Mengenang Sekolahku Tercinta, SD II Kawan Bangli Yang Terbakar. Part 2.

Standard

image

Karena sebelumnya saya bercerita tentang betapa bagusnya kualitas ‘non akademis” di SD II Kawan Bangli yg pada jaman dulu bernama SD III Bangli, lalu ada yang bertanya bagaimana dengan kualitas akademisnya? Ada juga adik kelas yang meminta saya menceritakan tentang guru guru kami pada saat itu.

Inilah pengalaman yang saya alami selama bersekolah di sana.

Menurut saya, sekolah ini memiliki kwalitas akademis yang lumayan bagus jika dibandingkan dengan sekolah dasar yang lain pada saat itu. Sekolah kami juga aktif mengirimkan wakilnya di ajang kompetisi Siswa Teladan, ajang Cerdas Cermat dan ajang kompetisi lainnya bagi anak SD dengan menuai cukup banyak kesuksesan dari tahun ke tahun.

Pun berhasil mencetak alumni dengan kwalitas yang unggul. Tidak sedikit kakak kelas maupun  adik kelas saya yang memiliki prestasi bagus yang diakui di tingkat kabupaten, provinsi bahkan di tingkat nasional. Dan tentunya prestasi itu tidak mungkin tercapai jika tidak didukung oleh kwalitas guru yang handal.

Untuk itu saya ingin mengucapkan terimakasih saya yang amat besar kepada para Ibu dan Bapak Guru yang telah mendidik kami dengan susah payah. Dengan sangat sabar dan tulus. Saya ingin mengenang mereka di sini satu persatu.

Guru saya di kelas 1 dan kelas 2, bernama Ibu Rai. Beliau mengajarkan saya dasar-dasar budi pekerti yang baik. Disiplin yang baik dan taat pada tata tertib yang berlaku. Tubuh dan pakaian yang bersih, rambut yang rapi, kuku yang terpotong pendek dan bersih, masuk dan keluar kelas dengan tertib dan tepat waktu. Beliau juga yang memperkenalkan alphabet latin kepada saya sehingga saya bisa nembaca dan menulis. Dan juga sekaligus mengajarkan saya dasar- dasar aksara Bali ha na ca ra ka. Juga mengajarkan saya dasar-dasar ilmu berhitung, tambah, kurang, kali dan bagi. Beliau adalah seorang guru yang sangat sabar, baik, penuh perhatian namun juga sekaligus tegas dan disiplin.
Pada saat kelas satu saya hanya belajar 2 jam per hari. Mulai belajar pukul 7.00 pagi dan pulang pukul 9.00. Sedangkan saat kelas dua, kami masuk mulai jam 9.00 pagi dan pulang pukul 12.00.
Yang menarik untuk saya ceritakan di sini adalah bahwa pada jaman itu buku tulis/buku kertas belum ada. Jadi kami belajar dan latihan menggunakan batu tulis atau Lai. Sedangkan alat untuk menulisnya adalah Grip. Setiap kali latihan , ibu guru akan mengumpulkan Lai kita. Memberi nilai dengan kapur. Saya sangat senang, karena jika saya betul semua atau nilainya 100, saya akan tempelkan ke pipi saya. Angka 100 atau tanda betul semua itupun menempel di pipi. Lalu saya tunjukkan ke Bapak saya dengan bangga. Bapak saya tentu senang melihat saya selalu mendapat score 100 setiap saat. Setelah akhir kelas 2 atau awal kelas 3 barulah muncul buku kertas dan saya termasuk orang yang beruntung bisa mempelopori penggunaan buku kertas dan pensil di sekolah.

Sekarang kalau dipikir-pikir, belajar dengan lai itu sebenarnya sulit juga. Karena kita hanya punya satu  lai. Apa yang kita catat selalu kita hapus lagi. Tulis- hapus- tulis – hapus. Dibutuhkan otak yang sangat kuat untuk memahami dan menghapalnya – karena catatan itu sudah terhapus. Salut juga sama orang-orang jaman dulu yang sepanjang sekolahnya memakai batu tulis. Daya ingatnya tentu luar biasa.

Jaman itu juga belum banyak murid yang punya sepatu. Ke sekolah kami ya nyeker saja atau paling banter menggunakan sandal jepit. Saya juga punya sepatu. Tapi apa daya, karena sepatu pada jaman dulu adalah barang mewah, saya  hanya menggunakan sepatu saat berada di dalam kelas saja. Saat jam istirahat saya melepas sepatu. Demikian juga jika pulang. Sepatunya saya lepas, saya tenteng atau panggul di punggung saya, sementara saya nyeker ke rumah. Sayang sepatu. ..ha ha.

Suatu kali di hari kenaikan kelas, tidak ada pelajaran hari itu. Jadi saya hanya bermain di halaman sekolah bersama teman-teman. Tentunya dengan melepas sepatu. Tiba-tiba saya dipanggil Ibu Rai. Ooh.. dengan terburu-buru saya masuk ke dalam kelas. Sepatu saya ketinggalan di halaman. Ternyata saya mendapat ranking 3. Ranking pertama diduduki oleh teman saya  Komang Suarsana dan ranking ke dua oleh Putri Paramitha.  Sayapun dipotret dan tentunya…..tanpa sepatu!.

Saya sangat senang. Demikian juga Bapak Ibu saya. Itulah saat  pertama kalinya saya tahu ternyata di kelas itu ada ranking- rankingan. Kalau kita pandai, kita dapat juara. Saya ingin mendapat ranking satu. Tidak mau ranking 3!. Bapak saya tertawa. Kata bapak saya, “Kalau begitu  kamu harus berusaha!”.  Dan sayapun berusaha. Demikianlah di tahun berikutnya ranking saya naik bertahap hingga di kelas 4 akhirnya saya berhasil menduduki ranking pertama. Dan seterusnya hingga saya lulus. Selain itu saya juga senang karena berhasil membawa nama baik sekolah saat harus berkompetisi di ajang Siswa Teladan tingkat SD pada tahun 1976.

Guru kelas III saya bernama Ibu Puji. Ibu Puji adalah ibunda dari teman saya Putri Paramitha. Selain mengajar di kelas, Ibu Puji juga sangat terampil menjahit. Kelas 3 kami mulai belajar full. Dari pukul 7.00 -12.00. Di sini kami mulai belajar ilmu hitung yang lebih rumit. Juga berbahasa Indonesia dengan semakin rapi. Rasanya bangga juga bisa fasih berbahasa Indonesia. Karena jaman itu belum 100% orang di daerah saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan fasih. Namun demikian pelajaran Bahasa Bali juga semakin tinggi levelnya.
Seingat saya, saat di kelas 3 ini pada tahun 1974, dinding sekolah yang tadinya berbahan bedeg mulai diganti dengan dinding tembok secara bertahap.

Guru saya di kelas IV bernama Pak Suta. Beliau merupakan guru favorit saya. Sangat pintar mengajar. Karena beliau, saya bercita-cita ingin menjadi guru. Setiap kali bermain sekolah -sekolahan, saya sering berpura-pura menjadi guru. Membayangkan diri saya menjadi sosok sepintar Pak Suta guru saya.
Saya ingat bagaimana beliau menceritakan sejarah dengan cara yang sangat menarik. Kisah Mpu Gandring, Ken Arok, Tunggul Ametung dan Ken Dedes menjadi sangat menarik dan mudah diingat. Demikian juga kisah Raden Wijaya dan hutan tariknya. Juga semua mata pelajaran yang lain. Agama, Ilmu Bumi, ilmu alam, bahasa dan sebagainya dijelaskan dengan cara yang sangat menarik. Karena menceritakannya sangat menarik, membuat mudah bagi kami untuk mengingat dan menjawab.

Saat di kelas V, metode pembelajaran mulai sedikit berubah. Kami memiliki Guru wali kelas dan juga guru-guru mata pelajaran yang berbeda. Guru wali kelas saya di kelas V adalah seorang jago Matematika. Namanya Pak Banjar. Karena beliau jago, maka kamipun terbawa ikut-ikutan menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang paling menyenangkan.

Dan di kelas 6, kelas terakhir di sekolah itu, guru saya bernama pak Sutapa. Guru yang menurut saya sangat pintar dalam segala bidang,  walaupun terkenal keras dalam menerapkan disiplin kepada muridnya.

Guru guru lain yang juga mengajar pada saat itu tetapi tidak pernah menjadi wali kelas saya adalah Ibu Nengah Cenik, Pak Pegol dan Pak Sudena. Dan tentunya ibu Runih yang merupakan Kepala Sekolah kami.
Doa terbaik untuk para guru saya yang sangat mulia.

Sekarang, jika saya pikir balik, sungguh predikat Teladan sangat layak diberikan kepada sekolah saya itu.  System pendidikannya sangat baik. Menggabungkan materi akademis formal dengan muatan lokal dan nilai nilai kemandirian dan kewirausahaan.
Dengan kondisi perekonomian masyarakat yang tidak begitu baik pada jaman itu, setiap anak telah dibekali dengan ketrampilan yang mudah dilakukan dan mudah dijadikan uang. Sehingga separah-parahnya, jika ada murid yang tidak mampu melanjutkan sekolahnya karena alasan ekonomi, terpaksa drop out, si anak sudah siap mencari nafkah dengan ketrampilan yang dimilikinya. Mulai dari mengelola kebun sayur, sawah, beternak kambing, membuat arang, sapu lidi, kemoceng dari bulu ayam, kesetan kaki, taplak meja, sarung bantal dan sebagainya.
Dengan bekal pendidikan mental dan budi pekerti yang sangat kuat, kami yakin kami mampu menghadapi setiap masalah dalam kehidupan yang harus kami jalani. Kami bisa. Kami siap menghadapi hidup dan tidak takut menggadapi kemiskinan. Kami bisa. Dan semua itu karena kwalitas pendidikan dasar yang sangat baik yang kami terima darimu.

Terimakasih guruku. Terimakasih sekolahku. Tak terhingga besarnya jasamu dalam kehidupanku.
Sekolah Dasar adalah tempat dimana seorang anak mendapatkan dasar-dasar pengetahuan dan dasar-dasar nilai kehidupan. Ibarat bangunan, jika fondasinya kuat akan menghasilkan bangunan yang sangat kokoh dan tetap kokoh bahkan pada saat bangunan itu harus menjulang tinggi.

Harapan saya semoga sekolah ini bisa dibangun kembali dengan lebih baik secepatnya, agar anak-anak bisa belajar kembali seperti sedia kala. Sementara waktu barangkali pemerintah membantu mencarikan tempat darurat untuk kegiatan sekolah. Tetap semangat dan jangan patah arang.

Bravo SD II Kawan Bangli!

2 responses »

  1. Wow masih merasakan bersekolah dengan batu tulis ya Mbak Dani. Masa-masa yang indah pastinya. Kalau saya masuk SD dengan buku tulis yang bersampul biru. Kalau kena air sampulnya luntur dan merusak kertas putih berlembar-lembar dibawahnya🙂

  2. Jadi ingat masa lalu. Di foto tersebut yang masih saya ingat P Suta dan Bu Runih Karda. Pas jaman saya pernah lomba mata pelajaran tingkat kecamatan dan juaranya disapu bersih oleh siswa SD 2 Kawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s