Mengejar Ekor Sendiri.

Standard

 

20151213_160205.jpgSaya sedang bekerja di halaman belakang. Menggunting dan mencabut tanaman tomat yang sudah tua dan meranggas, serta bermaksud menggantinya dengan bibit tanaman pakchoi. Tiga ekor anak kucing ikut bermain-main petak umpet di sekitar saya. Di tumpukan sampah pohon-pohon tomat tua itu. Kelihatan sangat riang gembira.

Tak berapa lama saya selesai dengan pekerjaan gunting menggunting saya. Lumayan juga keringetan. Anggap saja berolahraga ya. Saya mengambil minum dan istirahat sejenak. Anak -anak kucing itu pun ikut bubar.  Dua ekor, yang hitam dan yang coklat sekarang sibuk menyusu pada ibunya. Tetapi yang seekor berwarna putih tidak kelihatan bersama. Kemana ya? Saya mencari.

Ooh..rupanya ia masih bermain sendiri di dekat pojok halaman. Sibuk bergerak-gerak sendiri.  Meloncat-loncat dan berputar-putar sendiri. Sedang ngapain sih?  Saya jadi penasaran. Apakah ada anak kelelawar, anak tikus atau mahluk hidup lain yang tertangkap olehnya dan dijadikan mainan kali ini?. Anak kucing ini pernah saya lihat membawa anak kelelawar sebelumnya. Saya lalu mendekat untuk mengamati kelakuan anak kucing itu. Tidak ada anak kelelawar. Tidak ada anak tikus. Tidak ada apa apa. Lalu mengapa ia meloncat loncat dan berputar putar? Ooh rupanya ia mengejar ekornya sendiri.

Anak kucing kecil yang ini ekornya memang agak panjang. Ketika ia menengok ke belakang , barangkali ia melihat ekornya sendiri bergerak-gerak dan menyangka jika itu adalah binatang kecil. Ia tertarik untuk menangkapnya. Bergeraklah ia mengejar ekornya ke belakang. Tetapi karena ia bergerak, maka ekornya mengikuti gerakan tubuhnya ke depan. Anak kucing itu berusaha menangkap lagi. Dan lagi. Berulang- ulang. Tapi tidak pernah tertangkap olehnya sekalipun. Karena si ekor yang menjadi targetnya, bergerak sama gesitnya dengan badan beserta cakar di kaki depannya. Itulah sebabnya mengapa ia berloncat-loncatan dan berputar-putar mirip kucing gila. Ha ha ha… geli juga saya melihat kelakuan anak kucing ini.

Beberapa saat kemudian, akhirnya anak kucing itu menyerah juga. Mungkin ia kelelahan mengejar ekornya sendiri tanpa hasil. Ia terduduk dengan nafas terengah-engah. Saya merasa kasihan padanya. Akhirnya saya usap-usap kepalanya dan saya ambilkan air bersih untuk diminumnya. Cukuplah exercise ini.

Mengejar target itu harusnya memang jelas. Apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya.

Sangat penting bagi si kucing untuk mengetahui dengan jelas, apakah benda yang menarik perhatiannya itu kadal, kelelawar, kodok, tikus ataukah ekornya sendiri. Dengan memahami secara jelas apa yang dijadikan targetnya, sekaligus ia akan mengetahui juga kelemahan dan kekuatan targetnya itu. Serta bagaimana cara memenangkan pertarungannya dengan baik. Misalnya jika itu kodok, setidaknya ia akan tahu bahwa kodok itu jago melompat, bisa sembunyi di celah yang sempit  yang mungkin tidak terjangkau cakar. Dan beberapa jenis tertentu mungkin berbisa juga jika diterkam. Akan tetapi, secara umum kodok adalah target yang sangat mungkin dikejar. Bukan target yang susah. Karena jangkauan dari lompatan kucing lebih jauh dari lompatan kodok. Selain itu kucing juga bisa bergerak lebih cepat dan lebih gesit. Selain itu tubuh kucing sudah pasti lebih besar dari tubuh kodok lah ya.

Tetapi kucing juga perlu memahami di depan untuk apa ia mengejar kodok? Untuk dimakan? Untuk mainan? Atau hanya sekedar menjajal kemampuan dan menjawab tantangan saja? Kalau untuk dimakan kodok beracun jelaslah bikan target yang tepat untuk dikejar.

Jika kita tidak jelas akan apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya, tidaklah heran jika kitapun mirip kucing yang mengejar ekornya sendiri. Berputar -putar tidak jelas. Dan meloncat-loncat ke sana kemari. Mundur maju. Ke depan ke belakang. Menghabiskan waktu dan tenaga dengan sia -sia. Tanpa hasil.

Sekarang saya jadi mulai mengingat-ingat kembali di kepala saya. Apa-apa saja target yang ingin saya capai dalam hidup saya. Rasanya perlu meneliti ulang apakah saya cukup jelas dengan apa-apa yang ingin saya capai dan mengapa saya menginginkannya.

4 responses »

  1. Saya juga suka memelihara kucing.. Bukan kucing anggora, persia ataupun kucing kelas atas lainnya. Hanya kucing jalanan biasa…
    Saya juga sering tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka yang lucu-lucu dan menggemaskan…
    Ada banyak cara Tuhan untuk memberikan pesan kepada kita, termasuk melalui tingkah laku kucing ini…🙂 Mereka memang tidak punya akal, sedangkan kita yang punya akal harus bisa menemukan pesan tersembunyi dibalik sebuah kejadian… Bukankah begitu Mba’?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s