Telor Dadar Bangli.

Standard

image

Ngobrol di group teman teman SMA Bangli selalu menyenangkan. Banyaklah yang diobrolkan. Mulai dari kabar teman-teman, keluarga, acara dan upacara, pingpong, joke hingga ke masakan.

Nah sore tadi entah bagaimana mulainya kami ngobrol soal masakan traditional Bali. Bukan rahasia lagi kalau kaum pria di Bali banyak yang lebih jago masak ketimbang para wanitanya. Dan sudah pasti diantara para pria teman-teman kami yang  ada di grup itu ada yang jago masak.

Saya memanfaatkan kesempatan untuk dibimbing membuat sate lilit yang enak. Secara kedua anak saya adalah penggemar sate lilit Bali. Namun sayangnya teman saya itu hanya mengatakan kuncinya ada pada cara mengadonnya. Dan agar menempel baik di tangkai sate, tekanan tangan saat menempelkan bahan sate harus pas sehingga hasil dan bentuknya indah dan mulus. Wah…saya masih tetap tidak tahu clue-nya.

Lalu ia memberi resep sederhana telor dadar/telor goreng yang enak. Sepintas lalu rasanya tidak ada yang baru. 2 butir telor dikocok dengan rajangan halus bawang merah (4 siung), bawang putih (1 siung), 1 batang daun seledri, sekuku jahe, selembar daun jeruk, cabe rawit nerah yang dibuang bijinya (4 buah) dan garam secukupnya. Lalu apanya yang berbeda? Penggunaan rajangan jahe dan daun jeruk. Itu yang membuatnya berbeda.

Merajang bahan-bahan ini harus halus. Dan telor dikocok agak lama hingga benar benar tercampur.

Panaskan sedikit minyak dalam wajan, gerakkan ke seluruh permukaan penggorengan untuk mencegah lengket. Sebenarnya sih terserah mau digoreng atau didadar. Tergantung selera. Intinya masak di atas api kecil hingga matang dan kekuningan.  Angkat telor. Hidangkan di atas piring saji.

Nah… saya pikir ini sesuatu yang mudah dan cepat dibuat. Mengapa tidak dibuat saja? Saya lalu memeriksa apa saja yang ada di dapur. Semuanya ada. Kecuali daun jeruk.  Baiklah untuk kali ini saya tidak pakai daun jeruk dulu. Tapi saya ada jahe.

Ternyata setelah saya coba enak banget. Bahkan wanginya saat mendadar saja sudah menggoda. Rasanya agak hangat-hangat khas begitu. Mungkin karena pengaruh sedikit jahe di dalamnya. Juga mengingatkan akan rasa telor dadar masa lalu di kampung halaman saya di Bangli. Makan dengan nasi hangat-hangat tentu lebih enak lagi.

Nah…saya kasih lah masakan ini dengan nama Telor Dadar Bangli.

Itulah salah satu guna teman. Berbagi resep masakan. Terimakasih ya teman…

8 responses »

  1. Wah sy plg suka deh kl ibu sdh masak telur dadar ini. Bs kalap makannya, nambah berkali2 haha. Tp ibu ga pernah sih pake daun jeruk mb, cm jahe rajang itu aja. Dan biasanya sama ibu di orak arik, bkn di dadar sih. Tp spt yg mb blg, itu soal selera aja sih ya hehe

  2. perlu banget aku coba nih…
    anak2 suka banget telor dadar, dari yg biasa ala rumahan, telur dadar Padang sp omelet, senangnya ada variasi baru dari Bangli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s