Over Protective.

Standard

image
Anak saya yang kecil pergi camping. Wajahnya berseri-seri ketika menginformasikan kegiatan sekolahnya itu. Saya ikut senang. Teringat ketika saya seumurnya.Saya melakukan hal yang sama dan alangkah menyenangkannya.  Tidur di tenda, berpetualang, menjelajah alam, mencari jejak, menyalakan api unggun. Belajar mandiri.

“Bolehkanh mama ikut?” tanya saya berharap. Anak saya terkejut. “Ah, jangan Ma! Nggak ada mama-mama yang lain yang ikut.Lagipula tidak boleh sama Ibu Guru” kata anak saya. Weh.. saya kecewa.

“Oke deh. Kalau gitu ntar mama tengok aja ya” kata saya lagi.  Anak saya tetap tidak mengijinkan. “Janganlah Ma!. Aku malu sama teman-temanku”. Saya merasa heran, kenapa sih harus malu ? Kan cuma ditengok doang.  Anak saya tetap mengatakan tidak bisa. Bahkan hape saja tidak boleh dibawa. “Kalau dibawa akan disita Ibu Guru”, katanya. Tapi akhirnya saya setuju untuk tidak mengantar dan tidak menengok.

Saya hanya membantu menyiapkan benda-benda yang perlu ia bawa. Pakaian secukupnya, tidak kurang dan tidak berlebih. Agar backpack-nya tidak terlalu berat. Tali pramuka, sabun-odol-sikat gigi, sweater, selimut tipis, handuk, payung dan senter. Sambil meyiapkan peralatannya saya membayangkan suasana camping. Sebenarnya sih tidak ada yang bahaya, tapi entah kenapa saya merasa sangat khawatir.

Musim hujan begini! Saya khawatir tendanya kerendam air. Saya menawarkan agar ia membawa jas hujan yang berbahan plastik. “Nggak usahlah Ma!.Kan sudah bawa payung lipat” katanya.  “Buat jaga-jaga” kata saya. “Nggak usah. Payung saja cukup. Kan tidak boleh bawa banyak-banyak barang” kata anak saya.

Bagaimana nanti makannya? Tidak boleh bawa uang, sementara saya hanya diminta mempersiapkan bekal makan siang saja. Itupun ukurannya kecil-kecil saja. Tidak mau membawa banyak makanan. Saya membelikannya beberapa jenis snack. Buat jaga-jaga siapa tahu ia nanti kelaparan. Kan bisa bagi-bagi dengan teman-temannya. “Ntar jadi nyampah di sana, Ma.Aku tidak mau membuang sampah sembarangan. Apalagi sampah plastik” katanya. Ah! Positive thinking saja. Tentu saja makanan pasti disiapkan oleh Bapak Ibu gurunya .Saya menepis pikiran buruk saya. Akhirnya ia hanya bersedia membawa sebotol air minum saja, selain bekal makan siang.

Lalu saya teringat akan danau yang berada tak jauh dari tempat anak saya akan camping. “Jangan nakal-nakal nanti di sana ya… Jangan main ke danau. Harus hati-hati” kata saya. Anak saya tampak mulai tidak sabar.”Udahlah Ma. Aku juga tidak mungkin  nakal-nakal. Aku kan nanti akan hanya ikut kegiatan yang ditetapkan. Lagipula aku sudah gede. Aku tahu mana yang berbahaya, mana yang tidak” katanya. Saya tertawa.

Ya. Sebenarnya saya tahu kalau ia sudah gede. Dulu saya bermain juga ke danau,walaupun saya tidak bisa berenang. Nah, sekarang jelas-jelas anak saya jauh lebih jago berenang dari saya, mengapa pula saya sangat khawatir.

Lalu anak saya mendekat “Mengapa sih mama over protective banget sama anaknya?” tanya anak saya dengan wajah serius. Saya nyengir dibuatnya. Pikiran saya melayang ke 35 tahun yang lalu. Cepat sekali melintas. Saya ingin berkemah. Walaupun akhirnya mengijinkan, tetapi Bapak saya banyak sekali larangan ini dan itunya. Nggak boleh begini. Nggak boleh begitu. Harus hati-hati. Jangan makan dan minum sembarangan. Bawa pakaian tebal.Bawa payung. Dan juga minyak gosok. Tidak boleh mekelanyiran (mekelanyiran = centil, dekat-dekat dengan teman cowok). Jangan mau jika dikasih minum oleh teman laki atau orang yang tidak dikenal. Kalau tidur di tenda harus pakai celana panjang. Jangan lupa berdoa.Dan seterusnya, dan seterusnya yang membuat saya stress. Setelah itu, Bapak saya juga menyuruh kakak-kakak sepupu saya menengok saya di tepat kemah. Kok rasanya seperti dimata-matai ya?. Hingga akhirnya, suatu ketika saya pernah protes keras kepada Bapak – saya merasa diperlakukan dengan tidak adil dan tidak dipercaya.

Sekarang saya baru tahu apa yang dirasakan oleh Bapak saya. Setiap orang tua pasti memiliki kekhawatiran akan anaknya. Tapi jika dulu saya bisa melewati masa -masa berkemah itu dengan baik, tentu anak saya akan bisa mekewatinya dengan jauh lebih baik lagi. Ia memiliki ketahanan fisik yang lebih dari saya saat seumurnya. Dan ia juga memiliki pengetahuan dan skill yang lebih baik ketimbang saat saya di umurnya. Lah…mengapa saya harus mengkhawatirkan anak saya.

Camping ataupun menjelajah di alam bebas memberikan manfaat yang luar biasa kepada perkembangan jiwa anak. Menurut saya, anak-anak yang terbiasa berkemah, wawasan dan tingkat kesiapan menghadapi hidupnya akan sangat tinggi. Pengalaman hidup di alam akan membuatnya tidak takut hidup susah. Tidak takut miskin. Lebih cepat tanggap jika ada masalah, dan lebih cepat pula mencari pemecahannya.  Karena ia tahu, jawaban untuk setiap permasalahan selalu ada di alam. Tinggal bagaimana kita mencari dan menemukannya.

Baiklah!.Akhirnya saya merasa tahu apa yang harus saya lakukan. Mengijinkan anak saya berkemah dengan keikhlasan hati.Biarlah ia mengalaminya sendiri. Dan memetik manfaatnya sendiri. Untuk dirinya sendiri di kemudian hari.

 

 

 

 

5 responses »

  1. Apa khabar Jeng Dani? ternyata saat camping yang perlu belajar adaptasi nggak hanya anak ya, kita orang tuapun ikutan belajar melepas anak. Selamat Jeng telah melewati tahap itu. salam hangat

  2. emang berat… kita juga baru ngerasain. andrew pergi camping 3 hari 2 malem sama sekolahnya 2 minggu yang lalu… si esther sampe nangis2. hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s