Cerita Si Ulat Kupu-Kupu Jeruk.

Standard
Ulat Kupu-Kupu Jeruk

Ulat Kupu-Kupu Jeruk

Pagi hari ketika hendak berangkat kerja, sambil melintas saya melirik ke pohon jeruk purut yang saya letakkan di halaman depan. Ups! Kok daunnya pada habis ya? Padahal baru saja bersemi mengikuti musim hujan. Sayapun berbalik. Ingin tahu mengapa.

Oh rupanya ada ulat jeruk berwarna hijau di sana. Ukurannya sejari tengah saya. Waduww!. Lumayan gede juga ya. Saya mengamati ulat itu dari dekat. Warnanya hijau dengan sedikit motif berwarna coklat membuat ia sangat tersamar dengan daun jeruk di sekitarnya. Kamuflase yang baik. Ia diam saja. Tidak bergerak. Barangkali sudah kekenyangan setelah dengan rakusnya ia melahap daun jeruk saya.

Daun muda jeruk purut

Daun muda jeruk purut

Sekarang saya menyadari ternyata semua daun daun muda jeruk itu sudah dilahapnya habis. Hati saya menjadi sedih dan kesal sekali terhadap perbuatan ulat itu. Bagaimana tidak kesal, pohon Jeruk Purut adalah salah satu tanaman kesayangan saya.  Masih terbayang pucuk daun mudanya yang segar dan hijau kemerahan saat baru bersemi. Cantik dan membahagiakan hati setiap kali melihatnya. Kini tak ada bekasnya lagi. Ooh..sedihnya. Saya menarik nafas panjang dan dalam’dalam. Lalu menghembuskan kekecewaan saya ke udara. Bagaimana saya harus mengikhlaskannya?.

Kembali saya mengamati ulat berwarna hijau itu. Ia masih diam di tempatnya. Barangkali ia tidur. Saya menggumam dalam hati. Sebesar itu. Barangkali sebentar lagi ia akan mencapai pertumbuhan optimalnya. Setelah itu menggantung diri dan membungkus badannya dengan serat-serat dari liurnya, lalu menjadi kepompong. Ia akan memilih dahan yang kuat dan terlindung dari hujan dan angin serta aman dari gangguan mahluk hidup di sekitarnya.

Apa yang ia lakukan dalam selimut kepompongnya? Barangkali ia bersemadi. Melakukan refleksi dan penghayatan diri. Mendapatkan pencerahan dan kesadaran diri bahwa ia adalah bagian dari semesta yang maha besar dan maha luas. Ia memasrahkan dirinya pada mekanisme semesta dan mengikuti perubahan sesuai denyut dan hukum semesta. Jika harus berubah maka berubahlah ia. Laksana janin dalam kandungan ibu, yang memasrahkan diri pada proses ‘moulding’ kehidupan.  Tanpa pernah mempertanyakan bagaimanakah design cetakannya. Serta bagaimanakah kelak wujud, bentuk dan rupanya. Ulat itu hanya memasrahkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Pencipta.  Setiap sel dalam tubuhnya bergerak dan menyusun formasi baru. Bertumbuh dan berkembanglah sayapnya. Dan iapun lahir kembali menghirup udara dunia menjadi mahluk baru yang disebut dengan Kupu kupu.

fb_img_1449823140234.jpgUlat ini akan menjadi Kupu kupu Jeruk (Papilio demoleus) yang sangat indah. Kupu-kupu berwarna krem dengan bercak bercak hitam dan sedikit usapan kuning dan jingga dengan bentuk serta kombinasi warna sayap yang luar biasa indah. Saya sangat menyukai Kupu kupu ini dan selalu senang setiap kali ia mampir dan menghiasi halaman rumah saya. Selain indah, kupu-kupu ini juga membantu saya melakukan penyerbukan bunga-bunga jeruk dan  tanaman lain milik saya. Sungguh saya sangat menyukai kupu-kupu.

Tiba-tiba masuk ke dalam pikiran saya. Mengapa saya menyukai kupu-kupunya tetapi tidak mau menyukai ulatnya? Bukankah ulat dan kupu-kupu itu satu paket?. Kupu kupu ada karena ada ulat sebelumnya. Ia adalah mahluk yang sama dengan sebelumnya yang bermetamorfosis. Ia merugikan saat menjadi ulat. Namun membayarkan kembali keuntungan berganda bagi pohon jeruk itu di kemudian hari ketika ia menjadi kupu kupu. Pertanyaan itu membuat jeda lalu lintas pikiran di kepala saya sejenak. Kosong dan hening.

Kekosongan yang jernih, yang memberi saya kesadaran bahwa segala sesuatu di alam ini memang sudah tersedia dalam satu paket yang meminta kita untuk menjalaninya dengan penuh totalitas. Jika kita menyukai kupu-kupu, tidaklah adil jika kita hanya menyukai keindahan kupu-kupunya tetapi membenci ulatnya. Karena kupu-kupu tak akan pernah ada jika tidak ada ulat. Demikian juga halnya dengan yang lain dalam kehidupan.

Tak bisa kita hanya menginginkan seuah kesuksesan jika kita tidak mau dan tidak suka berusaha keras.  Karena sukses tidak pernah datang jika kita tidak berusaha keras. Karena sukses dan usaha disediakan oleh kehidupan dalam satu paket.

Demikian juga ketika kita menginginkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam sebuah hubungan. Nyaris tidak mungkin akan kita bisa dapatkan jika kita sendiri hanya ingin dimengerti namun tidak mau mengerti keadaan orang lain. Karena hubungan manusia sesungguhnya merupakan sebuah paket totalitas dalam memberi dan menerima.

Bahkan ketika engkau mencintai mahluk lain dalam hidupmu, cintailah ia dengan penuh totalitas. Bukan hanya ketika ia indah dan cemerlang laksana kupu-kupu engkau mencintainya. Tetapi juga ketika ia terlihat buruk rupa dan tak berdaya bagaikan ulat. Alam menyediakannya sebagai sebuah paket.

Ulat itu masih terdiam.  Saya menyentuhnya dengan ujung jari telunjuk saya. Rupanya ia terbangun dari tidurnya dan mulai bergerak perlahan. Saya senang melihatnya. Hati saya bahagia.

Semoga damai di hati, damai di bumi dan damai bagi seluruh alam semesta beserta sekalian mahluk hidup di dalamnya.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s