Biawak Tepi Kali Opak.

Standard

Siang hari seusai mengunjungi candi candi yang bertebaran di daerah Prambanan, saya diantar makan siang di sebuah restaurant yang letaknya di tepi Jali Opak. Tempatnya cukup menarik. Ada jalanan kecil di restaurant itu yang nembawa kita ke tepi kali. Wow!.
Saya mencari tempat duduk dengan pemandangan lepas ke kali. Baru teringat, Kali Opak ini kerap disebut-sebut setiap kali Gunung Merapi meletus. Karena aliran laharnya sebagian ada juga yang mengalir melalui Sungai Opak ini.  Tapi di bagian sini, saya tidak melihat ada bekas bekas lahar mengalir. kiri janannya hijau royo royo. Barangkali tidak nyampai ke sini ya.
Waiter datang menanyakan pesanan sambil membawakan handuk kecil dingin yang digulung. Saya membukanya dan menggunakannya untuk melap tangan saya. Lalu ke tengkuk saya. Nyeeep!!!. Huaaa..segernya!. Restaurant ini tahu kalau pengunjungnya sedang kepanasan habis jalan-jalan.  Saya lalu memesan minuman dan makanan. Panas yang terik membuat saya merasa lebih haus ketimbang lapar.  Sambil menunggu sayapun melihat lihat pemandangan di kali.
Tiba tiba seekor burung terkwak berlari keluar dari vegetasi yang mengambang di tepi kali. Berlari dengan cepat menyeberang ke tepi satunya lagi. Ia bersembunyi di balik tumbuhan yang menutupi bebatuan di seberang kali.
Saya mencoba mencari tahu ada apa. Rupanya sesuatu sedang bergerak di bawah air sungai. Awalnya saya pikir seekor ular besar. Tapi gerakannya kok agak berbeda. Lebih lambat dan tidak bergelombang seperti ular. Kemudian saya  lihat kakinya ada empat digunakan untuk mengayuh selagi berenang. Ups! Apa itu? Apakah di sungai ini ada buaya?
Cepat-cepat saya mengambil lensa tele agar bisa melihat dengan lebih baik. Sementara reptil itu terus bergerak. Ooh!. Sekarang saya tahu. Itu bukan ular dan bukan juga buaya. Itu biawak sungai. Saya senang melihat binatang itu masih ada dan bebas berkeliaran di sini. Selanjutnya saya seperti melihat petak umpet.  Rupanya biawak itu sedang mengejar targetnya. Burung air yang kelihatan sangat kecil dan tak berdaya dibanding sang biawak. Ia mencari cari di sekitar bebatuan. Bahkan masuk hingga ke sela sela batu. Tapi burung air itu tidak ditemukan. Saya nenahan nafas.
Tiba tiba saya melihat burung itu terbang ke arah akar pohon besar yang sudah di tebang.
Biawak itu rupanya cukup awas juga. Ia berenang mendekati akar pohon tempat burung itu bersembunyi. Tetapi karena gerakannya yang kasar, burung air itu tahu. Ia berlari dengan cepat ke kumpulan vegetasi yang mengambang di atas air tak jauh dari sana. Biawak itupun ikut berbelok arah menuju vegetasi tempat burung bersembunyi. Ketika tidak menemukan apa yang dicari, biawak itu akhirnya menghilang di bawah air. Saya tidak melihatnya lagi. Sejenak sepi.
Mengetahui jika si biawak sudah tidak kelihatan, burung air itu keluar lagi dari persembunyiaannya. Berenang-renang dengan riang. Bolak balik di dekat akar pohon. Saya menangkap keceriaan yang dipancarkan burung itu. Namun sayang itu cuma sebentar. Biawak dari kali Opak ini tidak senang jika melihat mahluk lain berbahagia. Ia muncul lagi di permukaan dan mendekat ke arah si burung air. Burung itu terkejut dan ketakutan. Lalu terbang ke darat. Tinggallah si biawak sekarang menunggu si burung tiada kunjung muncul lagi. Ia lalu bergerak mengikuti arus sungai. Meninggalkan saya penontonnya tetap berdiri.
Mengapa si biawak gagal dalam perburuannya hari ini? Padahal mangsanya kelihatan sedemikian kecil dan lemah? Lagipula burung jenis ini hanya bisa terbang rendah dan jarak pendek. Yang jelas bukan karena mangsanya yang terlalu besar, terlalu kuat atau terlalu gesit. Jadi kemungkinan besar karena faktor di dalam diri si biawak itu sendiri. Saya nencoba mengingat ingat apa yang ia lakukan.
Ia mengejar dan mengikuti si burung terkwak. Bukan menghadang mangsanya. Ada yang salah?
Mengejar dan mengikuti, membuat si pengejar selalu berada di belakang si terkejar. Pengejar hanya mungkin mencapai posisi si terkejar hanya jika ia bisa bergerak jauh lebih cepat daripada si terkejar. Mengingat bahwa si biawak ini bergerak sangat lambat dibandingkan si burung air yang gesit, rasanya strategy mengejar yang ia lakukan kurang tepat karena tidak didukung oleh kemampuan alaminya sendiri. Sekarang saya teringat bagaimana buaya berburu. Ia memilih lokasi yang tepat yang sering dikunjungi mangsanya, lalu berdiam diri di situ, menutup sebagian besar tubuhnya dalam air agar tidak kelihatan dan ketika waktunya tiba ‘happp!!!’ ia menerkam mangsanya. Ia menghadang. Dan bukan mengejar. Barangkali si byaya sadar akan keterbatasan dirinya sehingga ia lebih memilih untuk menghadang ketimbang mengejar.
Itu hanya apa yang sekilas masuk ke dalam pikiran saya saja. Pada kenyataannya biawak ini toh tetap hidup dan tumbuh sedemikian besar tentu karena kesuksesannya nenangkap mangsa juga setiap hari. Tak selamanta juga ia gagal.  Jika tidak berhasil menangkap burung, biawak bisa makan binatang -binatang kecil lainnya seperti kodok, ikan, belalang, udang, kepiting, cacing dan sebagainya.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s