Mangga Yang Terakhir.

Standard

Musim mangga sebentar lagi akan habis. Biasanya digantikan dengan musim rambutan. Saya melihat masih ada dua buah mangga bergelantungan di pohon milik tetangga. Jadi teringat akan dua buah mangga yang saya dapatkan dari kantor beberapa waktu yang lalu.

Di halaman kantor tempat saya bekerja ada sebatang pohon mangga gedong. Suatu kali saya mendongakkan kepala ke pohon mangga ini karena saya mendengar suara burung berkicau. Saya pikir ada burung yang sedang menclok di dahannya. Burungnya tidak kelihatan oleh saya. Tapi saya melihat ada dua buah mangga bergelantungan.

“Ibu belum pernah kebagian mangga ya ?Saya petikin ya buat ibu?” tanya Pak Satpam.  “Ada buahnya rupanya?” kata saya. Rasanya saya baru memperhatikan ya. “Wah..banyak Bu.  Sudah pada dipetikin anak-anak. Ini sih buah yang terakhir. Tinggal cuma 2 biji. Buat ibu saja. Kali pengen rujakan” katanya. Oo begitu ya. Saya mendongak. Sebenarnya mau juga sih. Kayanya seger juga buahnya.Tapi pohon mangga itu tinggi. Dan tempat 2 buahnya bergantungan itu juga lumayan tinggi. Bagaimana cara memetiknya ya. Tidak ada tangga. Juga tidak ada galah saya lihat. Masak Pak Satpam harus memanjat-manjat ?. Intinya tidak bisalah!. Karena tidak ingin merepotkan, saya pun bilang tidak usah dan terimakasih atas tawaran Pak Satpam yang baik hati. Lagipula saya buru-buru harus pergi. Jadi saya bersiap masuk ke kendaraan.

Tapi entah bagaimana mulainya, tiba-tiba Pak Satpam memanggil Pak Supir yang tubuhnya kurus kecil dan ringan untuk naik ke bahunya. Hap!. Iapun melompat ke bahu Pak Satpam. Lalu Pak Satpam berdiri. Hoiii jadi kaya pemain akrobat. Sungguh saya kaget. Pak Satpam lalu berjalan mendekat sehingga posisinya berdiri tepat di bawah buah mangga itu. Pak Supir pun mengambil buah mangga terakhir dari pohon itu dengan mudah. Tanpa memanjat. Tanpa memakai tangga. Tanpa menggunakan galah. Mangga itu lalu diberikan kepada saya. Cepat dan praktis.Keren!. ha hah. Jadi bisa ya sebenarnya?

Saya pikir ini adalah salah satu contoh bagus yang disodorkan di depan mata saya secara langsung. Bahwa sebenarnya apa yang awalnya saya pikir tidak bisa dilakukan ternyata bisa dilakukan dengan mudah,  jika kita mau memikirkan cara alternatif yang kreatif  dan beda dari cara yang biasa.

Dalam menjalani hidup dan melakukan pekerjaan kita sering dihadapkan pada kebuntuan. Segala jalan alternatif yang ada sudah kita coba, tapi hasilnya tidak memuaskan. Buntu, seolah tak ada jalan keluar lagi. Kita pun berputus asa dan cenderung menarik diri. Ah, sudahlah!. Nggak usahlah dilanjutkan!. Susah soalnya.

Tapi ketika kita berusaha sabar sedikit, ambil waktu dan mulai memikirkan hal-hal lain dan berbeda dari biasanya, apa yang tadinya kita pikir sebagai jalan buntu itu sebenarnya tidak selalu benar-benar buntu. Bisa jadi sebenarnya masih ada jalan alternatif yang tidak biasa yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Jika memang ada jalan keluar ,mengapa kita tidak melihat sebelumnya? Itu pertanyaan berikutnya.

Saya pikir kita tidak mampu melihatnya karena kita membatasi pikiran kita pada jenis jalan keluar yang biasa-biasa saja. Kita tidak pernah berpikir akan ada jenis jalan keluar yang sangat berbeda dari apa yang ada di dalam pikiran kita.  Itu sama dengan saya ketika Pak Satpam menawarkan untuk memetik mangga untuk saya. Yang ada di dalam pikiran saya saat itu, hanyalah cara-cara umum orang bisa memetik mangga, yakni  dengan cara memanjat pohonnya (saya pikir Pak Satpam akan repot banget jika memanjat),lalu dengan  menggunakan tangga atau menggunakan galah yang panjang (yang mana saya tidak melihat dua benda itu ada di sana). Jadi kesimpulan saya sebelumnya, mangga itu tidak bisa dipetik.

Tidak ada dalam pikiran instant saya bahwa buah mangga yang tinggi bisa dipetik dengan membopong orang lain yang lebih ringan dari kita untuk mengambil buahnya langsung. Walaupun saya tahu itu bisa, tetapi pada saat itu hanya tidak terpikirkan saja oleh saya. Hanya karena saya tidak memikirkan cara itu,bukan berarti cara alternatif itu tidak ada bukan?

Wah… dari kejadian ini, bukan hanya buah mangga saja yang bisa dipetik, tetapi  saya sekaligus juga bisa memetik pelajaran berharga dari Pak Satpam dan Pak Sopir. Seolah-olah memberi tahu saya: Ayo tetap semangat! Jangan pernah mandek!. Cari jalan alternatif yang lebih kreatif dan inovatif!.

Pelajaran yang sangat penting. Terimakasih Pak!.

2 responses »

  1. Di Ambon mangga seperti itu kalo beli h*permart harganya mahal. Kemaren saya lihat hampir 40 ribu per kilogram.
    Enak kalo tanam sendiri di pekarangan dan berbuah,🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s