Wayang Di Tepi Kali Opak.

Standard

Di depan restaurant kali Opak di tempat saya makan siang di daerah Klaten, ada sebuah workshop. Saya diberitahu bahwa di sana saya bisa menonton wayang. Karena informasi itu, sayapun ke sana hendak melihat-lihat.
Sesampai di sana tanpa diduga saya melihat seorang bapak sedang tekun memahat kulit untuk dijadikan wayang. Saya tertegun melihatnya. Walaupun  semasa kecil saya di Bali saya sering menonton wayang, seumur hidup, baru kali ini saya melihat bagaimana benda seni ini dibuat.

Pak Nono,pembuat wayang dari tepi kali Opak.

Pak Nono,pembuat wayang dari tepi kali Opak.

Saya meminta ijin untuk mengambil gambar. Bapak pembuat wayang itu setuju. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai Pak Nono. Selain membuat wayang kulit,beliau sendiri adalah seorang dalang.  Di Bali, seorang dalang wayang kulit memiliki kedudukan penting dalam masyarakat dan tentunya sangat dihormati. Karena dianggap menguasai filosofi kehidupan dengan sangat baik. Saya pikir barangkali tidak terlalu berbeda dengan di Jawa.

Saya lalu melihat-lihat apa yang telah beliau ciptakan. Ada beragam wayang kulit di situ. Kebanyakan dari seri Mahabharata.

Gunungan

Gunungan

Pertama yang menarik hati saya adalah Gunungan. Gunungan atau dalam Wayang Kulit Bali ini setara dengan Kayon. Hanya saja kalau di Bali seingat saya bentuknya  lonjong lebih mirip daun. Gunungan, seperti namanya berbentuk seperti gunung. Bentuknya sangat khas, dengan ujung yang runcip di atasnya. Di bawahnya saya lihat ada gambar rumah, hutan serta isinya. Berfungsi sebagai  pembuka dan penutup pertunjukan. Juga pemilah adegan. Gunungan ini merupakan refleksi dari lingkungan alam sekitar yang menjadi tempat tinggal segala mahluk di alam semesta. Termasuk mahluk-mahluk yang digambarkan dalam lakon wayang ini.

Berikutnya yang menarik perhatian saya adalah wayang-wayang dari seri Maha Bharata. Karena kisah ini bertutur tentang perjalanan hidup keluarga Bharata,  keturunan dari dua orang kakak beradik Prabhu Pandu & Drestarasta  yang mengakhiri persengketaan mereka dengan perang besar yang disebut dengan Bharata Yudha di padang Kurukshetra. Putra Pandu dengan Dewi Kunti disebut dengan (Panca) Pandhawa. Sedangkan keturunan Prabhu Drestarastadengan Dewi Gandari disebut dengan (Satus) Kaurawa.

Putra-putra Pandu yang jumlahnya ada lima, dikenal memiliki budi pekerti yang sangat baik dan merupakan pembela kebenaran. DharmawangsaYang paling tua bernama Yudisthira alias Dharmawangsa. Nama ini diberikan karena Yudisthira adalah seseorang yang selalu menjalankan ajaran dharma (kebaikan dan kebenaran) hingga akhir hayatnya. Dikenal dengan sifatnya yang sangat penyayang, penuh welas asih, jujur, adil  dan bijaksana. Yudisthira memimpin adik adik dan keluarganya dalam masa penyamaran.
Ketika berbicara tentang Yudisthira, yang paling saya ingat adalah penggalan ceritanya saat ia mendaki puncak Himalaya bersama anjingnya.

BimaPutra Pandu yang ke dua bernama Bima. Bima adalah seorang ksatria yang sangat gagah berani. satya wacana serta Satya Laksana.Tidak ada satupun musuh yang ditakutinya. Senjatanya gada. Mempunyai putra bernama Gatotkaca dari perkawinannya dengan Dewi Arimbi. Cerita yang paling saya ingat tentang Bima adalah ketika ia mencari Tirtha Amerta Kamandalu mengikuti perintah Drona, gurunya yang bersikap curang dan ingin mencelakannya. Ia melakukan perintah gurunya dengan taat,walaupun haris menyabung nyawanya bertempur dengan raksasa, naga basuki ataupun ombak lautan yang ganas.Pada akhirnya ia berhasilmendapatkan Tirtha amertha itu dengan pertolongan Dewa Ruci. Bima memberi kita contoh akan sikap ksatria yang perlu ditiru. Berani, setia pada ucapan dan setia pada pelaksanaan.

 

Arjuna

Arjuna

Putra ketiga Pandu bernama Arjuna. Ksatria yang tersohor karena kepiawaiannya memanah. Selalu tepat sasaran tanpa pernah meleset. Arjuna juga terkenal akan kegantengannya. Wanita tergila gila padanya. Penggalan kisah Arjuna banyak yang menarik menurut saya. Diantaranya adalah ketika Arjuna bertapa di Gunung Indrakila dalam upayanya untuk mencari kesaktian dan akhirnya mendapatkan anugerah panah Pasupati. Tapi yang lebih menarik lagi adalah saat menjelang perang  besar Bharata Yudha. Dikisahkan bahwa Arjuna sempat berhati lemah dan ragu untuk melakukan perang dan menceritakan kegundahannya pada Krishna. Pembicaraan antara Krishna dengan Arjuna itu penuh dengan pemahaman keTUHANan yang dirangkum dalam kitab suci Bhagawad Githa. Bhagawad Githa = Nyanyian Tuhan.

Nakula - SahadewaAdik Arjuna yang keempat dan ke lima adalah dua anak kembar yang bernama Nakula dan Sahadewa. Dua kesatria kembar ini merupakan adik tiri (adik satu bapak – Pandu tapi beda ibu – DewiMadri) dari Yudisthira,Bima dan Arjuna.Namun demkian, ketiga kakaknya tidak pernah membeda-bedakannya.

Sebenarnya masih banyak lagi wayang-wayang karya Pak Nono yang diletakkan di tempat itu. Setidaknya ada anggota Kaurawa seperti Duryodhana, Dususana, Citraksa, Citraksi, juga dewi Kunti, Dewi Banowati dan sebagainya. Juga tokoh-tokoh dari kisah Ramayana seperti Rama, Sintha, Anuman dan lainnya.

Saya sangat terkesan. Bukan karena banyaknya jumlah wayang yang bisa saya lihat di sana, tetapi kepada rasa heran dan kagum – saya beruntung bisa bertemu dengan  salah satu orang yang mencintai budayanya sendiri dan melestraikannya.

5 responses »

  1. Dulu waktu saya kecil di desa saya sering kali ada pertunjukan wayang setiap ada perayaan, sekarang sudah sangat jarang sekali kalopun ada itu setahun sekali. Wayang di jaman serba canggih seperti sekarang sudah mulai terlibas oleh teknologi mbak….

  2. Kalau sepintas saya tidak bisa mengenal nama tokohnya mbok..kalau ngak teliti hehehehe…tapi kalau orang yang sudah biasa dan paham…sedikit saja ditunjukin langsung bisa kenal nama tokohnya… ngomong-ngomong…foto si bapak keren mbok

  3. Lumayan dapat sedikit cerita ttg pandu dan anak2nya yang hebat2.
    Selama ini sy kurang berminat utk mengetahui cerita wayang, namun dr cerita singkat mb dani saya jd paham….

  4. Saya senang sekalisama wayang. Saat belum ngeh tetang arti kehidupan, saya suka banget yg namanya Pandhawa. Namun pengidolaan saya kini luntur, karena memang mereka bukan 100% panutan. Terlepas dari itu wayang memang gambaran karakter manusia, slain banyak kebaikan, keburukannya pun seabrek. Di sana ada perselingkuhan, perzinahan, penelantaran keluarga, haus kuasa, dsb. Tapi memang wayang adl prototype terbaik manusia menurut saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s