Monthly Archives: February 2016

Happy Lunar New Year!-Gemerlap Cahaya Jalanan Saigon .

Standard

GONG XI FA CHAI.

20160129_214533.jpgBeberapa hari yang lalu saya berada di kota Ho Chi Minh untuk urusan pekerjaan. Karena bukan perjalanan tamasya, tentu saja saya tak punya banyak waktu untuk melihat-lihat. Kalaupun ada sedikit, itu hanya di malam hari. Namun demikian, bagi saya kunjungan kali ini tetap saja sama berkesannya dengan kunjungan-kunjungan saya sebelumnya ke negara ini.

Saat melintas di jalan untuk acara makan malam, saya terkesima oleh pemandangan kota yang sedemikian indahnya. Cahaya terang benderang menghiasi sudut-sudut kota. Warni-warni. Ada yang pink, putih, hijau, kuning, jingga, biru dan sebagainya. Sangat meriah. Lampu-lampu jalanan ditata sedemikian rupa sehingga membentuk bunga-bunga yang bermekaran, pepohonan, kupu-kupu serta burung-burung yang beterbangan. Berdiri di tepi jalannya, membuat saya serasa sedang berada di negeri dongeng. Ada beberapa tulisan juga – tapi karena ditulis dalam Vietnam script, saya tak bisa membaca.

Karena penasaran sayapun bertanya, mengapa kota ini didandani sedemikian meriah? Pak Supir yang mengantar saya menjelaskan, bahwa kota ini didandanin untuk menyambut Lunar New Year alias Imlek pada tanggal 8 Feb 2016 (hari ini). Oohh… pantesan sedemikian meriahnya. Padahal waktu itu Imlek baru akan jatuh  minggu depannya lagi, tapi suasananya sudah sedemikian terasa.  Semua orang kelihatan semangat. Berbahagia. Senang menyambut hari raya yang segera datang. Saya pun jadi ikut senang melihat orang-orang senang.

Gong Xi Fa Chai, teman-teman !. Semoga di tahun yang akan datang ini kebahagiaan dan keberuntungan datang dari segala penjuru.

 

 

 

Advertisements

The Hunter.

Standard

img_20151030_082711.jpgSaya punya 3 ekor anak kucing yang sekarang sudah mulai besar. Lahir dari seekor kucing liar betina yang diberi makan sejak kecil oleh anak saya. Lama kelamaan kucing betina yang diberi nama Cudly itu betah di rumah dan beranak.

2015-11-23-07.16.12.jpg.jpegTiga ekor anak kucing itu sangat berbeda warnanya. Yang lahir paling awal berwana hitam dengan sedikit bercak putih. Yang lahir ke dua berwana putih dengan sedikit bercak hitam. Sedangkan yang ke tiga berwarna coklat penuh. Karena tidak sempat memikirkan namanya kami menyebut anak kucing itu dengan kode warnanya saja. Si Hitam, Si Putih dan Si Coklat. Induknya sendiri belang tiga, Putih dengan bercak Hitam dan coklat.

Tingkah lakunya pun berbeda beda. Si Coklat cenderung serius. Hobinya makan. Sehingga paling gendut diantaranya. Si Putih sangat tenang dan lembut. Ia seekor kucing rumahan. Sedangkan Si Hitam kucing yang sejak lahir sudah ketahuan bibit bibit bandelnya.

Hal ini membuat saya semakin percaya bahwa setiap individu itu sudah membawa sifatnya masing-masing di luar nilai-nilai kehidupan yang dibangun keluarganya. Walaupun satu keluarga, belum tentu sifatnya sama.

img_20151106_191532.jpgMata kucing saya yang hitam ini termasuk “belo” untuk ukuran mata kucing.
Kelakuannya ampuun. Sangat nakal. Ia hobby merusak tanaman saya. Memanjat barang anggrek dan pohon cabe, lalu menarik-nariknya sampai mati. Ia juga menginjak-injak tanaman sayur saya. Seekor kucing preman. Kalau dilarang, maka ia akan melawan. Matanya melotot tanpa bersalah. Seolah-olah menantang bahwa apa yang ia lakukan adalah benar. Namun demikian tampang dengan mata belonya itu selalu kelihatan lucu.

Suatu hari ia terlihat sedang bermain main dengan sebuah benda berwana hitam di kakinya. Benda itu bergerak-gerak menandakan bahwa ia adalah mahluk hidup. Segera saya mengambil kacamata minus saya. Ya ampuuun…setelah saya perhatikan, benda hitam itu  ternyata seekor anak kelelawar. Dengan segera saya merebut anak kelelawar itu dari kakinya. Takutnya luka luka akibat cakaran kucing. Anak kucing saya terlihat tidak setuju. Ia pun memandang saya dengan mata protes. matanya membesar. Aduuuh…..Ia benar -benar tidak paham bahwa anak kelelawar kecil yang jatuh  itu perlu ditolong dan dilepas ke alam lagi. Bukannya diuyek-uyek dijadikan mainan.

20151209_153043.jpgKebandelan berikutnya yang ia lakukan adalah kabur dari rumah. Ketika saudara-saudaranya yang lain masih sibuk menyusu dan bermalas-malasan dengan induknya, Si Hitam sudah belajar memanjat tembok dan naik ke atap genteng. Semakin dilarang, semakin ia menjalankan niatnya. Jika diturunkan,ia segera naik lagi.

Suatu kali ia kabur dari rumah. Saya sedih bukan kepalang. Coba telusuri dan tanya-tanya tetangga. Barangkali ada yang ketemu. Tapi tidak ada seorangpun yang melihatnya. Ia menghilang begitu saja, seolah-olah ditelan bumi. Walaupun ada yang memberi tahu “kucing jantan memang suka kabur” tapi tetap saja saya merasa sedih. Ia masih terlalu muda.

Setelah beberapa hari menghilang, akhirnya saya mulai bisa menerima keadaan. Berpikir barangkali ada yang sudah mengadopsinya dan memberinya makan. Biarlah,kalau memang begitu. Semoga saja demikian. Setidaknya ia tidak kedinginan dan kelaparan di jalanan.

Tapi pada suatu malam, ketika Si Mbak pulang dari ruko, ia melihat Si Hitam sedang mengeong di dekat Tukang Pecel Ayam. Bercampur dengan kucing -kucing liar yang lain, Si Hitam rupanya menjadi sangat kurus kering. Akhirnya Si Mbak memanggilnya dan kucing hitam itupun pulang kembali ke rumah. Saudara saudaranya sangat senang  ia kembali. Demikian juga dengan saya dan anak-anak. ia segera mendapatkan makanan yang enak dan dimandikan oleh anak saya.

20151209_153110.jpgSetelah itu ia anteng selama beberapa hari. Ia menjalankan tugas menjaga rumah di halaman belakang. Selama ia ada, tidak ada seekor tikuspun yang berani masuk ke halaman. Jika ada yang berani menunjukkan moncongnya sedikit saja, langsung ia terkam tanpa ampun. Beberapa kali ia pergi keluar rumah tapi setelah sehari dua hari ia pulang kembali. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Nah  kemarin pagi, kebetulan saya kurang sehat karena flu dan demam. Saya tidak berangkat ke kantor.  Anak saya memberitahu kalau semalam Si Hitam menangkap seekor Burung Merpati dan mengoyak-ngoyak sayapnya. Ya ampuuun. Kasihan banget burung merpatinya. Saya memeriksa burung merpati itu sebentar. Lukanya tidak separah yang saya duga. Rupanya sudah dikasih obat merah oleh Si Mbak. Setelah agak pulih, burung merpati itupun dilepaskan kembali ke alam bebas. (Saya lupa mengambil foto burung merpati  yang menjadi korban perburuan Si Hitam).

Dan hari ini , anak kucing hitam itu pergi lagi keluar rumah. Saya tidak tahu akankah ia kembali lagi dan kapan. Entahlah. Saya rasa darah pemburu mengalir deras dalam dirinya. Ia seekor petualang sejati. Tak ada gunanya saya berusaha memaksanya menjadi kucing rumahan yang lucu dan manja. Karena alam liar menunggunya di luar sana. Tempat di mana ia menemukan jiwanya sendiri. Tempat di mana ia bisa berdamai dengan nalurinya sendiri.

Dan sebaiknya saya tidak usah terlalu mengkhawatirkan hidupnya.Ia akan menemukan makanannya sendiri tanpa harus dibantu oleh manusia seperti saya. Karena ia seekor pemburu sejati.

Urban Farming: Daun Pepaya Jepang.

Standard

Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya pernah menulis tentang beberapa jenis sayuran yang relatif baru di dapur saya. Nah diantara sayuran yang belum lama saya kenal itu, saya ada menulis Daun Pepaya Jepang. Saya membayangkan pohonnya  tentu seperti pohon pepaya namun kecil-kecil. Saya tak pernah melihat sebelumnya.

Tak disangka, rupanya setahun setelah itu saya mulai menanam pohon Pepaya Jepang ini di halaman rumah saya dalam rangka menopang program ‘Dapur Hidup’ saya. Walaupun tinggal di daerah perkotaan dengan halaman sempit, saya tetap berusaha mengurangi ketergantungan akan kebutuhan dapur, jika tidak bisa disebut sebagai berupaya melakukan swa sembada kebutuhan dapur dari halaman sendiri.

Bagaimana asal muasalnya, mengapa saya bisa memilih tanaman ini sebagai salah satu penghuni Dapur Hidup saya?. Nah.. ini sebenarnya bermula dari sebuah ketidak sengajaan.

Pak Sopir yang mengantarkan saya tiba-tiba bertanya saat kami sedang di jalan “Ibu! Tahu nggak Ibu sayuran Daun Pepaya Jepang?” tanyanya. Ia memang suka mengajak saya ngobrol atau menanyakan pendapat saya tentang berbagai hal yang menarik perhatiannya. Tentang apa saja.

Oh? Saya yang sedang asyik bermain games di jok belakang langsung menutup hape saya. Tentu saja saya tahu. Saya adalah salah seorang ibu rumah tangga yang sangat terkesan akan sayuran itu. Bentuknya mirip daun pepaya tetapi kecil-kecil, sedangkan rasanya seperti daun singkong dan tidak pahit sama sekali. Jadi lumayan membantu banget kalau lagi pengen masak daun pepaya tapi nggak mau pahit.

Pak Supir lalu bercerita, bahwa neneknya yang tinggal seorang diri dulunya sering berjualan daun pepaya jepang untuk menyambung hidupnya. “Ooh? Sekarang masih?” tanya saya. “Sekarang sudah tidak lagi, Bu. Tapi pohonnya masih ada. Ibu mau? Nanti saya bawain” katanya menawarkan. Tentu saja saya langsung mengiyakan dengan senang hati. saya memang sudah lama penasaran akan wujud pohon pepaya Jepag ini.Karena yang saya tahu hanya daunnya dari tukang sayur.

Akhirnya esok harinya Pak Supir membawakanlah saya batang tanaman pepaya jepang ini ke rumah utnuksaya jadikan bibit.  Oooh..jadi begini bentuknya!. Saya mengamat-amati batang tanaman itu.

Bentuknya rupanya mirip dengan batang Ubi Kayu alias singkong. Tapi menurut Pak Supir tanaman ini tidak berumbi. Jadi tidak dibudidayakan orang untuk umbinya. Tidak pula berbuah seperti pepaya.  Hanya berbunga saja kecil-kecil mirip bunga tanaman Jarak mini (Jatropha) bentuknya. Tanaman yang aneh. Berdaun seperti pepaya (Carica) berbatang seperti singkong (Manihot) dan berbunga seperti jarak (Jatropha). Saya terheran-heran, bagaimana dua tanaman yang berada dalam 2 family yang berbeda bisa memiliki kesamaan daun seperti ini. Tapi setelah melihat batang dan bunganya, saya cenderung berkesimpulan bahwa tanaman ini lebih dekat ke  family Euphorbiaceae ketimbang ke family Caricaceae (pepaya).

Ada beberapa batang. Ada yang saya tanam di pot, dan ada juga yang saya tanam di polybag. Tidak ada perbedaan perlakuan ekstreem antara yang di pot dengan yang di polybag. Sama saja suburnya. Tetapi ternyata ada perbedaan kecepatan pertumbuhan antara yang diletakkan di halaman belakang  dengan yang diletakkan di halaman depan di dekat kolam. Yang di dekat kolam dan kecipratan air, ternyata lebih hijau dan subur,

Dalam beberapa minggu ternyata daun pepaya jepang ini sudah bisa dipanen. Lumayan kan buat nambah variasi masakan di dapur? Daunnya bisa ditumis, dimasak kuah santan, atau mau dijadikan botok, diurap, dikasih teri, atau direbus dijadikan lalap dan dicocol sambel terasi juga enak sekali. Tinggal petik segar-segar dari halaman. Diolah. Segar dan manis.

Itulah tanaman pepaya Jepang. Salah satu tanaman sayuran yang layak sekali masuk ke dalam daftar “Dapur Hidup”kita. Menanamnya mudah dan pemeliharaannya juga mudah.

Lumayan banget buat irit-irit belanja dapur.

 

Bangli: Jukut Tongkol, Sayuran Gurih Dan Unik.

Standard

imageKalau ada masakan yang paling saya kangeni saat ini adalah Jukut Tongkol alias Sayur Kecambah Kacang Kara dari Bangli, Bali – kampung halaman saya tercinta. Dan sekarangpun setahu saya pedagangnya tinggal 1 orang saja. Dan jika pedagang ini tidak membuat Jukut Tongkol lagi, saya khawatir makanan ini hilang dari peredaran pasar, walau barangkali di dapur-dapur penduduk masih ada masyarakat yang membuatnya sendiri.

Nah, pertanyaannya adalah mengapa sayur ini jarang ada yang menjual, padahal rasanya sangat enak dan gurih serta banyak orang yang menjadikannya sayur favorit?.
Saya pikir masalahnya adalah di bahan baku. Yaitu Tongkol itu sendiri. Jika kita mudah membeli Kecambah kacang hijau atau kecambah kacang kedelai di pasar, tidak demikian halnya dengan Tongkol. Tongkol atau Kecambah Kacang Kara, tidak umum diperdagangkan di pasar. Jadi, jika seseorang ingin membuat Jukut Tongkol, maka ia sendiri harus membuat kecambah tongkolnya sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana proses memasak Jukut Tongkol agar didapatkan cita rasa yang unik, gurih dan sedap?

2016-02-02-23.36.17.png.pngMenurut keterangan begini nih cara memasaknya:
1/. Tongkol dibersihkan dengan baik. Dipotong ujung akarnya.
2/. Tongkol direbus dengan air kunyit untuk memberi warna kuning dan menjamin bebas dari penyakit. Setelah matang, tongkol ditiriskan.
3/. Bumbu yang terdiri atas Bawang Putih, Kencur dan Bawang Merah plus sedikit cabe dan garam diulek lalu digoreng. Ditambahkan santan dan sedikit tepung beras jika ingin kental. Dimasak hingga matang.
4/. Tongkol  diurap dan diaduk rata dengan bumbu.
5/. Dihidangkan dengan ditaburi bawang goreng, cabai dan kelapa goreng.

Nah…begitu kurang lebihnya.  Lebih mantap lagi kalau dimakan dengan nasi panas -panas. Mantap deh.

Untuk yang penasaran, yukkita berkunjung ke Bangli. Di Pasar Kidul, kita masih bisa menemukan dagangnya pada saat ini. Kita nikmati kuliner Bangli yang unik dan langka ini.

Catatan: Gambar adalah milik Putu Suiraoka Gaing