yang peduli, hingga populasinya dibatasi oleh pertumbuhan mereka sendiri.

Agak ke sana saya melihat banyak rerumputan mulai tumbuh dan ada banyak sekali anakan bayam liar di sela-selanya. Puluhan jumlahnya. Daunnya besar besar, lebar dan subur. Wah…sebentar lagi tentu banyak ulat yang akan datang tergiur oleh kegendutan pohon-pohon bayam ini. Bayam-bayam itu menyebar di area sekitar 2 meter persegi.  Ya…saya ingat sebelumnya di sana ada pohon bayam liar yang besar dan berbunga banyak. Rupanya saat dibersihkan biji-bijinya yang halus sempat menyebar di situ. Sekarang tumbuh dan mulai besar. Sebentar lagi tentu akan tumbuh bunga.

Selain daunnya yang lebih lebar-lebar, bayam jenis ini rasanya jauh lebih enak dari jenis bayam cabut. Jaman dulu, sebelum jenis bayam cabut diperkenalkan di pasar,saya selalu menanam jenis bayam ini yang sekarang menjadi liar karena tidak umum dibudidayakan lagi.

Sebelum keduluan ulat, maka bayam itu saya petik sebagian. Saya ambil daunnya yang lebar-lebar saja.Lumayan saya mendapat sekeranjang penuh daun bayam liar segar. Bisa buat masak 2-3 kali.

Rejeki dari pinggir kali.

Melon: Sekali Berarti, Sesudah Itu Mati.

Standard

20151123_062001Salah satu potongan sajak yang saya ingat baik dari Chairil Anwar adalah “Sekali berarti, sesudah itu mati!“. Kalimat sang penyair itu terasa memaku kepala saya. Hidup cuma sekali dan sesudah itu kita mati. Jadi kita harus membuatnya berarti. Harus membuatnya bermakna baik bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang di sekitar kita. Barangkali demikian kira-kira maksudnya.

Kenapa tiba-tiba saya teringat kepada kalimat puitik itu?. Nah ..itu gara-gara pohon melon saya.

Saya punya sebatang pohon melon. Ditanam anak saya menumpang di sebuah pot pohon pandan yang tinggi. Ketika pohon melon itu baru tumbuh saya tidak terlalu memperhatikannya. Tetapi ketika ia tumbuh besar, saya mulai terkejut.Waduuh!! pohonnya bisa kemana-mana ini. Mana nanti jika seandainya berbuah,buahnya pasti berat sekali. Akan saya rambatkan ke mana ya?.  Karena takpunya ide yang lebih baik,akhirnya saya memutuskan untukmembiarkan saja pohon melon itu tumbuh. Saya jalarkan ke kawat jalaran pohon timun.

 

Suatu pagi saya lihat pohon itu berbunga.Warnanya kuning dan cantik. Tak seberapa lama bunga-bunga lain bermunculan. Tetapi yang sukses menjadi buah hanya satu. Saya mulai memperhatikan dan memeliharanya setiap pagi.  Buahnya makin hari semakin besar.Saya tetap memeriksa dan mengamati pertumbuhannya. Hingga beratnya tertentu, kawat jalaran timun tidak mampu lagi menyangga beban buahnya. Buahnya pun saya letakkan di pot tanaman pandan. “Tidak apa-apalah diletakkan di situ sambil menunggu buahnya matang“. Pikir saya.

Namun sayang sekali, beberapa hari setelah itu pohon melon saya tiba-tiba layu. Akarnya tercabut oleh anak-anak kucing kecil yang nakal dan bermain-main di dekat batangnya. Pohon melon itupun layu dan akhirnya mati. Yaah…sayang sekali. Saya pikir buahnya belum membesar dengan sempurna.Ia keburu layu dan mati. Saya menunggu sampai pohon itu benar-benar kering barulah akhirnya buahnya saya petik. Ternyata buahnya manis juga.

Pohon melon ini berbuah sekali, setelah itu mati. Ia membuat hidupnya berarti dan berguna bagi saya, sebelum akhirnya ia mati. Terimakasih Melon.

 

Cerita Si Ulat Kupu-Kupu Jeruk.

Standard
Ulat Kupu-Kupu Jeruk

Ulat Kupu-Kupu Jeruk

Pagi hari ketika hendak berangkat kerja, sambil melintas saya melirik ke pohon jeruk purut yang saya letakkan di halaman depan. Ups! Kok daunnya pada habis ya? Padahal baru saja bersemi mengikuti musim hujan. Sayapun berbalik. Ingin tahu mengapa.

Oh rupanya ada ulat jeruk berwarna hijau di sana. Ukurannya sejari tengah saya. Waduww!. Lumayan gede juga ya. Saya mengamati ulat itu dari dekat. Warnanya hijau dengan sedikit motif berwarna coklat membuat ia sangat tersamar dengan daun jeruk di sekitarnya. Kamuflase yang baik. Ia diam saja. Tidak bergerak. Barangkali sudah kekenyangan setelah dengan rakusnya ia melahap daun jeruk saya.

Daun muda jeruk purut

Daun muda jeruk purut

Sekarang saya menyadari ternyata semua daun daun muda jeruk itu sudah dilahapnya habis. Hati saya menjadi sedih dan kesal sekali terhadap perbuatan ulat itu. Bagaimana tidak kesal, pohon Jeruk Purut adalah salah satu tanaman kesayangan saya.  Masih terbayang pucuk daun mudanya yang segar dan hijau kemerahan saat baru bersemi. Cantik dan membahagiakan hati setiap kali melihatnya. Kini tak ada bekasnya lagi. Ooh..sedihnya. Saya menarik nafas panjang dan dalam’dalam. Lalu menghembuskan kekecewaan saya ke udara. Bagaimana saya harus mengikhlaskannya?.

Kembali saya mengamati ulat berwarna hijau itu. Ia masih diam di tempatnya. Barangkali ia tidur. Saya menggumam dalam hati. Sebesar itu. Barangkali sebentar lagi ia akan mencapai pertumbuhan optimalnya. Setelah itu menggantung diri dan membungkus badannya dengan serat-serat dari liurnya, lalu menjadi kepompong. Ia akan memilih dahan yang kuat dan terlindung dari hujan dan angin serta aman dari gangguan mahluk hidup di sekitarnya.

Apa yang ia lakukan dalam selimut kepompongnya? Barangkali ia bersemadi. Melakukan refleksi dan penghayatan diri. Mendapatkan pencerahan dan kesadaran diri bahwa ia adalah bagian dari semesta yang maha besar dan maha luas. Ia memasrahkan dirinya pada mekanisme semesta dan mengikuti perubahan sesuai denyut dan hukum semesta. Jika harus berubah maka berubahlah ia. Laksana janin dalam kandungan ibu, yang memasrahkan diri pada proses ‘moulding’ kehidupan.  Tanpa pernah mempertanyakan bagaimanakah design cetakannya. Serta bagaimanakah kelak wujud, bentuk dan rupanya. Ulat itu hanya memasrahkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Pencipta.  Setiap sel dalam tubuhnya bergerak dan menyusun formasi baru. Bertumbuh dan berkembanglah sayapnya. Dan iapun lahir kembali menghirup udara dunia menjadi mahluk baru yang disebut dengan Kupu kupu.

fb_img_1449823140234.jpgUlat ini akan menjadi Kupu kupu Jeruk (Papilio demoleus) yang sangat indah. Kupu-kupu berwarna krem dengan bercak bercak hitam dan sedikit usapan kuning dan jingga dengan bentuk serta kombinasi warna sayap yang luar biasa indah. Saya sangat menyukai Kupu kupu ini dan selalu senang setiap kali ia mampir dan menghiasi halaman rumah saya. Selain indah, kupu-kupu ini juga membantu saya melakukan penyerbukan bunga-bunga jeruk dan  tanaman lain milik saya. Sungguh saya sangat menyukai kupu-kupu.

Tiba-tiba masuk ke dalam pikiran saya. Mengapa saya menyukai kupu-kupunya tetapi tidak mau menyukai ulatnya? Bukankah ulat dan kupu-kupu itu satu paket?. Kupu kupu ada karena ada ulat sebelumnya. Ia adalah mahluk yang sama dengan sebelumnya yang bermetamorfosis. Ia merugikan saat menjadi ulat. Namun membayarkan kembali keuntungan berganda bagi pohon jeruk itu di kemudian hari ketika ia menjadi kupu kupu. Pertanyaan itu membuat jeda lalu lintas pikiran di kepala saya sejenak. Kosong dan hening.

Kekosongan yang jernih, yang memberi saya kesadaran bahwa segala sesuatu di alam ini memang sudah tersedia dalam satu paket yang meminta kita untuk menjalaninya dengan penuh totalitas. Jika kita menyukai kupu-kupu, tidaklah adil jika kita hanya menyukai keindahan kupu-kupunya tetapi membenci ulatnya. Karena kupu-kupu tak akan pernah ada jika tidak ada ulat. Demikian juga halnya dengan yang lain dalam kehidupan.

Tak bisa kita hanya menginginkan seuah kesuksesan jika kita tidak mau dan tidak suka berusaha keras.  Karena sukses tidak pernah datang jika kita tidak berusaha keras. Karena sukses dan usaha disediakan oleh kehidupan dalam satu paket.

Demikian juga ketika kita menginginkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam sebuah hubungan. Nyaris tidak mungkin akan kita bisa dapatkan jika kita sendiri hanya ingin dimengerti namun tidak mau mengerti keadaan orang lain. Karena hubungan manusia sesungguhnya merupakan sebuah paket totalitas dalam memberi dan menerima.

Bahkan ketika engkau mencintai mahluk lain dalam hidupmu, cintailah ia dengan penuh totalitas. Bukan hanya ketika ia indah dan cemerlang laksana kupu-kupu engkau mencintainya. Tetapi juga ketika ia terlihat buruk rupa dan tak berdaya bagaikan ulat. Alam menyediakannya sebagai sebuah paket.

Ulat itu masih terdiam.  Saya menyentuhnya dengan ujung jari telunjuk saya. Rupanya ia terbangun dari tidurnya dan mulai bergerak perlahan. Saya senang melihatnya. Hati saya bahagia.

Semoga damai di hati, damai di bumi dan damai bagi seluruh alam semesta beserta sekalian mahluk hidup di dalamnya.