Bangli: Sarcophagus Di Desa Adat Cekeng.

Standard

Wisata Sejarah Bangli.

Suatu kali Komang Karwijaya, seorang teman dari adik saya nge-tag sejumlah foto-foto menarik di time line media social. Foto-fotonya banyak. Tentang berbagai tempat dan hal-hal menarik di Bangli.  Salah satu yang menyedot perhatian saya adalah foto tentang keberadaan Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Kecamatan Susut, Bangli. Saya terkesima.

Seperti kita tahu Sarcophagus adalah salah satu peninggalan sejarah berupa kubur batu. Selama ini saya hanya mengetahuinya dari pelajaran sejarah. Sama sekali tidak pernah menduga jika di Bangli, daerah kelahiran saya juga menyimpan sisa peninggalan sejarah itu. Dan rupanya ada di beberapa desa juga. Salah satunya adalah yang berada di Desa Cekeng ini.

Sarcophagus pada umumnya merupakan cekung batu yang terdiri atas bagian wadah (palung) dan bagian atap. Didalamnya diletakkan tubuh sang meninggal dalam posisi meringkuk seperti bayi, dengan filosofi bahwa posisi saat meninggal disesuaikan dengan posisi saat bayi berada dalam kandungan ibu. Di dalamnya juga umumnya terdapat beal kubur berupa manik-manik dan perhiasan lain. Kubur batu ini kemudian ditutup. Pada bagian depan dan belakangnya biasanya terdapat tonjolan yang diukir dengan motif  kepala kura-kura atau wajah manusia.

Menurut informasi dari lembaga Pubakala yang sempat saya baca, cara mengubur dalam peti batu ini dilakukan oleh masyarakat bali pada Jaman Besi-Perunggu atau masa pra sejarah. Sekitar 200-500 tahun sebelum Masehi. Berarti tua banget ya…

Sesuai informasi Sarcophagus di desa Cekeng ini ada 2 buah.

Sarcophagus di Desa Adat cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di Desa Adat Cekeng, Susut, Bangli. Photo milik Komang Karwijaya.

Yang pertama letaknya di pura Puseh desa adat Cekeng. Ukurannya agak besar. Yang tersisa hanya palung batu bagian bawahnya saja. Penutupnya tidak ada. Demikian juga isinya. Pada bagian depan terdapat tonjolan yang mungkin berfungsi sebagai bagian dari pintu sarcophagus. Tonjolan itu diukir dengan wajah manusia yang mirip kura-kura. Sarcophagus ini diletakkan di sebuah bangunan kecil dan beratap.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus di desa Adat Cekeng. Photo milik Komang Karwijaya.

Sarcophagus yang ke dua terdapat di tegalan. Juga tidak lengkap. Hanya tersisa bagian bawahnya saja. Ukurannya lebih kecil dari sarcophagus yang di Pura Puseh Cekeng. Karena tergeletak di udara terbuka di tegalan, sarcophagus ini agak lumutan dan tentunya menjadi penampung air jika hujan turun.

Kelihatannya sangat menarik dari apa yang saya lihat di foto dan sedikit penjelasan dari Komang.  Ini tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi jika suatu saat saya mendapatkan kesempatan berlibur.  Saya ingin datang dan melihat sendiri tempat ini dan peninggalan sejarahnya.  Saya pikir banyak orang lain juga pasti ingin berkunjung ke sini. Apalagi mereka yang menyukai wisata sejarah.  Yuk kita main ke desa Cekeng.

Bagaimana cara mengakses tempat ini? Cukup mudah. Kita bisa mengaksesnya lewat Desa Penglipuran. (Tahu dong, Desa Penglipuran? Adalah salah satu Desa Traditional di Bali yang masih mempertahankan tradisi Bali asli. Saat ini merupakan salah satu desa tujuan wisata Bali). Kira-kira jaraknya sekitar 45 – 50 km dari Denpasar.  Cara lain kita juga bisa mengaksesnya dari banjar Alis Bintang, desa Susut – kecamatan Susut Bangli.

Selain Sarcophagus ini, saya denger desa cekeng juga memiliki peninggalan-peninggalan lain yang tak kalah menariknya untuk dilihat. Gapura Agung dan bangunan-bangunan suci lainnya yang penuh dengan ornamen kuno. Di sana kita juga masih bisa melihat alat penumbuk padi jaman dulu.

Yuk kita berkunjung ke desa Cekeng!

Kita kenali sejarah kita dan cintai tanah air kita!.

8 responses »

    • Selamat Tahun Baru Mbak Lidya. Semoga di tahun yang baru datang ini Mbak Lidya sekeluarga diberkahi dengan kebahagiaan dan kesuksesan yang melimpah..

      Mudah-mudahan juga suatu hari bisa berkunjung ke Bangli.Ke desa adat Cekeng.

  1. Pingback: Bangli: Sarcophagus Dukuh Prayu Bunutin. | nimadesriandani

  2. Duh, Penglipuran saja saya nggak tahu, Mbok… #hehe. Eh tapi sarkofagusnya mirip ya dengan sarkofagus yang saya foto di Museum Gedong Arca Gianyar. Hm, cuma yang bikin saya penasaran adalah kenapa sarkofagusnya dibantenin, terus cerita apa yang ada di balik sarfofagus itu. Kok yang satu sayang banget tidak diletakkan di bawah atap juga, malah dibiarkan seperti itu. Wawawa bucketlist nih kalau pulang ke Bali nanti! :hihi. Terima kasih atas rekomendasinya, ya.

    Om Swastyastu, salam kenal! Tiang anak Bali yang nyasar di Jakarta :hoho. Nyasar kemari gara-gara Mbak Monda nyebut sarkofagus :hihi. Bali memang jos banget kalau urusan masyarakat prasejarah!

    • Swastyastu, salam kenal mewali Gara. Ayo dong main ke Bangli kalau kapan sempat libur. Kita melihat desa Penglipuran dan setelah itu sekalian melihat desa adat Cekeng dengan sarcophagusnya.

      Sepemahaman saya, salah satu sarcophagus yang di Bangli memang ada yang diambil dan disimpan di museum itu.

      Kenapa sarcophagusnya dibantenin? Nah..itu pertanyaan yang menggelitik. Saya pikir jawabannya karena masyarakat Bali dalam kehidupannya menjalankan apa yang namanya Panca Yadnya,yakni Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa yadnya, Rsi yadnya dan Butha yadnya dalam upayanya mencari keseimbangan dan kesempurnaan hidup. Itulah sebabnya mengapa tetap mebanten di sarcophagus sebagai salah satu bagian beryadnya.

      Untuk sarcophagus yang dibiarkan tergeletak di alam terbuka… ya mudah-mudahan suatu saat pemerintah daerah bisa memberikan perhatian lebih agar situs ini bisa lebih lestari dan tidak aus kehujanan dan kepanasan.

      Suksma ya..sudah mampir ke sini….Mudah2an nanti bisa main ke desa adat Cekeng

      • Iya Mbok, kita orang Bali memang punya cara-cara paling harmonis banget dalam menjaga keseimbangan dengan alam, ya… :hehe.
        Tentu saja tiang mau ke Bangli dan melihat langsung semua itu, oh semoga dapat liburan dalam waktu dekat :hihi! Terima kasih atas penjelasannya ya Mbok :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s