Melon: Sekali Berarti, Sesudah Itu Mati.

Standard

20151123_062001Salah satu potongan sajak yang saya ingat baik dari Chairil Anwar adalah “Sekali berarti, sesudah itu mati!“. Kalimat sang penyair itu terasa memaku kepala saya. Hidup cuma sekali dan sesudah itu kita mati. Jadi kita harus membuatnya berarti. Harus membuatnya bermakna baik bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang di sekitar kita. Barangkali demikian kira-kira maksudnya.

Kenapa tiba-tiba saya teringat kepada kalimat puitik itu?. Nah ..itu gara-gara pohon melon saya.

Saya punya sebatang pohon melon. Ditanam anak saya menumpang di sebuah pot pohon pandan yang tinggi. Ketika pohon melon itu baru tumbuh saya tidak terlalu memperhatikannya. Tetapi ketika ia tumbuh besar, saya mulai terkejut.Waduuh!! pohonnya bisa kemana-mana ini. Mana nanti jika seandainya berbuah,buahnya pasti berat sekali. Akan saya rambatkan ke mana ya?.  Karena takpunya ide yang lebih baik,akhirnya saya memutuskan untukmembiarkan saja pohon melon itu tumbuh. Saya jalarkan ke kawat jalaran pohon timun.

 

Suatu pagi saya lihat pohon itu berbunga.Warnanya kuning dan cantik. Tak seberapa lama bunga-bunga lain bermunculan. Tetapi yang sukses menjadi buah hanya satu. Saya mulai memperhatikan dan memeliharanya setiap pagi.  Buahnya makin hari semakin besar.Saya tetap memeriksa dan mengamati pertumbuhannya. Hingga beratnya tertentu, kawat jalaran timun tidak mampu lagi menyangga beban buahnya. Buahnya pun saya letakkan di pot tanaman pandan. “Tidak apa-apalah diletakkan di situ sambil menunggu buahnya matang“. Pikir saya.

Namun sayang sekali, beberapa hari setelah itu pohon melon saya tiba-tiba layu. Akarnya tercabut oleh anak-anak kucing kecil yang nakal dan bermain-main di dekat batangnya. Pohon melon itupun layu dan akhirnya mati. Yaah…sayang sekali. Saya pikir buahnya belum membesar dengan sempurna.Ia keburu layu dan mati. Saya menunggu sampai pohon itu benar-benar kering barulah akhirnya buahnya saya petik. Ternyata buahnya manis juga.

Pohon melon ini berbuah sekali, setelah itu mati. Ia membuat hidupnya berarti dan berguna bagi saya, sebelum akhirnya ia mati. Terimakasih Melon.

 

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s